
" Erina...tunggu...!" teriak seseorang dari belakang.
Erina menoleh mencari arah sumber suara yang memanggilnya diikuti oleh Arvan dan Raka.
" Hey... apa kabar...?"
Seorang lelaki tampan kini sudah berdiri di hadapan Erina dengan senyum khasnya.
" Samuel...!" pekik Erina.
Erina langsung memeluk Samuel, sahabatnya sejak remaja. Dia tak memperdulikan tatapan tajam Arvan yang tidak suka dengan kedekatan mereka.
" Erin, lama tidak bertemu. Kau kemana saja...?" tanya Samuel.
" Mmm... saya pindah ke kampus di luar negeri, Sam. Maaf tidak sempat pamit padamu waktu itu..."
" Tidak apa - apa, yang penting sekarang kita sudah bertemu..."
" Kamu mau kemana...?" tanya Erina.
" Sepertinya kita mempunyai tujuan yang sama, ayo masuk..." ajak Samuel.
Arvan merasa lelaki itu mengacuhkannya dan sengaja fokus pada Erina saja.
" Erina, ayo masuk! Apa kau akan berdiri disini saja...!" ucap Arvan datar.
" Iya, kak... Sam, ayo kita masuk. Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi..."
" Tahu begini, lebih baik aku pakai privat jet tadi..." geram Arvan dalam hati.
Arvan menggendong Raka naik ke pesawat untuk mencari tempat duduknya. Sebuah kebetulan atau memang kesengajaan, Samuel bisa duduk di samping Erina. Hal itu membuat Arvan semakin meradang namun tak mungkin ia meluapkan emosinya di tempat umum.
" Sayang, kau temani Raka disini...!" perintah Arvan pada Erina.
" Aku disini saja ya, kak... Please, aku udah lama tidak bertemu dengan Samuel..." rengek Erina.
Samuel tersenyum mendengar penolakan Erina. Dia hanya diam tanpa berniat memperkenalkan diri.
" Terserah...!" jawab Arvan kesal.
Arvan kembali duduk di samping Raka tanpa menoleh lagi ke arah Erina. Hatinya begitu sakit melihat kekasihnya akan duduk selama belasan jam bersama lelaki lain.
" Papa kenapa sih? Seperti sedang marah...?" tanya Raka.
" Hmm... tidak sayang, papa tidak marah..."
Arvan memeluk Raka dengan erat untuk meredakan emosinya.
" Aku seperti pernah melihat orang ini, tapi dimana...?" batin Arvan.
Arvan berusaha keras mengingat pria yang sedang bersama Erina. Dia merasa pernah bertemu pria itu sebelumnya, tapi entah kapan dan dimana ia lupa.
# # #
Tanpa terasa, sudah belasan jam lamanya pesawat itu terbang di angkasa membelah awan. Kini Arvan sudah menginjakkan kakinya di tanah tempat ia dilahirkan. Arvan menggandeng tangan Raka menuju tempat pengambilan barang bawaannya tanpa berniat untuk mengajak Erina.
Setelah selesai mengambil koper milik Raka dan Erina, Arvan segera mencari keberadaan William yang sudah disuruh untuk menjemputnya.
" Kak Willy, akhirnya kau datang juga..." sapa Arvan.
" Saya belum terlambat, kan...?" tanya William.
" Tidak, kami juga baru sampai..."
" Rissa dimana...?"
" Biarkan saja, nanti juga dia bisa pulang sendiri..." sahut Arvan datar.
Mereka bertiga berjalan menuju area parkir saat Erina berteriak memanggil Arvan.
" Kak Arvan, kenapa aku ditinggal...?" tanya Erina.
" Cepat masuk ke mobil kalau tidak mau ditinggal...!" bentak Arvan.
" Papa kenapa...? Marah sama mama...?" tanya Raka dalam gendongan Arvan.
__ADS_1
" Tidak sayang, tidurlah jika kamu lelah. Sebentar lagi kita sampai di rumah..." sahut Arvan tersenyum.
Erina yang merasa sangat lelah tak menghiraukan sikap dingin Arvan padanya. Dia hanya ingin segera sampai di rumah dan merebahkan diri di tempat tidur.
Arvan lebih memilih duduk di samping William sambil memangku Raka yang hampir tertidur daripada bersama Erina yang mengabaikannya.
Dalam perjalanan pulang, tak ada pembicaraan sama sekali. Arvan memejamkan matanya berpura - pura tidur. Hingga sampai di rumah, Arvan langsung masuk ke dalam kamar untuk membaringkan Raka di tempat tidur.
" Kenapa kamu ikut masuk kesini...?" tanya Arvan datar.
" Aku tidur disini setiap hari, kenapa tidak boleh masuk...?" sahut Erina.
" Terserah, aku akan balik ke Indonesia penerbangan malam nanti..."
" Kak Arvan tidak menginap dulu...?"
" Untuk apa? Melihatmu bermesraan dengan lelaki itu...?"
" Maksud kakak apa...?"
" Aku bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi...!"
Arvan keluar dari kamar lalu mengambil mobil di garasi dan meninggalkan rumah itu dengan kesal.
" Kak Arvan kenapa sih? Kenapa tiba - tiba marah...?" gumam Erina.
Erina bingung dengan sikap Arvan yang dingin dan cuek padanya. Perasaan dia tidak melakukan apapun hari ini.
Pusing memikirkan Arvan, Erina tidur di samping Raka untuk melepas penat seharian duduk di dalam pesawat.
# # #
Malam hari semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Ibu memaksa Arvan untuk menginap meski hanya satu hari karena memang mereka jarang sekali bertemu. Arvan hanya berkunjung beberapa kali dalam setahun.
" Raka, kamu harus makan yang banyak. Baru juga sebulan di Indonesia pipi gembul kamu sudah tak tampak lagi..." ujar Bu Sarah.
" Iya, Nek... Disana tidak ada masakan seenak masakan nenek..." sahut Raka tersenyum.
" Nanti setelah makan, kalian berdua ikut Ayah ke ruang kerja. Ada yang ingin Ayah bicarakan pada kalian berdua..." ujar Ayah Regan menatap Arvan dan Erina bergantian.
" Iya, ayah..." jawab Arvan dan Erina bersamaan.
" Duduklah, Ayah mau bicara dengan kalian...!" ujar Ayah.
Erina duduk di samping Arvan menghadap ayah mereka. Erina takut ayah akan menjodohkannya lagi dengan anak temannya.
" Ada apa, Yah...?" tanya Arvan.
" Kau sudah benar - benar pulih...?"
" Sudah, Yah... Arvan sudah sehat..."
" Syukurlah. Ada hal lain yang ingin ayah katakan pada kalian..."
" Tentang apa, Yah...?"
" Pernikahan kalian..."
" Menikah? Arvan belum memikirkannya lagi, Yah..."
" Kalian harus secepatnya menikah supaya Raka itu memiliki orangtua yang utuh..."
" Arvan terserah Erina saja, Yah. Mungkin dia punya calon lain yang dia cintai..."
" Maksud kakak apa ngomong begitu...?" pekik Erina tak terima.
" Siapa yang tahu selama ini kamu mencintai seseorang dalam diam..."
Erina mulai paham maksud kemarahan Arvan hari ini. Mungkin kebersamaannya dengan Samuel di dalam pesawat membuat Arvan cemburu.
" Ayah, Rissa akan menikah dengan kak Arvan secepatnya. Kalau perlu besok pagi..." ucap Erina tegas.
" Kau yakin...?" tanya Arvan.
" Apa aku kelihatan bercanda...?!"
__ADS_1
" Baiklah, besok pagi William akan mengurus berkas yang diperlukan. Sekarang kalian istirahat sudah malam. Ayah juga lelah dengan banyaknya pekerjaan kantor..."
" Maaf ya, Yah... Rissa terlalu lama meninggalkan pekerjaan kantor..." ucap Erina.
" Tidak apa - apa, kamu butuh istirahat juga kan, lima tahun ini kamu sudah berjuang keras membesarkan perusahaan ayah..." sahut Ayah Regan.
Usai berbincang, mereka membubarkan diri untuk beristirahat di kamar masing - masing.
Arvan membawa Raka dalam gendongannya masuk ke dalam kamar diikuti Erina. Setengah jam kemudian, Raka sudah tertidur dalam dekapan Arvan. Sedangkan Erina, dia sedang memainkan ponselnya. Mungkin sedang membalas chat dengan seseorang.
Erina tidak menyadari saat Arvan sudah berdiri di hadapannya dan langsung merebut ponsel di tangannya.
" Kak Arvan! Kenapa kau ambil ponselku...?" pekik Erina.
" Kenapa kau marah? Apa aku mengganggu kesenanganmu...?" sahut Arvan datar.
" Kak Arvan kenapa marah - marah terus sih dari kemarin...?"
" Itu karena kau tidak peka dengan perasaanku...!"
" Peka gimana...?"
" Pikir saja sendiri...!"
Arvan berjalan menuju balkon memandang halaman rumah di bawahnya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya begitu terusik hanya karena Erina berbalas pesan dengan seseorang.
" Kak_..." panggil Erina.
" Tidurlah! Tidak usah pedulikan aku...!" sahut Arvan kesal.
" Apa kau cemburu...?"
" Menurutmu apa...?!"
" Maaf..."
" Kau yakin kita menikah besok...?" Arvan menggenggam tangan Erina dengan erat.
" Apa kakak keberatan...?"
" Tidak, aku hanya tidak mau kau memaksakan diri..."
" Apa kak Arvan meragukanku...?"
" Bagaimana aku tidak meragukanmu, kau berpelukan dengan pria lain di depan mataku dan duduk dengannya belasan jam lamanya. Kau pikir aku patung yang tak bisa merasakan cemburu...!" omel Arvan.
" Maaf, aku hanya terlalu senang saja bertemu sahabat yang sudah lima tahun tak bertemu. Dia sahabatku sejak kami SMP. Dia satu - satunya teman yang dekat denganku. Dia tahu seperti apa kehidupanku di rumah. Dia selalu ada setiap aku membutuhkannya..."
" Cihh...! Kau bahkan memujinya di depanku...!"
" Bukan seperti itu, kak. Dia itu tidak lebih dari sekedar sahabat..."
" Mungkin kau menganggapnya seperti itu, tapi apa kau tahu seperti apa perasaannya padamu...? Aku saja bisa tahu dia menyukaimu hanya dari tatapan matanya saja..."
Erina terdiam mendengar luapan emosi Arvan yang semakin menggebu. Bukannya takut, Erina malah berniat untuk menggoda kekasihnya.
" Apa sudah selesai marahnya...?"
Erina mendekatkan wajahnya pada pria dingin di depannya. Mengikis jarak hingga bibir mereka menyatu. Arvan yang masih kesal berusaha menolak, namun Erina tak mau melepaskannya.
" Sayang, apa yang kau lakukan...?" Arvan mendesah pelan.
Arvan merasakan tangan Erina meraba punggungnya dengan lembut. Erina mengikis rasa malunya dengan bersikap agresif menyentuh dada bidang pria yang kini mendekapnya erat.
" Apa kau menyukainya sayang...?" lirih Erina.
" Jangan menggodaku di saat kau tak bisa memberikannya, honey..." rintih Arvan.
" Aku akan memberikannya jika kau mau..."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.