
" Erinaa...! Awaasss...!!!" teriak Arvan.
" Aakkkhhh...!!!"
Brugh!
Ciittt!!!
" Auwww..." rintih Erina.
Erina tersungkur ke bahu jalan karena ada seseorang yang mendorong tubuhnya. Mobil yang tadi hampir menabraknya langsung kabur begitu saja.
Erina dengan tertatih menghampiri korban tabrak lari yang telah menolongnya. Dia begitu terkejut melihat Arvan yang bersimbah darah di kepalanya karena benturan keras dengan aspal jalan.
" Kak Arvaannn...!" teriak Erina.
Raka yang mendengar teriakan mamanya langsung berlari menghampiri.
" Mama... ada apa...?" tanya Raka.
" Papa... papa kamu Raka..." isak Erina.
Raka melihat korban tabrakan itu langsung menangis.
" Papaa...!!!" teriak Raka.
" Raka... jaga Mama, maafin pa...pa..."
Arvan langsung tak sadarkan diri setelah melihat Raka dan menggenggam tangannya. Tak lama kemudian Ambulance datang membawa Arvan yang terluka parah. Raka dan Erina ikut masuk ke dalam mobil Ambulance itu untuk menemani Arvan.
" Papa bangun...! Jangan tinggalin Raka..." teriak Raka histeris.
Erina menangis seraya memeluk Raka dengan sangat erat. Rasa bersalah menyelimuti pikirannya yang tengah kalut. Seandainya mereka tidak bertengkar, mungkin Raka tidak akan pergi dan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.
" Maafkan aku Kak, karena keegoisanku kamu jadi celaka..." batin Erina.
Lima belas menit kemudian, Ambulance sampai di rumah sakit. Korban langsung dibawa ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan secara intensif.
Erina membawa Raka ke dalam pangkuannya seraya menghubungi Ayahnya untuk memberitahukan keadaan Arvan. Selesai menelfon, Erina menyuruh Raka tidur karena malam semakin larut.
Setengah jam kemudian, Tuan Regan, Bu Sarah, Hans dan William sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menghampiri Erina yang tengah duduk di depan ruang ICU.
" Rissa... apa yang terjadi dengan Arvan...?" tanya Bu Sarah sambil menangis.
Erina hanya mampu menangis seraya menggelengkan kepalanya. Semua orang terlihat panik karena sudah hampir satu jam, dokter yang memeriksa Arvan belum keluar juga.
Hans dan William mengajak Erina menjauh dari orangtuanya setelah meletakkan tubuh Raka di kursi tunggu.
" Rissa, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi...?" ucap William.
" Kak Arvan... dia korban tabrak lari..." jawab Erina sambil menangis.
" Kamu yakin Arvan hanya korban tabrak lari biasa...?" cecar Hans.
" Maksud kak Hans apa...?" Erina menatap tajam kakak angkatnya.
" Arvan bukan orang yang ceroboh, tidak mungkin dia bisa tertabrak egitu saja..." ujar Hans.
__ADS_1
" Maafkan aku kak, kak Arvan celaka karena menyelamatkan aku..."
" Untuk apa kalian di jalanan malam - malam seperti ini...?"
" Kami mencari Raka..." ucap Erina ketakutan.
" Shitt!!! Tak bisakah kalian berpura - pura baik di depan Raka...?" geram Hans.
Hans tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka karena tadi siangpun hal seperti ini juga terjadi.
" Sudahlah, sebaiknya kalian tenang. Jika semua panik, Nyonya Sarah bisa drop..." seru William.
Tak lama dokter keluar dari ruang ICU yang langsung disambut oleh Tuan Regan.
" Dokter, bagaimana keadaan anak saya...?"
" Lukanya cukup parah, pendarahan di kepalanya membuat pasien kehilangan banyak darah. Kami membutuhkan donor darah untuk menjalankan operasi ini..."
" Saya Ayahnya, golongan darah kami sama Dokter. Ambil saja darah saya..." ucap Tuan Regan.
" Baiklah, kita ke Lab. untuk pemeriksaan kesehatan Anda terlebih dahulu Tuan..."
Hans menemani Ibu di depan ruang ICU sementara Erina masih terduduk lemas di samping William.
Setelah beberapa saat pemeriksaan, Dokter dengan sedikit ragu mengatakan hasilnya pada Tuan Regan.
" Maaf Tuan, donor darah dari Anda tidak mencukupi untuk proses berjalannya operasi..."
" Apa tidak ada stok darah di rumah sakit ini, Dokter...?" tanya Hans.
" Golongan darah milik Tuan Arvan sedikit langka Tuan, kami sudah menghubungi bank darah namun stok disana juga kosong..."
" Apa tidak ada keluarga lain yang mempunyai golongan darah yang sama...?" tanya Dokter.
" Golongan darah kak Arvan apa Yah...?" tanya Rissa.
" AB+, Rissa... sangat sulit untuk mendapatkan pendonor untuk Arvan. Kita tidak punya harapan lagi sekarang..." jawab Ayah sendu.
" Rissa punya golongan darah yang sama dengan kak Arvan, bisakah Rissa mendonorkan darah...?"
" Benarkah? Kau serius kan, Nak...?" ucap Bu Sarah berbinar.
" Iya Bu, Rissa memang memikili golongan darah AB+..."
" Ya sudah, kalau begitu kita segera lakukan operasi secepatnya..." ucap dokter lalu mengerahkan rekannya para dokter terbaik di rumah sakit itu.
# # #
Sementara itu di sebuah rumah mewah, seseorang sedang mengamuk di depan para anak buahnya. Semua barang - barang yang ada di sekitarnya berserakan di lantai.
" B*d*h kalian! Kenapa Arvan yang kalian tabrak...! Harusnya wanita itu yang kalian bunuh...!"
" Maaf Boss, laki - laki itu berusaha menyelamatkan target kami. Jadi kami tidak bisa mengendalikan mobilnya hingga menabrak orang yang salah..." ucap salah satu penjahat itu.
" Kalau sampai Arvan mati, nyawa kalian aku pastikan juga melayang...!" hardik sang Boss dengan amarah yang memuncak.
" Apa yang harus kami lakukan, Boss...?"
__ADS_1
" Awasi terus mereka dan cari tahu siapa perempuan yang bersama Arvan..."
" Baik Boss..."
" Aku pasti akan menghancurkan orang - orang terdekatmu sebelum menghancurkanmu...!!!" geram sang boss.
# # #
Arvan sedang menjalani operasi setelah Erina mendonorkan darahnya. Semua keluarga menunggu di luar dengan sangat khawatir. Ibu terus saja menangis dalam pelukan Ayah. Erina terlihat lemah setelah mendonorkan darahnya untuk Arvan. Dia memangku tubuh anaknya yang terbangun kemudian menangis saat mengingat papanya.
" Hans, antarkan Rissa pulang. Biar dia bisa istirahat dan segera pulih..." perintah Tuan Regan.
" Baik Yah, Hans akan mengantar Rissa pulang sekarang. Sebentar lagi kak Ricko dan kak Sandra akan segera datang. Ayah dan Ibu juga harus istirahat..." ucap Hans.
" Ayah tidak apa - apa Hans, setelah operasinya selesai kami baru akan merasa lebih tenang. Jangan khawatirkan Ayah dan ibumu, William ada bersama kami..."
" Baiklah kalau begitu, Hans antar Rissa dulu. Hans akan secepatnya kembali kesini menemani Ayah dan Ibu..."
Setelah berpamitan, Hans mengantar Rissa dan Raka kembali ke Apartement supaya mereka bisa beristirahat dengan nyaman. Apalagi untuk Raka, dia masih terlalu kecil untuk dibawa menginap di rumah sakit.
" Erin, kita pulang saja. Tubuhmu terlihat sangat lemah, jangan sampai kamu sakit. Sini biar Raka saya yang gendong..." ucap Hans.
" Tapi kak_..."
" Rin... pikirkan kesehatan Raka, tidak baik untuk anak kecil berada di tempat seperti ini..."
" Baiklah kak, kita pulang..."
Hans mengambil Raka dari pangkuan Erina lalu menggendongnya. Melihat Erina yang berjalan dengan terhuyung membuat Hans harus memapahnya pula sampai ke mobil.
" Erin, kamu bertahan sebentar ya. Pelan - pelan saja jalannya, pegang erat lenganku biar tidak jatuh..." ucap Hans.
Saat sedang melewati lorong, Hans berpapasan dengan Delia yang datang tergesa - gesa.
" Delia...!" sapa Hans sambil tersenyum.
" Hmmm... ada apa...? Apa istrimu sedang sakit...?" tanya Delia asal.
" Bisa saya minta tolong sebentar...?"
" Apa...?"
" Bantu saya membawa mereka ke mobil..."
" Kenapa tidak di rawat saja kalau sakit...?"
" Nanti aku ceritakan padamu, sekarang temani aku mengantar mereka pulang..." pinta Hans.
Delia memapah Erina menuju tempat parkir dimana mobil Hans berada. Delia masih bingung tentang siapa yang yang dibawa oleh Hans saat ini. Namun melihat wajah panik Hans membuat Delia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
" Siapa wanita ini...?"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.