
Bugh!
" Auwww...!"
Seorang laki - laki dengan pakaian serba hitam tersungkur ke lantai hingga lututnya terasa sangat sakit.
Menyadari ada orang lain di tempat itu, Raka sangat terkejut dan panik. Pria dewasa yang tersungkur itu juga terkejut karena malam - malam begini ada anak kecil di rumah kosong.
" Kau bukan tuyul kan...?" tanya orang itu gugup.
Raka yang mengenal suara itu langsung merasa lega. Setelah mengatur nafasnya dengan benar, Raka menatap pria itu.
" Uncle Adam...!" seru Raka.
" Raka...! Kaukah itu...?" ucap Adam terkejut.
" Uncle ngapain disini...?" bisik Raka.
Kini keduanya bersandar di dinding dengan meluruskan kaki mereka.
" Hei... bocil...! Kemana saja kau? Orangtuamu sudah mengobrak - abrik seluruh kota untuk mencarimu..." omel Adam pelan.
" Uncle jangan kasih tahu mama dan papa kalau ketemu Raka disini, please..."
" Kau tidak kasihan dengan mama kamu yang menangis sepanjang hari karena ulahmu..."
" Raka pasti pulang, Uncle. Tapi tidak untuk saat ini, masih ada misi yang belum Raka selesaikan..."
Adam tak habis fikir dengan ucapan Raka yang seperti orang dewasa itu. Persis seperti kedua orangtuanya yang mempunyai sifat keras kepala.
" Kau tinggal di rumah kosong ini...?" tanya Adam.
" Tidak, Uncle. Raka hanya ingin memantau keadaan disini. Feeling Raka mengatakan, tante Selly bersembunyi di rumahnya..."
" Ya sudah, kita pulang sekarang..." ajak Adam.
" Raka belum bisa pulang ke rumah papa, Uncle. Raka masih punya tujuan lain..." tolak Raka.
" Kau ini keras kepala seperti orangtuamu, ayo pulang. Uncle akan mengantar kemanapun kau pergi..."
" Baiklah, tapi Uncle janji tidak akan memberitahukannya kepada papa dan mama jika kita sudah bertemu...?"
" Iya, tapi kita harus bekerjasama untuk menyelidiki kasus ini. Kau tidak boleh lagi pergi sendirian..."
" Iya, Uncle..."
Keduanya memutuskan keluar dari rumah itu dengan mengendap - endap seperti seorang pencuri. Mereka berjalan dengan cepat menuju gerbang utama. Setelah berhasil mencapai gerbang, mereka memanjat pagar pembatas komplek dengan jalan raya.
Sampai diluar, Raka menemui ojek yang telah disewanya. Raka menyuruhnya pulang saja karena dia akan pulang bersama Adam.
" Raka, kita pulang kerumah ya...?" bujuk Adam.
" Tidak, Uncle. Raka tidak akan pulang sebelum tujuan Raka tercapai..."
" Tujuan apa? Menuntaskan kasus tante Selly...?"
" Bukan, ada misi lain yang ingin Raka selesaikan. Uncle jangan memberitahu orang lain tentang tempat tinggal Raka yang baru. Cukup Uncle Adam saja yang tahu, bilang pada orangtuaku supaya tidak khawatir dan tidak perlu mencariku. Jika misiku sudah selesai, aku pasti pulang ke rumah..."
" Kau ini sudah seperti orang penting saja..." cibir Adam.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, mereka berdua sampai di panti. Adam terkejut melihat tempat tinggal Raka yang baru.
" Raka, kau beneran tinggal disini...?" tanya Adam memastikan.
" Iya, Uncle. Raka senang tinggal disini, tempatnya sangat nyaman..."
" Kenapa kamu bisa masuk ke panti ini...?"
" Dulu Raka pernah tinggal disini, Uncle Hans juga pernah datang kesini. Bahkan perusahaan papa menjadi donatur tetap di panti ini..."
" Apa tujuan utama kamu tinggal disini...?"
" Belajar..."
" Belajar apa...?"
" Apa saja yang membuat Raka senang..."
" Ya sudah, kamu masuk sana. Besok Uncle kesini lagi..." ujar Adam.
" Menginaplah, Uncle. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan..."
" Tapi ini sudah malam, Raka. Apa ibu panti akan mengijinkan Uncle menginap...?"
" Ayo masuk dulu, nanti Raka yang minta ijin kepada ibu..."
Raka mengetuk pintu dengan pelan. Dilihat dari luar, lampu ruang tamu belum dimatikan. Ibu panti langsung membuka pintu begitu mendengar suara ketukan pintu.
" Raka, kamu baik - baik saja...?" ibu panti langsung memeluk Raka.
" Raka baik - baik saja, bu..." jawab Raka tersenyum.
" Ini paman Raka juga, bu. Namanya Uncle Adam, yang bertugas menjaga Raka..."
Adam mengulurkan tangannya seraya tersenyum kepada ibu panti lalu memperkenalkan diri.
" Saya Adam, bu. Assisten pribadi ibunya Raka. Saya juga bertugas mengawal Raka..." ucap Adam.
" Baiklah, masuklah dulu..."
Adam dan Raka duduk di ruang tamu berhadapan dengan ibu panti.
" Ibu, apa pamanku boleh menginap disini...?" tanya Raka.
" Apa dia_..." ucap ibu ragu.
" Ibu tenang saja, pamanku ini tahu semua pekerjaanku..."
" Ya sudah kalau begitu, pamanmu bisa menginap disini..."
" Terimakasih, bu..." ucap Adam.
Setelah berbincang - bincang sebentar, mereka masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
" Pantas saja kau betah disini, ibu panti orangnya penyabar dan lemah lembut dalam bertutur kata..." ujar Adam.
" Uncle benar, ibu sangat hebat. Beliau bisa membagikan perhatian dan kasih sayang yang sama kepada semua anak disini..."
" Ayo tidur, kaki Uncle masih sakit nih gara - gara jatuh tadi..."
__ADS_1
" Makanya kalau jalan itu jangan sambil merem, Uncle..." ledek Raka.
" Kau saja yang duduk sembarangan disana..." elak Adam.
Tak lama keduanya sudah tertidur lelap karena kelelahan dengan aktifitas yang padat hari ini.
# # #
" Sayang, udah dong. Jangan bersedih terus, Raka pasti baik - baik saja..." hibur Arvan.
Erina berdiri di balkon kamarnya dengan menatap langit malam. Hanya Raka yang ada dalam pikirannya saat ini. Dia takut anaknya mengalami hal yang buruk diluar sana. Raka tidak mengenal siapapun di negara ini.
" Masuk yuk, disini dingin nanti sakit..." bujuk Arvan lagi.
" Kenapa Raka belum ditemukan juga...?" ucap Erina pelan.
" Kita tidak akan berhenti mencari Raka, sayang..."
Arvan membawa sang istri ke dalam dekapannya. Wanita itu tampak menangis di dadanya.
" Aku tidak bisa tenang sebelum bisa memeluk anakku..."
" Aku tahu, sayang. Semoga anak kita cepat pulang..."
Arvan menangkup wajah istrinya, menyatukan kening mereka dengan pelan. Melihat sang istri hanya diam, Arvan menyatukan bibir mereka lalu turun ke leher mulus wanitanya.
" Mmmphhh...!"
Erina mendesah dengan pelan saat sang suami meninggalkan jejak kemerahan di lehernya. Dengan sedikit senyuman, Arvan melanjutkan aksinya di tempat lainnya juga.
" Aku menginginkannya, sayang..." bisik Arvan menghiba.
" Tapi, kak_..." ucap Erina ragu.
" Ayolah, sayang. Kita tidak boleh larut dalam kesedihan. Nikmatilah malam ini bersamaku, semoga saja dengan fikiran yang jernih bisa membuat kita lebih cepat menemukan buah hati kita..."
Erina menganggukkan kepala dan pasrah saat Arvan melepas semua pakaian mereka berdua. Arvan mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam kamar dan merebahkannya di atas tempat tidur king size miliknya.
Arvan yang sudah mulai bergejolak langsung naik ke atas tubuh sang istri dengan senyum yang terkembang.
" Aku akan melakukannya dengan lembut, sayang..." bisik Arvan.
Malam ini mereka berdua melupakan sejenak semua masalah yang ada di dalam pikiran mereka. Keduanya menciptakan kehangatan di tengah dinginnya malam yang semakin larut. Tanpa terasa sudah berjam - jam lamanya mereka saling menyalurkan hasrat yang terpendam beberapa hari ini. Dengan tubuh yang terasa semakin melemah, Erina hanya pasrah saat sang suami masih bersemangat bermain diatasnya. Hentakan demi hentakan di tubuhnya terasa begitu menguras tenaga hingga pria diatasnya itu ambruk begitu mencapai pelepasannya.
" Terimakasih, sayang. I love you..." bisik Arvan.
" I love you, too my husband..." jawab Erina pelan.
Setelah puas dan juga lelah, keduanya segera istirahat untuk memulihkan tenaga mereka yang telah terkuras habis.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1