
Erina masih saja menangis memikirkan anaknya yang sudah dua hari menghilang. Entah dimana anak itu berada, Erina hanya takut Raka tertangkap oleh Selly.
" Sayang, jangan seperti ini. Kamu harus kuat, Raka pasti ditemukan..." hibur Arvan.
" Semua ini salahmu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi hal buruk pada Raka...!" teriak Erina.
" Iya, aku tahu ini semua kesalahanku. Maafkan aku, kita akan terus mencari Raka sampai ketemu..." bujuk Arvan.
Arvan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Raka di seluruh kota. Arvan tahu Raka tidak mempunyai apapun termasuk uang untuk membeli makanan. Bagaimana anak itu bisa bertahan hidup di luaran sana tanpa apa - apa, apalagi Raka masih balita.
" Raka, kamu dimana...? Kamu boleh benci papa, tapi jangan tinggalkan mama..." batin Arvan.
Adam baru saja datang dari desanya setelah semalam Arvan menghubunginya, tadi sebelum fajar Adam langsung kembali ke kota.
" Tuan, apa yang terjadi dengan Raka...?" tanya Adam.
" Dia pergi dari kemarin siang, saya sudah mencari di seluruh kota namun belum ditemuan juga..." jawab Arvan.
" Dimana Erina...?"
" Di kamar, bujuk dia supaya mau makan dan berhenti menangis..."
" Saya, Tuan...?"
" Iya, selain kak Willy... dia hanya mendengarkanmu..."
" Baiklah... akan saya coba, Tuan..."
Adam segera naik ke lantai atas untuk menghampiri Erina yang sedang bersedih.
" Permisi, Nona... Anda butuh sesuatu..." ucap Adam seperti pelayan.
" Pergilah, aku ingin sendiri...!" teriak Erina.
Adam terus mendekat lalu merangkul bahu Erina. Wanita itu kaget dan langsung menyerang Adam karena dia pikir orang itu adalah seorang pelayan.
" Hei... hentikan! Apa kau mau membunuhku...!" teriak Adam.
Adam tidak melawan namun juga tidak bisa menghindar dari amukan Erina. Berkali - kali Erina memukul dada Adam hingga terasa sesak. Saat menyadari orang yang dipukulinya tidak melawan, Erina langsung menatapnya dengan sendu. Erina langsung menyandarkan tubuhnya dalam dekapan Adam.
" Aku tidak bisa menjaganya..." ucap Erina lirih seraya menangis.
" Raka tidak akan meninggalkanmu, percayalah padaku..."
" Tapi dia pergi dari kemarin, Dam..."
" Apa kau lupa, Raka itu anak yang cerdas. Dia bisa menjaga dirinya sendiri di luar sana..."
" Dia masih kecil, aku sangat mengkhawatirkannya..."
" Aku tahu yang kamu rasakan, aku janji akan membawa Raka pulang..."
" Berjanjilah kau akan membawa Raka kembali secepatnya..."
" Iya, aku janji akan membawa Raka pulang secepatnya..."
Arvan merasa seperti seseorang yang tidak berarti dalam hidup istri dan anaknya. Erina lebih nyaman dalam dekapan Adam daripada dirinya yang berstatus sebagai suami. Karena tidak tahan melihatnya, Arvan langsung pergi dari kamar itu dan menjauh untuk menenangkan hatinya sendiri.
Adam yang menyadari sedari tadi Arvan berada di depan kamar, langsung mengurai dekapannya lalu menatap wajah sayu Erina.
" Kamu jangan rapuh seperti ini Erina, ada hati juga yang harus kamu jaga. Arvan saat ini juga membutuhkan dukungan darimu. Dia juga sama sepertimu, terluka karena kehilangan Raka. Di saat seperti ini, kalian harus saling mendukung dan menguatkan..."
Erina kembali menangis menyadari dirinya yang terlalu egois menimpakan semua kesalahan kepada suaminya.
" Kak Arvan dimana...?" tanya Erina.
" Tadi dia dibawah, temuilah dia. Aku yakin dia lebih terpuruk daripada kamu..." jawab Adam.
__ADS_1
" Terimakasih, kau selalu bisa membuatku merasa tenang..."
" Pergilah, jangan membuat suami aroganmu itu menangis..." gurau Adam yang membuat Erina tersenyum.
Erina segera keluar dari kamar menuju ke bawah. Dia mondar - mandir mencari suaminya di setiap sudut ruangan. Adam yang melihatnya hanya geleng - geleng kepala dengan tingkah Erina yang aneh.
" Hei... apa kau tidak bisa tenang...?" tegur Adam.
" Kenapa...?" tanya Erina.
" Disini banyak orang, kau bisa bertanya pada salah satu dari mereka..."
" Oh iya, aku sampai lupa..." Erina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Erina menghampiri bik Ina yang sedang berada di dapur untuk bertanya keberadaan Arvan. Setelah tahu keberadaan suaminya, Erina langsung bergegas menyusul dengan sedikit senyumnya.
Sampai di taman belakang, Erina mencari - cari sang suami yang belum terlihat batang hidungnya.
" Kemana dia...? Katanya tadi disini...?" gumam Erina.
" Kak Arvaaannn!" teriak Erina.
Arvan yang merasa dipanggil langsung mencari arah sumber suara. Dengan sedikit tersenyum, Arvan langsung melompat dari tempatnya duduk.
Hap!
Arvan melompat tepat di belakang istrinya hingga membuat wanita itu terkejut.
" Auwww! Kak Arvan kok ngagetin sih...?" sungut Erina.
" Maaf, cuma ini tempat berpijak yang tepat..." sahut Arvan seraya tersenyum.
" Kakak darimana, dicariin dari tadi tidak ada...?"
" Nggak kemana - mana, dari tadi cuma disini aja..."
" Ada, aku duduk diatas pohon itu..." Arvan menunjuk pohon di sampingnya.
" Pantas saja Raka suka sekali manjat, ternyata warisan dari bapaknya..." omel Erina.
" Oh iya, sayang. Kamu kenapa mencariku? Ada yang kamu butuhkan...?"
" Tadinya iya, sekarang sudah tidak lagi..."
" Kok bisa...? Memang mau apa...?" cecar Arvan.
Erina duduk di saung tempat biasa Raka menghabiskan waktu sekedar bermain game.
" Apa kau membutuhkan sesuatu, sayang...?"
Arvan berdiri di hadapan Erina dengan menatap penuh tanya dalam hatinya. Saat hendak bertanya lagi, tiba - tiba Erina berdiri dan langsung memeluk suaminya.
" Maaf..." lirih Erina.
" Sayang, kenapa minta maaf...?" tanya Arvan heran.
" Seharusnya aku tidak menyalahkan kakak atas kepergian Raka kemarin. Maafkan aku ya, kak...?"
" Sudah, sayang. Tidak perlu minta maaf, aku tahu kamu sangat khawatir dengan Raka. Aku juga merasa sangat khawatir padanya..."
" Apa sudah ada kabar dari kak Hans...?"
" Belum, sayang. Mereka masih terus mencari Raka..."
" Apa kita hanya akan menunggu saja disini? Aku ingin mencari Raka, kak..."
" Boleh, tapi kamu harus makan terlebih dahulu sebelum pergi..."
__ADS_1
" Kak Arvan juga makan ya...?"
" Iya, sayang. Mudah - mudahan Raka disana juga makan dengan layak..."
" Mudah - mudahan Raka bersama orang yang baik..."
Erina dan Arvan berjalan ke rumah untuk makan sebelum pergi mencari Raka. Keduanya makan dengan cepat kemudian bersiap untuk pergi.
" Dimana Adam...?" tanya Arvan.
" Mungkin di kamar, kak. Kita mau ajak Adam juga...?"
" Tentu saja, dia dibayar untuk mengawal kemanapun kau pergi..."
" Benar juga, dia selalu nurut jika aku meminta sesuatu padanya. Benar - benar pria yang baik..." puji Erina.
" Apaa? Kau berani memuji pria lain di depan suamimu...!"
" Kenapa tidak, yang penting aku tidak mencium pria lain selain suamiku ini..."
Erina mencium sekilas bibir suaminya dengan lembut seraya tersenyum.
" Apa kau mau menggodaku, sayang...?" seringai Arvan seraya menarik pinggang sang istri ke dalam dekapannya.
" Lepaskan! Aku tidak menggodamu...!" elak Erina.
" Tapi... kenapa aku bisa merasa tergoda...?" bisik Arvan.
" Kakak aja yang terlalu baper..." cibir Erina.
" Tapi, kalau dilihat - lihat kau memang sangat menggairahkan..."
" Ish... jangan macam - macam...!"
Arvan tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah.
" Kurasa kita butuh penyemangat untuk mencari Raka..." bisik Arvan.
" Penyemangat apa...?" tanya Erina bingung.
" Masa' nggak tahu sih...?" sahut Arvan.
" Memang nggak tahu, Mr. Arrogant...!" ucap Erina mencibir.
" Heh... siapa yang bilang aku arogan...?"
Arvan menekan punggung istrinya dengan kuat hingga tak ada jarak sama sekali.
" Mmm... itu_..." ucap Erina ragu.
" Siapa...?" cecar Arvan.
" Tadi Adam bilang padaku supaya aku menghibur suami aroganku biar tidak menangis..." ucap Erina nyengir.
Arvan menjadi sangat murka dengan assisten istrinya itu. Ingin rasanya dia memuntahkan semua isi pelurunya ke kepala Adam.
" Adaaammmmm...!!!"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1