
" Hallo...!" ucap Delia.
[ " Hallo, sayang. Ada apa...? Tumben siang - siang begini telfon, kangen ya...?" ] sahut Hans di seberang telfon.
" Bukan, Delia hanya ingin menanyakan soal Arvan. Apakah dia bersamamu sekarang...?"
[ " Tidak, sayang. Hari ini Arvan tidak ke kantor, mungkin ada di rumah dengan istrinya..." ]
" Ya sudah, aku cari dulu ke kamarnya..."
[ " Sayang, kau di rumah sekarang? Apa ada sesuatu yang terjadi...?" ]
" Mmm... Erina pingsan dan juga demam. Arvan tidak ada bersama Erina, hanya Om dan Tante disini..."
[ " Ya sudah, aku pulang sekarang. Kamu coba cari Arvan di kamar atau halaman belakang..." ]
" Iya, bye sayang..."
Delia mematikan sambungan telfonnya lalu mengetuk pintu kamar Arvan.
" Van, ini Delia. Apa kau ada di dalam...?"
Tak lama pintu terbuka dan terlihat Arvan yang menatapnya dengan sendu lalu memeluknya dengan erat.
" Apa dia tidak mencintaiku...?" suara lirih Arvan memecah kesunyian.
" Apa yang kau katakan...? Kalian kenapa...?" tanya Delia cemas.
Arvan terlihat rapuh menyandarkan kepalanya di bahu Delia. Tanpa terasa, airmata juga menetes dari kedua netranya. Delia menuntun Arvan ke kamar dan mengajaknya duduk di sofa.
" Kau bisa cerita apa saja denganku...?" ucap Delia dengan lembut.
" Dia lebih memilih untuk tinggal bersama ayah di Inggris, apa yang harus aku lakukan...?"
" Mungkin Erina punya alasan tertentu kenapa dia harus pergi. Aku yakin Erina sangat mencintaimu, mungkin keadaan yang membuatnya seperti ini..."
" Apa aku terlalu egois hanya karena ingin dekat dengannya setiap waktu...?"
" Van, kalian butuh waktu bicara secara baik - baik. Ingat! Istrimu sekarang sedang hamil, dia tidak boleh stress karena bisa berpengaruh pada janin dalam kandungannya. Erina tidak memiliki siapapun lagi selain dirimu. Dia tidak memiliki tempat bersandar saat dia menangis selain dirimu..."
Arvan merebahkan kepalanya di pangkuan Delia dengan memejamkan matanya. Delia tidak tega untuk menyampaikan pada Arvan keadaan istrinya sekarang karena Arvan sedang tidak bisa konsentrasi dalam berpikir.
Hans dan Adam sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam kamar Arvan. Terlihat Delia sedang mengusap lembut rambut Arvan agar laki - laki itu bisa tidur dengan nyaman.
" Sayang_..." panggil Hans.
Delia memberi isyarat agar Hans tidak berisik lalu meletakkan kepala Arvan di sofa.
" Kita bicara diluar saja..."
Delia mengajak Adam dan Hans ke halaman belakang agar bisa berbicara dengan leluasa.
" Tante cantik, mereka berdua kenapa...?" tanya Adam dengan senyumannya.
__ADS_1
" Hey... berani sekali kau menggoda kekasihku...!" Hans menatap tajam pada Adam.
" Sudah, jangan bertengkar...!" pekik Delia.
" Sebenarnya ada apa, sayang...?"
" Urusin tuh adik kamu, aku pusing lihatnya..."
" Kenapa...?"
" Sepertinya mereka habis bertengkar, Erina pingsan di kamar tante Sarah. Arvan juga terlihat buruk di kamarnya. Biasanya Arvan lebih dekat denganmu, sedang Erina lebih dekat dengan Adam. Coba kalian ajak mereka bicara dengan pelan biar tidak kacau seperti ini..."
" Apa Erina sudah sadar...?" tanya Adam.
" Tadi belum, mungkin sekarang sudah..."
" Apa yang sebenarnya mereka ributkan...?" tanya Hans.
" Erina akan kembali ke London untuk mengurus perusahaan..." jawab Delia.
" Huft... sebenarnya saya bisa mengurusnya bersama Sera dan Tuan William, tapi meninggalkan Erina bersama Tuan Arvan disini masih belum bisa..." ujar Adam.
" Kenapa...?"
" Mungkin keadaan di masa lalunya masih melekat dalam ingatannya. Masa kelam yang menorehkan jutaan luka di hatinya belum hilang. Walaupun saya tahu Tuan Arvan sangat mencintai Erina, namun dia belum bisa memahami sifat Erina yang sulit ditebak. Erina bisa tersenyum walaupun batinnya sedang menangis. Dia juga bisa menangis saat hatinya sedang tersenyum..."
Delia dan Hans mencoba untuk mencerna kata - kata Adam. Mungkinkah kehidupan masa lalu Erina memang sangat buruk.
" Kau sangat mengenal Erina dengan baik...?" ujar Hans.
" Jadi, maksud kamu... Erina lebih memilih Ayah daripada Arvan karena itu...? Hampir enam tahun Erina tinggal bersama ayah dan ibu. Pasti dia sudah merasa nyaman disana. Mungkin Arvan tidak bisa menerima keputusan Erina..." ujar Hans.
" Iya, kami juga berteman sejak Erina mulai masuk kuliah. Awalnya kami hanya berkenalan biasa saja dan saling cerita tentang kehidupan sebelum menginjakkan kaki di negeri orang. Semakin hari kami semakin akrab dan aku menganggap Erina seperti adikku. Kami seperti saudara yang menjaga satu sama lain hingga akhirnya ia memintaku untuk menjadi asisten pribadinya agar kami bisa saling melindungi..."
" Sebaiknya kita lihat keadaan mereka berdua, mudah - mudahan Erina sudah sadar. Jangan kasih tahu Arvan dulu jika Erina pingsan. Ini sudah yang kedua kalinya Arvan seperti ini. Dia sangat takut kehilangan Erina untuk kedua kalinya..." ujar Delia.
# # #
Adam masuk ke kamar Tuan Regan bersama dengan Delia. Erina sudah sadar namun hanya diam dengan tatapan kosong.
" Apa yang kau pikirkan? Jangan bertindak bodoh dengan menyiksa dirimu sendiri. Ingat anakmu juga yang masih dalam kandungan..." ujar Adam dengan menatap dalam Erina.
" Aku tidak apa - apa, hanya sedikit pusing saja..." sahut Erina.
" Tadi katanya demam, sekarang sudah sembuh...?" tanya Adam.
" Tidak apa - apa, mungkin karena belum makan saja..." jawab Erina.
" Apa itu sebuah kode pengen di traktir makan di luar...?" goda Adam.
" Tentu saja, adiknya Raka yang minta..." ucap Erina.
" Ya sudah, hari ini kita akan jalan - jalan habiskan waktu berdua di tempat yang indah..." kata Adam dengan tersenyum.
__ADS_1
" Tapi aku minta ijin dulu sama kak Arvan..."
" Tidak usah, biar nanti aku kirimkan pesan padanya..."
" Baiklah..."
Erina segera bangun dari tempat tidur dibantu oleh Adam. Mereka segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
" Dam, Raka gimana...?"
" Raka sedang bersama Tuan dan Nyonya..."
Erina hanya pasrah saat Adam mulai melajukan mobilnya yang entah memiliki tujuan atau tidak. Biasanya Adam hanya membawanya berkeliling jalan raya hingga mereka lelah sendiri dan kembali ke rumah.
" Apa kita hanya akan berputar - putar seperti biasanya menghabiskan bahan bakar...?" tanya Erina.
" Apa kau sudah bosan melakukan itu denganku...?" tanya Adam balik.
" Tidak, aku merasa terhibur dengan kekonyolanmu itu..." Erina terlihat tersenyum kecil jika mengingat pertama kali berkeliling kota dengan Adam.
" Kenapa tersenyum? Memangnya ada yang lucu..."
" Apa kau ingat saat kau menghiburku waktu itu? Kau mengajakku berkeliling kota hanya untuk menghabiskan bahan bakar. Itu adalah pertama kalinya kau naik mobil pribadi yang mewah..."
" Ish... jangan mengingatkanku tentang itu! Aku jadi malu sendiri mengingatnya..." sungut Adam.
" Tapi sumpah, melihat penampilanmu yang fulu sangat sederhana membuat aku pengen tertawa. Rambut lurus sedikit panjang membuatmu seperti seorang kutu buku..."
" Udah, jangan meledekku lagi! Mau aku turunin disini...!" kesal Adam.
" Hei... ini mobil punya suamiku, kenapa jadi aku yang turun...?"
" Akh, sial...! Harusnya tadi aku di kantor saja membantu pekerjaan tuan Ricko..."
" Dam_..."
" Ssttt...! Jangan bicara apapun sekarang, kita cari tempat yang nyaman untuk menyelesaikan masalah..."
" Apa kau tahu tempat yang nyaman untuk menenangkan hati...?"
" Kita akan sampai sebentar lagi..."
Hari semakin sore, Adam segera melajukan mobilnya sedikit kencang tak ingin terjebak macet karena sebentar lagi waktunya orang - orang pulang kerja.
" Bisakah kau memberitahuku kemana tujuan kita...?" tanya Erina.
" Kita akan pergi ke tempat yang romantis..."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.