Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 93


__ADS_3

" Aku ingin kau merubah sikapmu itu. Raka tidak butuh materi, namun perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Harusnya kau meluangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi Raka..."


" Iya, Dam. Kamu benar, selama ini aku tidak pernah memperhatikan tumbuh kembang Raka sejak lahir. Dia tumbuh tanpa terkontrol dari cara bertutur kata dan bersikap semaunya sendiri. Dia tidak mau berinteraksi dengan orang lain yang belum ia kenal dengan baik..."


Adam merasa sedih juga melihat keadaan Erina. Adam tahu kenapa Erina bersikap seperti itu. Sebagai single parent, Erina harus bekerja keras untuk menggantikan pekerjaan orangtua angkatnya. Dia harus menjalankan perusahaan sambil kuliah setelah kelahiran Raka.


" Kamu tenang saja, Raka sedang berusaha untuk memperbaiki dirinya. Jadi aku berharap kamu dan Arvan juga harus berubah demi Raka. Bersikaplah lebih lembut dan perhatian kecil padanya itu sudah lebih dari cukup..."


" Iya, Dam. Aku akan belajar menjadi ibu yang penuh kelembutan untuk Raka. Aku akan fokus untuk mengasuh dia..."


" Ya sudah, sekarang kita fokus dengan masalah yang lain..." ujar Adam.


" Ada apa...?" tanya Erina.


" Raka sangat yakin bahwa Selly bersembunyi di dalam rumah. Aku ingin kau menceritakan tentang bagian - bagian dari rumah itu..."


" Bagian rumahku sama seperti yang lain, lantai bawah tiga kamar, dapur juga ruang kerja ayah. Lantai dua ada tiga kamar, kamarku dan kak Selly lalu masih satu kamar kosong..."


" Mungkinkah ada ruangan lain yang tidak kamu ketahui...?"


" Aku delapan belas tahun tinggal di rumah itu, Dam. Aku sangat mengenal setiap sudut di dalamnya..."


" Kau yakin tidak ada ruang bawah tanah...?" tanya Hans.


" Ruang bawah tanah...?"


Erina berusaha untuk mengingat sesuatu tentang masa lalunya. Perlahan ia memejamkan matanya untuk mencari memory yang sempat ia lupakan.


" Aku... aku... ibu..." tiba - tiba Erina menangis mengingat masa kelamnya.


" Erina, kau kenapa...?" tanya Adam panik.


" Tempat itu... ibu, kak Selly... tidaakkk!" ucap Erina terbata.


" Kau ingat sesuatu? Katakan Erina, jangan takut! Tidak akan ada yang menyakitimu..." Adam meraih tubuh Erina ke dalam pelukannya.


" Aku ingat tempat itu, Dam. Tapi aku lupa karena pintunya ada di salah satu lantai yang aku sendiri tidak tahu, aku takut. Sewaktu aku masih kecil, ibu mengurungku di tempat itu seharian. Tempat yang sangat gelap dan pengap..."


" Apa ada semacam kode untuk membukanya...?"


Erina masih terisak dalam dekapan Adam. Tubuhnya masih tampak bergetar dengan kencang. Di saat yang bersamaan, Arvan yang lainnya masuk ke dalam ruangan dengan wajah terkejut melihat Erina dan Adam berpelukan.


" Apa yang kalian lakukan...?!" teriak Arvan marah.


Adam mengurai pelukannya namun Erina tak juga mau melepaskannya.


" Aku takut...!" lirih Erina.

__ADS_1


" Erina, sadarlah! Itu hanya masa lalu, tidak akan ada lagi yang menyakitimu..." ujar Adam.


Adam memberikan isyarat pada Arvan untuk mendekat karena Erina masih berada dalam ingatan masa kecilnya. Setelah berhasil membuat Erina duduk di sofa, Adam berusaha menyadarkan Erina yang masih histeris.


" Erina, lihat kami semua! Tidak ada yang menyakitimu. Dia suamimu dan juga saudara - saudaramu, tidak ada ibumu disini...!" tutur Adam lembut.


Arvan langsung duduk di samping Erina dan mendekapnya dengan erat.


" Sayang, apa yang terjadi denganmu...?" ucap Arvan lirih.


" Tuan, sebaiknya bawa Erina ke kamar untuk beristirahat. Ada hal penting yang harus kita bicarakan..." kata Adam tegas.


Arvan segera membawa sang istri ke kamar pribadinya lalu menyuruhnya untuk tidur agar bisa tenang. Hanya dalam waktu sepuluh menit saja, Erina sudah terlelap dalam dekapan Arvan. Setelah mencium kening istrinya sekilas, Arvan keluar untuk bergabung dengan yang lainnya.


" Apa yang terjadi dengan istriku...?" kata Arvan datar.


" Duduklah, Tuan. Berusahalah untuk bisa menekan emosi Anda..."


" Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa sedekat itu dengan Erina...!" cecar Hans.


" Erina adalah sahabatku, apa masalahnya...?" sahut Adam santai.


" Sudah! Tidak penting kalian bahas masalah itu. Sekarang kita dengar penjelasan Adam..." ujar Ricko.


Adam menghela nafas dalam - dalam sebelum bercerita.


" Sepertinya Erina mengalami trauma pada kejadian di masa kecilnya. Mungkin dia pernah mengalami kekerasan fisik dan mentalnya..." kata Adam seraya berjalan ke arah kaca besar yang bisa memandang padatnya kota Jakarta.


" Anda belum lama bersamanya, Tuan. Jika tidak ada pemicunya, dia tidak akan mengingatnya..." jawab Adam.


" Jadi kau memicu ingatannya kembali...?"


" Benar, bagaimanapun juga Erina harus membuka cerita lama untuk mengungkap kasus Selly..."


" Apa maksudmu...?"


" Di rumah Erina ada ruang bawah tanah yang tersembunyi. Tidak ada yang tahu dimana letak pintu masuknya termasuk Erina sendiri. Namun dia ingat pernah dikurung di tempat itu waktu kecil. Nanti malam saya akan menyelidiki tempat itu dengan Raka..."


" Kau sudah bertemu Raka...?!" teriak Hans dan Ricko bersamaan.


" Astaga... bisakah kalian berbicara pelan...!" Adam menutup kedua telinganya.


" Arvan... kau sudah tahu jika Raka sudah ketemu...?" tanya Hans.


" Sudah, tapi dia tidak mau pulang ke rumah. Aku tidak tahu apa yang sedang dia inginkan sekarang..." keluh Arvan.


" Tuan tenang saja, setelah Selly tertangkap, Raka pasti pulang. Dia butuh waktu untuk sendiri..."

__ADS_1


" Ya sudah, kita kembali pada kasus Selly. Apa rencana kita...?" tanya Hans.


" Malam ini juga kita bergerak! Saya tidak masalah ini semakin panjang..." ujar Arvan.


" Tunggu, Tuan. Saya akan menghubungi Raka dulu untuk melihat apakah ada pergerakan di rumah itu..."


Adam segera menghubungi Raka di panti asuhan. Mereka mengatur rencana untuk nanti malam. Hingga seperempat jam lamanya mereka membahas langkah selanjutnya. Selesai berbicara dengan Raka, Adam kembali duduk di sofa.


" Raka menyuruh kita untuk menunggu pergerakan orang yang keluar masuk tempat itu. Kita tidak tahu ada berapa orang disana. Biasanya ada seseorang yang mengantar barang ke rumah itu beberapa hari sekali. Kita tunggu sampai besok, semoga kita tahu bagaimana mereka masuk ke rumah Erina dari rumah kosong itu..." ujar Adam.


" Aku akan menemui Raka, masalah ini terjadi karena aku. Kali ini aku tidak akan melepaskan perempuan ular itu...!" geram Arvan.


" Tapi, Tuan_..."


" Aku sendiri yang akan menangkap perempuan itu! Kau jaga Erina, aku akan pergi sekarang..."


Arvan pergi begitu saja tanpa memperdulikan ucapan Adam hingga membuat semuanya menjadi kacau.


" Astaga... semuanya bisa kacau jika Raka marah..." gerutu Adam.


" Tuan, saya harus menyusul Tuan Arvan segera. Tolong jaga Nona Erina..."


Adam segera keluar kantor untuk mencari taksi di jalan raya. Dia harus segera sampai di panti sebelum Arvan dan Raka ribut.


# # #


" Nona, sampai kapan kita bersembunyi disini...?" tanya salah seorang pengawal.


" Sampai semua keadaan diluar aman. Apa dia belum datang kesini...?" tanya Selly.


" Belum, Nona. Sepertinya Tuan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin nanti malam akan datang..."


" Kenapa lama sekali! Harusnya dia bisa membuat paspor lebih cepat...!"


" Membuat paspor palsu tidak mudah, Nona. Sebaiknya Anda sabar menunggu..."


" Hhh... aku sudah muak tinggal di tempat seperti ini...!"


" Tenang saja, Tuan pasti akan mengurus semuanya..."


Selly sudah muak dengan kehidupannya saat ini. Harus bersembunyi di ruang pengap tanpa bisa menghirup udara segar diluar sana. Tapi karena sifatnya yang keras, Selly seolah tak menyesali dengan perbuatan jahatnya. Dia juga tidak menyesal telah menjadikan ibu kandungnya sebagai tameng untuk bisa melarikan diri.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2