Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Saksi yang telah hilang


__ADS_3

Nilam, berbicara dengan Rey namun tidak pernah di jawab.


"Do, aku haus pengen es jeruk kayanya!" Aldo bergegas menuju ibu kantin untuk memesan minuman. Farel, membisiki salah satu anak buahnya. Apa yang Farel rencanakan.


Aldo, duduk kembali ke kursi menunggu seseorang mengantarkan minumannya. Salah satu anak buahnya menuju ke arah Ibu kantin, ia memesan minuman yang sama, dengan yang di pesan oleh Aldo, sesaat minuman tiba sepertinya ia memasukkan sesuatu kepada minuman tersebut, saat pengantar tengah lengah. Dan, Nilam melihatnya dari kejauhan.


'Jadi, kamu mau mengerjai aku, kita lihat saja nanti, siapa yang akan kena batunya!' Ujar Nilam dalam hatinya.


Minuman datang, Nilam mulai meminumnya . Farel yang melihat, sangat berharap melihat ekspresi wajah Nilam yang penuh dengan tidak enak.


'Haha rasain tuh Raffi, minuman yang sangat asin, gue yakin loe gak bakal bisa berkutik lagi dengan gue!' Ujarnya dalam hati. Namun, ekspresi wajah Nilam tidak berubah. Farel, merasa heran. Ia, memukul kepala anggotanya.


"Loh gimana sih, itu minuman kok kayanya gak berubah sama sekali, loe tuh bisa gak sih, cuma di suruh ngerjain satu orang aja loe gak bisa!" Farel, dengan suara yang pelan.


"Maaf bos! Tapi, bener kok, tadi udah di masukin garam yang banyak banget! Suer deh, di samber petir!"


"Ah, emang gak becus!" Farel, meminum minuman, dan sontak ia tersedak dan segera memuntahkan minuman tersebut.


"A... sin ...!"


Semua orang tertawa, termasuk Nilam dan teman-temannya. Rey, hanya terdiam. Ia, segera pergi menuju ke arah perpustakaan.


"Loe, gue nyuruh masukin ke minuman si Raffi, lah ngapa gue yang jadi korban! Minum nih, habisin!" Ia, meminumkan kepada anggotanya.


"Ampun, Bos ...!"


"Oh, jadi kamu mau ngerjain Raffi!" Sukma tiba-tiba saja datang. Farel, terkejut dengan ekspresi wajah yang sangat bingung.


"Ah ... enggak kok! Kamu, salah paham!"


"Alah, aku dengar dengan telinga aku sendiri. Pokoknya, kalau terjadi sesuatu dengan Raffi, orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah kalian!" Ia, menunjuk tangannya ke arah Farel dengan tatapan sinis.


Sukma menghampiri Nilam.


"Raffi, kamu gak apa-apa kan!"


"Emm ... gak apa-apa kok!"


"Aku, ke perpustakaan dulu ya!"


"Woy, tunggu! Sukma, kita duluan ya!" Aldo dan Dika berlari mengejar Nilam.


"Raffi, memang pria yang sangat menawan! Guys, kayanya sih aku jatuh cinta sama Raffi, soalnya aku deg-degan terus kalau ketemu dia! Gimana, menurut kalian? Apakah, aku dengan Raffi sangat cocok?"


"Cocok, sekali ...!" Ucap ketiga temannya serentak.


"Bagus, kalau begitu! Kita tinggal buat rencana untuk mendatangkan hati sang pangeran Raffi!" Sukma, tersenyum manis.


Farel yang semakin dendam dengan ulah Raffi ia mulai membuat rencana baru.


"Guys, gue punya ide bagus!" Ia, membisikkan sesuatu kepada anggotanya. Dan, mereka tersenyum lebar.


Aldo dan Dika mengejar Nilam, Dika, menepuk pundak Nilam dengan terbata-bata ia berbicara.


"Ni ... lam, ngapain sih lari-lari!"


"Stt ... Jangan panggil Nilam, nanti ada orang yang denger!"

__ADS_1


"Oh ya lupa!" Ia, menggaruk kepalanya.


"Emang ngapain harus ke perpustakaan!" Aldo jadi penasaran.


"Kita harus tau, buku apa yang sedang di baca oleh Rey!"


"Ngapain sih! Untuk apa coba kepo dengan apa yang di baca oleh si tukang diem itu! Gak penting banget!" Dika, dengan nada yang tidak setuju.


"Barangkali aja! Kita tahu kenapa tuh orang gak pernah ngomong sama sekali!"


Nilam, menarik tangan mereka berdua. Dan mencoba mencari tahu dengan Rey. Rey menuju meja penjaga perpustakaan untuk menyewa sebuah buku. Tidak lama ia pergi keluar, Nilam menghampiri penjaga perpustakaan dan bertanya.


"Maaf, buku apa yang di pinjam oleh murid tadi?"


"Oh, tadi dia meminjam buku tentang cara menangkap siluman!"


"Oh, iya terimakasih!"


"Sama-sama"


Mereka keluar perpustakaan.


"Buku, yang aneh! Kenapa, harus membaca buku tersebut! Memang dia berteman dengan siluman?" Nilam sangat bingung.


"Entahlah ... Kami tidak tahu!"


Bell masuk berbunyi.


Teng ... teng ... teng ...


Ucok mengintrogasi psikopat yang telah mereka tangkap.


"Apa motif di balik pembunuhan berantai ini?" Pelaku hanya menunduk dan terdiam, ia tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut.


"Jawab ...! Bukan, diam saja?"


Ia, hanya tertawa dengan suara yang sangat persis seperti psikopat.


"Kalau, kamu tidak mau mengaku terpaksa tangan ini akan memukul wajahnu itu? Jawab, apa kamu memiliki motif apa dibalik pembunuhan yang telah kamu lakukan?"


Dia, hanya terdiam dan tertawa. Ucok, memukul wajahnya sampai keluar darah dari hidungnya.


Tiba-tiba saja, ada seseorang yang berteriak mencari Ayahnya. Ia, seorang anak kecil laki-laki berumur sepuluh tahun.


"Ayah, ini aku datang!"


"Anakku ...!"


Ucok, keluar dan menemui anak itu. Sementara, Angga menjemput anak-anak dari sekolah.


"Anak-anak, ayo masuk!"


Nilam, melihat dari kejauhan Rey yang sedang memakai helm, ia terlihat sangat tampan. Angga yang menyadari bahwa Nilam tengah memperhatikan seorang pria. Rey, melewati mereka. Nilam, tetap terpaku dengan Rey yang pergi.


Angga, memberikan sebuah isyarat, dengan membunyikan klakson mobil. Nilam, bergegas masuk.


'Kenapa sejak tadi ia diam! Hmm ... apakah ia mulai jatuh cinta dengan pria tadi! Kenapa, rasanya aku tidak sanggup jika ia memikirkan pria lain?'

__ADS_1


Aldo dan Dika, saling sikut.


"Lihat tuh, kenapa mereka berdua, tumben diam-diam bae!" Dika mulai berbicara dengan tertawa kecil. Tiba-tiba saja telepon berdering. Angga, mengangkat telepon tersebut.


Panggilan Ucok ...


"Ada apa?"


"Maaf Pak, sepertinya anak pelaku ingin menemuinya, bagaimana ini Pak?"


"Tunggu, sebentar saya kesana!"


Angga, memutar arah. Segera menuju kantornya. Setelah sampai, Aldo dan Dika masuk terlebih dahulu. Nilam keluar dari mobil, Angga menarik tangannya.


"Nilam, apakah kamu menyukai pria tadi?" Nilam, melihatnya sambil tersenyum manis.


"Haruskah aku menjawabnya!"


Angga, hanya terdiam membisu.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa menjawabnya?" Angga, segera berjalan. Nilam menjawabnya.


"Tidak ... Aku tidak menyukainya!" Angga, yang terus berjalan, hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Nilam. Nilam, segera berlari menuju kantor Angga.


Anak itu, mendekati Angga.


"Pak, tolong, jangan sakiti Ayahku! Dia, tidak bersalah? Tolong, ijinkan aku melihatnya? Aku, tidak punya siapapun kecuali Ayah!"


Angga, memberikan kesempatan untuk pelaku bertemu dengan anaknya.


"Mereka bertemu di sebuah ruangan yang berlapis kaca. Angga dan yang lainnya melihat dan mendengar percakapan mereka dari luar.


"Ayah, tolong jujur, apakah Ayah sejahat itu? Ayah, adalah Ayah yang sangat baik, tidak mungkin membunuh seseorang, apalagi dengan jumlah yang banyak, tolong Ayah, aku tidak apa-apa?"


"Kenapa, Ayah diam saja! Bicaralah!"


Pelaku hanya terdiam membisu, ia menangis.


"Baiklah, aku tahu jawabannya!" Anak itu keluar dari ruangan, sambil menangis tersedu-sedu. Nilam, menghampiri dan mencoba menenangkan anak itu.


Telepon kantor berdering ...


Ucok, mengangkat telepon tersebut. Dan, segera menghampiri Angga.


"Maaf Pak! Pihak rumah sakit, memberikan sebuah kabar buruk! Jika, saksi mata telah meninggal dunia!"


Angga, terdiam, saksi kunci kasus ini telah meninggal. Apa yang harus ia lakukan.


Angga, bergegas menuju ruangan interogasi untuk menanyakan kepada pelaku agar menjelaskan motif di balik pembunuhan yang telah ia lakukan. Angga, memberikan sebuah isyarat kepada Nilam, Aldo dan Dika untuk membawa anak itu pergi dari kantornya. Nilam, mengerti ia segera pergi keluar dan menuju sebuah tempat makan yang berada di dekat kantor.


"Tolong! Berikan sebuah jawaban yang jelas, agar kami tahu bahwa memang anda pelakunya!" Angga, mulai berbicara dengan nada tinggi, wajahnya mulai memerah.


"Sungguh, kalian hanya membuang waktu untuk memberikan sebuah pernyataan yang tidak saya lakukan!"


"Terus, siapa? Yang telah membunuh para wanita itu? Saya, tidak suka berbasa-basi!" Angga, mengangkat leher baju pelaku, dengan wajah yang sangat sinis. Dan, melemparnya ke lantai. Angga, keluar dan berbicara kepada Ucok.


"Tolong, buat dia mengakui kejahatannya? Bagaimanapun caranya! Meskipun dengan kekerasan!"

__ADS_1


__ADS_2