Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 31


__ADS_3

" Kalau untuk meluluhkan hatimu, apa sesulit itu juga...?" ucap Hans tersenyum.


" Ish... jangan bahas itu lagi...!" sungut Delia.


" Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang. Siapa tahu mereka kesana..." ucap Hans.


" Iya, aku juga harus ambil mobilku disana..." sahut Delia.


Keduanya saling diam selama perjalanan karena Delia masih marah dengan tingkah Hans yang memaksanya tidur satu ranjang.


Sampai di rumah sakit, Hans langsung menuju ruang perawatan Arvan. Disana ada Ibu dan Ayahnya yang terlihat sangat bersedih.


" Ibu, Ayah... bagaimana keadaan Arvan...?" tanya Hans.


" Dia masih belum sadar, Hans..." jawab Ayah.


" Sabar ya, Yah... Arvan pasti sembuh, dia bukan orang yang mudah menyerah..." hibur Hans.


" Nyonya, sebaiknya kita duduk dulu biar lebih tenang..." ucap Delia pada Nyonya Sarah.


" Dimana Rissa dan Raka...?" tanya Ibu menatap Hans.


" Tadi Rissa pergi duluan Bu, Hans pikir mereka sudah sampai..." jawab Hans bingung.


" Rissa belum kesini Hans, coba kau cari dia..." perintah Ayah.


" Baik Yah, Hans akan cari Rissa dan Raka..."


" Hans, saya ikut denganmu..." sahut William.


" Del, kamu temani Ibu disini ya...?" pinta Hans.


" Iya, pergilah..." jawab Delia.


# # #


Di sebuah taman, Rissa dan Raka sedang menikmati makanan yang mereka beli di pinggir jalan tadi.


" Ma, ini enak... Raka belum pernah makanan seperti ini...?" ucap Raka senang.


" Ini namanya nasi kuning sayang, lain kali Mama masakin sendiri buat Raka..." sahut Rissa.


" Ma, sebenarnya Raka curiga dengan mobil yang menabrak papa..."


" Curiga gimana...?" tanya Rissa seraya mengernyitkan dahinya.


" Raka yakin targetnya bukan papa, tapi mama..."


" Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu...?"


" Karena Raka melihat mobil itu terparkir tidak jauh dari tertabraknya papa sebelum kejadian itu..."


" Kamu yakin...? Tapi mama tidak mengenal siapapun disini, mana mungkin ada yang mau mencelakai mama...?"

__ADS_1


" Apa Raka boleh menyelidiki kasus ini, Ma...? Raka harus pastikan siapa yang menabrak papa..."


" Tapi kita harus kembali ke London, Raka..."


" Beri waktu Raka satu minggu, Ma... Raka harus memastikan jika Mama baik - baik saja..."


" Baiklah, tapi Mama akan tetap berangkat ke London malam ini. Kamu tinggallah bersama Uncle Hans, jangan membuatnya kerepotan dan ponsel kamu harus selalu terhubung dengan ponsel mama..."


" Siap Boss...!"


Rissa tersenyum melihat tingkah anaknya yang bersikap sangat dewasa diusianya yang masih balita. Sekilas bayangan Arvan muncul saat menatap wajah sang anak. Rissa sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Arvan, namun hatinya belum bisa menerima seutuhnya permintaan maaf dari lelaki itu.


" Ma, kita ke rumah sakit sekarang yuk...? Raka harus bertemu dengan Uncle Willy untuk masalah ini..."


" Iya, tapi kamu jangan bilang sama kakek dan nenek dulu biar mereka tidak khawatir..."


" Iya Ma, Raka akan menyelidiki ini secara diam - diam bersama Uncle Hans. Mama tidak perlu khawatir, Raka pasti akan berhati - hati..."


" Mama percaya kamu bisa mengungkap hal ini, sayang... tapi tetap saja kamu tidak boleh turun tangan sendiri..."


" Iya Ma, Raka akan selalu menurut apa kata Mama..."


" Ya udah, kita cari taksi dulu di depan..." ajak Rissa.


" Sebaiknya mama memakai masker buat jaga - jaga siapa tahu mama punya musuh disini..." ucap Raka.


" Ah... kamu benar juga, anak mama memang pintar..." Rissa mengacak - acak rambut anaknya.


" Ish... Mama, rambut Raka berantakan nih..." sungut Raka.


Saat Rissa dan Raka sedang menunggu taksi, tiba - tiba ada mobil yang berhenti di depannya. Pengemudi itu menurunkan kaca mobilnya lalu menyapa Rissa.


" Anda butuh tumpangan Nona...?" tanya orang itu.


" Tidak, terimakasih..." jawab Rissa datar.


Dalam mobil itu ada dua orang dengan pakaian serba hitam duduk di depan sedangkan satu orang duduk di belakang. Mereka segera turun untuk menghampiri Rissa dan Raka.


" Sebaiknya kau ikut jika ingin selamat...!" ancam salah satu pria itu.


" Saya tidak tertarik untuk ikut dengan kalian, sebaiknya pergi saja dari sini..." sahut Rissa santai.


Rissa menggenggam erat tangan Raka dan menariknya agak ke belakang. Sebenarnya Rissa tidak ingin mencari keributan apalagi di depan anaknya yang masih kecil. Namun sepertinya dia terdesak dan mau tidak mau harus melawan mereka.


" Kurang ajar! Beraninya kau melawan...!" ucap penjahat.


" Dasar pengecut, beraninya keroyokan...!" umpat Rissa dengan keras.


" Raka, mundurlah...!" perintah Rissa pada anaknya.


" Ok Mam...!" sahut Raka santai.


Raka yakin mamanya itu bisa melawan ketiga penjahat itu dengan mudah. Anak itu duduk di kursi dekat Mamanya sedang bersitegang dengan para penjahat. Raka mengambil ponsel di saku jaketnya lalu memotret mereka, mungkin suatu saat akan ada manfaatnya.

__ADS_1


" Tangkap perempuan ini! Dia harus kita bawa ke hadapan Boss hidup atau mati...!"


" Sial...! Berarti mereka memang mengincarku..." batin Rissa.


" Tangkap aku kalau bisa...!" seringai Rissa.


Tiga penjahat itu menyerang Rissa secara bersamaan. Mereka cukup kuat juga mengimbangi kemampuan Rissa. Namun bagi Rissa, lawannya itu masih standar bawah dibandingkan musuh - musuhnya di London.


Rissa tadinya hanya menahan serangan mereka namun karena tak ingin berlama - lama dan menjadi tontonan orang, Rissa membalas serangan mereka dengan membabi buta agar urusan ini cepat selesai.


Rissa melayangkan pukulan dan tendangan bertubi - tubi kepada para penjahat itu hingga mereka babak belur. Dengan nafas tersengal, Rissa nampak puas sudah dapat meluapkan emosinya kepada para penjahat yang ingin menangkapnya.


" Kalian masih ingin menangkapku...?" seringai Rissa seraya mengusap keringat di dahinya.


Para penjahat itu tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun karena pukulan bertubi - tubi di dadanya membuat mereka sesak bahkan bernafaspun terasa sulit.


" Mama... sudah, mereka bisa mati jika terus kau pukuli. Tidakkah ada sedikit saja rasa simpati di hatimu melihat keadaan mereka...?" celoteh Raka sambil tertawa.


Raka terus saja mengambil gambar para penjahat itu dengan santai seperti sedang menonton film action.


" Mereka sangat kuat, Nak... mungkin kalau Mama patahkan kedua kaki mereka akan lebih seru..." sahut Rissa nyengir.


" Mamaku sungguh kejam, nanti kalau mereka tidak bisa jalan gimana...?"


" Mereka pasti punya keluarga sayang, pesangon dari bossnya pasti cukup untuk mereka hidup selama bertahun - tahun..."


Rissa kembali memakai maskernya agar tak ada yang mengenalinya karena taman itu mulai di datangi banyak orang.


" Ibuku tersayang, maafkan mereka... cukup kedua tangannya saja yang kau ambil, saya merasa kasihan sekali pada mereka..." ucap Raka sambil tertawa kecil.


" Ibu dan anak ini sepertinya psikopat, habis sudah hidupku di tangannya..." batin salah seorang penjahat.


Para penjahat itu merasa ngeri mendengar obrolan santai anak dan ibu di hadapannya, seakan mereka sedang berpesta saat ini. Membayangkan tangan dan kaki mereka patah saja membuat nyali mereka sudah menciut, seluruh tubuhnya bergetar siap meregang nyawa.


" Nona... lepaskan kami! Kami tidak akan mengganggu Anda lagi..." ucap salah satu penjahat itu memohon.


" Saya bisa melepaskan kalian, tapi kalian harus katakan siapa yang menyuruh kalian menculikku...!" sahut Rissa dengan tatapan tajamnya.


" Ka...kaa...mi tidak bisa menyebutnya..."


" Jadi kalian siap mati...!"


" Ampuni kami Nona, jangan bunuh kami..."


" Sebutkan namanya...!" teriak Rissa.


" Namanya_..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2