Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 74


__ADS_3

Arvan dan Erina sampai di mobil bersamaan dengan Adam dan Raka yang baru kembali dari kedai ice cream.


Adam membukakan pintu mobil untuk Tuannya dan sang istri. Setelah itu membantu Raka untuk duduk di samping kemudi.


Adam begitu heran melihat semuanya terdiam selama perjalanan. Dia ragu untuk bertanya kemana tujuan sang majikan selanjutnya.


" Adam, cari tempat yang nyaman untuk kita bersantai...!" perintah Arvan.


" Baik, Tuan..."


Adam terus melajukan mobilnya hingga ia teringat tempat yang sering di datangi Erina saat sedang ingin menenangkan diri. Adam juga memesan makanan untuk mereka lewat delivery order agar saat sampai di tempat tujuan mereka bisa langsung makan.


Adam memarkirkan mobilnya di tepi danau lalu keluar membawa Raka menjauh dari orangtuanya.


" Kenapa Adam membawa kita kesini...?" tanya Erina yang tak menyadari keberadaannya saat ini.


" Aku juga nggak tahu, sayang. Assisten kamu butuh berobat kayaknya, panas - panas begini ke danau..." jawab Arvan asal.


" Ish... jangan bicara begitu! Adam itu assisten terbaikku..."


" Bela aja terus, ceburin suamimu ini ke danau biar tidak ada yang melarangmu dekat dengannya..."


" Apaan sih! Udah ah, ayo cari tempat yang teduh. Adam ada - ada saja bawa kita kesini..."


Tak lama nampak Adam dan Raka datang membawa tikar dan juga sekantong minuman dingin.


" Tuan, kita berteduh di bawah pohon besar sebelah sana..." ucap Adam.


" Ceritanya kita mau piknik, Dam...?" tanya Erina.


" Benar, Nona... melihat air yang tenang membuat hati kita juga ikut tenang..."


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan makanan datang. Adam segera mengambil makanan itu dari kurir dan memberikannya kepada sang majikan.


" Tuan, Nona... sebaiknya makan dulu biar kita lebih kuat menghadapi takdir..." gurau Adam.


" Kau benar juga, Dam. Makan itu memang sangat penting agar kita bisa berpikir dengan jernih..."


Arvan membuka bungkus makanan milik Erina dan Raka bergantian setelah itu baru miliknya sendiri. Namun dua orang itu dari tadi hanya diam tanpa ekspresi, tak menyentuh makanan itu sedikitpun.


" Sayang, makanlah nanti kamu sakit..." ujar Arvan pada istrinya.


" Raka, Uncle suapin ya? Ini makanan yang sangat enak loh..." bujuk Adam.


Raka dan Erina masih bertahan dengan ekspresi datarnya. Keduanya seakan sedang memendam amarah masing - masing tanpa berniat meluapkannya.


" Tuan, sebaiknya bawa Raka menjauh sebentar dari Erina. Biasanya Erina mudah dibujuk jika sedang sendirian..." bisik Adam.

__ADS_1


" Baiklah, tolong bujuk istriku..." sahut Arvan pelan.


" Raka, ikut papa sebentar yuk...? Kita jalan - jalan disana..." Arvan meraih tangan Raka yang terlihat enggan untuk melakukan apapun.


Arvan mengangkat tubuh Raka dan membawanya dalam dekapannya. Ada rasa bersalah dalam hati Arvan karena selama ini tak mendampingi istri dan anaknya di masa - masa sulit mereka.


" Raka, kenapa diam seperti ini? Papa merasa bersalah kalau Raka tidak mau bicara dengan siapapun kayak gini..." tutur Arvan.


" Raka, maafin papa ya...? Seharusnya papa selalu ada disamping kamu setiap hari. Papa janji tidak akan meninggalkan Raka dan mama lagi..." ucap Arvan sendu.


" Raka tidak apa - apa, Pa. Raka hanya tidak suka dipaksa melakukan sesuatu yang tidak Raka sukai..." ungkap Raka datar.


" Baiklah, mulai sekarang tidak akan ada yang memaksakan kehendak kepada Raka..."


" Mama_..."


" Sudah, nanti papa yang akan bicara dengan mama. Tapi, mulai sekarang Raka harus bisa hidup mandiri..."


" Hidup mandiri gimana, pa?"


" Mulai sekarang Raka tidur di kamar sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri makanpun tidak perlu disuapi..."


" Hanya itu, pa?"


" Iya, dan papa janji akan selalu mendukung Raka asalkan Raka mau sekolah..."


" Tentu saja, siapa lagi yang akan memimpin markas jika bukan kamu..."


" Benarkah? Papa tidak bohong kan...?" Raka nampak kembali bersemangat.


" Tapi ada satu hal yang wajib kamu lakukan..." pesan Arvan.


" Sebuah agen rahasia menuntut semua anggotanya untuk menyembunyikan jati dirinya. Begitu juga denganmu, jangan sampai musuh tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Bukan hanya membahayakan dirimu, tetapi juga orang - orang yang kamu sayangi. Dan satu lagi, jangan sampai ada yang tahu tentang kemampuanmu yang terbilang genius itu karena itu sangat berbahaya. Bersikaplah seperti anak kecil yang lainnya, sembunyikan kemampuanmu dibalik wajah polosmu itu. Tidak sembarangan orang boleh tahu bahwa kamu adalah seorang agen rahasia. Kamu mengerti...?"


" Iya, pa. Maafkan Raka ya...?"


" Tidak masalah, yang terpenting jangan membuat mama bersedih lagi. Paling tidak bersikaplah sedikit kekanakan di hadapan mama supaya mama tidak terus merasa bersalah. Tunjukkan pada mama jika kamu bisa berbaur dengan teman sebayamu..."


" Baik, pa. Raka akan mencobanya..."


" Good, boy..."


Sementara lain, Adam sedang membujuk Erina agar tidak bersedih lagi. Biasanya bujuk rayunya selalu mempan saat Erina sedang sedih seperti ini.


" Hei... kenapa menatap air danau seperti itu? Apa kau ingin berenang...?" gurau Adam.


" Diamlah! Aku tidak mau bicara denganmu...!" ketus Erina.

__ADS_1


" Hahahaa... itu kau sedang bicara padaku..." Adam tertawa kencang.


" Apaan sih! Kau harusnya hargai aku yang sedang bersedih..." sungut Erina.


" Baiklah, aku serius sekarang. Berapa harga sedihmu itu...?" canda Adam lagi.


" Adaaammmm....!" teriak Erina.


Erina kembali menangis lalu bersandar di bahu Adam. Kebiasaan yang selalu ia lakukan jika sedang bersedih di tempat ini. Adam dan William selalu ada di sampingnya di saat - saat seperti ini.


" Ish... kau mau membuatku kehilangan pendengaran...?"


" Dam, apa selama ini aku salah dalam mendidik Raka...?" ucap Erina sendu.


" Dimana letak salahnya...?" tanya Adam.


" Raka bersikap dewasa sebelum waktunya. Dia berusaha untuk mencapai keinginannya yang seharusnya belum waktunya dia raih..."


" Tidak, Erina. Raka seperti itu karena dia anak yang genius. Anak yang memiliki tingkat IQ diatas rata - rata orang dewasa. Seandainya diasah dari sekarang, mungkin dia bisa mengarahkan kemampuannya dalam hsl - hal yang positif. Jangan sampai dia jatuh kepada orang yang salah. Kita harus menjaganya dengan ekstra agar tak ada orang lain yang mengendalikan kemampuannya. Secepatnya Raka harus mengetahui tentang kemampuannya itu dan kita bisa mengarahkan langkah apa yang harus ia tempuh agar dapat menutupi kegeniusannya itu..."


" Lalu... apa yang harus aku lakukan...?"


" Biarlah semuanya mengalir seperti air, kita hanya perlu membuat jalan untuknya agar tidak salah dalam mengambil langkah. Dukung dia namun jangan sampai sifat anak - anaknya hilang. Karena dia harus menutupi kemampuannya itu dengan wajah polosnya sebagai anak - anak biasa..."


" Terimakasih, Adam. Kau sahabat terbaikku, aku sayang padamu..."


Erina memeluk Adam dengan erat tanpa menyadari bahwa sang suami dari tadi memperhatikannya dari jauh. Adam yang menyadarinya hanya tersenyum sekalian menjahili tuannya dengan membelsi lembut puncak kepala sang boss cantiknya.


" Kau adalah sahabatku, sudah menjadi kewajibanku untuk membuat temanku bahagia...."


Arvan merasa sangat geram melihat tingkah mereka berdua yang seakan mengabaikan keberadaannya. Kilat amarah di wajah Arvan kian memuncak kala jemari Adam mengusap lembut rambut sang istri. Darahnya terasa mendidih hingga dia lupa jika sedang bersama anaknya sekarang. Arvan sedikit berlari menuju tempat Adam dan Erina sedang berpelukan. Dia sampai lupa meninggalkan Raka yang heran melihat tingkahnya.


" Hei... apa yang kalian lakukan hah...!" hardik Arvan.


Erina sangat terkejut lalu melepaskan pelukannya dari Adam. Dia terlihat gugup karena melihat sang suami yang tiba - tiba datang dengan kilat amarah di matanya.


" Kak Arvan_..."


" Eh, Tuan... kenapa Raka ditinggal...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2