
Semua sudah berkumpul di area pemakaman. Banyak karyawan di kantor yang datang untuk menyaksikan proses pemakaman Sera yang merupakan sekretaris pribadi CEO.
Para rekan bisnis yang mengenal Sera juga banyak yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa.
Erina berada di depan pusara saat jasad Sera diturunkan ke liang lahat. Adam dan Arvan juga tak pernah melepaskan genggaman tangan mereka dari Erina yang mulai meneteskan airmatanya lagi. Adam yang mencoba untuk tegar menggenggam erat tangan Erina agar bisa tabah menghadapi semua ini.
Adam menatap jasad Sera yang mulai menyentuh ke tanah. Dia berusaha untuk ikhlas melepas sahabatnya yang tak mungkin akan kembali lagi.
Nyonya Sarah yang sedari tadi di samping Tuan Regan ikut menitikkan airmata melihat kesedihan Erina. Sera memang sering berkunjung ke rumah jika sedang libur bekerja sekedar mengajak Raka main.
Jasad Sera mulai ditimbun dengan tanah hingga tak terlihat lagi. Adam sendiri ikut turun tangan untuk menguruk jasad sahabat terbaiknya itu. Mungkin ini adalah perhatian terakhir yang bisa ia persembahkan untuk Sera.
Setelah selesai pengurukan tanah, Arvan memasang papan nama sedangkan Erina menaburkan bunga diatasnya. Semua yang hadir ikut larut dalam kesedihan dan melantunkan do'a terbaik untuk Sera.
Setelah proses pemakaman selesai, semua pelayat pulang ke rumah masing - masing. Kini hanya ada Erina, Adam, Arvan dan William disana. Tuan dan Nyonya Sebastian sudah pulah terlebih dahulu dengan sopir yang dikawal oleh beberapa bodyguard.
" Sayang, semua ini sudah takdir. Aku berharap kamu bisa ikhlas melepas kepergian Sera. Kita akan mencari keadilan untuknya, jadi kamu harus tegar..." ujar Arvan.
" Iya, kak. Kita harus secepatnya bisa menangkap pembunuh itu agar Sera bisa tenang disana..." Erina mengusap airmatanya dengan kasar.
Adam masih terdiam dan duduk di samping makam Sera. Tak ada lagi airmata, namun tubuhnya bergetar seperti menahan amarah. William yang melihatnya tahu apa yang dipikirkan Adam. Pasti Adam sudah punya target yang dicurigainya.
" Tahan emosimu, kita harus memakai otak untuk menangkap pelakunya bukan dengan nafsu..." ujar William.
" Saya yakin dia pelakunya, Tuan..." ucap Adam.
" Jangan gegabah, kita belum punya bukti untuk menangkapnya. Sebaiknya kita mulai penyelidikan besok, sekarang kau butuh istirahat yang cukup..."
" Baik, Tuan..."
Setelah hari semakin senja, Arvan mengajak semuanya untuk pulang sebelum malam tiba. Erina meminta pada Arvan agar diperbolehkan pulang bersama Adam berdua saja karena ada tempat yang ingin dia kunjungi. Dengan berat hati Arvan mengijinkan asalkan Adam berjanji akan membawa pulang Erina dengan selamat.
" Sera, kami pulang dulu. Lain kali pasti akan datang lagi kesini. Kami semua menyayangimu..." ujar Erina dengan tersenyum.
Mereka segera meninggalkan area pemakaman karena langit yang mulai gelap. Adam yang sedang menyetir tak tahu kemana Erina akan mengajaknya pergi.
" Erin, kita mau kemana...?" tanya Adam.
" Ke Danau sebentar, aku ingin menenangkan diri disana..."
" Baiklah, tapi janji hanya sebentar saja. Aku tidak mau suamimu cemas di rumah..."
" Iya, cuma sebentar..."
__ADS_1
Adam melajukan mobilnya menuju danau tempat favorit mereka bertiga melepas lelah dan bertukar cerita tentang kehidupan masing - masing.
Lima belas menit kemudian, Adam menepikan mobilnya di bawah pohon besar. Mereka berdua sejenak terdiam menatap danau yang sepi karena hanya ada mereka berdua disana.
" Mau turun atau disini saja...?" tanya Adam.
" Turun, aku ingin duduk disana..." jawab Erina menunjuk ke arah kursi panjang.
Adam melepas jas yang dipakainya dan dipakaikan ke tubuh Erina. Dia tidak mau wanita hamil di sampingnya kedinginan.
" Terimakasih, kau sangat perhatian padaku..." ucap Erina dengan senyum kecilnya.
" Tentu saja, di negara besar ini hanya kau yang kumiliki sekarang..."
Adam mengajak Erina untuk turun dari mobil lalu mereka bergandengan tangan dan berjalan menuju tempat duduk favorit mereka bertiga.
Kali ini Adam merasakan sesuatu yang berbeda karena biasanya kedua tangannya akan di genggam erat oleh dua wanita cantik di sisi kanan dan kirinya. Saat ini tangan kirinya menggantung bebas tanpa kehangatan.
Dulu orang banyak yang mengira jika Adam adalah pria beristri dua yang setiap bepergian akan selalu ada dua bidadari cantik yang mendampinginya. Padahal semua itu dilakukan agar dia tidak di kejar - kejar wanita yang berkelakuan aneh yang menyodorkan tubuh mereka secara percuma.
Keduanya kini duduk berdampingan di kursi panjang dengan hembusan angin malam yang masuk sampai ke tulang.
" Erin, sekarang kita hanya berdua. Walaupun kita menangis setiap hari, Sera tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. Apa kamu bisa mengikhlaskan kepergiannya...?"
" Kita hanyalah manusia yang tidak bisa melawan takdir, mungkin ini jalan yang terbaik untuk mereka. Dengan keikhlasan kita, aku yakin mereka akan bahagia di alam yang abadi..."
" Kau memang selalu bijak dalam bertutur kata, membuatku merasa sangat nyaman..." ucap Erina yang merebahkan kepalanya di bahu Adam.
" Aku juga heran, bertahun - tahun kita sedekat ini tapi aku tidak memiliki rasa suka padamu layaknya seorang pasangan..." gurau Adam.
Erina langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Adam dengan tajam. Erina bahkan menyentuh rahang Adam dan menekannya berkali - kali.
" Huft... kau benar, aku juga tidak memiliki rasa seperti itu padamu. Apa benar yang di katakan kak Arvan jika kau_..."
Plaakkk!
Adam menepuk kepala Erina dengan wajah yang berubah menjadi garang.
" Lama - lama pikiranmu di cuci sama suami arogan itu...!"
" Ish... dia bukan arogan, kamu aja yang sensi..."
Adam langsung memeluk Erina dengan erat dan lalu mengacak - acak rambut wanita hamil itu membuat Erina menjadi tertawa.
__ADS_1
" Tetaplah tertawa seperti ini, hidup terus berjalan dan kita tidak boleh berhenti pada titik ini..." bisik Adam.
" Iya, Dam. Aku akan terus berusaha untuk ikhlas menerima semua ini. Jangan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi..."
" Anak pintar..."
Mereka mengurai pelukan lalu saling tersenyum. Erina kembali memeluk Adam, namun tangannya yang mulai jahil menggelitik pinggang Adam.
" Woiii...! Lepas...! Erin...!" teriak Adam.
Adam berusaha mengurai pelukan Erina tapi tidak bisa. Erina semakin mengeratkan pelukannya sambil tertawa.
" Erin sayang, udah ya...? Takut refleks kena perut kamu..." pinta Adam memohon.
Erina mengerucutkan bibirnya lalu melepas pelukannya, bahkan duduknya pun ikut menjauh dari Adam.
" Aku mau bicara serius..." ucap Erina datar.
" Kamu pikir dari tadi kita bercanda...?" sahut Adam dengan tersenyum.
" Adaammm...!" teriak Erina.
" Iya - iya... mau ngomongin apa...?"
" Kamu tahu siapa pembunuh Sera, kan...?"
" Erin, aku kan sudah bilang padamu untuk tidak terlibat dengan masalah ini. Jika kamu sudah siap untuk beraktifitas, kamu urus perusahaan dengan Tuan Regan sementara sampai kasus Sera terungkap kebenarannya..."
" Aku hanya ingin kau menyebutkan namanya...?"
" Erin, aku belum bisa memberitahu kamu sekarang. Ini baru dugaanku saja dan aku tidak mau salah sasaran..."
" Aku mohon, katakan siapa dia...?"
" Baiklah, tapi ini baru dugaanku saja. Dia_..."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.