Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 107


__ADS_3

" Saya...?" tanya Erina.


" Iya, sayang. Ayo cepat berbaring disana..." Arvan menuntun Erina menuju brankar.


" Tapi aku nggak sakit, kak...!" sungut Erina.


" Diem saja, jangan bertanya apapun...!"


" Kak_..."


Arvan memaksa Erina untuk rebahan di brankar lalu mengusir Hans dan Adam keluar ruangan.


" Ssttt... sini aku temenin..." ucap Arvan.


" Kakak jangan aneh - aneh ya...!"


" Iya, sayang..." Arvan mengecup kening istrinya sambil tersenyum.


Dokter mulai memeriksa Erina dan menyuruhnya untuk mencoba alat tes kehamilan.


" Dok, kenapa saya harus menggunakan ini...?" tanya Erina.


" Coba saja, sayang. Mau aku temani...?" goda Arvan yang langsung dapat tatapan tajam dari istrinya.


Erina berjalan ke toilet untuk mencoba alat tes kehamilan yang diberikan oleh dokter yang memeriksanya.


" Mereka ada - ada saja, untuk apa aku pakai alat ini? Aku kan tidak hamil...? Tapi tunggu_..." gumam Erina sambil memikirkan sesuatu.


" Oh iya, aku juga sudah telat datang bulan seminggu ini. Tapi, kenapa mereka bisa menebak kalau aku hamil...?" batin Erina.


Setelah lima menit di toilet, akhirnya Erina keluar. Arvan yang menunggu di depan pintu sangat berharap Erina benar - benar hamil anak kedua mereka.


" Sayang, gimana...?" tanya Arvan antusias.


" Gimana apanya...?" tanya Erina balik.


" Mana alat tesnya tadi...?" pinta Arvan.


" Sabar, Van..." goda Delia.


Erina memberikan alat tes itu kepada dokter yang memeriksanya. Arvan terus saja memeluknya dari belakang dan tidak mau melepaskannya.


" Apa hasilnya, Dok...?" tanya Arvan penasaran.


" Selamat, Tuan. Nona Erina memang sedang mengandung saat ini. Usia kandungannya berumur tiga minggu..." ucap dokter itu dengan tersenyum.


" Ini beneran, Dok? Syukurlah, terimakasih sayang..."


Arvan mencium Erina tanpa henti membuat Delia yang melihatnya merasa jengah. Erina sendiri tidak percaya bahwa dirinya ternyata hamil. Dia tidak merasakan perubahan apapun dalam dirinya.


" Kak, hentikan! Kamu nggak malu dilihatin orang lain...?" sungut Erina.


" Biarkan saja, aku sangat bahagia sekarang. Aku janji akan selalu menjagamu dan anak - anak kita dengan baik. I love you, honey..."


" Sudah, jangan main drama disini, pulang sana...!" usir Delia.


" Nggak usah iri, makanya cepetan nikah. Tuh, Hans udah ngebet pengen punya anak..." ledek Arvan.


" Kak, jangan bicara begitu..." tegur Erina.


Arvan hanya tersenyum karena dia sudah biasa bercanda dengan Delia. Walaupun jarang bertemu, tapi komunikasi mereka tidak pernah putus.


" Dokter, kenapa saya lagi yang harus mual dan muntah ya...? Tubuh saya sudah tidak kuat lagi untuk beraktifitas..." tanya Arvan.


" Tidak apa - apa, Tuan. Biasanya hanya tiga bulan awal kehamilan..."

__ADS_1


" Tapi waktu anak pertama, saya mengalami seperti ini hingga lima bulan, Dok..."


" Nanti saya berikan resep vitamin dan penghilang rasa mual, Tuan..."


" Terima saja, jangan mau bikinnya aja...!" cibir Delia.


" Awas kau nanti...!" gertak Arvan.


" Kak, udah! Ayo kita pulang..." ujar Erina.


Erina segera menarik lengan suaminya agar keluar dari ruangan itu.


" Delia, terimakasih ya? Semua ini berkat kamu..." ucap Erina.


" Jangan bicara begitu, kita ini saudara. Selamat ya, jaga kandungan kamu dengan baik - baik. Dan juga jangan sering - sering melakukan 'itu' dulu untuk sementara waktu..." ujar Delia.


" Kenapa tidak boleh? Kau jangan membodohiku...!" teriak Arvan.


Delia hanya tertawa melihat raut wajah Arvan yang terlihat sangat kesal.


" Hei... kau tidak percaya padaku?" goda Delia.


" Huft... kau sangat menyebalkan....!"


Setelah selesai semuanya, Erina mengajak Arvan untuk pulang. Dia sudah tidak sabar untuk memberitahu kabar bahagia ini kepada orangtuanya. Sedangkan, Hans dan Adam yang berada di luar ruangan bingung melihat sikap bossnya yang sedari tadi tersenyum semenjak keluar dari ruang perawatan.


" Kalian kenapa? Sepertinya sangat bahagia...?" tanya Hans.


Bukannya menjawab, Arvan malah memeluk Hans dan Adam secara bergantian.


" Tuan, ada apa dengamu...?" ucap Adam.


" Aku punya kabar gembira untuk kalian..."


" Apa...?"


" Benarkah...?" ucap Hans dan Adam kompak.


" Tentu saja, apa aku terlihat sedang berbohong...?" pancaran kebahagiaan jelah terlihat di wajah Arvan.


" Selamat, Erina. Akhirnya keponakanku bertambah satu lagi..." ucap Hans.


Adam dan Hans bergantian memberi selamat dan memeluk Erina.


" Terimakasih, kak Hans... Adam..."


Tak bisa dipungkiri, Erina memang sangat bahagia atas kehamilannya. Dia berharap di kehamilan keduanya ini, Arvan akan selalu mendampinginya.


Saat melihat pancaran bahagia di wajah ketiga pria di hadapannya, Erina tak kuasa menahan airmatanya.


" Sayang, jangan menangis. Aku janji akan selalu berada bersamamu selamanya. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali takdir..." ujar Arvan seraya menghapus airmata di wajah istrinya.


" Aku sangat bahagia, kak. Mulai sekarang, kak Arvan harus lebih perhatian dan menyayangi Raka. Aku tidak mau karena kehamilan ini, Raka terabaikan..."


" Iya, sayang. Itu sudah pasti, semua orang sayang dengan Raka. Aku janji akan menyayangi kalian bertiga dengan adil..."


Arvan membawa Erina dalam dekapannya. Bahagia yang dia rasakan saat ini ada awal dari sebuah tanggung jawab besar yang harus ia laksanakan di masa depan.


" Hans, kau ke kantor saja dengan Adam. Saya mau ke bagian farmasi dulu ambil obat setelah itu pulang..." ujar Arvan.


" Tapi, Van. Apa tidak sebaiknya kalian aku antar pulang saja...?" sahut Hans.


" Iya, Tuan. Anda masih sering mual dan muntah, tidak akan bisa konsentrasi dalam mengemudi..." timpal Adam.


" Aku bisa menyetir..." ucap Erina.

__ADS_1


" Jangan...!" pekik ketiganya.


" Ish... kenapa kalian membentakku...?!" sungut Erina.


" Bukan itu, sayang. Kamu sedang hamil, tidak boleh menyetir sendiri..." ujar Arvan.


" Tapi kan kita bawa tiga mobil...?"


" Tidak apa - apa, biar nanti dibawa Delia pulang. Kebetulan mobilnya sedang di bengkel..." kata Hans.


Setelah perdebatan kecil seperti biasanya, akhirnya Adam yang mengantar Arvan dan Erina pulang. Hans langsung ke kantor karena harus menggantikan Arvan meeting.


# # #


Sampai di rumah, Adam langsung kembali ke kantor untuk membantu pekerjaan Ricko dan Hans. Sedangkan Arvan dan Erina langsung mencari keberadaan orangtuanya.


" Ayah... Ibu...!" teriak Arvan.


Tuan Regan dan istrinya yang sedang menemani Raka berlatih di halaman belakang terkejut dengan teriakan Arvan.


" Haish... anak itu kenapa lagi, teriak - teriak seperti di hutan..." kata Tuan Regan.


" Ya sudah, kalian berhenti dulu latihannya..." sahut Nyonya Sarah.


Arvan dan Erina datang dengan senyuman yang tak bisa disembunyikan di bibirnya.


" Ayah, Ibu... Arvan punya kabar gembira untuk kalian..." tutur Arvan.


" Kamu menang tender...?" tebak Ibu.


" Tidak, Ibu. Bukan soal pekerjaan..."


Arvan meraih tubuh kecil anaknya lalu menggendongnya. Arvan juga berkali - kali menciumi wajah putranya itu.


" Bu, Erina sedang hamil dan Raka akan segera memiliki adik..." ucap Arvan dengan bahagia.


Erina hanya tersenyum dan selalu mengucap syukur dalam hati. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa baginya, keluarga hampir mendekati kata sempurna sekarang.


" Benarkah...? Kalian tidak bohong kan...?" ujar Ayah.


" Horeee...! Raka punya adik..." teriak Raka.


" Apa Raka senang...? tanya Arvan.


Raka menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Erina bersyukur Raka bisa menerima kehadiran anggota baru dalam keluarganya.


" Iya, ayah. Erina beneran hamil, sudah jalan tiga minggu..." ucap Erina.


" Jadi Arvan yang ngidam...?" tanya ibu karena dari kemarin melihat Arvan yang sering mual dan muntah.


" Seperti biasa, Bu. Dulu waktu hamil Raka, Arvan yang tiap hari harus mual dan muntah. Bahkan makanan saja harus masakan bik Ina, kalau tidak... Arvan tidak akan bisa makan..."


" Kok bisa makan masakan bik Ina, kak...?" tanya Erina.


" Tidak tahu, itu ide Hans yang selalu meminta bik Ina mengirimkan makanan ke kantor setiap hari..." jawab Arvan.


Semua terlihat nampak bahagia dengan kehamilan Erina. Semoga kebahagiaan ini akan terus ada dalam keluarga mereka selamanya.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2