Detektif Tampan

Detektif Tampan
Part 128


__ADS_3

" Bukti apa, Raka...?" tanya Adam dengan cepat.


" Biasanya tante Sera menulis sesuatu di buku kecil mungkin buku harian pribadinya. Seseorang yang tidak bisa mengungkapkan masalah dengan orang lain mungkin akan diungkapkan lewat tulisan..." jawab Raka.


" Benar juga, tapi dimana dia menyimpan buku itu...?" tanya Adam.


" Kita geledah sekali lagi Apartemennya..." ujar William.


Di saat bersamaan, anak buah William mengabarkan tentang rumah pribadi Robert. Robert tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah mewah. Tempatnya tidak jauh dari kantor tempat mereka berada sekarang.


" Van, kita antar Erina dan Raka pulang terus geledah rumah Robert..." ujar William.


" Baik, kak. Aku akan mengantarkan mereka pulang..." sahut Arvan.


" Kak, aku mau ikut..." rengek Erina.


" Sayang, kita tidak tahu keadaan disana seperti apa... Kamu di rumah saja sama Raka ya...?" bujuk Arvan.


" Tapi Erin mau ikut, kak...!" sungut Erina.


" Mama seperti anak kecil saja, kemana - mana ikut..." cibir Raka.


" Diam bisa nggak sih...!" Erina menatap tajam Raka.


Adam jengah melihat perdebatan keluarga aneh itu lalu mengajak William segera pergi.


" Tuan, sebaiknya kita pergi sekarang. Biarkan mereka ribut sampai pagi..." ajak Adam.


" Hmm... baiklah." sahut William.


" Van, kau tidak usah ikut. Kau pikir kita mau demo ajak satu keluarga..." ujar William.


" Iya, kak. Saya pulang saja..." sahut Arvan yang langsung mendapat tatapan tajam Erina.


" Kak Willy, Adam... ikut ya...?" rengek Erina.


Adam dan Willy tahu betul seperti apa sifat Erina. Dia sangat keras kepala dan semua keinginannya harus dituruti. Adam sebenarnya tidak tega melihat Erina yang memohon, namun dia takut tak bisa menjaganya disana nanti.


" Eriinnn...! Tidak bisakah kau mengerti keadaan ini. Kami pergi bukan untuk main - main. Kau tahu disana itu sangat berbahaya...!" hardik Adam.


Amarah Adam tiba - tiba meledak membuat Erina terdiam lalu menangis. Walaupun dalam pekerjaan posisi Adam adalah bawahan Erina, namun diluar pekerjaan dia adalah seorang kakak yang wajib menjaga adiknya.


" Beraninya kau membentak istriku...!" teriak Arvan.


" Saya tidak peduli, Tuan...!" kata Adam lalu keluar dari ruangan Erina.


" Adam... tunggu! Jangan pergi...!" teriak Erina.


Erina mengejar Adam dengan menangis. Dia tak menghiraukan ucapan suaminya yang mencegahnya pergi.


" Biarkan saja, Van. Mereka berdua memang seperti itu, sebentar lagi juga baikan..." kata William.


" Tapi, kak. Bagaimana jika Adam luluh dengan rengekan Erina...?"


" Istrimu sangat keras kepala, hanya Adam yang bisa mengatasinya. Dulu hampir saja aku menyuruh mereka menikah, tapi Erina menolak karena tidak ingin anaknya memiliki bapak tiri..."

__ADS_1


" Untung saja dia menolak, hampir enam tahun aku mencarinya..." ucap Arvan.


" Coba saja dulu kau meminta bantuanku, Van. Pasti aku bisa menemukannya hanya dalam satu hari..." goda William.


" Hehehee... benar juga, aku juga tidak pernah kasih tahu foto Erina pada kak Ricko. Padahal kak Ricko sering bertemu Erina disini..."


" Ini urusan istrimu bagaimana? Apa harus diajak ke rumah Robert...?"


" Aku takut membahayakan keselamatan mereka, kak..."


" Tapi di rumah itu tidak ada penjagaan yang ketat, hanya seorang security penjaga gerbang..."


" Ya sudah, jika Adam tidak bisa membujuknya kita ajak saja biar urusannya lebih cepat selesai. Pekerjaanku di Indonesia banyak yang terbengkalai jika sudah berurusan dengan tugas di Markas..."


# # #


Adam masuk ke ruangannya dengan wajah tanpa ekspresi. Dia berdiri menatap gedung - gedung perkantoran yang terlihat dari kaca jendela ruangannya.


" Maaf..."


Erina menggenggam erat tangan Adam dan menyandarkan kepalanya di bahu pria yang sudah ia anggap saudara itu.


" Harusnya aku yang minta maaf, tidak sepantasnya aku marah padamu..." ucap Adam datar.


" Aku yang salah, tidak bisa melihat situasi saat ini..." Erina berusaha menahan airmatanya.


" Kenapa kamu ingin ikut...?"


" Aku merasa Robert tidak bersalah, hanya itu yang kurasakan saat ini. Kami beberapa kali bertemu dan dia selalu ramah dan sopan. Tidak mungkin dia sekejam itu terhadap Sera..."


Adam memejamkan matanya dan menyandarkan keningnya pada dinding kaca dihadapannya.


" Maka dari itu, aku ingin bertemu langsung dengan Robert. Aku janji bisa menjaga diri dan tidak akan meluapkan emosiku padanya..."


" Erin, kenapa kau selalu membuatku merasa lemah dengan tangisanmu. Kau tahu aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu..."


Erina menangis merasa tersentuh dengan ucapan Adam. Genggaman tangannya semakin erat tak mampu menahan sesak di hatinya.


" Seperti inikah rasanya memiliki saudara? Apa kau juga bersikap seperti ini kepada adik - adikmu...?"


" Tentu saja, aku sampai nekad merantau ke negeri orang adalah untuk memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Tanpa mereka, aku seperti layang - layang yang putus, terbang tak tentu arah..."


" Kau adalah kakak terhebat di dunia, aku bangga bisa menjadi salah satu orang yang paling dekat denganmu..."


" Aku juga beruntung bisa mengenalmu, sikap manja dan keras kepala ini yang selalu mengingatkan aku dengan adik perempuanku..."


Erina tersenyum menatap Adam yang terlihat bahagia saat bercerita tentang keluarganya. Namun dalam hati kecilnya, Erina merasa iri karena dia tak pernah merasakan yang namanya keharmonisan dalam keluarganya dahulu.


" Ayo pergi, jangan sampai suamimu mengarahkan pistolnya lagi kepadaku..." gurau Adam.


" Iya, dia cemburuan sekali..." sungut Erina.


" Itu namanya dia beneran cinta sama kamu. Coba kalau sekarang posisinya di balik. Arvan dekat sama seorang gadis yang selalu bersamanya sepanjang waktu, bergandengan tangan, berpelukan, ber_..."


" Stooppp! Akan kubunuh perempuan itu jika berani dekat dengan suamiku..." teriak Erina.

__ADS_1


" Hahahaa... apa kau juga cemburu...?" goda Adam.


" Ish... ayo pergi! Pokoknya aku mau ikut ke rumah Robert...!"


" Terserah, itu urusanmu dengan Arvan..."


# # #


Setelah merengek manja pada suaminya, akhirnya mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah Robert. Arvan mengendarai mobilnya bersama anak dan istrinya. William berada di mobil lain bersama Adam.


" Raka, kenapa duduk di belakang? Biasanya juga di pangkuan mama..." tanya Erina.


" Kata papa nggak boleh, Ma. Takut adik Raka kaget kalau Raka berisik..." jawab Raka polos.


" Jadi karena papa, sekarang kamu juga tidak mau tidur di kamar mama...?"


" Mmm... bukan, sayang. Raka hanya ingin belajar mandiri, kan sudah besar..." sahut Arvan cepat.


" Benar begitu, Raka...?"


" Iya, Ma. Raka sudah besar, jadi harus bisa mandiri..." ucap Raka berbohong karena tatapan tajam papanya.


" Anak papa memang hebat, sama seperti papanya..." puji Arvan.


Erina tidak tahu saja jika Arvan sudah menghadiahi pistol mahal keluaran terbaru untuk Raka karena bersedia tidur sendiri di kamarnya.


Tak berselang lama, mereka sampai di depan rumah Robert. Rumah besar berlantai tiga itu terlihat sangat mewah. Tak ada penjagaan ketat dalam rumah sebesar itu.


Mereka berhenti tepat di depan gerbang, lalu keluar dari mobil setelah membunyikan klakson.


" Permisi, pak. Saya mencari Robert, apakah ada di rumah...?" tanya Adam dengan sopan.


" Maaf, Anda ini siapanya Tuan Robert...?"


" Saya rekan bisnis Tuan Robert, kami juga teman dekat..."


" Maaf, Tuan. Tapi Tuan Robert sedang tidak bisa ditemui..."


" Kenapa? Kami ada hal penting yang harus dibicarakan..."


" Sekali lagi maaf, Tuan. Untuk saat ini Tuan Robert belum bisa ditemui siapapun..."


Adam bingung harus mencari cara apalagi untuk bisa masuk menemui Robert. Jika saja disitu ada penjagaan ketat, mungkin Adam akan masuk secara paksa. Namun melihat keadaan rumah yang sangat sepi itu membuat Adam ragu.


" Pak, siapa itu...?" teriak seseorang dari dalam.


Dari dalam, muncullah seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Dilihat dari wajahnya, dia nampak cukup ramah namun terlihat pucat.


" Kalian ini siapa...?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2