
" Kau pantas mendapatkan kebahagiaan ini..." ucap Adam dengan mengusap lembut punggung Erina.
" Bagaimana kau bisa tahu aku memikirkan itu...?" Erina melepas pelukannya lalu menghapus airmata dengan tissunya lagi.
" Kita hampir setiap hari bersama, tentu saja aku tahu apa yang kau rasakan saat melihat mereka sedang bersama saling meluapkan kasih sayang mereka..." kata Adam seraya menoel hidung Erina.
" Raka dimana...?"
" Ada di kamar, sedang menyusun strategi menangkap pencuri di perusahaan..."
" Sebenarnya aku masih khawatir dengan keselamatan Raka. Semakin dia masuk dalam dunia kakeknya, musuh akan terus bertambah..."
" Jangan pikirkan itu, kita semua akan menjaga Raka dengan baik. Asal kau tahu saja, kita semua selalu di kawal dengan ketat oleh para bodyguard yang terlatih..."
" Masa' sih? Perasaan tidak pernah ada yang mengikuti kita...?"
" Pengawalan hanya dilakukan di London, di Indonesia belum ada orang terlatih yang bisa di percaya untuk pengawalan..."
" Sejak kapan...?"
" Sejak kita hampir di bantai di tengah hutan, Tuan William selalu memberi pengawal bayangan yang tidak kita sadari keberadaannya..."
Erina duduk berhadapan dengan Adam dan membicarakan soal pekerjaan untuk mengalihkan kesedihan Erina. Arvan tidak boleh tahu jika tadi dia sempat menangis haru dan juga merasa iri dengan keharmonisan keluarga Sebastian.
" Sayang, kok kamu ada disini sih?" Arvan memeluk bahu istrinya.
" Tidak apa - apa, ada pekerjaan yang aku bicarakan dengan Adam tadi..." jawab Erina.
" Kenapa mata kamu merah...?" selidik Arvan.
" Masa' sih? Mungkin kena debu terus aku kucek tadi..." jawab Erina dengan tersenyum.
" Benarkah...? Atau dia sudah membuatmu menangis...!" Arvan menatap tajam kearah Adam.
" Astaga... fitnah apalagi yang harus aku terima..." ucap Adam dengan mimik muka menghiba.
" Udah, kak. Jangan gangguin Adam terus..." sahut Erina.
" Ya udah, aku mau periksa beberapa pekerjaan dulu di kamar. Jangan terlalu dekat dengan dia..." ujar Arvan.
" Kenapa...?"
" Sepertinya dia tidak suka perempuan, jauhkan dia dariku..." ledek Arvan.
" Tuan, apa yang kau katakan! saya ini masih normal..." teriak Adam tanpa sadar.
" Adam, sudahlah! Jangan dengarkan ucapan kak Arvan..." ucap Erina.
" Buktikan saja jika kau normal..." ledek Arvan lagi.
" Kak, udah! Kalian kenapa sih tidak bisa akur sedetik saja...!" pekik Erina.
" Aku tahu kenapa suamimu bersikap seperti itu padaku..." ucap Adam datar.
" Kenapa...?" tanya Erina penasaran.
" Jangan macam - macam kau...!" ancam Arvan.
" Tuan pasti tahu maksud saya..." Adam tersenyum mengejek.
" Kau_...!" geram Arvan.
" Kak, udah dong! Nanti kalau ayah tahu gimana...?"
Arvan langsung masuk ke dalam kamar namun teriakan Adam masih terdengar.
" Tuan... tanyakan pada Erina, dia pilih siapa..." teriak Adam.
__ADS_1
Terdengar Adam dan Erina berdebat namun tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Arvan terlihat kesal karena Erina tak segera menyusulnya malah asyik bersama Adam diluar.
" Apa benar yang dikatakan Adam selama ini, jika Erina lebih sayang padanya daripada aku..." gumam Arvan kesal.
" Jangan berpikir macam - macam, Adam cuma bercanda..." ujar Erina yang sudah berdiri di belakangnya.
" Sayang, sejak kapan kau masuk kamar...?" tanya Arvan terkejut.
" Barusan, kak. Kamu kenapa sih nggak bisa akur sama Adam? Dia itu orangnya sangat baik loh..."
" Sayang, sekarang jawab dengan jujur. Jika kamu harus memilih salah satu dari kami, kau lebih memilih aku atau Adam...?"
" Memilih dalam hal apa dulu...?"
" Apa kamu mencintai Adam...?"
" Kak, aku memang mencintai Adam. Tapi bukan sebagai pasangan. Kami saling menyayangi layaknya saudara, seperti adik dan kakak..."
" Tapi selama ini, kau hanya bisa tenang saat bersama dengan Adam. Aku merasa tidak mampu untuk menjagamu..."
" Ssttt... jangan bicara seperti itu. Kak Arvan dan Adam itu berbeda. Aku sangat mencintaimu, kak Arvan adalah yang pertama dan terakhir bagiku..." ucap Erina tersenyum.
" Apa kau berniat menggodaku...?" cibir Arvan.
" Apa salahnya menggoda suami sendiri..."sahut Erina.
Arvan tidak akan bisa marah lagi jika istrinya sudah mulai mencium bibirnya secara tiba - tiba. Arvan sangat menikmatinya dan berusaha menuntut lebih dari itu.
Tokk! Tokk! Tokk!!!
Suara ketukan pintu memaksa mereka melepaskan ciuman panas itu. Arvan terlihat sangat kesal karena selalu saja ada yang mengganggu aktifitasnya.
Erina berjalan menuju pintu lalu membukanya perlahan. Nampak wajah imut Raka yang tersenyum dengan tangan kecilnya yang menenteng laptop.
" Sayang, ada apa...?" tanya Erina.
" Ini data kapan...?"
" Data terakhir, Ma. Nanti kalau sudah sampai disana, kita periksa semua laporan dari awal proyek di bangun..."
" Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Jangan terlalu banyak bekerja, nanti kamu bisa kelelahan..." ujar Erina.
" Papa kenapa, Ma? Dari tadi diam saja, apa sedang sakit...?"
" Tidak, papa hanya lelah saja..."
Raka mendekati papanya dan berdiri tepat di hadapannya. Anak kecil itu mengamati dengan seksama wajah papanya yang terlihat datar.
" Papa kenapa...?" tanya Raka.
" Tidak apa - apa..." jawab Arvan datar.
" Really...?"
" Yes, I'm fine..."
Raka ikut berbaring di samping papanya dengan ponsel di tangannya.
" Pa, main game yuk...?" ajak Raka.
" Papa lagi malas, lagian game yang kamu mainkan sangat sulit..." tolak Arvan.
" Papa nggak asyik, mending main sama Uncle Adam saja..." sungut Raka.
Arvan kesal melihat anaknya yang hendak beranjak dari sampingnya. Dia heran, kenapa anak dan istrinya bisa begitu dekat dengan Adam. Padahal jika dilihat dari segi apapun juga, Arvan lebih unggul segalanya.
" Siapa yang mengijinkanmu pergi? Sini papa temenin main game..." Arvan menarik tubuh kecil anaknya ke pangkuannya.
__ADS_1
" Beneran papa mau main sama Raka...?"
" Iya, kamu itu anak papa jadi tidak boleh terlalu dekat dengan yang lain..."
" Kenapa? Setiap hari juga Raka selalu ditemani Uncle Adam atau Uncle Willy..."
" Selama kita bersama, tidak boleh ada yang lain..."
Erina tersenyum mendengar penuturan suaminya yang terlihat cemburu melihat kedekatan anaknya dengan orang lain.
Dari kecil Raka memang diasuh oleh orang - orang terdekatnya. Dia bukan anak yang susah dirawat, malah terkesan mandiri dibandingkan anak seusianya.
" Pa, mama lapar. Makan yuk...?" rengek Erina.
" Sebentar, papa suruh koki buat siapan makanan dulu..." sahut Arvan.
" Raka ikut, pa..." ucap Raka.
" Ayo, ponselnya tinggal saja disitu..." ujar Arvan.
Arvan menggendong Raka menuju dapur untuk mencari koki agar memasak makanan special untuk istrinya dan makan yang sehat untuk ayah dan ibunya.
" Pa, Raka mau ayam crispy..." pinta Raka.
" Pak, apa ada bahan untuk ayam crispy...?" tanya Arvan kepada koki di depannya.
" Ada, Tuan. Nona Erina meminta saya untuk belanja bahan - bahannya sebelum berangkat semalam..." jawab koki.
" Ya sudah, buat agak banyak ya. Sepertinya semua orang menyukainya..."
" Baik, Tuan..."
Arvan dan Raka duduk di sofa dekat jendela. Raka senang melihat awan putih beterbangan yang hanya terhalang kaca.
" Kalian kok malah duduk disini sih? Mama nungguin dari tadi..." omel Erina.
" Maaf, sayang. Raka pengen melihat pemandangan luar dari sini..."
Arvan meraih tangan Erina lalu mendudukkannya tepat disampingnya. Raka masih asyik melihat keluar kaca dengan tersenyum.
" Kak, masaknya belum selesai ya...?"
" Belum, sayang. Ini baru sepuluh menit mereka masak..."
Erina menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang terasa begitu hangat. Arvan dengan tersenyum mendekap tubuh istrinya seraya mengusap perut yang masih terlihat rata itu.
" Aku akan berusaha untuk berada di samping kamu di hari - hari penantian anak kedua kita lahir. Maafkan aku karena tak mendampingimu saat kau berjuang bersama Raka..."
" Tidak apa - apa, kak. Semuanya sudah takdir yang harus kita jalani. Walaupun dirimu tidak bersama kami waktu itu, namun kasih sayang dari ayah dan ibu sudah lebih dari cukup untuk kami..."
" Kakak janji tidak akan meninggalkan kalian lagi. Semoga kita bisa selalu bersama selamanya..."
Arvan melonggarkan pelukannya lalu mencium dengan lembut bibir istrinya.
" I love you my wife..."
" Eheemmmm!!!"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1