Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 46


__ADS_3

" Penghianat harus mati...!" seringai Selly.


Selly dan Yona mengikuti bik Ina bersama beberapa anak buahnya. Dugaan mereka benar bahwa bik Ina bertemu dengan seseorang. Lebih mengejutkan lagi orang itu adalah Raka dan Hans.


Selly tahu siapa Hans, tapi apa hubungannya dengan Raka? Selly juga mendengar Hans menyebut nama Erina. Sudah pasti perempuan yang disebutkan oleh Hans adalah Erina, adik tirinya.


" Bu, mungkinkah Raka itu anak Erina dan Hans...?" tanya Selly.


" Tapi menurut ibu, anak itu lebih mirip Arvan..." jawab Yona.


" Lalu... apa hubungan mereka dengan Erina...?"


" Jangan - jangan Raka itu anaknya Erina dan Arvan..."


" Tidak mungkin...! Arvan hanya milikku...! Tak akan kubiarkan siapapun mengambilnya dariku...!" geram Selly.


Selly beserta anak buahnya menghampiri Hans dengan menodongkan senjata.


" Bik Ina...! Beraninya kau berkhianat... Rupanya kau ingin menjemput ajalmu lebih cepat..." seringai Selly.


" Non Selly...! Nyonya..." ucap bik Ina kaget.


Hans dan Raka juga kaget karena mereka telah dikepung oleh anak buah Selly.


" Kau lagi...? Untuk apa kau kesini...?" Hans bersikap biasa saja seraya duduk memainkan ponselnya.


Sebenarnya Hans sedang mencari cara untuk bisa mencari bantuan. Seandainya tadi Raka bilang untuk mengambil barang bukti, pasti Hans akan siap dengan senjatanya.


Hans mengirimkan pesan pada Erina sebelum Selly menyadarinya. Hans tidak mungkin melawan mereka semua dengan tangan kosong sementara para musuh bersenjata.


" Hans... katakan siapa anak itu sebenarnya...!"


" Bukan urusanmu, saya mengadopsinya kemarin..."


" Kau pikir aku bodoh... hah! Apa dia anaknya Erina...?"


" Erina...? Siapa dia...? Saya tidak mengenalnya..."


" Katakan yang sebenarnya atau kubunuh kalian semua...!" ancam Selly.


Hans berusaha mengulur waktu sampai Erina dan Ricko datang.


" Kau sudah kelewat batas Selly. Saya menyesal telah melepasmu dulu..."


" Itulah kebodohanmu... sekarang kau tidak akan selamat dariku..."


# # #


Erina yang mendapat pesan dari Hans sangat terkejut. Dia buru - buru masuk ke kamar Hans untuk mencari pistol yang tersimpan rapi disana. Erina juga menghubungi Ricko supaya mengerahkan anak buahnya untuk menyelamatkan Hans dan Raka.


Saat hendak keluar dari kamar Hans, Erina terkejut karena Arvan sudah berdiri di depan pintu.


" Mau kemana...?" tanya Arvan.


" Astaga... kak Arvan, kau mengagetkanku..." ucap Erina menahan diri agar terlihat tetap tenang.


" Jawab pertanyaanku...!" suara Arvan meninggi.


" Saya mau keluar sebentar, ada sedikit urusan..."


" Apa yang kau sembunyikan dariku...?"


" Tidak ada kak, aku hanya akan keluar sebentar. Kakak tidurlah supaya cepat sembuh..."

__ADS_1


" Bohong...! Kau pergi dengan membawa senjata...!"


Erina menghela nafas panjang kemudian menatap Arvan dengan lembut.


" Aku akan segera kembali, tidak perlu khawatir..."


" Katakan yang sejujurnya, Erin...!" teriak Arvan.


" Erin nggak ada waktu untuk jelasin ini sekarang, kak...!"


" Kalau begitu aku ikut...!"


" Kak, tetaplah dirumah. Aku udah meminta kak Ricko untuk menemaniku..."


" Kau keterlaluan, Erin...! Kau anggap aku ini apa...hah...!"


" Kak_..."


" Diam...!"


Arvan merebut ponsel di tangan Erina. Dia membuka pesan yang terakhir masuk. Matanya membulat sempurna membaca pesan dari Hans.


" Kau sungguh keterlaluan! Kau tidak memberitahuku Hans dan Raka sedang dalam bahaya...!"


" Maafkan aku, kak..."


Arvan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil senjatanya dan memakai rompi anti peluru yang tergantung di dalam lemari.


" Pakai rompi ini...!"


Arvan melempar rompi kepada Erina untuk melindungi tubuhnya. Erina hanya bisa terdiam dan memakai rompi itu karena ia tahu Arvan benar - benar marah padanya.


Arvan sedang memilih senjata yang akan dia bawa untuk menghadapi musuhnya.


" Kak, mana senjata yang paling ringan...?" tanya Erina.


" Aku udah ambil milik kak Hans, yang ini buat jaga - jaga saja..."


" Ayo pergi, aku tidak mau terjadi apa - apa pada mereka..." ucap Arvan datar.


" Kak, maafin aku..."


" Sudah Erin, aku tidak punya waktu mendengar ocehanmu..." ketus Arvan.


Hati Erin terasa perih mendengar ucapan Arvan yang begitu ketus padanya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa pembicaraan sama sekali.


Arvan dan Erina sudah sampai di lokasi tempat Raka dan Hans berada bertepatan dengan Ricko yang juga baru datang bersama beberapa anak buahnya.


" Arvan... kamu sudah sembuh...? Harusnya kamu di rumah saja istirahat..." ujar Ricko.


" Raka lebih penting dari nyawaku, kak...!" ucap Arvan menatap tajam Erina.


" Ya sudah, kita bergerak sekarang...!" perintah Ricko.


Dengan mengendap - endap, mereka mendekati posisi Raka berada sekarang. Erina tak sanggup melihat amarah Arvan yang ditujukan padanya. Erina melakukan semua itu karena dia tahu saat ini kondisi tubuh Arvan masih sangat lemah.


" Selly... lepaskan Raka...!" teriak Hans.


Tubuh kecil Raka kini dalam genggaman Selly dengan senjata yang mengarah pada kepala anak kecil tersebut.


" Jadi benar Raka anak Arvan dan Erina...?"


" Iya, jadi tolong lepaskan Raka. Dia itu keponakanmu sendiri. Jangan sakiti anak yang tak bersalah ini..."

__ADS_1


" Diam kau...! Suruh Arvan dan Erina sendiri yang memohon dan berlutut di kakiku...!"


Erina sangat geram dengan kelakuan kakaknya. Dari kecil dia selalu mengalah dan pasrah di siksa oleh Selly dan ibunya. Tapi tidak untuk kali ini, Erina akan melawan mereka dengan tangannya sendiri.


" Saya sudah disini, kak Selly..."


Erina sudah berdiri di belakang Selly dengan tatapan tajamnya. Sebenarnya dia tidak tega untuk menyakiti keluarganya sendiri, namun demi Raka dia rela melakukan apa saja.


Arvan yang saat ini masih mengintai sangat terkejut karena Erina sudah berhadapan dengan Selly. Padahal sedari tadi Arvan sudah menyuruhnya untuk mengikutinya di belakang.


" Sayang, apa yang kau lakukan...?" gumam Arvan.


" Van, apa yang Rissa lakukan? Kenapa dia bertindak gegabah...?" bisik Ricko.


" Aku juga nggak tahu, kak... Aku tidak tahu apa yang ada dalam fikirannya..."


" Apa kita serang sekarang saja..."


" Jangan dulu kak, Raka dalam genggaman mereka..."


Selly dan Erina masih bersitegang dengan tatapan tajam.


" Lepaskan Raka...!" teriak Erina.


" Berlututlah, maka kulepaskan anakmu..." seringai Selly.


" Cihh... kupastikan hidupmu hancur setelah ini Selly...!" teriak Erina lagi.


" Hahahaaa... kau pikir siapa dirimu hah...! Aku akan membuatmu menyusul kedua orangtuamu..."


" Benarkah? Aku sangat menantikan saat itu tiba..." senyum Erina terkembang sempurna.


" Sialan...! Aku akan membunuhmu sekarang...!" geram Selly.


Selly mendorong tubuh kecil Raka kepada Yona dan bersiap untuk menghajar Erina. Keduanya berkelahi dengan penuh amarah yang memuncak. Selly yang merasa terdesak, mengambil pisau belati di sakunya.


Perkelahian masih terus terjadi. Hans tidak melewatkan kesempatan, dia perlahan mendekati Yona yang fokus melihat anaknya berkelahi. Hans segera mendorong Yona hingga jatuh lalu meraih tubuh Raka ke dalam gendongannya.


" Selly...!" teriak Yona.


Selly langsung menoleh pada ibunya lalu memberi perintah kepada para anak buahnya.


" Habisi mereka...!" teriak Selly.


Anak buah Selly langsung menghadang Hans dan mengeroyoknya. Namun tanpa mereka sadari, Arvan dan anak buahnya juga langsung datang menyerang. Mereka saling baku hantam secara membabi buta.


Perkelahian berlangsung begitu sengit dan tidak ada yang mau menyerah. Selly yang semakin terdesak, tidak mampu lagi melawan Erina.


" Sial...! Aku harus segera kabur dari sini...!" batin Selly.


Erina kini melawan anak buah Selly yang tiba - tiba menyerangnya. Selly mencoba mengalihkan perhatian lawan dengan mengarahkan senjatanya ke arah Arvan.


" Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka orang lainpun tidak boleh. Kau harusnya sudah mati dari dulu, Van...!" seringai Selly.


" Doorrr... Doorrr... Doorrr...!!!"


" Aakkkh...!!!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2