Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 78


__ADS_3

" Kak, apa yang kau lakukan...?" pekik Erina.


" Aku merindukanmu, sayang..." bisik Arvan.


Arvan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Aroma mawar yang menyeruak dari tubuh istrinya membuat Arvan tak bisa menahan diri.


" Kak, aku harus pergi meeting sekarang...!"


" Kita main sebentar yuk? Janji cuma sekali..." rengek Arvan.


" Bukannya semalam sudah...!" sahut Erina kesal.


" Ayolah, sayang. Janji cuma sebentar..."


" Kak, diluar ada kak William dan Adam..."


" Tidak apa - apa, sayang. Mereka juga tidak akan melihat apa yang kita lakukan..."


" Tapi Sera sudah nungguin untuk berangkat meeting,kak..."


" Kau tega membuatku tersiksa seperti ini, sayang...?"


Erina berusaha untuk menolak namun Arvan tak mau melepaskannya. Dengan perlahan Arvan mendorong tubuh Erina hingga jatuh ke atas tempat tidur.


" Kak, kita bisa melakukannya di rumahkan...?" bujuk Erina.


" Hahahaa... baiklah, aku sudah tidak sabar menunggu malam tiba..." Arvan mencium kening sang istri lalu keluar dari kamar dengan tersenyum.


" Huft... dasar menyebalkan...!" gerutu Erina.


Erina melangkah keluar dari kamar dengan wajah yang ditekuk. Setelah mengambil berkas dari mejanya, dia langsung pergi tanpa pamit.


" Rissa kenapa...?" tanya William.


" Biasa, jatahnya kurang..." jawab Arvan asal.


" Dasar kau ini...!"


" Tuan, saya akan menemani boss meeting diluar..." ucap Adam pelan.


" Apa dia mengajakmu? Erina pergi dengan Sera...!" sahut Arvan datar.


" Tapi, Tuan... biasanya saya yang antar sekalian pengawalan..."


" Kerjakan saja tugas kamu yang lain..." perintah Arvan.


" Baik, Tuan. Saya permisi dulu..."


Adam keluar dari ruangan bossnya dengan jantung yang berdetak cepat. Sesegera mungkin dia kembali ke ruangannya sendiri.


" Huft... akhirnya terbebas juga dari Tuan boss..." gumam Adam lega.


Adam kembali bekerja dengan serius untuk memeriksa beberapa file yang masuk ke emailnya. Jika sudah seperti ini, Adam bisa lupa waktu walaupun hanya sekedar untuk makan.


Saat hendak menaruh berkas yang sudah selesai dikerjakan di ruangan bossnya, tiba - tiba ponselnya berdering.


" Siapa lagi yang segini telfon..." gumam Adam kesal.


Adam segera meraih ponsel yang ada diatas meja dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


" Hallo...!"


[ " Uncle, bisakah ke Markas sekarang...?" ] pinta Raka.


" Apa ada masalah...?"

__ADS_1


[ " Raka tidak ada teman disinin Uncle..." ]


" Papa kamu sama Uncle Willy kemana...?"


[ " Tidak tahu, dari pagi belum kembali juga..." ]


" Ya sudah, Uncle kesana sekarang..."


[ " Terimakasih, Uncle..." ]


# # #


Adam dalam perjalanan menuju Markas setelah mengirim pesan pada Erina. Sebelum sampai di Markas, Adam membeli makanan untuk boss kecilnya.


" Raka...!" teriak Adam begitu sampai di depan ruangan Raka.


" Uncle, kau sudah datang...?" sahut Raka.


" Iya, ini makan dulu mumpung masih hangat..."


Adam dan Raka makan dengan lahap setelah mengerjakan semua tugasnya masing - masing. Selesai makan, seperti biasa Raka selalu duduk bersantai di belakang Markas ditemani Adam kali ini.


" Raka..." panggil Adam.


" Iya, Uncle...?" sahut Raka seraya menatap halaman luas di depannya.


" Bisakah kau menciptakan suatu alat atau aplikasi yang bisa berguna untukku...?"


" Maksudnya berguna untuk apa, Uncle...?"


" Misalnya bisa cepat dapat jodoh atau cepat kaya, gitu..."


" Aplikasi biro jodoh banyak, Uncle..."


" Bukan yang seperti itu, misalkan kamu punya alat yang bisa dipakai untuk merubah wanita yang kita sukai itu juga menyukai kita..."


" Ish... kenapa harus ke dukun, sekarang sudah era digital..." sahut Adam.


" Kata masyarakat jaman dulu, kalau ingin cepet dapet jodoh atau cepet kaya itu harus bertapa di hutan..."


" Belajar sejarah dimana kau...?"


" Raka baca cerita rakyat di suatu negara tertentu..."


" Apa mama kamu yang belikan buku - buku dongeng seperti itu...?"


" Bukan, Raka baca di internet..."


" Uncle ingin mencari yang instan biar cepat tercapai..."


" Gampang, rampok aja Bank pasti uangnya banyak..."


" Bisa juga sih..." ucap Adam tersenyum.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada dua orang dibelakang mereka sedang menyimak obrolan tidak penting itu.


" Perlu bantuan untuk merampok...?"


Arvan menatap tajam pada Adam yang sudah berbicara hal - hal buruk pada anaknya.


" Eh... Tuan. Kok bisa ada disini...?" Adam tak bisa berkutik lagi.


" Ya Tuhan, jangan ambil nyawaku dengan cara yang mengenaskan seperti ini..." do'a Adam dalam hati.


" Kak Willy, bawa dia ke ruang khusus...!" perintah Arvan.

__ADS_1


" Jangan Tuan, saya lebih suka duduk disini saja..." ucap Adam cepat.


" Sudah, pa. Raka yang suruh Uncle Adam datang kesini..." sahut Raka.


" Kebetulan kau disini, kau periksa semua berkas ini..." Arvan menyerahkan beberapa berkas kepada Adam.


" Baik, Tuan..."


Sembari jalan, Adam mengumpat dalam hati. Sudah berapa kali makian terlontar dari pikirannya untuk tuannya itu. Adam hanya bisa berdo'a semoga Tuannya itu segera kembali ke asalnya.


# # #


" Sera, bisa kau antar aku pulang. Sudah waktunya pulang tapi tidak ada yang menjemputku..." pinta Erina.


" Siap, Boss...!" sahut Sera.


" Tapi, Rin... Aku mau belanja dulu ke Mall, mau beli baju. Kau mau ikut denganku atau aku langsung antar kamu pulang dulu...?"


" Ikut ajalah, sudah lama nggak shopping..."


" Kalau Tuan nyariin gimana...?" tanya Sera.


" Biarkan saja, mereka bisa melacak ponselku..." jawab Erina.


Erina dan Sera segera meninggalkan kantor menuju Mall terbesar di kota itu. Setengah jam perjalanan, mereka sampai di Mall dan langsung mencari barang - barang yang mereka inginkan.


Erina dan Sera mencoba beberapa baju yang sekiranya cocok untuk mereka.


" Rissa, apakah ini cocok untukku...?" tanya Sera dengan memperlihatkan dress pendek warna hitam.


" Itu sangat cocok untukmu, kau terlihat sangat cantik, Sera..." jawab Erina.


" Kau coba yang ini, pasti juga cocok untukmu..." seru Sera.


"Ah tidak mau, aku tidak suka pakaian warna merah menyala seperti ini..."


" Kau suka yang warna apa...?"


" Aku lebih suka yang warna putih atau biru muda..."


" Ya sudah, kita cari untukmu yang cocok..."


Erina sudah memilih beberapa pakaian untuk dicoba di ruang ganti. Suasana hatinya menjadi sedikit membaik sekarang setelah jalan dengan sahabatnya yang satu itu. Tadinya Erina merasa kesal karena Arvan tak juga datang menjemputnya padahal sudah jam pulang kantor.


Setelah mencoba gaun warna putih polos dengan panjang diatas lutut, Erina segera keluar untuk memperlihatkannya pada Sera.


" Sera, apakah ini cocok_..."


Erina terpaku saat butik itu terlihat kosong tak ada satu orangpun disana termasuk para pegawai yang tadi ada bersamanya.


" Kenapa tempat ini jadi kosong...?" gumam Erina.


Erina menjadi waspada dengan sekitar, takut akan terjadi serangan mendadak terhadapnya. Dengan langkah pelan, Erina berjalan hendak keluar dari butik itu namun dia masih memakai pakaian yang belum ia bayar. Jika sampai ia melewati pintu keluar, sudah pasti alarm akan berbunyi dan dia dituduh sebagai pencuri.


" Ish... sepertinya aku harus mengganti baju ini terlebih dahulu. Tapi dimana Sera? Bagaimana kalau dia ditangkap penjahat...?" pikir Erina.


Saat Erina hendak berbalik menuju ruang ganti, tiba - tiba dia menabrak seseorang hingga tubuhnya hampir jatuh karena kaget.


" Kau_...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2