Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 64


__ADS_3

" Shitt...! Benar - benar sangat melelahkan hari ini..." umpat Adam dalam hati.


" Adam, mereka bertambah banyak. Kita harus bagaimana...?" tanya Erina.


Mereka berdua tidak mau mati dengan cara yang tidak wajar seperti ini.


" Di bawah sana hutan lindung, mungkin kita bila kabur ke dalam hutan sembari menunggu bantuan..." jawab Adam.


Kini mereka berdua sudah terdesak karena lawan yang semakin banyak.


" Baiklah, kita pergi sekarang..." ucap Erina.


Adam dan Erina saling mengeratkan genggaman tangannya untuk melompat ke jurang yang dalamnya sekitar sepuluh meter.


" Tunggu, ini bisa berbahaya untukmu. Jurang ini terlalu dalam, Rissa..." cegah Adam.


" Tapi kita tidak ada pilihan lain, Dam..."


" Begini saja, kau tidak boleh terlepas dariku. Saya tidak mau kau terkena benturan keras saat jatuh, kau seorang wanita jadi akan berpengaruh besar pada rahimmu jika terkena benturan keras di perutmu..."


" Lalu... apa yang harus kita lakukan...?"


" Saat sampai di ujung jurang, kau peluk aku dan jangan sampai terlepas sebelum kita sampai di bawah..."


" Baiklah, kita lakukan sekarang. Waktu kita tidak banyak..." ucap Erina.


Musuh semakin mendekat sehingga Adam dan Erina mundur perlahan hingga ujung jurang.


" Kalian tidak akan bisa lari lagi..." seringai pimpinan penjahat itu.


" Kau siap..." bisik Adam.


Erina menganggukkan kepalanya lalu memeluk Adam dengan erat kemudian mereka melompat ke dasar jurang.


" Aakkkhhh...!"


" Sial...! Mereka kabur...!"


" Cepat cari mereka ke dasar jurang, kita harus bisa menangkap mereka hidup - hidup..."


" Baik, Boss..."


Kawanan penjahat itu menuruni jurang untuk mengejar Adam dan Erina.


# # #


" Rissa, kau tidak apa - apa...?" tanya Adam yang terlihat menahan sakit di punggungnya.


Adam sengaja mendaratkan tubuhnya dibawah Erina agar bossnya itu tidak terluka.


" Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu...!" sahut Erina.


" Sudahlah, aku tidak apa - apa. Ayo kita pergi, mereka pasti mencari kita sekarang..."


" Kau yakin tidak apa - apa...?"


" Ayolah, Rissa. Kita harus bergegas pergi sebelum mereka menangkap kita..."

__ADS_1


" Kita pergi ke arah mana...?"


" Kita masuk ke dalam hutan ini, lalu mencari jalan keluar di bagian lain..."


Erina dan Adam menyusuri pepohonan lebat dan jalanan yang cukup terjal. Mereka berusaha mencari jalan lain untuk bisa selamat dari kejaran para musuh.


" Dam, kita berhenti dulu. Saya sudah lelah berlarian seperti ini..." ucap Erina.


" Kita seberangi sungai itu dulu baru beristirahat, kita bisa pantau pergerakan musuh dari sana..." sahut Adam.


Dengan susah payah Adam dan Erina menyeberangi arus sungai yang cukup deras. Nafas mereka hampir habis karena harus berlari dan berenang di tengah hutan yang sunyi.


# # #


William dan beberapa anak buahnya sampai di tempat mobil Erina dan beberapa mobil yang diperkirakan milik para penjahat.


" Sial...! Jumlah mereka sangat banyak, dimana mereka...?" umpat William geram.


" Tuan, disini seperti ada jejak kaki. Mungkinkah Nona Erina jatuh ke jurang...?" ucap salah seorang bawahannya.


" Mungkin saja, kalian masuk ke hutan bawah sana lewat jalur utara. Saya akan mencari bantuan lagi lewat jalur selatan..." perintah William.


" Astaga, apa yang harus saya katakan pada Tuan Sebastian. Pasti beliau sangat marah dengan kinerjaku yang buruk ini..." gumam William.


Setelah memanggil anak buahnya yang lain dengan jumlah mencapai tiga puluhan orang, William menyusuri hutan lewat jalur selatan.


Dia bertekad tidak akan pulang sebelum bisa menemukan Adam dan Erina. Mungkin ini adalah ujian terberat bagi keluarga Sebastian. Di satu sisi, anak kandungnya hilang karena kecelakaan pesawat. Di lain tempat, Erina menghilang di hutan bersama Adam sang asisten.


" Tuan, disini ada sungai besar sebagai pembatas antara hutan lindung dan hutan liar. Kita mencari ke hutan yang mana...?"


" Mereka jatuh ke arah hutan lindung, sebaiknya kita sisir tempat itu. Jika tidak ada, kita menyeberang ke hutan liar. Kalian harus berhati - hati karena di dalam juga banyak musuh berkeliaran..."


# # #


" Huft... disini terlalu lebat pohonnya. Kita tidak tahu posisi kita dimana sekarang ini..."


" Harusnya tadi ponselnya tidak kita tinggalkan di mobil..." keluh Erina.


" Ya sudah, kita jalan saja menyisir sungai ini. Mudah - mudahan kita menemukan jalan keluar..."


Adam dan Erina kembali berjalan menyusuri sungai berharap menemukan jalan keluar dari hutan itu. Erina bertekad untuk bisa selamat karena dia yakin bahwa Arvan juga masih hidup.


" Kak Arvan, aku yakin kau masih hidup. Aku juga akan terus berjuang agar bisa selamat dari tempat ini..." batin Erina.


" Hei... kenapa melamun? Kau memikirkan Tuan Arvan, ya...?" tanya Adam.


Kini mereka duduk di atas batu di tepi sungai untuk beristirahat sebentar.


" Kau tahu apa yang aku pikirkan, Dam. Apa kau percaya jika suamiku baik - baik saja sekarang...?"


" Jika hatimu yakin bahwa Tuan Arvan baik - baik saja, saya percaya beliau dalam keadaan baik - baik saja saat ini..."


" Hhh... kenapa nasibku seperti ini. Aku pikir setelah menikah hidupku bisa semakin baik. Tapi kenapa ujian yang aku terima harus seberat ini..." keluh Erina.


" Jangan mengeluh, mungkin inilah jalan yang harus kalian tempuh untuk meraih kebahagiaan..."


" Apa kehidupanku harus serumit ini...? Aku hanya ingin kehidupan yang sederhana bersama keluarga kecilku..."

__ADS_1


Erina menyandarkan kepalanya di bahu Adam. Selama di London, hanya Adam dan Sera teman terdekat Erina. Tidak hanya teman di kampus, Erina meminta Adam dan Sera untuk bekerja di perusahaan yang dia pimpin.


" Sudah, mengkhayalnya nanti saja. Memangnya kau pikir aku ini suamimu..." Adam mengacak rambut Erina.


" Ish... anak buah nggak ada sopan santunnya...!" sungut Erina.


" Ayo kita jalan lagi, saya tidak suka menginap di hutan liar seperti ini, Nona Erina Sebastian..."


" Huft... kau tak mau menggendongku...?" rengek Erina.


" Kau tidak tahu punggungku lagi sakit. Kalau tahu kau semanja ini, sudah kutinggalkan saja di seberang sungai sana..." sahut Adam acuh.


" Awas saja kau, keluar dari sini kupotong 50% gajimu bulan ini..."


" Haish... kau mau membuat orangtuaku mati kelaparan di kampung..."


" Kau pasti sangat menyayangi orangtuamu, Dam. Seperti apa rasanya dipeluk oleh ibu kandung...?"


" Kenapa bertanya seperti itu...? Semua pelukan ibu kepada anaknya itu pasti sama. Terasa nyaman dan menenangkan hati..." ucap Adam seraya tersenyum.


" Kau beruntung, masih memiliki orangtua yang utuh. Mereka juga sangat sayang padamu..."


" Semua orangtua pasti menyayangi anaknya walau terkadang ada yang tidak bisa mengungkapkannya secara langsung..."


" Hahh... aku tidak mau memikirkan itu lagi. Hanya membuatku semakin sakit hati saja..."


Erina beranjak dari atas batu itu dan berjalan melewati pepohonan yang menjulang tinggi seakan menyentuh langit. Adam mengikutinya dari belakang dengan sesekali menyapu pandangan ke segala penjuru untuk memastikan bahwa mereka tidak terkejar oleh musuh.


Erina terus berjalan menyusuri sungai mencari jalan untuk keluar dari hutan yang nampak menyeramkan itu. Sesekali ia berpegangan pada Adam saat melewati jalan yang terjal dan licin.


" Kenapa rasanya hutan ini tak ada ujung ya, Dam..." keluh Erina.


" Kita harus terus mencobanya, Nona. Saya yakin tempat ini ada batasnya. Kita hanya harus lebih bersabar dalam menghadapi ujian ini..."


Saat keduanya sedang berjalan, tiba - tiba terdengar suara tembakan yang terdengar cukup keras.


Duaarrr... Duaarrr... Duaarrr...!!!


" Adam, kau dengar itu...!" seru Erina.


" Iya, itu seperti suara baku tembak..." sahut Adam.


" Siapa mereka...? Kenapa ada suara tembakan yang cukup dekat dari sini. Apa mungkin itu para penjahat dan kak William...?"


" Ayo kita bersembunyi dan pantau keadaan disana..."


" Iya, mereka sudah sampai di pinggir sungai..."


Adam dan Erina bersembunyi di samping batu besar dan bisa memantau pergerakan musuh dari sana.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2