Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 120


__ADS_3

" Mmm... baiklah, sebenarnya kemarin itu_..." Adam ragu untuk mengatakannya.


" Cepat katakan! Jangan membuatku penasaran..." pekik Erina.


" Penasaran banget ya...?" goda Adam.


" Ish... bener kata kak Arvan, kau ini sangat menyebalkan..." sungut Erina.


" Walaupun menyebalkan, tapi selalu membuatmu tersenyum kan...?" goda Adam.


Erina mengacak - acak rambut Adam karena gemas dengan kelakuan sahabatnya itu. Adam yang biasanya membalas kini hanya bisa pasrah karena sedang menghadapi wanita hamil yang tidak mungkin mau mengalah.


Saat sedang asyik bercanda, tiba - tiba Arvan datang bersama Raka. Melihat Adam yang terduduk di lantai dengan tangan Erina yang masih mengacak - acak rambutnya membuat Arvan geram.


" Mamaa... Unclee...!" teriak Raka.


Erina langsung menghentikan tangannya lalu duduk di sofa karena kelelahan ribut dengan Adam sedari tadi.


" Raka, kak Arvan... sejak kapan kalian masuk...?" tanya Erina.


" Mama lagi mainan sama Uncle Adam...?" tanya balik Raka.


" Hehehee... ini rambutnya Uncle kotor, jadi mama bersihin..." jawab Erina nyengir.


" Jadi seperti ini kelakuan kalian saat bekerja...!" hardik Arvan marah.


" Sayang, bukan seperti itu. Kami hanya bercanda, tadinya mau keluar makan siang..." ucap Erina.


" Bersikaplah sewajarnya seorang teman, jangan berlebihan..." ujar Arvan pelan namun penuh penekanan.


" Maaf, Tuan. Kami benar - benar hanya bercanda saja, tidak ada maksud lain..." ucap Adam.


Arvan hanya menatapnya tajam tanpa menyahuti ucapan Adam. Walaupun Arvan tahu mereka berdua memang hanya bersahabat, namun rasa cemburu itu tetap ada dalam hatinya.


" Kak, jangan marah dong..." bujuk Erina.


" Tidak, aku mau istirahat sebentar. Tolong pesan makanan untukku dan Raka sebelum kalian pergi..." ucap Arvan datar.


" Kami tidak akan keluar jika Tuan disini. Kita bisa makan siang bersama disini..." sahut Adam.


" Terserah...!"


" Tuan mau pesan makanan apa...?" tanya Adam.


" Steak saja sama orange jus..." jawab Arvan.


" Nona dan Raka...?"


" Samakan saja sama pesanan kak Arvan..." ucap Erina.


" Raka spaghetty, Uncle..." seru Raka.


" Ok, Uncle pesan dulu ya..." ujar Adam.


Setelah memesan makanan via online, Adam segera duduk di samping Arvan.


" Oh iya, saya sampai lupa soal Sera..." seru Adam.

__ADS_1


" Iya, katanya tadi mau cerita..." sahut Erina.


" Jadi, kemarin itu saya dapat laporan dari anak buah Tuan Willy bahwa dia mengikuti Sera ke hotel Z pada jam delapan malam..." ujar Adam.


" Hotel...? Untuk apa dia ke hotel...?" pekik Erina kaget.


" Mau honeymoon, sayang. Begitu saja tidak tahu sih? Kamu juga pengen...? Kita berangkat sekarang..." goda Arvan.


" Apaan sih, kak! Sera itu belum menikah, mau honeymoon sama siapa..." Erina memukul tangan Arvan yang melingkar di pinggangnya.


" Dam, apa kau tahu untuk apa dia pergi kesana...?" tanya Erina lagi.


" Tidak, karena Sera langsung masuk ke salah satu kamar hotel tanpa chek in. Itu berarti dia menemui seseorang disana dan tidak kembali hingga pagi..." jawab Adam.


" Sayang, jangan terlalu banyak berfikir. Ingat anak dalam kandunganmu itu. Dia juga akan lelah jika kamu seperti itu..." peringat Arvan.


" Tuan Arvan benar, Rin. Biar semua ini menjadi tanggung jawabku dan Tuan William. Kau harus jaga keponakanku dengan baik..." ujar Adam.


" Aku hanya tidak percaya saja jika Sera_..." ucap Erina sendu.


" Jangan berpikir macam - macam dulu. Jika Sera memang melakukan semua itu, pasti dia punya alasan yang kuat..." sahut Adam.


Tak lama, pesanan mereka datang diantarkan oleh OB. Adam membagi semua makanan sesuai pesanan masing - masing. Adam juga pesan satu porsi untuk Sera, namun saat dia keluar untuk mencari gadis itu ternyata dia sudah tidak ada ditempatnya.


" Kemana Sera pergi? Ini baru lewat sepuluh menit dari jam istirahat. Biasanya juga selalu makan siang bersama..." gumam Adam.


Adam kembali masuk ke ruangan Erina dengan wajah bingung lalu duduk di samping Raka.


" Kenapa, Dam? Sera mana...?" tanya Erina.


" Tidak ada, mungkin makan diluar..." jawab Adam.


" Sudahlah, tidak perlu memikirkannya. Nanti aku yang cari tahu soal Sera..."


Mereka melanjutkan makan siangnya tanpa Sera. Erina hanya merasa aneh saja tanpa ada Sera di sisinya. Sera yang selalu ceria kini menghilang entah kemana.


Selesai makan, Erina langsung masuk ke dalam kamar pribadinya. Dia terus kepikiran dengan tingkah Sera yang seakan menjaga jarak dengannya.


" Sayang, ada apa denganmu...?" Arvan menyusul Erina ke kamar.


" Ah, tidak apa - apa. Aku ingin sendiri dulu, kak..." sahut Erina.


" Kenapa sendiri? Apa aku tidak penting untukmu? Tidak bisa menjadi sandaran hatimu seperti Adam...?" Arvan menatap lekat wajah istrinya.


" Tidak, kak. Jangan bicara seperti itu..."


" Walaupun kita hidup bersama, tapi hatimu belum bisa menerima diriku sepenuhnya. Aku tahu kesalahanku sangat besar padamu, cobalah untuk membuka sedikit saja hatimu untukku. Cobalah untuk membagi suka dukamu padaku..."


" Kak_..."


" Kamu selalu berbagi kebahagiaan padaku, tapi tidak pernah datang di saat hatimu sedang bersedih. Kau selalu menyembunyikan kesedihan itu padaku dan meluapkannya pada Adam. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi penawar luka di hatimu, sayang..."


" Aku mencintaimu, kak. Sungguh sayang padamu..." Erina terisak dalam dekapan Arvan.


Tubuh Erina serasa bergetar mencoba menahan tangisnya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya membuat dia merasakan sakit yang amat perih.


" Kamu bisa berbagi apapun denganku, sayang. Aku akan selalu ada untukmu kapanpun dan dimanapun..."

__ADS_1


Arvan mengurai pelukannya dan menghapus airmata di wajah cantik istrinya. Sekilas Arvan menyatukan kening mereka lalu menautkan bibirnya dengan lembut.


" Kau memang berbeda dengan Adam..." ucap Erina dengan bibir mengerucut.


" Apanya yang beda...?" tanya Arvan heran.


" Adam tidak pernah menciumku walau hanya di pipi..." jawab Erina datar.


" Jadi kamu ingin dicium Adam...?"


" Siapa yang bilang begitu? Erin cuma bilang perbedaan kak Arvan dan Adam..."


" Kakak tidak mau sampai dia menciummu, akan kuledakkan kepalanya jika sampai melakukan itu padamu..."


Erina menyunggingkan senyumnya lalu mendaratkan ciuman di bibir suaminya. Setelah cukup lama, Erina kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


" Jangan cemburu dengan Adam, dia sudah seperti saudara bagiku. Seperti halnya dirimu dengan Delia, aku tidak akan cemburu walaupun kakak sering bersamanya. Aku harap kita saling percaya satu sama lain. Apalagi kita akan jarang bertemu nantinya, berjanjilahlah kita akan selalu setia walau jarak memisahkan..."


" Iya, sayang. Kakak janji akan selalu setia kepadamu seumur hidupku. Hanya maut yang bisa memisahkan raga kita, namun bukan hati dan jiwa..."


" Kak_..."


" Hmmm... apa, sayang...?"


" Seandainya Sera berkhianat gimana...? Apa aku masih bisa memaafkan seperti yang kulakukan pada Sam...?"


" Mungkin Sera punya alasan mengapa harus melakukan semua ini. Dia tidak mungkin berkhianat hanya demi uang..."


" Aku takut kehilangan sahabatku lagi, kak..."


" Kakak akan mengurus ini dengan Adam dan kak Williy. Kamu fokus saja dengan pekerjaan dan juga anak - anak kita..."


Erina merasa nyaman dalam dekapan Arvan hingga tak terasa tidur dengan posisi masih duduk. Arvan yang menyadarinya segera merebahkan istrinya di tempat tidur supaya bisa beristirahat dengan nyaman.


Arvan kembali keluar menemui Adam yang masih menyuapi Raka. Dia menunggu sejenak hingga Raka selesai makan.


" Raka, temani mama istirahat di kamar. Papa dan Uncle Adam ada urusan sebentar..." ujar Arvan.


" Iya, pa. Tapi boleh bawa laptopnya kan...?" sahut Raka.


" Boleh, sekalian kamu retas data rekening bank para koruptor di kantor ini. Papa ada pekerjaan yang lain..."


" Siap, Boss...!" seru Raka.


Setelah Raka masuk ke dalam kamar, Arvan duduk di samping Adam dengan menyandarkan punggungnya di sofa.


" Dam, apa ada yang kamu tutupi dari Erina soal Sera...?" tanya Arvan.


" Sebenarnya begini, Tuan. Sera kemarin_..."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2