
" Semoga kamu baik - baik saja, sayang..." batin Arvan.
Arvan menatap ruang pemeriksaan istrinya, namun belum ada satupun yang keluar dari sana. Hans berkali - kali menyuruh Arvan untuk duduk namun pria itu tak mengindahkan ucapannya.
Tak lama, dokter dan perawat keluar dari ruang IGD. Arvan langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan Erina.
" Dokter, bagaimana keadaan istri saya...?" tanya Arvan.
" Istri Anda baik - baik saja, Tuan. Hanya cedera ringan akibat benturan di kepalanya. Besok kita lihat perkembangannya, jika keadaannya semakin baik lusa bisa pulang..." jawab dokter menjelaskan.
" Terimakasih, Dokter..."
" Sebentar lagi istri Anda akan dipindahkan ke ruang rawat, Tuan. Anda bisa menunggunya disana, kami sedang melakukan persiapan..."
" Baik, Dok..."
Arvan menuju ruang rawat VVIP bersama dengan Hans. Sementara Erina berada di brankar dorong yang dibawa oleh beberapa perawat.
Sampai di kamar rawat Arvan langsung duduk di samping istrinya setelah para perawat pergi. Hans yang duduk di sofa merasa terabaikan dan mungkin mereka tak menyadari keberadaannya.
" Van, aku pulang saja ya...? Disini cuma jadi pajangan..." sungut Hans.
" Iya, pulang sana! Pastikan Raka aman di rumah..." sahut Arvan.
" Kak, Raka tidak terluka, kan...?" tanya Erina pelan.
" Raka baik - baik saja, sayang. Kamu tenang saja, Adam bisa menjaga Raka dengan baik..." jawab Arvan.
" Ya sudah, saya pulang dulu. Bye...!"
Hans langsung keluar dari ruang rawat Erina namun tidak langsung pulang melainkan mencari pujaan hatinya yang sedang tugas malam.
# # #
" Honey...!" teriak Hans saat melihat Delia jalan di lorong sendirian.
" Sayang, kamu kok ada disini...?" tanya Delia.
" Aku merindukanmu..." jawab Hans manja.
" Tunggu sebentar disini ya? Aku mau periksa beberapa pasien dulu sebelum istirahat..." ucap Erina.
" Aku ikut saja, honey..." rengek Hans.
" Astaga... Hans! Jangan seperti anak kecil...!"
Delia jengah dengan tingkah kekasihnya yang sangat manja tidak seperti biasanya.
" Delia sayang, makan yuk? Laper nih..." rengek Hans lagi.
" Huft... jangan seperti ini, Hans. Aku lagi kerja, tunggulah sebentar lagi..."
" Ya sudah, tapi cium dulu..."
" Hans...!"
" Ayolah, honey..."
Demi mempercepat waktu dan drama Hans, Delia langsung mencium kedua pipi Hans kemudian pergi ke kamar rawat pasien untuk mengecek keadaan mereka.
" Aku sayang padamu, Delia..." gumam Hans seraya tersenyum.
Hans rebahan di kursi tunggu lorong seraya menunggu Delia menyelesaikan pekerjaannya. Tak terasa dia malah tertidur karena kelelahan.
" Hans...!" panggil Delia.
Tidak sampai setengah jam Delia pergi, Hans sudah terlelap walaupun nampak tidak nyaman dengan posisinya sekarang.
__ADS_1
" Sayang, pindah saja keruanganku biar nyaman tidurnya..." bisik Delia.
" Mmm... honey, kau sudah selesai...?"
" Iya, ayo bangun..."
" Aku sangat merindukanmu..." gumam Hans.
Delia memandang wajah lelah kekasihnya lalu membantunya untuk berdiri agar ia bisa membawanya ke ruang pribadinya.
Sampai di ruangan Delia, Hans langsung merebahkan dirinya di kasur ukuran kecil yang biasa Delia pakai saat sedang beristirahat.
" Tidurlah, aku akan kembali berkeliling mengecek keadaan pasien di IGD..." ujar Delia.
" Jangan tinggalkan aku, honey. Temani aku sebentar saja, tubuhku terasa sangat lelah..." sahut Hans pelan.
" Tapi sebentar saja ya...?"
" Hmmm..."
" Apa yang terjadi hari ini...?" tanya Delia.
" Erina di sekap dan kami tadi habis menyelamatkannya..."
" Apa Erina terluka...?"
" Iya, tapi sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Dia baik - baik saja, tidak ada cedera yang parah..."
" Syukurlah, sekarang kau juga harus beristirahat..."
" Maaf, ya... akhir - akhir ini aku sangat sibuk..."
" Tidak apa - apa, aku tahu pekerjaanmu sangat penting..."
" Terimakasih, sayang. Kamu memang sangat pengertian, aku sangat beruntung mendapatkan cintamu..."
" Hans, hentikan! Jangan macam - macam...!"
" Aku merasa nyaman seperti ini, honey..."
Saat yang bersamaan, Reno nyelonong masuk ke ruangan Delia tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Astaga... mata suciku telah ternodai..." gurau Reno menutup mata dengan kedua tangannya.
" Ish... suci apanya? Inget tuh baby di rumah...!" cibir Delia seraya memindahkan kepala Hans dari pangkuannya ke bantal.
" Ayo ke ruang IGD sekarang, sepertinya akan ada dua operasi besar malam ini..." ujar Reno.
" Operasi apa...?"
" Korban penembakan..."
Hans langsung duduk lalu memeluk Delia yang juga duduk memunggunginya.
" Apa itu Selly dan Samuel...?" tanya Hans.
" Iya, Tuan..."
" Kalau bisa bikin saja keduanya mati..." seru Hans.
" Hans, kau tidak boleh bicara seperti itu..." ujar Delia.
" Tapi mereka yang sudah menculik Erina..."
" Benarkah? Tapi bagaimanapun juga, sebagai tenaga medis kami tidak bisa terbawa perasaan. Kami punya kode etik kedokteran yang tidak bisa dilanggar. Siapapun pasiennya, kami harus berusaha untuk menyelamatkannya. Itu sudah menjadi tugas kami sebagai dokter..."
" Huft... terserah kau saja, cepat kembali..."
__ADS_1
" Iya, sekarang tidurlah. Aku harus kembali bekerja..."
Delia dan Reno pergi meninggalkan Hans yang sedikit tak rela ditinggal sendirian di ruangan itu. Sampai diluar, Reno tertawa sendiri hingga membuat Delia merasa heran.
" Apa yang kau tertawakan, Ren...?" tanya Delia hersn.
" Kekasihmu itu, manja seperti bocah..." jawab Reno.
" Dia seperti itu saat lelah saja dengan pekerjaannya. Dia tidak mau memperlihatkan sifat tegas yang dia miliki di depanku. Sebenarnya dia orang yang sangat keras jika berhadapan dengan orang lain..."
" Dia Assisten tuan Arvan, kan...?"
" Iya, kami sebenarnya sudah seperti saudara. Aku, Hans dan kak Ricko sudah diangkat anak oleh keluarga Sebastian. Terakhir Erina, istri Arvan juga dulunya menjadi anak angkat Tuan Sebastian..."
" Kok bisa ya? Saudara tapi menikah..." seloroh Reno sambil nyengir.
" Mana kutahu, mungkin jodoh..." Delia mengendikkan bahunya.
" Sejak kapan kau mulai menyukai Hans...?"
" Tidak tahu, mungkin karena kita sering berkomunikasi walaupun jarang bertemu. Hans sering mengikutiku saat di rumah sakit bila dia lagi tidak ada kerjaan. Tapi dia sangat menakutkan jika sudah berhadapan dengan musuh..."
" Mungkin dia hanya ingin melindungimu. Kau harusnya beruntung, kurasa dia tipe laki - laki yang setia..."
" Sudah, tidak perlu membicaran dia lagi..."
Malam ini, Delia dan juga beberapa dokter melakukan operasi besar yang mungkin akan berlangsung hingga pagi. Tidak peduli dengan fisik mereka yang lelah, tanggung jawab mereka sebagai tenaga medis harus dijalankan sesusi pgosedur yang berlaku.
# # #
Pagi hari, Raka terbangun lebih dahulu dibandingkan Adam. Anak itu dengan jahilnya langsung naik ke punggung Adam yang sedang tengkurap. Mungkin karena lelah, Adam tidak bergeming sama sekali membuat Raka kesal.
" Uncleee....!" teriak Raka tepat di telinga Adam.
" Aakkkhhh! Raka...! Bisa pecah gendang telingaku...!" omel Adam dengan kesal.
" Ayo bangun, ini sudah pagi..."
" Tunggu sepuluh menit lagi, masih ngantuk nih..."
" Ayo, Uncle...! Nanti kesiangan ke rumah sakitnya..."
" Iya, bociilll...! Bawel amat sih...!" gerutu Adam.
Adam langsung beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka sebelum anak kecil itu semakin membuatnya kesal. Selesai cuci muka, Adam langsung menggendong Raka keluar dari kamar untuk melanjutkan rencana yang sudah mereka susun kemarin.
Sementara itu, Erina sedang duduk di tepi brankar setelah diperiksa oleh dokter. Dia merasa sudah sedikit enakan sehingga dia bisa ke kamar mandi sendiri tanpa bantuan suaminya.
Arvan yang mungkin kelelahan, kini masih tertidur pulas di samping sang istri. Erina sampai heran karena suaminya itu sangat nyaman tidur di brankar rumah sakit. Tak mau mengganggu, Erina pindah duduk di sofa seraya menonton tv yang kebanyakan acara kartun jika masih pagi seperti ini.
" Huft... yang sakit siapa yang istirahat di brankar siapa. Nyaman banget tidur di brangkar saja seperti di hotel VVIP..." gerutu Erina.
Erina yang sedang fokus nonton tv dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Tak lama pintu terbuka dan masuklah beberapa orang beramai - ramai.
" Mamaaa...!" teriak Raka dengan tersenyum.
Erina kaget dengan sesuatu yang berada di tangan Adam. Seketika tangis Erina pecah saat Raka memeluknya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1