Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 112


__ADS_3

" Apa sebaiknya kamu jujur saja kepada suamimu...?" ucap Adam memberi saran.


" Tidak bisa, ayah tidak ingin membuat ketiga putranya merasa khawatir..." sahut Erina.


" Tapi jika seperti ini terus, kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya..."


" Tapi aku sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk merahasiakan semua ini terutama kepada kak Arvan..."


" Sampai kapan kau menyembunyikannya? Keadaan bisa lebih buruk lagi jika mereka bertiga mengetahuinya dari orang lain..."


Erina kembali termenung memikirkan saran dari Adam. Ayah pasti marah jika Erina jujur kepada ketiga putranya tentang penyakit yang di deritanya. Ayah selalu terlihat kuat di depan anaknya, padahal sebenarnya fisiknya sangat lemah.


" Baiklah, mudah - mudahan mereka mengerti dan kak Arvan mengijinkan aku pergi..."


" Ya sudah, sekarang kita pulang. Besok pagi kita akan berangkat ke London..."


" Semoga kak Arvan bisa mengerti keadaan ayah..."


Adam membantu Erina untuk berdiri kemudian mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Sampai di dalam mobil, Adam langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Satu jam kemudian mereka sampai di rumah. Erina langsung masuk ke dalam kamar mencari suaminya.


" Kak, ngapain disitu...? Nanti mual lagi kalau kena angin...?"


Erina menghampiri Arvan yang sedang berdiri di balkon hanya menggunakan kaos putih tipis.


" Kamu sudah pulang...?" Arvan membalikkan badan menatap istrinya.


" Iya, ini baru saja pulang..."


" Buang jas itu dari tubuhmu...!"


Erina baru sadar jika dirinya masih memakai jas milik Adam. Dia langsung melepasnya dan di taruh di keranjang tempat pakaian kotor.


" Kak, aku mandi dulu ya...?"


" Aku ikut..." ucap Arvan datar.


Erina hanya tersenyum lalu menggandeng tangan suaminya menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi, Arvan dan Erina kembali duduk di balkon menatap langit malam yang bertabur jutaan bintang.


" Kak, Erina mau bicara..." ucap Erina ragu.


" Katakan saja, aku ingin dengar kata - kata yang mungkin jarang aku dengar langsung nantinya..."


" Bukan soal itu, kak. Ini semua tentang Ayah..."


" Ayah? Ada apa dengan ayah...?"


" Tapi kakak janji jangan memberitahu dulu sama kak Hans dan kak Ricko..."


" Kenapa? Tidak ada rahasia diantara kami bertiga..."


" Sebenarnya aku sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk merahasiakan semua ini..."


Arvan semakin penasaran dengan tatapan istrinya yang seakan ragu untuk menyampaikan sesuatu yang penting padanya.


" Percayalah padaku, tidak akan ada yang berubah apapun yang kau katakan nanti..."


" Erina minta maaf, sebenarnya... ayah... ayah sedang sakit..."

__ADS_1


" Sakit...?! Ayah sakit apa...?"


" Sudah tiga tahun ini ayah menderita sakit jantung. Beliau rutin perawatan satu bulan sekali di rumah sakit. Maka dari itu, Erina tidak mau ayah kelelahan.Mau tidak mau, Erina harus kembali ke kantor..."


" Sayang, kenapa baru bilang sekarang...?"


" Ayah yang meminta untuk merahasiakan ini dari kalian. Ayah tidak mau membebani anak - anaknya. Cukuplah kami yang disana saja yang tahu tentang kondisi kesehatan ayah..."


" Harusnya kamu jujur padaku sejak awal, sayang. Aku ini anak kandungnya, aku berhak tahu tentang keadaan orangtuaku..."


" Ayah hanya tidak ingin kalian khawatir, kak. Maafkan aku..." Erina menangis dan bersimpuh di hadapan Arvan.


" Sayang, jangan seperti ini. Semua ini bukan salahmu, bangunlah..." Arvan terkejut dengan sikap istrinya.


" Ijinkan aku pergi untuk menemani ayah, aku janji akan berlaku adil untukmu juga..."


" Tidak, sayang. Kau tidak perlu melakukan itu, aku sebagai anak kandungnya yang berkewajiban untuk merawat ayah dan ibu di masa tuanya..."


" Maksud kakak...?"


" Aku akan ikut ke Inggris besok. Aku akan mengurus semua pekerjaanku dari sana. Kau tidak perlu berkorban sebesar itu untukku karena sekarang akulah yang harus bertanggungjawab atas dirimu dan anak - anak kita..."


" Terimakasih, kak..."


Arvan memeluk istrinya dengan sangat erat. Dia tidak menyangka wanita yang ada dalam dekapannya saat ini telah berkorban begitu besar untuk kebahagiaan keluarganya.


" Aku sangat beruntung memilikimu, sayang. Terimakasih kau telah menjaga ayah dan ibu dengan sangat baik selama ini. Aku berjanji tidak akan menyia - nyiakanmu lagi..."


" Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga Sebastian. Aku merasa kehidupanku baru di mulai saat ibu membawaku terbang ke London. Disana aku merasa terlahir kembali di tengah - tengah keluarga yang harmonis dan penuh cinta serta kasih sayang yang berlimpah..."


" Baiklah, sayang. Kita akan mulai kehidupan kita yang baru sejak dari sekarang..." ucap Arvan dengan tersenyum.


" I love you my husband..."


" Apa kau ingin menggodaku, sayang...?"


" Tidak, aku mau beresin barang bawaanku dulu, kak..."


" Jangan berharap kau bisa lepas malam ini...?"


" Kak, inget kata dokter! Tidak boleh melakukannya dulu..."


" Aku akan melakukannya dengan pelan, sayang..." bujuk Arvan.


Erina mengurai pelukannya lalu mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Dia terlalu lelah untuk menuruti hasrat suaminya.


" Kak, aku juga belum membereskan barang bawaan Raka..."


" Nanti aku suruh Adam atau Hans yang membereskannya..." bujuk Arvan.


" Kak_..."


" Jangan menolak! Siapa suruh kau terus menggodaku..."


" Banyak alasan..." cibir Erina.


Arvan mengangkat tubuh istrinya dan naik ke atas tempat tidur.


" Kak_..."


" Apalagi, sayang...?"

__ADS_1


" Kakak yakin mau ikut ke London...?"


" Pertanyaan macam apa itu! Di saat begini malah bahas yang lain. Sudah cepat tidur! Besok kita berangkat pagi - pagi..."


Arvan melepaskan pelukannya dan berbalik badan memunggungi istrinya. Sedangkan Erina, dia menutup mulutnya menahan tawa melihat Arvan merajuk.


" Kak, jangan sampai ayah tahu ya kalau aku sudah kasih tahu kakak tentang penyakit ayah. Anggap saja kakak tidak tahu apa - apa..."


" Ada upah tutup mulutnya nggak...?"


" Kakak mau memerasku...?"


" Terserah mau apa tidak..."


" Mana ada orang kaya memeras orang miskin..." cibir Erina.


" Hei... mana ada CEO perusahaan ternama di London miskin..." sahut Arvan.


" Semua itu punya ayah, aku hanya bekerja saja dan tidak mengharapkan apapun..."


Arvan membalikkan tubuhnya yang sedari tadi digelitiki istrinya. Kini mereka saling berhadapan, mata mereka beradu cukup lama.


" Seberapa parah penyakit ayah...?" tanya Arvan serius.


" Sebelum pernikahan kak Ricko, ayah melakukan operasi pemasangan ring jantung..."


" Kenapa kau menanggung semua beban ini sendiri...?"


" Aku ikhlas melakukannya, kak. Karena aku juga anaknya..."


" Maafkan aku yang belum bisa memahami hatimu, sayang. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku..."


" Tidak usah seperti itu, aku sudah bahagia bisa berada di tengah - tengah keluarga yang baik ini..."


" Kenapa ayah harus seperti ini pada kami, kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya, kami pasti sangat menyesal..."


" Sebenarnya Erin sudah curiga dari awal kami bertemu. Ayah seperti menyembunyikan sesuatu dari ibu. Semenjak aku masuk ke dalam rumah ayah, beliau langsung memintaku untuk menggantikan posisinya di kantor padahal aku hanya lulusan SMA. Ayah jadi lebih sering menemani ibu di toko bunga dan juga pergi ke markas. Aku yakin ayah sudah merasakan gejala sakit itu sebelum kami bertemu..."


" Jadi ayah sakit hampir enam tahun...?"


Erina menghela nafas dalam - dalam lalu memejamkan matanya.


" Sepertinya begitu, tapi ayah sangat pandai menyembunyikannya dari kami hingga tiga tahun lalu ayah terkena serangan jantung setelah pukang dari luar kota..." ujar Erina.


" Sebagai anak, aku merasa tidak berguna. Bahkan di saat ayah sedang sakit, akupun tidak mengetahuinya..."


" Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting mulai sekarang kita harus lebih banyak meluangkan waktu untuk ayah dan ibu..."


Arvan mencium bibir istrinya dengan lembut dan cukup lama. Namun saat tangannya mulai bergerak ingin melepas pakaian istrinya, tiba - tiba pintu terbuka dengan kasar.


Braakkk!


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2