
" Ini nggak salah...?!" pekik Hans.
" Bagaimana bisa Tuan Regan memberikan hadiah seperti ini pada anak kecil..." timpal Adam.
" Tapi ini bagus, Uncle. Raka sangat menyukainya..." sahut Raka.
Raka mengamati hadiah dari kakeknya yang ternyata sebuah pistol kecil tetapi harganya sangat fantastis.
" Kau tahu pistol ini harganya berapa...?" ujar Hans.
" Berapa memangnya...?" tanya Adam.
" Hampir satu milyar..." jawab Hans.
" What? Satu milyar...?" ucap Adam tak percaya.
" Iya, senjata ini juga tidak mudah di dapatkan..."
" Tuan Regan benar - benar mempersiapkan Raka jadi penerus di Markas..."
Raka masih menimang - nimang hadiah dari kakeknya dengan tersenyum. Sepertinya Raka sangat menyukai hadiah itu.
Setelah merapikan kembali semua hadiah, mereka bertiga langsung merebahkan diri di kasur. Mereka langsung terlelap karena kelelahan. Sudah tidak terbayangkan seperti apa posisi mereka tidur karena saling tindih kadang saling tendang.
Tengah malam, Raka yang merasa terusik langsung terbangun dan posisi sudah di tepi ranjang bawah. Dengan sangat terpaksa, Raka jalan sempoyongan menuju sofa supaya bisa tidur nyaman.
# # #
Pagi hari, Erina terbangun karena tak mendapati sang suami di sampingnya. Tak biasanya Arvan bangun lebih dulu dan tak membangunkannya.
" Ini masih terlalu pagi, kemana kak Arvan ya...?" gumam Erina.
Erina beranjak dari tempat tidur untuk mencari sang suami. Saat melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, Erina segera masuk dan mendapati sang suami sedang bersandar di dinding dengan tubuh yang semakin lemah.
" Kak, kamu kenapa...?" pekik Erina.
" Tidak apa - apa, sayang. Bantu aku ke kamar aja..."
Erina segera memapah suaminya keluar kamar mandi lalu dibaringkan di tempat tidur.
" Kak, kita ke rumah sakit ya...?" bujuk Erina.
" Tidak usah, sayang. Sebentar lagi juga sembuh kok..." Arvan memaksakan senyumannya.
" Tapi, kak... wajah kakak pucat banget..."
" Asal kamu cium, nanti bisa seger lagi..." goda Arvan.
" Ish... lagi sakit masih aja mesum...!" sungut Erina.
" Peluk, sayang. Aku kedinginan..." rengek Arvan.
" Erin buatin bubur aja buat sarapan ya...?"
" Nggak, sayang. Aku tidak mau jauh darimu..."
" Ya sudah, aku turun sebentar untuk menyuruh bik Ina untuk bikin sarapan buat suamiku yang manja ini..."
" Sayang, jangan tinggalin aku..."
" Kak, Erin hanya pergi ke dapur..."
" Janji nggak lama...?"
" Hhh... iya, suamiku sayang..."
__ADS_1
" Cium dulu sebelum pergi..." rengek Arvan lagi.
" Astaga, sayang. Kau ini manja sekali...!" Walaupun sedikit kesal, namun Erina tetap menuruti keinginan suaminya.
Ciuman di kedua pipi kepada sang suami rupanya belum membuat pria itu puas. Dia meminta yang lebih dari sebuah ciuman.
" Kak, kau ini sedang sakit...!" peringat Erina.
" Siapa tahu dengan begini, nanti bisa membuatku lebih sehat..."
" Sekali saja ya...? Sekarang sudah pagi, ada ayah dan ibu juga..." ucap Erina.
" Iya, sayang..."
Erina tahu suaminya sedang tidak sehat, tapi dia bersikeras minta jatahnya karena semalam tidak jadi melakukannya karena tubuhnya sangat lemah.
Satu jam mereka melakukan olahraga pagi, Arvan terlihat sangat lelah. Mereka kembali tidur dan bangun setengah jam kemudian.
" Sayang, mandi bareng yuk...?" ajak Arvan.
" Iya, kakak udah enakan...?" sahut Erina.
" Sudah lebih baik kok, sayang. Ayo mandi, setelah itu kita sarapan..."
Erina hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Mereka mandi dengan cepat setelah itu turun untuk sarapan sebelum ke kantor.
" Eh, kalian sudah bangun? Raka, Adam dan Hans kenapa belum keluar kamar...?" tanya Ibu.
" Bukannya Raka sama ibu dan ayah semalam...?" ucap Erina.
" Tidak, saat kami tidur Raka keluar. Ayah kira ke kamar kalian..." ujar Ayah.
" Apa mungkin di kamar kak Hans atau Adam ya...?"
" Kita cari, sayang. Aku ke kamar Hans dan kau ke kamar Adam..." ujar Arvan.
Erina dan Arvan berjalan menuju kamar asistennya masing - masing. Sampai depan pintu kamar, mereka mengetuknya berkali - kali namun tak ada sahutan dari dalam. Karena tak sabar menanti, mereka membuka pintu yang tidak terkunci.
" Kok orangnya tidak ada...?" gumam Erina.
Erina mencari Adam hingga ke kamar mandi namun asistennya itu tak terlihat.
" Ish... kemana dia? Tidak biasanya dia pergi tidak pamit...?"
Erina keluar dari kamar Adam bersamaan dengan Arvan yang juga baru keluar dari kamar Hans.
" Sayang, Hans tidak ada disini..." kata Arvan.
" Adam juga tidak ada, kak..." sahut Erina.
" Mereka kemana ya...?"
" Kita cari ke kamar Raka aja, kak. Mudah - mudahan saja Raka tidur di kamarnya..."
Mereka berdua bergandengan tangan naik ke lantai atas menuju kamar Raka. Tanpa mengetuk pintu, mereka langsung masuk dan kaget mendapati kamar Raka yang berantakan.
" Astaga... apa - apaan ini...!" geram Arvan.
" Sabar, kak..."
" Gimana mau sabar, lihat kelakuan mereka berdua. Masa' anak kita disuruh tidur di sofa..."
Arvan langsung masuk ke kamar mandi dengan amarah yang memuncak.
Byuurrr!
__ADS_1
Hans dan Adam segera bangun dengan terkejut. Mereka berdua yang masih setengah sadar langsung di seret Arvan ke lantai.
" Auwww...!"
" Van, apa yang kau lakukan...?" teriak Hans.
" Tuan, kenapa kami disiram...?" timpal Adam.
" Kalian benar - benar keterlaluan...!" hardik Arvan.
" Kenapa sih pagi - pagi sudah marah...?" sungut Hans.
" Kalian tidak lihat anakku tidur dimana...!"
Hans dan Adam mencari - cari keberadaan Raka di tempat tidur. Mereka kaget karena anak itu tidak berada disana.
" Kemana si bocil...?" bisik Adam.
" Mana kutahu, apa dia diculik...?" sahut Hans.
" Kak Hans, kenapa Raka disuruh tidur di sofa...?" tanya Erina.
" Di sofa...?" ucap Hans dan Adam bersamaan.
Adam dan Hans terkejut melihat Raka berbaring memeluk guling di sofa.
" Astaga... kenapa anak itu bisa pindah kesana...?" gumam Adam.
" Pergi kalian dari sini...!"
" Baik, Tuan..."
Adam dan Hans langsung berlari keluar dari kamar Raka dengan secepat kilat melihat Arvan mengeluarkan pistol dari saku jasnya.
Raka yang mendengar suara keributan langsung terbangun. Wajah yang pertama kali ia lihat adalah wajah garang papanya yang sedang dikuasai amarah.
" Mama... Papa... ada apa sih pagi - pagi ribut..." ucap Raka dengan mata yang masih enggan untuk terbuka.
" Kenapa Raka tidur di sofa? Terus, Uncle Hans dan Uncle Adam juga tidur disini...?" tanya Erina.
" Semalam kami buka kado hingga tengah malam, Ma. Karena kelelahan, kami ketiduran bertiga. Uncle Adam dan Uncle Hans tidurnya gerak - gerak terus jadinya Raka pindah aja ke sofa..."
" Ya sudah, Raka sekarang mandi. Kakek dan nenek sudah nungguin buat sarapan..." titah Arvan.
Erina menggenggam tangan suaminya agar tidak marah - marah lagi.
" Sabar, tahan emosinya apalagi di depan anak..." ucap Erina setelah Raka masuk ke kamar mandi.
" Maaf, sayang. Nanti aku coba ya? Aku memang susah untuk mengontrol emosi..."
" Yang penting harus selalu berusaha ya, kak..."
" Iya, sayang. Maaf ya, aku belum bisa menjadi suami dan papa yang baik untuk kalian..."
" Kita akan berusaha bersama - sama untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak kita..."
Arvan memeluk Erina dengan erat. Sebuah tempat ternyaman dalam dirinya adalah saat berada dalam dekapan istrinya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.