Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 24


__ADS_3

" Aku tahu kata sandinya..."


Erina dan Arvan menoleh ke arah sumber suara. Mereka kaget melihat sispa yang datang.


" Eh... kesayangan papa udah bangun..." ucap Arvan.


" Sayang, bantu mama buat lepas dari pelukan papa..." ucap Erina menghiba.


" Mama yakin mau menyebutkan kata itu...?" tanya Raka tersenyum.


" Kasih tahu Mama biar cepat papamu menjauh dari mama..."


" Sini Raka bisikin..."


Raka mendekat ke arah Erina lalu membisikkan sesuatu yang membuat Erina terkejut.


" Raka bohongin mama ya...? Mama nggak mau pokoknya...!" sungut Erina.


" Mama mau dipeluk terus sama papa sampai besok...?" celoteh Raka sambil mengutak - atik ponselnya.


" Kak Arvan pasti yang ngajarin Raka seperti itu kan...!"


" Hey... jangan menuduhku seperti itu sayang, kami ini punya ikatan batin yang kuat..." seringai Arvan.


" Huft... nyebelin...!"


" Ayo Ma, cepetan bilang. Papa ada urusan penting nih..."


" Ya udah papa pergi sana! Mama nggak akan mau bilang..."


" Bilang aja kalau mama pengen dipeluk terus sama papa..." celetuk Raka tanpa menoleh.


Arvan tertawa mendengar celoteh anak kesayangannya yang begitu menggemaskan.


" Anak papa memang genius, pasti turunan dari gen papa..." puji Arvan pada dirinya sendiri.


" Udah dong kak, pegel nih..." rengek Erina.


" Kata sandinya dulu..."


" Mmmm.... iya - iya...!"


" Ya udah, lakukan dengan lembut..." pinta Arvan dengan seringainya.


Erina menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum mengucapkan kata sandinya.


" PAPA ARVAN, I LOVE YOU..." ucap Erina dengan senyum terpaksa.


Arvan yang mendengarkan ucapan Erina terkejut. Bisa - bisanya Raka mengerjai mamanya seperti itu.


" I LOVE YOU TOO, HONEY..." balas Arvan tersenyum bahagia.


Arvan mencium sekilas kening Erina lalu melepaskan pelukannya. Ucapan Erina membuat hati Arvan seakan melayang diatas awan.


" Hihihiii... Mama percaya aja sama Raka..." ucap Raka tertawa geli.


" Apaa...? Kamu ngerjain Mama...!" pekik Erina.


" Udah, jangan marah - marah. Mungkin Raka cuma iseng saja..." ucap Arvan tak ingin Erina memarahi Raka.


" Ini semua gara - gara kamu..."


" Iya, aku yang salah sayang. Raka, kamu masuk kamar sana mainan di dalam. Jangan buat Mama marah - marah, papa ada urusan sebentar di luar..."


" Iya pa, hati - hati..."


" Iya sayang..."

__ADS_1


Raka kembali masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan sesuatu dalam ponsel pintarnya. Barusan ada anak buahnya yang mengirimkan sebuah kasus yang baru.


" Sayang, aku pergi sebentar. Nanti aku bawakan makanan saat makan malam..." ucap Arvan.


" Terserah!" jawab Erina dengan kesal.


" Ya udah, jangan pergi kemana - mana. Istirahatlah yang cukup..."


" Hmmm..."


# # #


Arvan sampai di tempat acara rersepsi pernikahan Ricko dan Sandra satu jam setelah Hans menelfonnya tadi.


" Ada apa ini ribut - ribut...?"


Arvan berjalan mendekati Selly yang langsung tersenyum melihat kedatangannya.


" Sayang, kau darimana saja...?" ucap Selly manja seraya bergelayut manja di lengannya.


" Lepaskan tangan kotormu itu! Cihh... dasar menjijikkan...!" geram Arvan.


Arvan menghempaskan begitu saja tubuh Selly hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


" Auwww... Arvan, apa yang kau lakukan...?" rintih Selly kesakitan.


" Tuan, bukankah dia ini calon istri Anda...?" tanya salah seorang tamu undangan.


" Dengarkan kalian semua...!"


Arvan menarik tangan Selly dengan kasar hingga berdiri bersejajar dengannya.


" Saya memang akan menikah_..." Arvan menjeda kalimatnya selama beberapa detik.


" Tapi bukan dengan wanita j*l*ng ini, saya akan menikahi seorang wanita baik - baik dan yang punya etika..." tegas Arvan di depan semua tamu undangan.


Arvan kembali mendorong tubuh Selly ke lantai dengan sangat kasar. Selly yang mendapat perlakuan kasar dari Arvan hanya bisa menangis dan malu karena lelaki yang dicintainya itu membuka aibnya di depan umum.


" Arvan, tega sekali kau bicara seperti itu tentang aku...!" teriak Selly marah.


" Apa ada yang salah dengan ucapanku...?" seringai Arvan.


" Aku pasti akan membalas semua perbuatanmu padaku...!" umpat Selly.


" Lakukan saja jika kau bisa, kupastikan hidupmu hancur setelah hari ini...!" ancam Arvan.


" Hans, seret wanita rendahan ini keluar dari sini...!" perintah Arvan.


Hans menarik paksa lengan Selly hingga wanita itu meringis kesakitan.


" Lepaskan! Awas kalian... aku pasti kembali lagi...!" teriak Selly.


" Diamlah! Kau berisik sekali...!" geram Hans.


Hans menyeret Selly hingga ke pinggir jalan dan menghempaskannya diatas aspal.


" Sebaiknya jangan ganggu Arvan lagi atau hidupmu akan segera berakhir...!" ancam Hans.


" Aku tidak takut dengan ancamanmu! Aku pasti bisa mendapatkan Arvan dengan cara apapun...!" teriak Selly.


" Huft... harusnya aku membunuhmu dari dulu...!" geram Hans.


Hans meninggalkan Selly begitu saja dengan para anak buah Hans yang masih berjaga disana. Dia kembali masuk ke tempat resepsi hingga bertemu dengan seorang gadis yang memanggilnya.


" Hans...!" teriak gadis itu.


Hans menoleh mencari arah sumber suara yang memanggil namanya. Saat sosok wanita cantik itu berjalan semakin mendekatinya, jantung Hans berdetak melebihi batas normal. Tubuhnya terasa beku dan sulit untuk digerakkan.

__ADS_1


" Hans...!" panggil gadis itu dengan suara lembutnya.


" Eh... ka...kamu kapan datang...?" tanya Hans terbata.


" Baru saja, aku langsung kesini untuk mengucapkan selamat pada kak Ricko dan istrinya..."


" Oh iya, ayo masuk..." ajak Hans.


" Baiklah, apa Arvan juga di dalam...?"


" Delia, kenapa kau menanyakan Arvan..." ucap Hans tak suka.


" Memangnya kenapa...? Apa aku harus menanyakan keberadaanmu...?" goda Delia, dokter cantik pujaan hati Hans.


" Terserah...!" sungut Hans.


" Ish... habis menyiksa seorang gadis jadi seperti ini raut wajahnya..." ledek Delia.


" Apaan sih, ayo masuk...!"


Hans menarik lengan Delia menuju tempat pelaminan dimana semua keluarga berkumpul disana.


" Kak Ricko... Selamat ya... Semoga cepet dapat momongan..." pekik Delia.


" Haish... kau ini berisik sekali..." cibir Arvan.


" Apa sih nyaut aja kayak angin..." saut Delia.


" Terimakasih ya Del, kenalin ini istriku Sandra..." ucap Ricko.


Sandra dan Delia saling berpelukan lalu sedikit mengobrol. Hans yang sedari tadi hanya diam malah duduk di pelaminan sambil memainkan ponselnya.


" Heh... udah nggak sabar nih kayaknya mau nyusulin kak Ricko...?" ledek Arvan.


" Huft... mengkhayal saja dulu, siapa tahu ada gadis cantik yang bersedia duduk disampingku saat ini..." timpal Hans.


" Sini ibu yang temani..." Bu Sarah langsung duduk seraya memeluk putra angkatnya itu.


" Aku tahu, hanya ibu yang ada di dalam hatiku..." senyum Hans merekah sempurna.


" Ya udah, berarti dokter cantik ini buat aku dong..."


Arvan langsung merangkul bahu Delia dengan senyuman mengejek pada Hans.


" Udah, sebaiknya kita pulang. Semua tamu sudah pergi..." ucap Tuan Sebastian.


" Tuan Besar, saya bahkan belum makan tapi sudah diusir..." keluh Delia.


" Kamu itu makan ataupun tidak tetap saja tubuhmu kecil. Harusnya dokter itu tahu makanan yang bergizi dan tidak..." ledek Arvan.


" Sudah, jangan bully Delia lagi..." tegur Ibu.


" Delia, kamu ikut pulang ke rumah ya...?"ajak Bu Sarah.


" Iya Bu, Delia ikut..."


" Eh... kok dari tadi ibu tidak melihat Rissa dan Raka...?"


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2