Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 123


__ADS_3

Pagi hari, Arvan dan William menunggu hasil autopsi di rumah sakit sedangkan Erina dan Adam ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.


Walaupun terasa berat untuk Erina dan Adam, namun mereka harus tetap kuat untuk segera menangkap pembunuh Sera.


" Tuan, apa ada seseorang yang Anda curigai...?" tanya seorang petugas interogasi.


" Untuk saat ini belum, pak. Tapi kami akan secepatnya mencari tahu hal ini..."


" Kapan terakhir kalian bertemu dengan korban...?"


" Kemarin siang kami masih bekerja di tempat yang sama. Tapi dia meminta ijin untuk pulang karena tidak enak badan..."


" Setelah itu tidak ada kontak lagi...?"


" Tidak, saya menghubunginya sekitar jam enam malam namun Sera tidak menjawab panggilan saya..." jawab Erina.


" Apa korban pernah bercerita tentang masalah pribadinya kepada kalian...?"


" Tidak, pak. Kami pergi keluar negeri selama satu bulan dan baru pulang beberapa hari yang lalu..."


" Baiklah, terimakasih atas informasinya..."


" Sama - sama, pak..."


Erina dan Adam langsung meninggalkan kantor polisi begitu selesai di interogasi. Mereka langsung menuju rumah sakit untuk menyusul Arvan dan William.


" Adam, kau tidak apa - apa...?" tanya Erina yang melihat raut wajah pucat Adam.


" Iya, aku baik - baik saja..." jawab Adam datar.


" Padahal kemarin Sera sudah berniat untuk bercerita tentang masalah pribadinya akhir - akhir ini saat waktunya sudah tepat. Mungkin kita bisa menangkap pelakunya jika tahu masalah apa yang sedang dia hadapi..."


" Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal ini. Kasihan janin dalam kandunganmu jika kamu stress..."


" Bagaimana aku tidak memikrkannya, Dam. Kita setiap hari bersama dan kematiannya juga tidak wajar..."


" Iya, tapi janin dalam perutmu juga penting, Erin. Tolong jangan membuat beban bertambah lagi dengan sikap kamu ini..."


" Maaf..."


" Sudahlah, ayo masuk. Semoga hasil autopsinya sudah keluar dan Sera bisa segera dikebumikan..."


Adam menggandeng tangan Erina dengan erat. Dia tidak mau terjadi apapun pada Erina karena kelalaiannya. Cukup Sera yang terlepas dari genggamannya, tapi jangan sampai terjadi juga pada Erina.


" Apa kau takut...?" tanya Erina.


" Aku takut gagal menjagamu, sudah cukup aku gagal menjaga Sera. Aku tidak mau gagal menjagamu walaupun kini kau telah bersuami..." jawab Adam sendu.


" Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku bisa jaga diri. Kau juga harus punya masa depan sendiri, Dam. Sudah saatnya mencari pasangan hidupmu agar kau merasakan kebahagiaan..."


" Apa kau berniat meledekku karena jomblo...?"


" Bukan itu maksudku, hanya saja kau itu juga butuh pendamping yang bisa mengurus dirimu..."


" Oh iya, aku sampai lupa mengaktifkan ponselku..."

__ADS_1


Adam mencari ponselnya di saku celana dan baju namun tidak ada. Dia lupa belum mengabari seseorang dari kemarin.


" Rin, kau lihat ponselku...?"


" Mungkin ketinggalan di rumah, Dam..."


" Huft... ya sudah, ayo kita cari suamimu..."


Arvan dan William duduk di bangku koridor bersama dua orang polisi menunggu hasil autopsi Sera. Erina langsung berlari ke arah suaminya dengan tergesa - gesa.


" Aaakkhhh...!"


Erina berteriak karena terpleset karena lantainya yang masih basah sehabis di pel.


" Sayang...!" teriak Arvan.


Arvan dengan sigap menangkap tubuh istrinya sehingga tidak jatuh. Adam sekali lagi merasa bersalah karena lalai menjaga Erina yang hampir jatuh di hadapannya.


" Erin, maafkan aku. Seharusnya aku tak melepaskan tanganmu..." ucap Adam sendu.


" Sayang, kau tidak apa - apa...?" tanya Arvan.


Erina hanya menggeleng lalu menatap sendu kepada sahabatnya yang terlihat sangat khawatir.


" Aku baik - baik saja, Dam. Jangan menyalahkan dirimu sendiri..." tutur Erina lembut.


" Maafkan aku..." lirih Adam.


" Erina benar, dia adalah istriku. Sudah menjadi tugasku untuk menjaganya. Jangan pernah merasa bersalah dengan kejadian ini..." ujar Arvan seraya menepuk pelan bahu Adam.


" Dokter, apa sudah mendapatkan hasil...?"


" Kami akan membuatkan hasil laporannya, Tuan. Mohon bersabar sebentar lagi..."


Arvan mengikuti langkah dokter yang berjalan menuju ke ruangannya untuk menuliskan hasil autopsi korban. William hanya tersenyum melihat Arvan yang tidak sabaran lalu menyuruh Adam dan Erina untuk duduk di sampingnya menunggu Arvan keluar.


" Kau ini tetap tidak berubah, Van. Tidak bisa sabar menunggu walau hanya sebentar..." cibir dokter forensik itu dengan tersenyum.


" Uncle Joan bisa saja, saya hanya ingin kasus ini cepat selesai..."


" Kau sudah lama tak menangani kasus, sekarang tiba - tiba muncul lagi..."


" Dia sekretaris di kantor Ayah, sahabat baik istriku juga..."


" Aku tidak menyangka puteri angkat Regan adalah istrimu. Bagaimana bisa itu terjadi? Lalu Raka...?"


" Raka adalah hasil kesalahanku di masa lalu. Sekarang ini saya sedang berusaha untuk menebus kesalahan itu. Aku tidak akan menyakiti hati wanita yang sudah berjuang untuk membesarkan anak kami..."


" Apa kau mencintainya...?"


" Aku sangat mencintainya. Setelah kejadian malam itu, aku selalu mencarinya tanpa henti. Aku sampai melupakan orangtuaku sendiri karena sibuk mencari dia. Kenapa Uncle tidak bilang padaku kalau Ayah sakit...?"


" Kau tahu tentang penyakit ayahmu...?"


" Iya, beberapa hari yang lalu Erina menceritakan semuanya setelah aku memaksanya..."

__ADS_1


" Rissa adalah wanita yang kuat, dia mampu menanggung semua tanggung jawab yang diberikan ayahmu. Sebenarnya, beberapa tahun lalu ayahmu sempat ingin menjodohkanmu dengan Rissa tapi kau tidak datang. Waktu itu mungkin baru beberapa bulan melahirkan Raka, dia sudah mulai merasakan sakit itu namun tidak mau seorangpun tahu..."


" Itulah takdir, Uncle. Beberapa kali saya berkunjung kemari namun tidak pernah bertemu dengan Erina. Saat saya datang, dia selalu ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri..."


Dokter Joan yang sudah selesai menge-print hasil laporan autopsi langsung menyerahkannya pada Arvan.


" Ini hasilnya, silahkan dibaca dan bisa kau tanyakan jika ada yang tidak kau mengerti..."


" Terimakasih, Uncle..."


Arvan membaca secara seksama hasil autopsi di tangannya dan terkejut dengan semua fakta yang tertera dalam laporan itu.


" Uncle yakin tidak salah diagnosa...?" ucap Arvan tidak percaya.


" Hey... apa kau meragukan kemampuanku? Tiga puluh tahun aku menjalankan semua pekerjaan ini..." sanggah Dokter Joan.


" Maaf, saya hanya terkejut dengan hasilnya. Saya tidak menyangka korban mengalami hal seburuk ini..."


" Apa ada keluarga atau kerabat yang bisa dihubungi...?"


" Tidak, gadis itu tinggal sendiri di negara ini. Orangtuanya berpisah dan sudah memiliki keluarga masing - masing. Kami tidak tahu dimana mereka berada..."


" Baiklah, kalau begitu kau urus pemakaman untuknya secepatnya..."


" Iya, Uncle..."


" Kau terlihat lebih dewasa sekarang, Regan pasti bangga memiliki anak sepertimu..."


" Uncle bisa saja, ya sudah saya keluar dulu mengurus proses pemakaman Sera..."


" Silahkan, cepat temukan tersangkanya biar gadis itu bisa bersemayam dengan tenang..."


" Iya, Uncle. Saya akan menyelidiki ini secepatnya, masih banyak pekerjaan lain di Indonesia..."


" Semoga kau berhasil, Nak..."


" Terimakasih, Uncle..."


Arvan segera keluar dari ruangan Dokter Joan lalu memberikan salinan hasil laporan kepada polisi yang berjaga. Dia sendiri juga sudah mengantongi sinan yang lain untuk dibawa ke Markas.


" Hasilnya sudah keluar, Van...?" tanya William.


" Sudah, kak. Aku sudah membaca semuanya..."


" Kak, apa hasil laporannya...?" tanya Erina.


" Sera_..."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2