Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 26


__ADS_3

" Eh... dari tadi kok ibu tidak melihat Rissa dan Raka...?" tanya Bu Sarah.


" Mereka sudah Arvan antar ke Apartement Bu, Rissa lelah habis perjalanan jauh kemarin. Kalau di rumah, semua kamar udah penuh dengan kerabat ibu yang akan menginap..." jawab Arvan.


" Ya sudah tidak apa - apa..." sahut Ibu.


" Ricko, kamu pulang ke rumah atau mertua kamu...?" tanya Ayah.


" Ke rumah Sandra dulu Yah, baru besok ke rumah..." jawab Ricko.


Sebenarnya Ricko ingin membeli rumah sendiri dari dulu, namun Arvan tidak mengijinkannya sampai mereka bertiga mempunyai pasangan hidup semua.


" Ya sudah, biar nanti diantar sama Hans..."


" Tapi Delia ikut nganterin juga kan...?" tanya Hans.


" Buat apa saya ikut...?" sahut Delia.


" Apa kau tega melihat aku tersiksa melihat kemesraan dua sejoli ini...?" rengek Hans yang membuat semua orang tertawa.


" Angkut dah... Angkut..." ledek Arvan.


" Bungkus..." sahut Ricko.


Arvan dan Ricko tertawa cekikikan melihat wajah Delia yang sudah memerah menahan malu.


" Eh... sudah, jangan ganggu calon menantu ibu...!" timpal Ibu.


" Lanjut Bu, harusnya tadi sekalian aja diresmikan..." tambah Ricko.


" Iya, sekalian ibu punya tiga menantu dalam sehari..." celetuk Hans yang langsung dapat tatapan tajam dari Arvan.


" Arvan mau menikahi wanita gila tadi...?" tanya ibu kesal.


" Ibu jangan dengerin bualan Hans, Arvan akan membawa menantu terbaik untuk ibu..."


" Ayo pulang, ibu sudah lelah sekali..." keluh ibu.


" Ayo Bu, Yah... kita pulang sekarang..." ajak Arvan.


Arvan, William, Ayah dan Ibu segera pulang karena sangat lelah. Sampai di dalam mobil, Ibu langsung menyandarkan tubuhnya pada jok mobil.


" Van, gimana Rissa...?" tanya Ayah.


" Tidak apa - apa Yah, nanti Arvan bicara lagi sama dia..." jawab Arvan.


" Memangnya Rissa kenapa Van...?" tanya Ibu.


" Tidak apa - apa, Bu..."


" Apa kau menyembunyikan sesuatu dari Ibu...?"


" Sudah Bu, lebih baik kau istirahat dulu..." tutur Ayah lembut.


" Ibu cuma pengen tahu aja Yah, apa mereka punya masalah..."


" Nanti kita bicarakan lagi di rumah..."


" Apa masalahnya serius...?"


" Istirahat dulu, nanti sampai rumah Arvan akan cerita semuanya..."


# # #

__ADS_1


Sampai di rumah, setelah menyuruh semua kerabat untuk istirahat di kamar masing - masing Ibu segera mengajak Ayah dan Arvan masuk ke ruang kerja untuk membahas masalah Rissa.


" Arvan, cepat katakan apa yang terjadi pada Rissa..." ucap ibu khawatir.


" Ini soal masa lalu, Bu..." jawab Arvan pelan.


" Masa lalu apa...? Kamu sudah lama kenal dengan Rissa...?"


" Maafkan Arvan, Bu..."


Arvan ragu untuk menceritakan pada sang ibu tentang masa lalunya dengan Erina mengingat betapa bahagianya ibu saat Erina datang dalam kehidupannya.


" Van, sebaiknya kau jujur pada ibumu. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu..." ujar sang Ayah.


" Jujur soal apa Mas...?" tanya Ibu bingung.


" Arvan akan cerita sama Ibu, tapi Ibu harus janji tidak akan membenci Arvan..."


" Tergantung apa masalahnya..."


" Arvan ini anak ibu, jangan seperti ini..." bujuk Arvan.


" Baiklah, semoga kamu tidak membuat kesalahan yang fatal..."


" Sebenarnya... Raka itu anak kandung Arvan, Bu..." ucap Arvan seraya menggenggam erat tangan ibunya.


" Apaa...? Kau bercanda kan, Van...?" pekik Ibu.


" Tidak Bu, Raka memang anak kandung Arvan..."


" Jadi, laki - laki yang sudah menghancurkan hidup Rissa itu anak kandung ibu sendiri...?" ucap Ibu seraya mengusap airmatanya yang tak sengaja menetes.


" Maafkan Arvan, Bu... semuanya terjadi karena Arvan hilang kendali. Arvan dijebak oleh seseorang di Cafe malam itu..."


" Wanita yang tadi mengacau di pernikahan kak Ricko, Yah..."


" Wanita itu... apa hubungannya dengan Rissa...?"


" Sewaktu dia berhasil menjebakku, akupun berhasil kabur dan berlari di jalanan. Tanpa sengaja, Rissa menolongku dan mengantarkanku pulang. Tapi, obat itu terus saja bereaksi dengan cepat hingga gadis yang telah menolongku itu malah menjadi korban..."


" Kenapa kau tidak bertanggungjawab...!" bentak Ibu.


" Selama lima tahun ini aku mencarinya, Bu... tapi Erina menghilang tanpa jejak..."


" Rissa tidak mau ibu memanggilnya dengan nama itu..." keluh Ibu.


" Harusnya setelah kejadian kau langsung cari dia...!" ujar Ayah.


" Arvan juga maunya seperti itu Yah, tapi waktu itu Ayah menyuruh aku dan Hans segera pulang ke London..." ucap Arvan.


" Jadi kau menyalahkan Ayah...?!"


" Eh... tidak Yah, ini semua salah Arvan..."


Ibu terlihat lelah dan juga khawatir dengan keadaan Rissa sekarang. Pasti Rissa sangat terpuruk setelah bertemu lagi dengan Arvan.


" Ibu mau bertemu dengan Rissa sekarang..." ucap Ibu.


" Ibu sangat lelah, biar Arvan yang temani Rissa dan Raka di Apartement..." sahut Arvan.


" Memangnya Rissa mau memaafkan kamu...?"


" Belum, tapi Arvan akan terus membujuknya agar mau menikah. Arvan tidak mau Raka menderita karena orangtuanya hidup terpisah..."

__ADS_1


" Apa kau mencintai Rissa...?"


" Tentu saja, Bu... dia satu - satunya wanita yang bisa membuat Arvan jatuh cinta walaupun hanya sekali bertemu. Meskipun kini Rissa membenci Arvan, tapi cinta itu tidak akan pernah hilang. Arvan akan membuat Rissa dan Raka bahagia..."


" Berjanjilah untuk membahagiakan mereka, Nak... Ibu dan Ayah sangat menyayangi Rissa dan Raka. Ayah sebenarnya tidak mudah menerima orang baru di rumah, tapi saat Ibumu membawa Rissa... hati Ayah terasa tergerak untuk melindunginya. Mungkin itu semua karena di rahim Rissa ada cucu Ayah disana..." ujar Ayah serius menatap Arvan.


" Jadi... Ayah dan Ibu setuju jika Arvan menikahi Rissa...?" ucap Arvan berbinar.


" Tentu saja, ibu sangat senang jika Rissa menjadi istrimu..." tutur Ibu lembut.


" Tapi ingat, Raka akan terus bersamaku karena dia yang akan meneruskan bisnis Ayah..." ucap Ayah tegas.


" Tapi Yah, Raka itu masih kecil..."


" Tapi dia lebih genius daripada kamu..." cibir Ayah.


" Iya, kau kan bisa bikin lagi yang banyak, Van..." ledek Ibu.


Arvan hanya bisa menggerutu dalam hati karena ledekan dari kedua orangtuanya. Namun sebenarnya, Arvan sangat bahagia karena mereka juga mendukung Arvan untuk mengejar cinta Erina.


" Dikira anak kucing, banyak..." gerutu Arvan.


" Hahahaa... nggak usah malu, kalian kan udah pernah bikin juga..." ledek Ayah.


" Ish... Arvan kembali ke Apartement saja, disini cuma di bully terus..." sungut Arvan.


" Tapi ingat, Van... jangan bikin dulu sebelum nikah..." ucap ibu sambil terkekeh.


" Huft... apa bedanya? Belum nikah aja hasilnya juga bagus kok..." ucap Arvan kesal.


" Ish... kutembak kepalamu jika sampai kau menyentuh Rissa lagi sebelum menikah...!" ancam Ibu.


" Memangnya ibu bisa...?" tanya Ayah.


" Ayah mau coba...?" tantang ibu.


" Hehehee... nggak sayang, saya cuma bergurau..." ucap Ayah sedikit ngeri.


" Tembak aja Bu kalau Ayah nyebelin..." sahut Arvan sambil nyengir.


" Heh... anak kurang ajar! Awas kau ya... akan kubawa Rissa dan Raka pergi sekarang juga..." ucap Ayah kesal.


" Huft... ibu pusing lihat kelakuan kalian berdua. Ibu mau tidur...!" keluh Ibu.


" Ya udah, Arvan pamit mau ke Apartement takutnya Raka kelaparan karena ini hampir petang. See you next time my love, Ayah... Ibu..."


Arvan berlalu meninggalkan kedua orangtuanya sambil bernyanyi asal. Hatinya sedang berbunga - bunga saat ini karena sudah dapat restu dari kedua orangtuanya.


Arvan masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi karena tak sabar untuk bertemu dengan Raka dan Erina. Sebelum sampai di Apartement, Arvan mampir di sebuah Restoran untuk membeli makanan yang hanya berseberangan dengan Apartement'nya.


# # #


Arvan memasuki lift untuk naik ke Apartementnya yang ada di lantai 15. Kamar nomor 150 yang dituju, dimana anak dan calon istrinya berada di tempat itu. Setelah menekan password pintu kamarnya, Arvan langsung masuk dan mencari dua penghuni baru di kamarnya. Namun saat itu hanya ada Raka yang berada di ruang tamu sedang berkutat dengan laptopnya mungkin sedang bermain game, pikir Arvan. Tapi saat melihat sendiri layar laptop di hadapan anaknya itu, Arvan sungguh sangat terkejut.


" Raka, apa yang kau lakukan...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2