Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 61


__ADS_3

" Bantuan apa, Tuan...?" tanya Adam heran.


" Kau sudah lama bekerja pada istriku, aku percaya kau bisa diandalkan..." ucap Arvan.


" Maksud, Tuan...?"


" Saya ingin kau menjaga istriku, ada seseorang yang dekat dengannya tiba - tiba muncul sekarang. Saya tidak mempercayai orang itu. Jangan biarkan istriku bertemu dengan dia sendiri. Kau harus mengawal istriku kemanapun dia pergi. Kau bisa bekerjasama dengan William untuk menjaga keselamatan Erina..."


" Baik, Tuan. Perintah Anda akan saya laksanakan..."


" Kau bisa kupercayakan?"


" Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya akan setia kepada keluarga Sebastian..."


" Terimakasih, saya senang mendengarnya..."


" Terimakasih atas kepercayaan Anda, Tuan. Saya akan mengabdikan diri untuk keluarga Sebastian dengan sebaik mungkin..."


" Baiklah, kembalilah bekerja...! Ingat, jangan sampai istriku tahu tentang hal ini..."


" Baik, Tuan. Saya permisi dulu..."


Arvan kembali ke kamar pribadi milik Erina di ruangan itu. Tampak rapi dengan beberapa pakaian kerja yang tersimpan rapi di lemari.


" Apa dia berniat menginap disini...? Barang - barang pribadinya banyak tersimpan disini..." gumam Arvan.


Arvan merebahkan dirinya diatas tempat tidur sambil menunggu Erina kembali. Rasanya sangat bosan sendirian apalagi perut terasa keroncongan karena terakhir makan saat makan malam di danau.


Karena tak ada yang dikerjakan, Arvan tidur dengan sangat lelap sembari menunggu kedatangan sang istri.


# # #


Erina dan Sera datang dua jam kemudian. Di ruang kerja Erina, tempat itu nampak lengang tak berpenghuni.


" Kak Arvan kemana ya...?" gumam Erina.


Erina mencari Arvan ke dalam kamar yang tertutup rapat karena hanya tempat itu yang belum dibuka.


" Sayang..." panggil Erina pelan.


" Astaga... baru ditinggal sebentar malah tidur..." gumam Erina.


Erina duduk di samping suaminya yang sangat lelap dalam tidurnya.


" Sayang, bangunlah... katanya lapar..." bisik Erina.


Ciuman di bibir yang lembut membuat Arvan menggeliat. Erina terus menggoda sang suami agar lekas terbangun.


" Hmmm... sayang, hentikan tanganmu..."


Arvan menangkap tangan sang istri yang menyusup ke dalam kemejanya.


" Cepatlah bangun, kita makan dulu..."


" Sebentar lagi, aku masih ngantuk. Temani aku tidur sebentar lagi..." rengek Arvan.


" Ish... katanya lapar, katanya mau bertemu Raka sebelum pulang ke Indonesia..."


" Rasanya berat meninggalkan kalian disini. Aku pasti kesepian disana sendirian. Aku akan merindukan hangatnya pelukanmu setiap detik nafasku berhembus..."


" Lebay... bukankah kakak sendiri yang melarangku untuk ikut ke Indonesia..."


" Iya, sayang. Akan kuusahakan sesering mungkin mengunjungimu disini..."


Erina memeluk suaminya lalu ikut berbaring sebentar sebelum akhirnya Arvan malah menyerangnya secara tiba - tiba. Erina yang tak siap sangat terkejut saat ciuman panas sang suami mendarat di bibirnya.


" Kak... apa yang kau lakukan...?" pekik Erina.


" Buat stok seminggu ke depan, sayang. Aku pasti merindukan hangatnya tubuhmu ini..."


Arvan segera melepas pakaian mereka dan kembali menyelami nikmatnya surga dunia. Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu di dalam kamar dengan tenaga yang terkuras habis.


Puas melampiaskan hasratnya, Arvan mengajak Erina untuk mandi bersama. Setelah itu mereka makan dengan lahap walaupun makanannya sudah terasa dingin.


Jam empat sore, Arvan dan Erina menjemput Raka di markas agen rahasia milik ayahnya. Disana sudah ada William yang menyambut kedatangan sepasang pengantin baru itu.

__ADS_1


" Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya Sebastian..." sapa William seraya tersenyum.


" Ish... kak Willy apaan sih...? Raka dimana...?" tanya Erina.


" Mmm... Raka sedang bekerja di dalam..." jawab William.


" Ada kasus apalagi, kak...?" tanya Arvan.


" Ada seorang pengusaha yang kehilangan anak gadisnya. Kami disuruh untuk mencari keberadaan gadis itu yang sudah kabur lebih dari satu minggu..."


" Tapi saya ingin mengajak Raka pergi sebentar sebelum ke Bandara. Bolehkah kami pergi...?" tanya Arvan.


" Tentu saja, Raka tidak terikat kontrak disini. Dia bebas melakukan apapun yang dia mau..."


" Terimakasih, kak... saya masuk dulu cari Raka..." ucap Erina.


Erina masuk ke ruangan tempat Raka biasanya berada. Disana terlihat Raka sedang serius di depan layar komputer. Anak itu sepertinya sedang membuat program untuk memperbarui aplikasi peretasan agar tak dapat terdeteksi oleh musuh.


" Raka, apa kau masih lama...?" tanya Erina.


" Eh, mama... ada apa? Tumben kesini...?" sahut Raka.


" Kamu lagi ngapain sih? Mama nggak ngerti aplikasi seperti itu? Kamu belajar darimana...?"


" Ada yang mengajarkannya pada Raka, Ma. Beliau sangat ahli dalam bidang seperti ini walaupun sekarang sudah pensiun..."


" Siapa...?"


" Beliau tidak mau dikenal orang, cukup Raka saja yang tahu..."


" Ish... tega banget anak bayi, Mama..."


Erina mengacak - acak rambut Raka sambil tertawa.


" Haish... Raka bukan bayi, Ma...!" sungut Raka.


" Cepat selesaikan pekerjaanmu, kita harus mengantar papa ke Bandara..."


" Papa pulang ke Indonesia sekarang, Ma...?"


" Iya, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan disana...?"


Setelah selesai merapikan pekerjaannya, Raka menggeliat merenggangkan otot - ototnya.


" Ma_..." Raka menatap mamanya dengan manja.


" Ish... kenapa menatap mama seperti itu? Pasti ada yang kamu inginkan...?" cecar Erina.


" Hehehee... gendong..." ucap Raka nyengir.


" Hmmm... katanya bukan bayi tapi masih minta gendong..." ledek Erina.


" Mamaaa...!" teriak Raka kencang hingga terdengar sampai keluar ruangan.


Erina tertawa sambil menggelitiki pinggang Raka yang membuat anak itu semakin kesal.


Arvan dan William yang mendengar teriakan Raka langsung berlari secepat mungkin menghampiri anak itu.


" Rakaa_...!"


Arvan dan William kaget saat melihat Raka dan Erina saling tatap dengan tatapan tajam.


" Raka, Erina... ada apa ini...?" tanya Arvan khawatir.


" Eh, papa... tidak ada apa - apa. Ayo sayang, kita pergi sekarang..." Erina mengulurkan tangannya untuk menggendong Raka.


" Huft... Raka bisa jalan sendiri...!" sungut Raka.


" Kalian ini kenapa sih...?" cecar Arvan.


" Mama nakal...!" teriak Raka.


" Ya udah, I'm sorry my son..." ucap Erina seraya tersenyum.


" No! Raka tidak mau maafin mama...!"

__ADS_1


" Ayolah, sayang. Mama akan berikan sesuatu buat Raka nanti..."


" Sudah, kalian ini ribut terus! Jangan - jangan waktu lahiran dulu Raka ketuker sama anak yang lain..." seloroh William.


" Kak Willy, nggak mungkinlah bisa tertukar..." sahut Erina.


" Ya... soalnya kalian itu ibu dan anak tapi tidak ada ikatan batin sama sekali..."


" Siapa bilang? Kami berdua punya ikatan batin yang sangat kuat. Benarkan, sayang...?"


" Sudah, jangan berdebat lagi. Kita pergi sekarang, papa udah terlambat..." ucap Arvan menengahi.


Arvan baru tahu kelakuan anak dan istrinya yang tak pernah akur saat bersama. Tapi saat mereka berpisah, hati mereka seakan saling terpaut. Mereka bisa merasakan jika ada salah satu dari mereka yang berada dalam masalah.


" Ayo, sayang. Sini mama gendong...?"


Erina meraih tubuh Raka dan membawa anak itu dalam dekapannya. Sungguh pemandangan yang akan jarang Arvan lihat karena sebentar lagi dirinya harus segera pulang ke Indonesia untuk misi yang sangat penting.


# # #


Arvan menatap istri dan anaknya yang memandangnya dengan wajah sendu. Mereka seakan tak rela untuk melepasnya pergi.


" Sayang, jangan seperti ini. Bagaimana aku bisa pergi jika kalian sedih kayak gini...?" tutur Arvan lembut.


" Bisakah papa tunda sampai besok...?" pinta Raka.


" Iya, kak. Sehari saja pulangnya di tunda..." rengek Erina.


" Sayang, papa disini sudah tiga hari. Padahal seharusnya papa tidak menginap, hanya mengantar kalian saja..."


" Rissa, Raka... biarkan Arvan pergi..." ujar William.


Erina menatap Arvan dengan genangan airmata yang mulai tumpah membasahi wajahnya. Tidak tahu mengapa, hati Erina dan Raka seakan sepakat untuk tak membiarkan Arvan pergi malam ini.


" Sayang, ada apa dengan kalian? Aku pergi hanya sebentar dan pasti akan kembali lagi..." bujuk Arvan.


" Jangan pergi..." ucap Erina lirih.


" Kalian tidak boleh menangis, aku tidak suka melihat airmata kesedihan di wajah manis kalian..." tutur Arvan seraya memeluk Raka dan Erina.


William menatap Erina dan Raka secara bergantian. Belum pernah ia melihat wajah mereka secemas itu hanya karena kepergian Arvan ke Indonesia.


" Kak Willy, bawa mereka pulang sekarang. Aku tidak akan bisa pergi jika melihat mereka menangis seperti ini..." ujar Arvan yang berusaha menahan airmatanya.


" Tidak, pa. Raka ingin pulang bersama papa..." tolak Raka.


" Ya Tuhan, apa yang sebenarnya aku rasakan ini? Rasanya sangat berat melepas kepergian suamiku..." batin Erina.


Arvan kembali memeluk istrinya yang masih menangis. Arvan bisa merasakan isakan sang istri penuh dengan permohonan kepadanya.


" Sayang, biarkan aku pergi. Percayalah kita pasti akan bersama lagi nanti. Jaga Raka baik - baik, aku sangat mencintai kalian berdua..."


Waktu keberangkatan hanya tinggal lima menit lagi, dengan terpaksa Arvan harus mengantar Erina dan Raka sampai ke mobil walaupun dengan sedikit memaksa.


Dengan berat hati Raka dan Erina melepas kepergian Arvan setelah memeluknya begitu lama.


" Jangan bersedih, aku janji akan kembali minggu depan..." ujar Arvan pelan.


" Aku akan menanti janjimu..." sahut Erina di sela isakannya.


" Sayang, ini hanya satu minggu. Kita tetap bisa berkomunikasi setiap saat..."


" Aku tidak sanggup jauh darimu, kak..."


" Aku juga, sayang. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya..."


William benar - benar melajukan mobilnya meninggalkan Arvan yang sedang tersenyum kearah mereka.


" Semoga kamu baik - baik saja, sayang..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2