Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 36


__ADS_3

Hans dan Raka mengantar Tuan Sebastian ke Bandara sore hari. Raka memeluk kakek dan neneknya sebelum mereka berpisah.


" Kakek dan nenek kapan kembali kesini...?" tanya Raka.


" Nanti kalau urusan kakek disana sudah selesai, pasti kakek dan nenek kembali kesini..." jawab Nenek.


" Iya Nek, suruh mama pulang ya...? Raka kangen sama Mama..."


" Iya, nanti nenek suruh mama Rissa pulang..."


Setelah saling berpelukan, mereka berpisah karena pesawat akan segera berangkat. Raka mengajak Hans lansung pulang karena esok hari ia punya rencana yang pastinya akan menguras banyak tenaga.


# # #


Pagi hari sesuai rencana, hari ini Hans dan Raka akan bertemu dengan bik Ina pelayan di rumah keluarga Bagaskara. Mereka berjanji akan bertemu di taman kota jam delapan pagi.


Raka sudah bersiap - siap dengan pakaian biasa. Hanya kaos putih serta celana panjang tanpa merk serta jaket yang dibeli di pasar oleh pelayan kemarin sore.


" Raka... pakaian apa yang kau kenakan...?" tanya Hans heran.


Ricko dan Sandra juga menatap heran pada anak kecil di depannya itu.


" Raka, darimana kau dapat pakaian seperti itu...?" cecar Sandra.


" Hehehee... memangnya kenapa dengan pakaian Raka...?" ucap Raka balik bertanya.


" Sayang, nanti Uncle beliin baju yang baru ya...?" ujar Ricko.


" Tidak usah Uncle, ini juga baru beli kemarin..." jawab Raka sambil nyengir.


" Memangnya kamu sudah tidak punya baju yang lain...?"


" Banyak, ini adalah salah satu misi Raka hari ini..."


Ketiga orang dewasa di depan Raka hanya bisa pasrah dengan kelakuan Raka yang susah sekali diatur jika sudah punya keinginan sendiri.


" Hans, apa ini semua ulahmu...?" cecar Ricko dengan tatapan tajam.


" Tidak kak, mana mungkin aku ngelakuin itu. Aku bukan tipe orang yang suka eksploitasi anak..." elak Hans.


" Ini keinginan Raka, Uncle... mulai hari ini Raka akan tinggal di rumah Mama apapun caranya..." ucap Raka tegas.


" Apaa...?" ucap mereka bertiga bersamaan.


" Raka, kamu jangan macam - macam...!" hardik Hans.


Hans merasa kesal dengan tingkah Raka yang suka melakukan sesuatu tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Sifatnya yang seperti Arvan, membuat Hans semakin pusing saja.


" Uncle, Raka hanya ingin tahu seperti apa kehidupan mama di masa lalu. Raka juga ingin tahu rencana tante Selly selanjutnya..."


" Huft... itu terlalu berbahaya Raka! Jika mereka tahu kau ini anak dari Arvan dan Erina, mereka bisa membunuhmu..."


" Mereka tidak akan tahu, Uncle. Raka bisa jaga diri disana, Uncle tidak usah khawatir..."


" Bagaimana jika Mama kamu tiba - tiba datang mencarimu...?"


" Mama hanya akan datang setelah memaafkan papa..."


" Kau ini benar - benar keras kepala...!" kesal Hans.


Sandra tidak ingin perdebatan ini semakin panjang, apalagi di meja makan. Dia segera menengahi untuk melonggarkan suasana yang semakin tegang.


" Sudah, sebaiknya kita sarapan dulu. Tidak baik bertengkar di depan makanan..." tutur Sandra tegas.

__ADS_1


" Iya, jangan bertengkar. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini..." timpal Ricko.


" Raka_..." ucap Hans geram.


" Sudah, Hans... kita bicara lagi nanti..." tegur Ricko.


Kini semuanya diam menikmati sarapan masing - masing. Ricko tidak suka ada pembicaraan di saat sedang makan. Raka dan Hans saling tatap dengan tajam pertanda perdebatan belum usai.


Selesai sarapan, Ricko berangkat ke kantor bersama Sandra karena selama Arvan masih sakit Sandra akan membantu pekerjaan Ricko di kantor.


Sandra telah meninggalkan dunia modeling semenjak menikah dengan Ricko. Dia lebih memilih mendampingi suaminya di kantor karena Hans juga jarang ada di tempat.


" Raka, kau yakin akan melakukan ini...?" tanya Hans memastikan sekali lagi.


" Iya, Uncle. Raka sudah memikirkan ini dari kemarin. Ayo kita pergi sekarang..."


" Raka, ini taruhannya nyawa. Biar Uncle saja yang menyelidiki kasus ini..."


" Tidak Uncle, Raka akan berhati - hati. Kita temui pengasuh mama sekarang..."


Tepat pukul delapan, seorang wanita paruh baya duduk di sudut taman dengan tas belanjaan di sampingnya. Dia sedang menunggu seseorang yang sudah membuat janji dengannya semalam.


" Bik Ina...!" sapa Hans.


" Tuan Hans..." Bik Ina menoleh ke arah sumber suara.


" Bibik sudah lama disini...?"


" Belum Tuan, sekitar lima menit yang lalu..."


Bik Ina menatap seorang anak kecil yang berdiri di samping Hans. Wajahnya mirip sekali dengan Arvan, namun tingkahnya yang suka meremas tangannya sendiri itu mirip sekali dengan Erina.


" Tuan, anak ini siapa...?"


" Oh iya, kenalkan... ini namanya Raka, keponakan saya..."


" Kau mirip sekali dengan Tuan Arvan..." ucap Bik Ina pelan.


" Dia memang anaknya Arvan dan Erina, Bik..." sahut Hans.


" Apaa...? Tuan tidak bohong kan...?" kata bik Ina tak percaya.


" Duduklah dulu bik, ada yang ingin saya bicarakan denganmu..." ujar Hans.


Mereka berdua duduk berdampingan di kursi panjang dengan Raka duduk di pangkuan Hans.


" Dimana Non Erina, Tuan...?"


" Erina berada di luar negeri dan dia menitipkan Raka padaku untuk sementara waktu..."


" Tuan Arvan...?"


" Arvan sakit dan sampai sekarang masih koma..."


" Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini...?"


" Itulah takdir bik, Arvan baru saja bertemu dengan Raka dan Erina sebelum musibah itu terjadi..."


" Semoga mereka cepat berkumpul kembali, saya tahu Tuan Arvan orang yang baik yang bisa menjaga dan memberikan kebahagiaan untuk Non Erina..."


" Bik, ada siapa saja di rumah Selly...?" tanya Hans.


" Hanya Non Selly dan Nyonya Yona, satu penjaga dan saya Tuan..."

__ADS_1


" Bagaimana Raka...?" tanya Hans.


" Tidak masalah, Uncle..." jawab Raka.


" Ada apa Tuan...?" tanya bik Ina bingung.


" Bik, saya ingin menitipkan Raka padamu di rumah Selly..."


" Tapi Tuan_..."


" Bik, saya harus bisa masuk ke rumah itu. Saya akan mengatur semuanya agar tidak menunjukkan kecurigaan mereka..." ucap Raka.


" Saya tidak paham maksudnya...?"


" Begini bik, kita akan merahasiakan identitas Raka yang sebenarnya. Jika Selly bertanya, bilang saja bibik menemukan anak terlantar di jalan. Mintalah ijin untuk merawatnya selama beberapa hari sampai orangtuanya ditemukan..."


" Tapi jika terjadi sesuatu dengan Tuan Muda bagaimana...?"


" Bibik tenang saja, Raka bisa jaga diri. Dia bukan anak biasa..." bisik Hans.


" Maksudnya...?"


" Sudah, bibik hanya perlu bawa Raka ke rumah. Urusan lainnya biar Raka yang mengatasinya..."


" Saya takut Non Selly berbuat jahat jika tahu identitas Tuan Muda..."


" Dia tidak akan tahu, serahkan semuanya pada Raka..."


" Non Selly itu sangat kejam, saya masih bertahan disana karena Tuan Bagas menyuruh saya untuk menunggu kedatangan Non Erina..."


" Apa yang sebenarnya terjadi dengan Tuan Bagas, bik...?"


" Bibik juga tidak tahu, beberapa hari sebelum beliau meninggal katanya kepalanya sering pusing dan dadanya terasa sesak. Padahal sebelumnya Tuan itu sehat dan tidak mempunyai riwayat penyakit apapun. Saya curiga dengan Non Selly dan Nyonya, sebab setelah itu semua Restoran dan rumah ini berganti pemilik menjadi nama Non Selly semua..."


" Huft... Raka, tugasmu bertambah. Cari tahu tentang kematian kakekmu dan juga surat pengalihan harta warisan. Uncle yakin ada kecurangan dalam keluarga itu..."


" Baik Uncle, Raka akan selidiki kasus ini..."


# # #


Bik Ina dan Raka naik taksi menuju rumah keluarga Bagaskara. Bik Ina menatap wajah Raka yang tersenyum melihat sekeliling jalanan yang dilaluinya. Senyumannya mengingatkan dirinya pada Erina, orang yang dia rawat sejak lahir.


" Non Erina, bibik kangen sama Non..." batin Bik Ina.


Tak terasa airmatanya mengalir begitu saja seraya mengusap pelan rambut Raka.


" Kenapa bibik menangis...?" tanya Raka.


" Tidak apa - apa, bibik hanya merindukan mama kamu..."


" Mama sebentar lagi pasti pulang, Raka juga rindu mama..."


Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang rumah. Setelah membayar ongkos taksi, mereka berdua turun kemudian memasuki gerbang. Bersamaan dengan itu, mobil Selly memasuki gerbang.


Saat keluar dari mobil, Selly menatap anak kecil yang berada di samping bik Ina.


" Kamu_...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2