
Arvan sedang berada di ruang tunggu Bandara menunggu kedatangan anak dan orangtuanya. Sambil menunggu, Arvan memeriksa email yang masuk lewat ponselnya. Ada beberapa berkas yang harus dia kerjakan dan akan dikirimkan kepada Hans.
" Papaa...!" teriak Raka yang sudah berada dihadapan Arvan.
" Hey... Anak papa sudah sampai, gimana kabar kamu...?"
" Baik, pa. Mama mana...?"
" Mama ada pekerjaan di kantor, sayang..."
Arvan memeluk ayah dan ibunya secara bergantian lalu menggendong Raka sampai ke mobil yang berada di tempat parkir.
" Ayah dan ibu mau langsung pulang atau makan dulu...?" tanya Arvan.
" Langsung pulang aja, Van. Ibu sangat lelah pengen istirahat..." jawab ibu.
" Ya sudah kita pulang, Bu..."
" Bagaimana kerjaan kamu, Van...?" tanya Ayah.
" Baik, Yah. Semuanya lancar, Kak Ricko dan Hans bekerja sangat baik..."
" Kapan kau akan mengurus perusahaan Ayah...?"
" Iya, Van. Lebih baik jika kamu menetap disini bersama anak istrimu. Sampai kapan kalian akan hidup terpisah seperti itu..." sahut Ibu.
" Iya, Bu. Arvan sedang mempersiapkan semuanya biar bisa menetap disini bersama ayah dan ibu..."
" Jangan terlalu lama, ibu sudah tidak sabar pengen punya cucu lagi..."
" Ish... memangnya ibu mau merawatnya? Sepertinya ibu lebih sayang sama bunga - bunga itu daripada ayah..." cibir Tuan Regan.
" Hahahaa... Ayah benar, ibu tiap hari hanya bunga saja yang dipikirkan..." timpal Arvan.
" Hhh... memangnya kalian tidak. Setiap hari kerjaannya mencampuri urusan orang lain..." cibir ibu.
" Maksud ibu apa...?" tanya Arvan tidak paham.
" Kalian lebih suka menghabiskan waktu dengan laptop daripada ibu..."
" Kasihan nenek..." celoteh Raka.
" Haish... kamu itu sama saja, Raka. Anak kecil itu harusnya bermain dengan teman sebayanya di sekolah bukannya mencari penjahat..."
" Nenek, Raka tidak suka sama anak - anak yang cengeng. Sedikit - sedikit menangis hanya karena rebutan mainan..."
" Memang kodratnya anak kecil seperti itu, Raka. Pokoknya tahun depan kamu harus masuk sekolah..."
" Kenapa tidak home schoolling saja sih...? Males bertemu anak - anak kecil yang berisik itu..."
" Darimana kamu tahu kalau anak - anak itu berisik? Memangnya kamu pernah masuk ke sekolah...?" tanya Arvan.
" Waktu di Indonesia, Raka pernah melihatnya. Mereka ada yang berisik, menangis bahkan tidak mau ditinggal orangtuanya..." celoteh Raka.
" Hal seperti itu wajar, sayang. Mereka itu belajar berinteraksi sosial dengan lingkungan yang baru. Belajar menghormati yang lebih tua, menyayangi teman, membantu orang yang sedang kesusahan. Yang pasti kita itu harus berbuat baik pada orang lain..." tutur Arvan menjelaskan.
" Papa dulu juga sekolah seperti itu...?"
" Tentu saja, dengan berbaur bersama banyak orang kita bisa membedakan orang yang baik dan juga orang yang jahat pada kita. Makanya kita itu harus punya insting yang tajam. Kau harus banyak belajar lagi dari alam sekitar dan masyarakat..." ujar Arvan.
Tak lama mereka sampai di rumah. Ayah dan ibu langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Arvan dan Raka juga masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
" Pa, Raka harus pergi ke Markas sekarang. Ada pekerjaan yang belum selesai kemarin..." ucap Raka.
" Nanti saja sekalian jemput mama di kantor..." sahut Arvan.
" Tapi ini penting, pa. Sebentar sajan setelah itu kita jemput mama..."
" Huft... baiklah, hari ini papa akan jadi pelayan setia untuk Raka dan mama..."
Arvan dan Raka bergegas menuju markas karena Raka belum sempat menyelesaikan program aplikasi terbarunya.
Sampai di markas, William segera mengajak Arvan ke ruang kerjanya sedangkan Raka langsung ke ruangannya sendiri.
" Van, gimana perkembangan kasusmu disana...?"
" Belum ada titik terang, kak. Sepertinya wanita itu memang tidak pernah keluar dari persembunyiannya. Ada orang lain yang membantunya. Arvan takut penyerangan Erina ini berhubungan dengan wanita itu..."
" Saya menangkap beberapa penjahat yang kemarin menyerang Erina tapi mereka tidak mau mengakui siapa bossnya..." ujar William.
" Saya akan menemui mereka, kak..."
" Silahkan, mereka ada di ruang bawah tanah..."
" Iya, tolong awasi Raka dulu. Jangan sampai dia melihat kekerasan di usia balitanya..."
" Tenang saja, Raka selalu aman bersama saya..."
" Ada kasus baru lagi, kak...?"
" Pembunuhan seorang wanita paruh baya yang kaya raya. Dia memiliki tiga orang anak yang selalu berselisih tentang pembagian warisan. Saya berpikir salah satu dari anaknya itu adalah pelakunya..."
" Belum tentu juga, kak. Mungkin ada orang terdekat mereka yang sengaja ingin mengadu domba..."
" Mungkin saja, Van. Ini berkas hasil penyelidikanku selama tiga hari ini..."
" Putra ketiga dari korban. Menurut warga sekitar, putra ketiganya itu memang paling dekat dengan ibunya..."
" Besok kita ke TKP, saya akan ikut turun tangan langsung. Sudah lama tidak menangani kasus seperti ini rasanya kangen juga..."
Arvan membaca semua berkas hasil penelitian William dan anak buahnya. Arvan merasa ada yang janggal dari keterangan anak - anak dari korban dan juga para pelayan.
" Sepertinya ada yang tidak beres dengan pernyataan mereka..." batin Arvan.
Arvan sedang memikirkan langkah yang tepat untuk memulai penyelidikan saat sang anak tiba - tiba masuk menghampirinya.
" Papa... pulang yuk, jemput mama..."
" Sebentar lagi, sayang. Kamu main saja dulu..."
" Mana ponsel papa...?"
" Buat apa...?"
" Sebentar saja, pa. Raka mau coba aplikasi terbaru..."
" Hmmm... ponsel papa mau jadi alat percobaan...?"
" Hehehee... tidak, pa..."
Raka mengunduh aplikasi terbarunya ke ponsel Arvan dan menjelaskan detail kegunaannya.
" Jadi gunanya untuk apa, sayang...?"
__ADS_1
" Papa tinggal memasukkan kode keamanan perusahaan papa disini. Jadi setiap ada perubahan data dalam perusahaan papa, sudah ada notifikasinya. Jika ada hacker yang ingin meretas data milik papa, alarm di ponsel papa pasti menyala..."
" Wow... kau sangat hebat sayang..."
" Tapi papa harus janji kalau aplikasi ini tidak boleh diketahui orang lain termasuk orang - orang terdekat kita. Aplikasi ini dapat melindungi perusahaan papa dari orang jahat yang ingin membobol perusahaan..."
" Apa kita bisa mencegah pencurian data itu...?"
" Tentu saja, nanti Raka akan memperkuat sistem penguncian data agar tidak bisa diretas orang. Jika ada yang berhasil meretasnya, Raka bisa menariknya balik dan mengganti dengan data lain..."
" Astaga, papa tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini..."
" Raka sengaja membuat ini karena dulu perusahaan mama juga pernah di bobol orang dalam dan data - data penting dijual ke perusahaan lain..."
Arvan mendesah pelan, anaknya yang belum genap lima tahun itu bisa menciptakan aplikasi canggih yang sangat berguna bagi perusahaannya. Anak genius yang tak pernah ia duga ternyata sangat hebat. Bahkan Arvan sendiri mengakui sang anak lebih hebat darinya.
" Bagaimana dengan perusahaan mama sekarang...?" tanya Arvan.
" Nanti Raka akan memperbarui sistem di perusahaan mama. Papa ikut ya, supaya para pegawai tahunya papa yang melakukan perubahan sistem keamanan perusahaan. Nanti papa juga bisa melakukannya sendiri di perusahaan papa..."
" Baiklah, nanti akan papa coba..."
Ayah dan anak itu masih serius membahas aplikasi terbaru milik Raka hingga datanglah William yang ikut duduk di hadapan mereka.
" Hei... bocah, apa sudah selesai pekerjaanmu...?" tanya William.
" Sudah, Uncle. Kenapa...?" sahut Raka.
" Saatnya latihan lagi, ayo ganti pakaianmu..." perintah William.
" Mau latihan apa, kak...?" tanya Arvan heran.
" Sedikit memperkuat fisik untuk menjaga kesehatan..." jawab William singkat.
Raka kembali masuk ke ruangannya sendiri untuk mengambil baju latihannya. Setelah siap, Raka menyusul Arvan dan William ke ruang pelatihan.
" What? Kak, kau bercanda kan...? Kenapa kau mengajarkan senjata tajam kepada Raka...?" Arvan tidak percaya Raka melakukan semua itu.
William menyuruh Raka melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi ruangan itu sebanyak lima kali kemudian push up dan sit up. Arvan sampai bengong melihat kelincahan sang anak yang begitu gesit saat melakukan gerakan pemanasan.
" Kak, sejak kapan Raka melakukan latihan fisik...?"
" Sejak setahun yang lalu sepertinya. Dia bertekad untuk menjaga mamanya karena dia menyadari kau yang sudah dia anggap papa kandungnya sejak kecil tak pernah berada di sisi mereka..."
" Padahal selama lima tahun aku juga sering berkunjung ke rumah ibu, tapi tidak sekalipun bertemu dengan Erina. Takdirku memang sangat rumit, kak..."
" Kau mau melihat aksi Raka yang lain...?" tanya William seraya tersenyum.
" Aksi apalagi, kak...?" sahut Arvan.
" Raka, ambil senjatamu...!" perintah William.
William mengambil buah jeruk diatas meja lalu meletakkannya diatas kepala Arvan. Sementara Raka, anak itu sudah siap dengan panah di tangannya.
" Hei... kalian sudah gila...!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.