Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Siapa gadis itu


__ADS_3

Kemanakah Angga akan membawa Nilam pergi, Nilam berpikir bahwa Angga akan membawanya ke tempat yang romantis. Saat, lampu merah, Nilam melihat seorang pria yang masih muda, ia tengah dibonceng motor oleh pria yang sedikit tua. Pria itu melihat ke arah Nilam, seperti memberikan sebuah isyarat bahwa ia dalam keadaan bahaya. Nilam, yang menyadari hal itu langsung mengerti, dengan memberikan sebuah isyarat kepada Angga. Mereka berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi, mereka mengikuti arah motor tersebut. Penjahat itu menyadari bahwa ia sedang diikuti oleh mobil Angga.


Terjadi aksi kejar-kejaran antara Angga dan motor tersebut, Angga yang terus menerus memepet motor tersebut ia segera, menabrakkan mobilnya ke sisi motor tersebut, Nilam, segera membuka pintu mobil, dan mendorongnya ke arah motor. Dan membuat motor tersebut terjatuh.


Gubrak ....


Motor itu pun terjatuh, mereka berdua terguling. Angga dan Nilam segera mendekati. Namun, Nilam ditarik oleh penjahat itu.


"Tunggu, jika kalian mendekat Saya, akan menembaknya!"


Ia, menodongkan pistolnya tepat di kepalanya. Angga, sangat takut terjadi sesuatu pada Nilam.


"Oke, Saya sudah meletakkan pistol Saya, tolong lepaskan dia?" Angga, meletakkan pistolnya ke tanah dengan sangat hati-hati.


Pria itu, mundur secara perlahan dengan menawan Nilam. Nilam, memukul tepat di bagian bawah perutnya, hingga pria itu kesakitan, pria itu membalas dengan menjambak rambut Nilam, yang tentu saja membuat rambut palsunya terlepas, hingga membuat rambut indahnya yang panjang tergerai indah. Pria itu terpesona dengan kecantikan Nilam, hingga Nilam memiliki kesempatan untuk memukul bagian bahu pria itu hingga tersungkur ke tanah. Angga, yang sejak tadi terpesona, dengan kehebatan Nilam yang bisa menjaga dirinya sendiri. Angga, menelpon Ucok agar segera mendatangkan bala bantuan.


Angga, memeluk Nilam dengan penuh rasa cemas.


"Kamu, tidak apa-apa?" Angga, melepaskan pelukannya dan memperhatikan Nilam dengan seksama. Nilam hanya terdiam malu, wajahnya memerah. Jantungnya berdetak kencang. Hingga ia sulit untuk bernapas. Tidak lama bala bantuan datang, penjahat itu sudah ditangani oleh Ucok dan pria yang ia sandera telah bisa pulang.


"Nona manis, Anda sangat cantik! Saya pikir Anda seorang pria?" Pria itu bertanya kepada Nilam sebelum pulang. Angga yang merasa tidak suka. Segera menghampiri dengan memegang bahu Nilam.


"Tidak usah banyak bicara lagi! Cepatlah pulang!"


Pria itu hanya tersenyum, dan mengucapkan selamat tinggal kepada Nilam.


"Ayo, Aku akan mengajakmu ke tempat yang paling kamu sukai!"

__ADS_1


"Apa itu?"


"Lihat saja nanti!"


Mereka melanjutkan perjalanan, Ucok berada dibelakang mereka. Nilam, diam-diam hanya tersenyum. Angga, hanya fokus menyetir mobil.


"Ada hubungan apa antara kamu dan pria yang pernah kamu hindari?"


"Maksudnya?"


"Waktu itu, Aku melihatmu gelisah saat bertemu dengan teman sekelas mu, biasanya jika seseorang yang memiliki sebuah perasaan ia akan secara tidak langsung menghindari?"


"Oh, itu! Aku tidak cemas atau gugup, hanya saja Aku ...?"


Angga, memberhentikan mobilnya. Dan memandang serius ke arah Nilam.


"Lalu kenapa ...?"


Angga, hanya tersenyum manis, dengan menghela nafas pendek. Ia merasa sangat lega mendengar penjelasan Nilam. Dan melanjutkan perjalanan. Setelah sampai Ucok, menghampiri mereka berdua. Diikuti oleh seorang wanita cantik tinggi dan rambutnya sebahu. Ia memakai baju serba putih, seperti ia seorang Dokter.


Tatapannya berubah menjadi sangat tidak biasa, tatapan matanya seperti ada sesuatu antara mereka berdua.


Ucok hanya tersenyum. Mendehem ...


Angga, nampak sangat gugup saat bertemu dengan wanita itu. Mengapa tiba-tiba Angga terlihat sangat tidak santai. Ia, terlihat sangat gugup.


"Ekhm ... ekhm ...! Pak, ayo kita masuk ruangan jenazah agar Bapak bisa melihat semua hasil otopsi. Angga, mengikuti dari belakang. Nilam, hanya terdiam. Ia merasa cemburu pada wanita itu.

__ADS_1


(Kenapa, pandangan Angga berubah, kenapa hatiku menjadi tidak nyaman) Gumamnya dalam hati.


Mereka memasuki ruangan otopsi.


"Perkenalkan, Saya adalah Tim forensik baru dirumah sakit ini, nama Saya adalah Maya Permatasari, Saya tadinya bekerja diluar Negeri, namun Saya, memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena Papah Saya, tidak dapat bertugas lagi, dan sudah pensiun dari pekerjaan ini. Hingga Saya harus menggantikan posisinya menjadi ahli forensik. Dan, kebetulan Saya bertugas di Kota ini. Mohon bantuannya dan kerja samanya" Maya menundukkan kepalanya. Semua orang bertepuk tangan menyambut kedatangannya. Maya, terlihat mencuri pandang ke arah Angga.


"Baiklah, bagaimana hasilnya?" Angga, mulai percakapan.


"Luka bakar pada wajahnya, sepertinya adalah air keras, kemungkinan korban disiram dengan air keras, saat ia sedang kesakitan, pelaku memukul korban hingga membuat ia tewas di tempat, dengan menggunakan benda tumpul, terlihat di bagian bawah kepala korban terdapat darah yang sudah membeku, akibat pukulan benda tumpul secara berulang-ulang. Hasil otopsi sudah selesai sehingga identitas jenazah sudah dapat diketahui. Dia adalah selebgram, bisa langsung di cek, kita lihat dengan mencocokkan sidik jari korban, semua data akan keluar!"


Maya, mengambil sarung tangan, dan mengangkat tangan jenazah dan mencocokkan dengan alat yang bisa mendeteksi sidik jari korban. Semua informasi langsung keluar. Saat mereka sedang sibuk.


Nilam keluar dari ruangan, dan ia keluar untuk menghirup udara segar. Saat ia sedang menguap dengan merentangkan kedua tangannya. Di sisi seberang jalan, terlihat Rey sedang duduk di bangku, ia terlihat memperhatikan Nilam. Nilam, yang menyadarinya, tersipu malu. Ia, kemudian melambaikan tangannya, Rey hanya tersenyum manis, dan segera menyebrang jalan menuju Rey, selangkah lagi kakinya sampai, tiba-tiba saja motor datang dan hampir menabrak Nilam, Rey yang sigap, segera menarik tangan Nilam, hingga mereka berpelukan.


Seketika, jantung Rey berdetak kencang dan tidak beraturan.


"Kenapa, jantungmu berdetak kencang?" Tanya Nilam dengan polosnya. Rey, segera melepaskan pelukannya.


Angga yang melihatnya, merasa sangat terluka. Maya, yang memperhatikan dari balik jendela, merasa jika pria kecil itu sangat istimewa dimata Angga.


Rey yang sangat malu, mengajak Nilam untuk duduk.


"Kenapa, kamu tidak berhati-hati jika ingin menyeberang! Haruskah merepotkan orang lain!" Gumamnya dengan pelan. Kini pria yang tidak pernah berbicara itu, selalu berbicara jika terjadi sesuatu pada Nilam.


"Iya, maaf ... Sudah merepotkan!" Ia tertunduk malu.


Angga, segera menyebrang ke arah Nilam. Ia, memandang ke arah Rey, dengan tatapan mata yang sangat tajam. Tiba-tiba saja hujan deras mengguyur, tatapan tajam antara kedua pria tampan itu, terlihat Rey menyadari bahwa Angga sangat cemburu dengan dirinya.

__ADS_1


(Apakah, benar jika Nilam adalah seorang gadis, seperti yang aku pikirkan selama ini!) Gumamnya dalam hati.


Nilam, yang tidak nyaman melihat semua ini, ia berniat untuk pergi, ketika kakinya melangkah, lengannya di tarik oleh Angga, ia hanya memberikan sebuah isyarat agar Nilam naik ke mobil. Nilam, menurutinya, Angga membisikkan sesuatu di telinga Rey, entah apa itu. Nilam, tidak dapat mendengar. Wajahnya, terlihat sangat serius. Wajah Rey pun, berubah menjadi cemas. Apa yang sebenarnya Angga bisikan?.


__ADS_2