Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 97


__ADS_3

Arvan berjalan lurus ke depan sedangkan Hans dan Ricko mencari ke ruangan yang lain. Saat terlihat ada pergerakan dari dalam, Hans dan anak buahnya langsung menyerang dengan tembakan bertubi - tubi ke arah musuh.


Baku tembak tak bisa terelakkan saat musuh keluar dari persembunyiannya. Mereka juga berkelahi dengan sengit saat peluru di pistol mereka mulai habis.


" Erinaaa...!" teriak Arvan.


Arvan mendobrak setiap pintu ruangan yang ada namun istrinya tak berada disana. Hanya tinggal satu pintu lagi, Arvan berhati - hati saat membuka pintu itu.


Arvan masuk ke dalam ruangan itu dan melihat sosok istrinya yang terikat tangan dan kakinya serta mulutnya di bekap dengan kain.


" Erinaa...!"


Saat hendak melangkah mendekati Erina, langkahnya terhenti saat sebuah pistol mengarah tepat di kepalanya.


" Jangan bergerak atau kalian berdua lenyap disini...!"


Suara yang tidak asing di telinga Arvan. Selly, wanita yang telah berani mengusik kehidupannya.


" Apa maumu, j*l*ng...?" ujar Arvan santai.


" Cihh...! Akan kuhabisi kau setelah mencabut nyawa j*l*ngmu itu...!" seringai Selly dengan tatapan tajamnya pada Erina.


" Beraninya mulut kotormu itu menjelek - jelekkan istriku...!" geram Arvan.


" Kau menganggap wanita rendahan itu sebagai istrimu...? Hahahaaa... hebat juga dia bisa memikatmu..." tawa Selly menggelegar ke seluruh ruangan.


" Diam kau...!" hardik Arvan.


" Letakkan senjatamu atau kepala istrimu akan meledak...!" teriak Selly.


Salah seorang anak buah Selly menodongkan senjatanya tepat di kepala Erina sehingga Arvan tidak bisa berbuat apapun untuk menolong istrinya.


" Apa maumu...?!"


" Sekarang kau baru bertanya apa mauku...? Hahahaa... Arvan... Arvan... yang kuinginkan sekarang hanyalah kematian kalian...!" seringai Selly.


" Hidupmu sungguh menyedihkan, Selly. Sekarang kau buronan dan tidak memiliki apa - apa. Semua Resto yang kau curi sekarang sudah kembali kepada yang berhak, yaitu anak kandung Bagaskara. Kau tidak punya apa - apa dan tidak punya siapa - siapa. Ibumu mendekam di penjara karenamu dan sekarang dia sangat membencimu..."


" Diam kau...! Aku akan segera pergi dari sini setelah membunuh kalian semua...!"


Samuel masuk ke dalam ruangan itu dengan santai. Sam membuka kain yang menyumpal mulut Erina.


" Sayang sekali, kau menolak kesempatan yang kuberikan Erina. Seandainya kau mau menerimaku, hidupmu tidak akan menderita seperti ini..." ujar Samuel dengan senyum sinis.


" Sam, apa yang kau lakukan? Kupikir kau menyesal dengan perbuatanmu itu..." ucap Erina kaget.


" Maaf, sayang. Semua ini memang rencanaku dan Selly. Lima tahun lebih aku mencarimu tapi tak membuahkan hasil. Tapi beberapa waktu yang lalu aku ketemu dengan Selly dan dia tahu dimana kau berada. Aku selalu mengikutimu kemanapun kau pergi termasuk saat terbang ke London waktu itu..."

__ADS_1


" Kau tega melakukan ini padaku, Sam. Kau tertipu dengan hasutan kak Selly. Harusnya kau tahu seperti apa perlakuannya dulu padaku? Aku membencimu, Sam...!" teriak Erina.


" Terserah, aku hanya tidak suka kau menjadi milik orang lain..." seringai Samuel.


" Sam, kita pergi sekarang...!" seru Selly.


" Bagaimana dengan mereka berdua...?" tanya Samuel.


" Kita bawa mereka sebagai tawanan karena diluar banyak anak buahnya menunggu...!"


Hans dan Ricko bersembunyi di luar ruangan saat melihat Erina dan Arvan menjadi tawanan Selly. Mereka terus mengikuti dari belakang sambil mencari celah untuk menyelamatkan mereka berdua.


# # #


Adam dan Raka serta para polisi sudah bersiap menghadang mereka di pintu utama. Raka yakin Selly akan melewati tempat itu karena ada beberapa mobil di garasi yang sudah disiapkan untuk kabur.


" Uncle, bagaimana kalau kita masuk ke ruangan itu...? Raka yakin ada jalan masuk ke ruangan bawah tanah disana..." ajak Raka.


" Tidak, Raka. Kita harus tetap menunggu disini. Uncle yakin penjahat itu pasti menuju ke ruangan ini..." sahut Adam.


Raka sudah lelah menunggu, anak itu bersandar pada dinding seraya menatap kosong ke depan. Raka sangat khawatir dengan keadaan orangtuanya saat ini.


" Raka khawatir dengan papa dan mama, Uncle..."


" Papa kamu orang yang hebat, mereka pasti bisa selamat..." ujar Adam.


Tak lama, seperti ada suara dari dalam ruangan itu. Adam dan yang lainnya mundur untuk mencari tempat persembunyian. Derap langkah terdengar semakin dekat ke arah Raka yang sudah bersiap dengan senjata di tangannya.


Raka memberi kode untuk menyerang dengan cepat agar mereka tak sempat membalas.


Doorrr! Doorrr! Doorrr!!!


Dengan sekali loncat, Adam dan Raka langsung menembak keempat penjahat tepat di dada sedangkan Sam terkena di kaki dan Selly pada lengan.


Arvan yang melihat Selly lengah, langsung meraih tubuh istrinya dan membawanya menjauh. Namun tanpa di duga, Selly mengambil pistol anak buahnya yang terlempar kearahnya. Tanpa membuang kesempatan, Selly langsung menembak kearah Erina.


Doorrr! Doorrr! Doorrr!!!


" Aaakkhhhh!!!"


Suara rintihan terdengar sangat keras. Raka dengan sigap langsung menembak tangan dan kedua kaki Selly. Polisi langsung mengamankan Selly dan membawa semua korban ke rumah sakit.


# # #


Arvan, Raka, Ricko, Hans dan Adam sedang menunggu di depan ruang IGD. Mereka sangat cemas dengan keadaan Erina.


" Pa, mama tidak apa - apa kan...?" tanya Raka.

__ADS_1


" Tidak, sayang. Mama baik - baik saja, kamu sebaiknya pulang sama Uncle Ricko. Kasihan tante Sandra di rumah sendiri..." ujar Arvan.


" Raka pengen temenin mama, pa..."


" Sekarang sudah malam, Raka harus istirahat. Besok pagi bisa kesini lagi..."


" Raka tidak biasa bersamaku, Van. Biar Adam atau Hans juga ikut pulang..." saran Ricko.


" Baiklah, salah satu dari kalian temani Raka di rumah..." titah Arvan.


Hans dan Adam saling berpandangan. Hans memberi kode supaya Adam yang pulang karena dilihat dari kesehariannya, Arvan dan Adam tidak terlalu akur.


" Baik, Tuan. Saya akan menemani Raka di rumah..." ucap Adam.


Adam langsung mendekati Raka dan membisikkan sesuatu yang membuat Raka tersenyum kecil.


" Ayo pulang, jangan sampai besok pagi kita malah bangun kesiangan..." ujar Adam.


" Iya, Uncle. Papa, Uncle Hans... Raka pulang dulu ya...? Besok pagi Raka kesini lagi..." pamit Raka.


" Iya, sayang. Hati - hati di jalan, jangan merepotkan Uncle Adam ya..." pesan Arvan.


" Raka tidak pernah merepotkan saya, Tuan. Kami adalah tim yang kuat, tidak akan ada yang berani mengusik Detektif Raka Sebastian..." ucap Adam dengan bangga seolah Raka adalah anaknya sendiri.


" Aku tidak menyangka Raka bisa menembak tepat sasaran. Pistol yang dipakai Raka cukup berat tekanannya, bagaimana dia bisa begitu tenang menarik pelatuknya...?" ucap Hans heran.


" Raka sudah dua tahun lebih melatih dirinya menggunakan senjata, Tuan. Bahkan bidikan saya masih kalah dibandingkan Raka..." sahut Adam.


" Kau yang mengajarkannya...?"


" Bukan, Tuan William yang melatihnya selama ini. Saya fokus membantu Nona Erina di perusahaan, sedangkan Tuan William lebih fokus di Markas..."


" Ayo, Uncle... nanti tante Sandra cemas menunggu Uncle Ricko..." celoteh Raka menarik tangan Adam.


" Heh... bocil. Tante Sandra sudah tidur, bilang saja kau sudah mengantuk..." cibir Ricko.


" Sudah! Kalian pergi sana! Berisik...!" usir Arvan.


Raka, Adam dan Ricko segera meninggalkan rumah sakit menyisakan Arvan dan Hans yang mondar - mandir menunggu Erina dengan cemas. Arvan mencoba tegar di depan anaknya tadi, tapi sekarang kekhawatirannya terlihat jelas di wajahnya.


" Semoga kamu baik - baik saja, sayang..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2