
" Aakkhhh...!!! Kenapa dia tega membunuh Sera..." teriak Robert.
" Tenanglah, kita akan segera menangkapnya..." ujar Erina.
Mereka bersiap untuk memburu Darwin di rumahnya. Arvan terlebih dahulu mengantar Raka dan Erina pulang. Sebelumnya William sudah menghubungi pihak berwajib untuk mengeluarkan surat penangkapan.
" Kak, aku ikut ya...?" rengek Erina.
" Sudah, sayang. Aku tidak mau marah padamu, jangan melewati batas kesabaranku. Kau tahu ini sangat berbahaya..." Arvan mencoba untuk tidak meninggikan suaranya.
" Kak_..."
" Raka, pastikan mama tetap dirumah atau kau juga akan mendapat hukuman dari papa...!" perintah Arvan.
" Iya, pa..." jawab Raka.
" Jaga diri baik - baik, jangan keluar dari pintu rumah ini..." pesan Arvan seraya memeluk Erina.
Di saat bersamaan, ponsel Arvan berdering. Saat melihat nama yang tertera dalam layarnya, dia langsung menjawab panggilannya.
" Hallo, kak. Ada apa...?" kata Arvan.
[ " Van, apa kau bersama William sekarang...?" ] sahut seorang wanita yang ternyata istrinya William.
" Saya sedang ada di rumah, kak. Tapi sebentar lagi juga akan bertemu dengannya. Kakak kenapa? Apa terjadi sesuatu disana...?"
[ " Monica sepertinya diculik, Van. Tadi saat supir menjemput ke sekolahnya, Monica sudah tidak ada..." ]
" Kakak tenang dulu, jangan panik. Saya akan mengirim bodyguard untuk menjaga kakak di rumah. Jangan keluar dari rumah, kunci semua pintu dan jendela. Saya akan mencari Monica..."
[ " Baiklah, terimakasih. Tolong beritahu Willy, ponselnya sedang tidak aktif..." ]
" Iya, kak. Tenang saja, Monica pasti baik - baik saja..."
Arvan segera mematikan sambungan telfonnya dan segera menghubungi Adam karena ponsel William tidak bisa dihubungi.
[ " Hallo, Tuan. Kami sudah berada di depan taman tempat kita janjian..." ] kata Adam.
" Ada yang lebih penting dari itu. Dimana kak Willy, ada yang harus aku sampaikan padanya..."
[ " Katakan saja, Tuan. Suaranya saya loudspeaker..." ] kata Adam.
[ " Ada apa, Van...?" ] tanya William.
" Kak Willy, Monica menghilang saat pulang sekolah. Kita harus mencarinya, tapi kau pulanglah dulu. Kakak ipar dari tadi menangis dan saya sudah menyuruh beberapa orang untuk menjaga rumahmu..."
[ " Apaa...? Maksudmu Monica diculik...?" ]
" Mungkin, saya akan segera ke sekolah Monica untuk melacaknya..."
[ " Baiklah, saya akan pulang sekarang..." ] kata William.
Setelah panggilan terputus, Arvan duduk menyandarkan punggungnya di sofa. Dia memikirkan cara untuk melacak keberadaan Monica.
" Pa, kak Monica di culik...?" tanya Raka.
__ADS_1
" Mungkin, papa akan menyelidikinya sekarang..." jawab Arvan.
" Raka ikut ya? Raka bisa melacak keberadaan kak Monika dari jarak lima kilometer..."
" Gimana caranya...?" Erina jadi penasaran lalu duduk di tengah - tengah Arvan dan Raka.
" Jadi, kemarin itu Raka membuat semacam GPS tapi baru percobaan dan Raka taruh di kalung yang dipakai kak Monica. Semoga saja alat itu bisa berfungsi dan kak Monica tidak melepas kalungnya..."
" Harusnya papa kamu yang dikasih alat seperti itu biar tidak keluyuran nggak jelas..." ujar Erina.
" Kenapa jadi papa? Bukannya mama yang hobinya kabur - kaburan...?" sahut Arvan.
" Kalau bukan karena papa, mama juga tidak akan kabur..."
" Ya sudah, anggap saja semua salah papa. Sekarang mama masuk ke kamar dan istirahat. Oh iya, bilang sama ayah dan ibu agar tidak keluar rumah terlebih dahulu malam ini. Jangan berbuat nekad, tetap di dalam rumah..." ujar Arvan.
" Iya..." sahut Erina sambil mengerucutkan bibirnya.
" Raka, bersiaplah! Jangan lupa bawa senjata dan peralatan lain yang diperlukan nanti..."
" Siap kapten...!"
" Kalian hati - hati. Aku tidak mau kalian terluka..." pesan Erina.
" Iya mama cantiikkk..." sahut Arvan dan Raka bersamaan.
" Oh iya, kak. Dimana kau menyimpan senjatamu di rumah...? Punyaku di mobil yang dibawa Adam..." tanya Erina.
" Buat apa, sayang...?"
" Ya sudah, semua ada di kamar kita. Sudah enam tahun menempati kamar itu tapi tidak tahu kalau ada senjata tersimpan disana..."
" Hidupku telah habis untuk bekerja, tidak sempat memeriksa isi kamarmu..."
Mereka bertiga naik ke kamar atas untuk menyiapkan senjata yang dibutuhkan. Raka masuk ke kamarnya sendiri mengambil senjata hadiah ulang tahun dari kakeknya.
Di saat yang bersamaan, Hans dan Ricko datang dari Indonesia. Mereka berniat untuk mengunjungi orangtua angkatnya. Perusahaan sementara di bawah pengawasan Sandra dan beberapa bawahan kepercayaannya.
" Kak Ricko, kak Hans...!" teriak Erina dari tangga yang melihat dua saudaranya itu datang secara tiba - tiba.
" Hai adikku yang cantik..." sahut Hans.
Erina langsung menghampiri kedua kakaknya dan meninggalkan Arvan dan Raka yang tadi di gandengnya.
" Kak Ricko, kenapa mendadak banget datangnya? Ada masalah...?" tanya Arvan.
" Tidak, kami hanya ingin menjenguk ayah dan ibu..." jawab Ricko.
" Van, kau pakai rompi anti peluru mau kemana...?" tanya Hans.
" Iya, aku harus pergi sekarang. Anaknya kak William hilang saat pulang sekolah. Aku curiga dia jadi korban penculikan..."
" Aku ikut, bosen di depan laptop terus. Sekali - kali olahraga biar fresh..." kata Hans.
" Kalian butuh bantuanku...?" tanya Ricko.
__ADS_1
" Tidak usah, kak Ricko di rumah saja jaga ayah, ibu dan istriku yang cantik ini..." jawab Arvan.
" Ya sudah, kalian pergi sana. Jaga Raka jangan sampai terluka..." ucap Erina.
" Iya, sayang. Kami semua akan pulang dengan selamat..."
Arvan mencium kening istrinya lalu memeluknya dengan erat. Raka dan Hans keluar terlebih dahulu ke mobil. Setelah Arvan datang, mereka bertiga segera pergi menuju sekolah Monica yang berjarak setengah jam dari rumah.
Raka memilih duduk di belakang karena ingin fokus melacak keberadaan Monica. Sepanjang perjalanan yang dilalui, tak ada sinyal menunjukkan keberadaan Monica hingga sampai di sekolah.
Di depan gerbang sekolah, Adam, Robert dan William sudah menunggu kedatangan Arvan. William tampak sangat khawatir memikirkan keadaan putrinya.
" Maaf, kak. Menunggu lama...?" kata Arvan.
" Tidak apa - apa, sebaiknya kita bergerak sekarang..." ujar William.
" Kak Willy, saya siap membantu..." Hans keluar dari mobil Arvan dengan tersenyum.
" Hans, kapan kau datang...?" tanya William.
" Ini juga baru sampai langsung ikut Arvan, kak..."
" Terimakasih, Hans..."
" Jangan berterimakasih, Monica juga putri kecilku..."
" Robert, kau ikut di mobilku untuk melacak posisi Monica. Kau lebih tahu dimana Darwin sekarang..." perintah Arvan.
" Baiklah, kita ke arah utara. Mungkin Darwin berada di kawasan itu, dia selalu mengunjungi club malam hampir tiap hari..."
Semua bergegas menyusuri jalanan untuk mendapatkan signal dari kalung yang dipakai Monica.
" Lebih cepat lagi, pa..." teriak Raka yang fokus dengan laptopnya.
" Iya, ini juga sudah cepat..." sahut Arvan.
" Tuan, belok kanan di depan..." kata Robert.
Arvan segera membelokkan mobilnya ke kanan sesuai arahan dari Robert.
" Apakah sudah ada signal yang masuk, Raka?" tanya Arvan.
" Belum, pa. Raka masih mencobanya terus..." jawab Raka.
Hingga satu jam berputar - putar menjelajah jalanan kota di malam yang semakin larut membuat semuanya merasa lelah. Raka masih terus menyambungkan signal di laptopnya dengan alat pelacak yang ia tempelkan di kalung Monica saat mereka sedang bermain petak umpet dulu.
" Berhenti...!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.