Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 119


__ADS_3

William memeriksa setiap detail data keuangan proyek yang dikirimkan oleh klien terkait. Untung saja klien itu adalah orang yang sudah lam menjadi partner bisnis Tuan Regan, jadi William bisa dengan mudah meminta data keuangan yang asli.


" Selisihnya banyak sekali, dasar tikus got tidak punya ot*k...!" umpat William.


" Benar - benar keterlaluan mereka...!" geram Erina.


" Van, kau retas rekening mereka. Kita harus tahu siapa saja yang sudah mengambil hasil kerja keras kita..." ujar William.


" Baik, kak. Itu soal gampang asal data diri mereka lengkap itu lebih mudah untuk meretasnya..." sahut Arvan.


" Adam akan memberikan semua datanya padamu, bekerjasamalah dengannya..."


" Apa tidak ada orang lain lagi yang bisa menjadi partner kerjaku...?"


" Tuan jangan meremehkan saya, nanti kalau mabuk perjalanan lagi tidak akan ada lagi yang membantu..." ledek Adam dengan tersenyum.


" Adam, jangan ganggu suamiku terus! Kalian ini senang sekali bertengkar..." seru Erina.


Erina menarik lengan suaminya agar tidak terpancing dengan ucapan Adam. Dua lelaki itu selalu saja ribut jika bertemu. Padahal selama mengenal Adam, Erina melihat pria itu kalem dan jarang sekali bicara jika tidak penting.


" Siap, Nona! Tidak akan saya ulangi lagi... jika tidak khilaf..." sahut Adam nyengir.


" Kalau kalian tidak bisa akur juga, nanti malam harus tidur dalam satu kamar...!" ancam Erina


" Sayang... aku tidak mau tidur sama dia..." rengek Arvan.


" Erin, aku juga tidak mau tidur dengan suami aroganmu itu..." timpal Adam.


" Jangan mulai lagi...! Fokus dengan pekerjaan...!" teriak Erina.


Semua terdiam dan kembali fokus dengan pekerjaannya masing - masing. Hingga sore hari, mereka baru selesai dan memutuskan untuk pulang.


# # #


" Sayang, kamu masak apa gitu? Papa laper nih...?" rengek Arvan saat mereka sudah bersiap akan tidur.


" Pa, ini udah malem. Tadi aja disuruh makan tidak mau..." gerutu Erina.


" Papa tidak selera makan jika bukan masakan mama atau bik Ina. Dulu waktu mama hamil Raka, bik Ina selalu mengirimkan makanan ke kantor. Sepertinya kehamilan mama yang kedua ini semakin parah ngidamnya..."


" Huft... ya udah, papa mau makan apa...?"


" Apa saja yang penting masakan hasil buatan mama..."


" Ya udah, papa tunggu aja disini..."


" Papa ikut aja ya...? Temenin mama di dapur..."


Arvan mengikuti langkah Erina ke dapur seperti anak kecil yang enggan berpisah dengan ibunya. Bahkan saat memasakpun, Arvan kadang memeluk istrinya dari belakang dengan manja.


" Oh Tuhan, kenapa suamiku manja sekali seperti bocah..." keluh Erina dalam hati.


" Kak, bisa tolong lepaskan pelukanmu sebentar? Aku nggak bisa gerak..." tutur Erina lembut.

__ADS_1


" Aku tidak mau jauh darimu, sayang. Kenapa sih hobby banget usir suami..." sungut Arvan.


Erina menghela nafas panjang menjaga agar emosinya tidak meledak. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi ngidamnya sang suami.


" Bukan ngusir, sayangku. Cuma nyuruh duduk aja disana, biar nanti tidak lelah. Masakannya sebentar lagi jadi kok..." bujuk Erina.


" Baiklah, tapi jangan lama - lama..." Arvan menciumi wajah istrinya berulang kali sebelum duduk di meja makan.


Sepuluh menit kemudian nasi goreng siap untuk di santap. Arvan tersenyum pada istrinya lalu menyuruhnya duduk di pangkuannya.


" Sayang, duduklah disini..." Arvan menepuk pahanya sendiri.


" Nanti kakak makannya kerepotan..." tolak Erina.


" Tidak apa - apa, kita sempatkan waktu berdua sesering mungkin. Aku tahu pekerjaan kita menuntut tanggung jawab yang besar. Kamu tahu kita akan jarang berduaan seperti ini..." ujar Arvan.


Erina langsung menuruti perintah suaminya duduk di pangkuannya dengan pelan. Dengan tersenyum manis, Erina mengecup bibir suaminya sekilas.


" Maaf ya, kak. Seharusnya Erina bisa mengikuti kemanapun kakak pergi. Sebagai istri, harusnya Erina tidak membiarkan kakak pergi sendirian..."


" Tidak, sayang. Kamu adalah istri yang sempurna bagiku, aku adalah pria paling beruntung di dunia ini karena memiliki istri yang cantik dan baik hati..."


" Ish... kakak membuatku malu..." ucap Erina seraya menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang sang suami.


" Ya udah, ayo makan. Kakak laper banget, sayang..."


Kali ini Arvan yang menyuapi Erina sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang yang tulus darinya.


# # #


" Sera, masuklah...!" perintah Erina lewat interkom.


Tak lama, Sera masuk dengan tersenyum seperti biasanya. Dia berusaha untuk tenang dan bersikap seolah - olah tak terjadi apa - apa.


" Erin, apa ada yang kau perlukan...?" tanya Sera.


" Begini, aku butuh berkas proyek pembangunan Mall itu hari ini juga. Besok klien mengajak meeting secara mendadak karena lusa harus keluar negeri..." ujar Erina.


" Oh iya, sebentar. Berkasnya ada di mejaku, sebentar aku ambilkan..."


Sera keluar dari ruangan Erina untuk mengambil berkas yang diminta bossnya itu.


" Untung saja kemarin sudah aku ambil dari ruangan di lantai bawah..." batin Sera.


Sera dengan tersenyum menyerahkan map berisi berkas yang sangat penting itu kepada Erina. Erina membalas senyumannya dan mengucapkan terima kasih.


" Ser, lain kali hati - hati saat menaruh berkas penting seperti ini. Kau tahu akibatnya jika berkas ini sampai jatuh ke tangan saingan bisnis kita, perusahaan bisa rugi besar. Aku tidak mau mempertaruhkan hidup para karyawan yang sudah setia bekerja disini..." ujar Erina dengan senyuman yang sulit diartikan.


" Iya, lain kali tidak akan terjadi lagi hal seperti ini. Aku minta maaf..." ucap Sera.


" Kembalilah bekerja, tidak apa - apa..." sahut Erina.


Erina memeriksa berkas itu dan masih tidak habis fikir dengan sikap Sera yang terlihat aneh. Tak lama Adam juga masuk setelah Erina memanggilnya.

__ADS_1


" Ada apa, Boss...?" tanya Adam.


" Apa revisi yang dikerjakan kak Willy sudah selesai...? Klien mengajak meeting besok..."


" Benarkah? Mengapa mendadak sekali..."


" Aku juga tidak tahu, yang pasti kita harus menang dalam proyek kali ini..."


" Tenang saja, Boss. Kita pasti menang, dan tolong ajak Sera. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat berkumpul dengan saingan bisnis disana..."


" Hmmm... atur saja, aku mau mengerjakan yang lain..."


Adam tersenyum lalu menghampiri Erina yang masih serius dengan laptopnya.


" Istirahat dulu, lima menit lagi sudah waktunya untuk keponakanku makan..." titah Adam.


" Ok, Uncle. Kita makan sekarang..." sahut Erina.


" Anak pintar..." Adam menepuk pelan perut Erina.


" Adaamm! Jangan ditepuk anakku...!" sungut Erina.


" Ish... keponakanku itu pasti kuat tidak seperti bapaknya..." ledek Adam.


Erina menatap tajam pada Adam yang masih tersenyum sambil mengelus perut Erina.


" Kalian kenapa sih bertengkar terus saat bertemu...?"


" Tidak tahu mengapa, sejak mengenal suamimu sepertinya hidupku berubah. Sikap posesifnya itu yang membuat aku senang menggodanya. Kau tahu, dia selalu cemburu jika kau dekat denganku..."


Erina hanya tersenyum kecil. Dia juga menyadari bahwa Arvan tidak suka jika Adam dekat dengannya. Tapi di saat Erina sedang terpuruk, Arvan hanya bisa mengandalkan Adam untuk menghibur Erina.


" Ayo pergi sekarang..." ajak Erina.


" Sebentar, kita tunggu Sera dulu. Biasanya dia selalu ikut makan dengan kita. Coba kita lihat apa yang akan dia lakukan sekarang..." sahut Adam.


" Bagaimana hasil pengintaian kemarin...?"


" Mmm... kita bicarakan saja nanti, Rin..."


" Memangnya apa bedanya nanti dan sekarang...?"


" Aku tidak mau dia mendengarkan pembicaraan kita..."


" Jangan berlagak b*d*h! Ruanganku ini kedap suara..."


" Mmm... baiklah, sebenarnya kemarin itu_..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2