
" Raka, mendekatlah padaku...!" ucap Yona.
" Iya, Nek..." jawab Raka pelan.
" Apa kamu ingat siapa nama orangtuamu...? Mungkin saja nenek mengenalnya dan bisa mengantarmu pulang ke rumah..." tutur Yona lembut.
" Ish... Ibu ngapain sok peduli sama gembel ini..." cibir Selly.
" Tutup mulutmu...!" hardik Yona pada Selly.
" Raka tidak ingat, Nek..." jawab Raka polos.
" Raka kalau panggil papa dan mama gimana...?" ucap Yona berharap anak itu menyebutkan nama.
" Papa ganteng dan mama cantik..." sahut Raka tersenyum.
" Hahahaa...!" tawa Selly pecah seketika hingga membuat Yona menatapnya tajam.
" Tidak mau diam ku lakban mulutmu...!" geram Yona pada anaknya.
Niat hatinya ingin mencari imbalan seandainya Raka adalah anak orang kaya namun usahanya sia - sia karena anak itu tidak tahu apapun tentang keluarganya.
" Sudahlah, kalau begitu Ibu mau istirahat saja, capek..." ucap Yona kesal.
" Ibu kenapa...?" tanya Selly heran.
" Bik Ina, bawa anak itu pergi...!" perintah Selly.
" Baik Nona..."
Bik Ina membawa Raka keluar dari rumah itu dengan taksi yang sudah di pesan sebelumnya. Namun dalam perjalanan, Raka merasa ada sebuah mobil yang mengikuti mereka.
" Bik, sepertinya sandiwara kita semakin panjang. Ada mobil yang mengikuti kita..." ujar Raka.
" Oh iya, bibik seperti mengenali mobil itu..." sahut bik Ina.
" Bibik tahu darimana...?"
" Itu mobil yang sering datang menemui Non Selly. Biasanya ada dua atau tiga orang berpakaian serba hitam. Mereka seperti orang bayaran Nona Selly dan ibunya..."
" Huft... apa mereka curiga dengan kita...?"
" Mungkin saja, Tuan... apa yang harus kita lakukan sekarang...?"
" Pak, kita pergi ke panti asuhan terdekat...!" perintah Raka pada sopir taksi.
" Iya pak, cari panti yang tidak terlalu besar..." timpal bik Ina.
" Baik, Bu..." jawab sopir taksi.
Mobil suruhan Selly masih terus mengikuti Raka hingga sampai di sebuah rumah panti sederhana. Raka dan bik Ina segera turun dari taksi dan masuk ke halaman panti asuhan.
" Tuan, apa ini tempat yang cocok...?" tanya bik Ina.
" Tidak apa - apa bik, nanti Uncle Hans yang akan menjemput saya kesini..."
Raka masuk bersama bik Ina setelah sebelumnya mengetuk pintu. Seorang wanita paruh baya menyambu mereka dengan tersenyum.
" Silahkan duduk, Bu... ada yang bisa saya bantu...?" tanya wanita itu ramah.
" Begini Bu, saya ingin menitipkan cucu saya disini untuk sementara waktu. Tolong jaga dia sampai ada yang menjemputnya..."
" Orangtuanya dimana...?"
" Ada, tapi sedang sakit. Nanti ada kerabat yang menjemputnya kesini. Tapi jangan bilang pada siapapun tentang anak ini..."
__ADS_1
" Apa ada yang ingin berbuat jahat padanya...?"
" Benar, saya tidak bisa bersamanya sekarang. Saya juga sedang diawasi..."
" Baiklah, anak ini akan bersama saya disini. Saya pastikan tidak ada yang tahu keberadaannya..." ucap pengelola panti.
" Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu..." pamit bik Ina.
" Raka, jaga dirimu baik - baik..." pesan bik Ina.
" Iya, tidak perlu khawatir. Saya baik - baik saja disini..." sahut Raka tersenyum.
# # #
Di rumah sakit, Erina menemani Arvan yang masih koma. Dia menyuruh Hans untuk memantau keberadaan Raka.
" Kak, jemput Raka secepatnya..." pinta Erina kepada Hans.
" Anakmu itu keras kepala seperti Arvan, tidak bisa di kasih saran. Bisanya cuma main perintah saja..." gerutu Hans.
" Kak, ini lokasi Raka dimana...? Tempatnya jauh dari rumah kak Selly..." ucap Erina panik.
" Masa' sih, coba aku cek dulu..." sahut Hans.
" Tempat apa ini...? Jauh dari pusat kota, berada di perkampungan..." gumam Hans.
" Kita cari Raka sekarang, kak...!"
" Biar aku saja, kau jaga Arvan... mudah - mudahan dia cepat sadar..."
" Tapi kak_..."
" Percayalah padaku, Raka baik - baik saja..."
Hans membawa ponsel Erina untuk melacak keberadaan Raka. Rasa khawatir mulai menyelimuti hatinya, takut Raka tertangkap oleh Selly.
" Kak, bangunlah... sampai kapan kau akan tidur seperti ini...?" ucap Erina sambil menangis.
" Aku janji kita akan merawat Raka bersama, bangunlah... Raka sedang butuh bantuan kita sekarang..."
Cukup lama Erina menangis sehingga diapun merasa lelah dan tertidur di samping Arvan.
Arvan yang cukup lama tertidur mulai menggerakkan jari - jemarinya yang terasa kaku karena tetesan airmata dari Erina. Matanya juga mulai terbuka walau sedikit buram. Arvsn mencoba mengerjapkan mata berkali - kali untuk menajamkan penglihatannya.
" Apa aku sedang bermimpi atau sudah mati...?" batin Arvan.
Arvan menoleh ke samping dan melihat seorang wanita yang tertidur di lengannya. Dia mencoba menggerakkan tangannya namun sangat sulit.
" Apa yang terjadi padaku...? Tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Siapa wanita ini...? Kenapa dia ada disini...?"
Arvan dengan perlahan mulai bisa menggerakkan tangan yang satunya dan mengangkatnya keatas perut.
" Syukurlah aku masih hidup, sepertinya ini rumah sakit. Bau mawar ini_...?"
Arvan mencoba mengingat aroma itu yang sangat familiar baginya.
" Akh... tidak mungkin! Pasti aku salah, tidak mungkin Erina disini..." gumam Arvan.
Jika mengingat betapa Erina sangat membencinya, Arvan menyesal kenapa dia masih hidup sampai saat ini. Lebih baik mati daripada hidup diselimuti rasa bersalah seumur hidupnya.
" Erina, kau memang pantas membenciku. Aku tak pantas untuk bersamamu, semoga kau mendapatkan kebahagiaan diluar sana..." batin Arvan.
Arvan mencoba membangunkan wanita di sampingnya dengan mengusap pelan kepalanya.
" Bangun...! Kau siapa...?" ucap Arvan pelan.
__ADS_1
Wanita yang mulai terusik dari tidurnya itu menggerutu karena merasa terganggu.
" Kak Ricko... jangan ganggu lagi deh, ngantuk nih...!" sungut Erina.
" Suara ini_..." batin Arvan tak percaya.
" Erina..." ucap Arvan pelan nyaris tak terdengar.
Erina terkejut karena Ricko tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Hanya Arvan dan Hans yang mengenal nama itu. Erina mendongakkan wajahnya lalu menatap sekeliling dan tak menemukan siapa - siapa di ruangan itu.
Erina sungguh tidak percaya saat tangannya di genggam oleh seseorang.
" Kak Arvan_..." Erina tanpa sadar menitikkan airmata haru dan juga sangat terkejut.
" Erina, apa aku hanya bermimpi...?" ucap Arvan tersenyum.
Erina hanya bisa menangis lalu memeluk Arvan dengan erat. Melihat Arvan yang sudah sadar membuat Erina sangat bahagia.
" Kenapa kamu menangis...? Erina, jawab aku... apa aku sudah mati...?" ucap Arvan pelan.
" Tidak kak, kamu masih hidup... Erin panggil dokter dulu ya...?" jawab Erina tersenyum.
" Tidak, aku hanya ingin bersamamu. Aku takut kamu akan pergi lagi, jangan tinggalkan aku..." ucap Arvan memohon.
" Saya tidak akan pergi lagi, saya akan menemani kak Arvan disini..."
Erina menekan tombol di samping brankar Arvan untuk memanggil dokter. Tak lama dokter datang dan segera memeriksa keadaan Arvan yang sudah sadar.
" Nona, sebaiknya Anda tunggu diluar. Kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu..." ucap perawat.
" Tidak, Erina tidak boleh pergi! Erina tetaplah disini..." Arvan menghiba seraya menangis.
" Erina hanya keluar sebentar kak, selesai diperiksa dokter... Erina kembali lagi..." bujuk Erina.
" Jangan pergi, aku mohon padamu..."
" Nona, Anda boleh menemaninya disini..." ujar dokter pasrah.
" Iya, Dok... saya tetap disini..."
Arvan tak mau melepaskan genggaman tangannya dari Erina. Sifatnya benar - benar seperti anak kecil yang tak mau ditinggalkan.
Setelah dokter selesai memeriksa, dia mengatakan bahwa Arvan sudah baik - baik saja hanya perlu istirahat untuk pemulihan. Dokter dan perawat pergi setelah pemeriksaan selesai.
" Erina... maafkan aku..." lirih Arvan.
" Iya, kak... Erina sudah memaafkan kak Arvan..." sahut Erina seraya tersenyum
" Terimakasih, kalaupun aku mati sekarang... aku sudah ikhlas..."tutur Arvan tersenyum.
" Jangan bicara seperti itu, aku ingin terus bersamamu..." ujar Erina lembut.
Erina memeluk tubuh Arvan yang masih terbaring lemah diatas brankar.
" Sayang, dimana Raka...?"
" Raka_..."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.