Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 77


__ADS_3

Pagi ini di kantor Erina, semua sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Erina datang sedikit terlambat karena harus mengantar Raka ke Markas terlebih dahulu.


" Ssttt... sssttt...!"


Erina menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari ruangan Adam.


" Ada apa...?" tanya Erina heran dengan kelakuan Adam.


Adam menyembulkan kepalanya celingak - celinguk ke kanan dan ke kiri.


" Kau kenapa, Dam...?" tanya Erina lagi.


" Apa suamimu ikut kesini...?"


" Iya, dia masih dibawah tadi sama kak Willy..."


" Duhh... dia masih marah nggak...?"


Erina mulai paham dengan maksud Adam. Ide jahil segera muncul dalam pikiran Erina. Dia tersenyum lalu mendekat ke arah Adam.


" Sepertinya kak Arvan masih marah dan dia itu akan mengejar siapapun yang membuatnya marah hingga ke lubang semut sekalipun..." ucap Erina dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.


" Kau pasti bohong! Apa suamimu sekejam itu...?"


" Lihat saja nanti..." bisik Erina.


Erina langsung beranjak menuju ruangannya sendiri setelah terdengar lift terbuka yang dia yakini itu suaminya.


" Riss... tunggu...!" panggil Adam pelan.


" Apa kau benar - benar ingin merasakan peluru dalam pistolku ini...?"


Adam terkejut begitu mendengar suara seseorang di belakangnya. Tubuhnya terasa kaku dan tak mampu berbicara lagi.


" Tu... tuan... Arvan, maaf..."


" Ikut denganku...!"


Arvan menarik kerah baju Adam lalu menyeretnya menuju ruangan Erina. William hanya menyunggingkan senyumnya melihat tingkah kekanakan keduanya.


" Kak Arvan, lepasin Adam. Nggak kasihan mukanya udah pucat kayak gitu..." seru Erina.


" Biar dia itu tahu diri sedang berhadapan dengan siapa..." sahut Arvan.


" Ish... itu udah ada wanita cantik yang menunggumu...!" bisik Erina.


Arvan langsung melepaskan cengkeramannya pada kerah Adam lalu melirik Melani yang sedang duduk ditemani Sera.


" Lebih cantik kamu sayang, yang pastinya nikmat..." bisik Arvan.


" Hah...! Dasar mesum...!" sungut Erina.


" Ayo, sayang..." Arvan merangkul pinggang istrinya lalu menghampiri Melani.


" Maaf, Nona. Sudah menunggu lama ya...?" sapa Arvan.


Melani sangat terkejut melihat Arvan menggandeng seorang wanita yang sangat cantik.


" Ti... tidak apa - apa, Tuan. Saya belum lama disini..." jawab Melani canggung.


" Kita langsung ke intinya saja, apa maksud kedatangan Anda kemari...?"


Melani merasa canggung karena banyak sekali orang di ruangan itu. Dia terdiam sejenak sambil menundukkan pandangannya.


" Sera, kau bisa keluar..." ujar Arvan.

__ADS_1


" Baik, Tuan..."


Kini tinggallah Arvan, Erina, Adam, William dan Melani. Arvan kembali membuka percakapan untuk memulsi penyelidikan selanjutnya.


" Nona, apa kau baik - baik saja...?" tanya Arvan.


" Iya, Tuan..." jawab Melani gugup.


Kemarin Melani berharap sekali bisa bertemu dengan Arvan, namun saat ini suasananya berubah total. Arvan terlihat dingin dan acuh tak menatapnya sedikitpun.


" Katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku kemarin..."


" Begini, Tuan... sebenarnya saya mencurigai salah satu pelayan di rumah saya. Satu bulan yang lalu, pelayan itu ingin meminjam uang dalam jumlah yang sangat banyak tapi Mommy tidak memberikannya. Dua hari sebelum kematian mommy, kami bertiga memang berkumpul di rumah mommy. Kami memang sempat berdebat soal warisan karena kakak pertama saya butuh modal untuk mengembangkan usahanya namun kakak kedua menolaknya karena Mommy masih hidup. Kalau saya memang berpendapat jika memang warisan itu akan dibagikan saya hanya meminta rumah yang ditempati mommy karena kalau jatuh ke tangan kakak pertama saya, pasti rumah itu akan dijual dan mommy tidak akan punya tempat tinggal lagi..."


" Bagaimana kamu bisa yakin jika salah satu pelayan yang membunuhnya...?" tanya Arvan.


" Mommy pernah bercerita jika pelayan itu sudah sering meminjam uang tapi tak pernah mau dipotong gajinya untuk mencicil hutangnya..."


" Itu belum bisa dijadikan bukti, Nona..." ujar William.


" Benar, makanya semalam saya memasang kamera tersembunyi di dapur dan ruangan yang lain untuk memantau keadaan di rumah..."


" Boleh saya lihat rekamannya...?" tanya Arvan.


" Silahkan, rekaman itu terhubung dengan laptop saya..." jawab Melani.


Arvan mengambil laptop milik Melani dan memeriksanya dengan cermat. Ada beberapa pelayan yang mondar - mandir melaksanakan tugasnya masing - masing.


" Nona, berapa pelayan yang berada di rumahmu...?" tanya Erina.


" Ada tiga untuk bagian dalam, dua untuk security dan tukang kebun..." jawab Melani.


" Berarti semuanya ada lima orang, bisa kau sebutkan namanya...?" ujar Adam.


Melani menyebutkan nama - nama para pelayan di rumahnya.


" Kenapa sayang...?" tanya Arvan.


" Mundurin lagi rekaman yang tadi, sayang..." pinta Erina.


Arvan memutar ulang rekaman yang tadi lalu Erina sendiri yang mengambil alih rekaman cctv itu.


" Sayang, apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan...?" tanya Arvan.


" Sebentar, aku lagi cari kak..."


Erina menghentikan rekaman itu lalu menekan zoom untuk memperbesar gambar itu.


" Apa kamu memiliki pelayan lain...?" tanya Erina.


" Tidak, Nona. Hanya lima orang itu saja dan semuanya orang lama..." jawab Melani.


" Kau mengenal orang ini...?"


Erina menunjukkan gambar seseorang dalam laptopnya. Melani memperhatikan orang itu dengan seksama lalu teringat sesuatu.


" Astaga, saya pernah melihat orang ini..." pekik Melani.


" Kau mengenalnya...?"


" Dia, adik ipar kak Damian. Tapi untuk apa dia disana di saat kakaknya saja tidak tinggal disana...?"


" Kita harus kesana secepatnya sebelum dia kabur..." ujar William.


" Tapi kita belum punya bukti jika dia pelakunya. Apa yang akan kita lakukan...?"

__ADS_1


" Harusnya saya tidak meninggalkan Mommy sendirian. Ini semua kesalahanku..." sesal Melani.


" Jadi selama ini kau tinggal dimana...?"


" Saya tinggal di Apartemen karena mommy selalu melarang saya berpacaran dengan teman sekampus. Mommy berniat untuk menjodohkan saya dengan laki - laki pilihannya..."


" Nona, ajaklah kakakmu yang satunya untuk tinggal di rumah selama beberapa waktu. Orang ini sepertinya mencari sesuatu di rumah Anda. Pasang kamera di dalam kamar Nyonya Anderson, karena saya yakin Nyonya Anderson tahu sesuatu tentang orang ini..." ujar William.


" Baiklah, kedua kakakku memang tidak terlalu akur dari dulu. Saya sempat mendengar gosip dari pelayan tetangga jika kak Damian itu sebenarnya bukan anak kandung Mommy. Saya bingung sekarang, siapa orang yang bisa saya percaya..."


" Jadi kau tidak tahu, jika orang itu ada di dalam rumahmu...?"


" Tidak, Tuan. Saya hanya beberapa kali bertemu saat ada acara keluarga di rumah. Namanya Mike, dia bekerja di tempat kak Damian setelah lulus kuliah tahun lalu..."


" Sebaiknya kau pantau terus, saya akan memantau lewat cctv dari sini. Jika terjadi sesuatu, saya sudah siapkan orang - orang saya diluar rumah Anda, Nona..."


" Terimakasih, Tuan..."


" Berhati - hatilah, nyawa Anda juga terancam disana..."


" Saya akan berhati - hati. Sekali lagi terimakasih atas bantuan Anda semua..."ucap Melani.


" Sama - sama, ini sudah menjadi tugas kami..."


" Kalau begitu, saya mohon pamit..."


" Silahkan, Nona..."


Setelah Melani pergi, semua nampak menyusun strategi baru untuk menangkap pembunuh nyonya Anderson.


" Kalian kenapa bahas masalah seperti itu disini...? Memangnya tidak bisa dibicarakan di Markas...?" sungut Erina.


" Udah, kamu kerja sana. Kami tidak akan mengganggu..." ucap Arvan.


" Yakin...?"


" Iya, sayang. Aku juga mau ke Markas sekarang, soalnya Raka hanya bersama para pengawal disana..."


" Nanti pulangnya dijemput nggak? Atau aku diantar Adam saja...?"


" Jangan! Nanti aku jemput. Ingat, kamu tidak boleh berdekatan sama dia..." peringat Arvan.


" Kenapa? Dia selalu menemaniku setiap hari..."


" Ikut aku sebentar...!" perintah Arvan.


Arvan menarik lengan Erina menuju kamar khusus di ruangan itu.


" Kak Arvan, kita mau ngapain kesini...?" sungut Erina.


" Aku akan memberikan hukuman karena kau terlalu dekst dengan Adam..." seringai Arvan.


" Kak, aku ada meeting sebentar lagi..."


" Siapa yang peduli...!"


Arvan mengikis jarak diantara mereka dengan menarik pinggang sang istri sehingga tubuh mereka saling menempel.


" Kak, apa yang kau lakukan...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2