Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
mutilasi


__ADS_3

"Hey, malah pada bengong ...!" Raya, menepuk pundaknya.


Lalu, mereka tertawa bersama. Dan melanjutkan perjalanan mereka menuju taman tempat biasanya orang akan berolahraga.


Aldo bertanya kepada, Rey.


"Emangnya loe, sudah mengetahui jika Raffi adalah seorang gadis?"


Rey, hanya tersenyum manis.


"Kelihatannya bagaimana mana!" Ia berbicara sambil berjalan.


"Oh, pantesan aja! Kami pikir loe, menyukai seorang pria, ternyata kamu masih normal!" Mereka tertawa bersama.


"Alhamdulillah, kalau begitu dia masih normal ...!" Dika, tertawa lepas.


"Jadi, sebenarnya loe beneran suka sama si Nilam ...?" Tiba-tiba saja, mereka bertanya serius kepada Rey. Rey terdiam sejenak kaku. Lalu, ia menarik nafas.


"Sampai aku, mengatakan bahwa aku menyu ...!" Tiba-tiba saja, Nilam menutup mulutnya dengan tangannya.


"Sttt ....!"


Nilam, menarik tangannya untuk menjauh dari mereka.


"Lihatlah,.. apakah mereka berdua cocok?" Dika, bertanya kepada Aldo dan Raya.


"Gue, tetep Tim Kak Angga." Aldo, begitu antusias mendukung kakaknya itu, dengan mengepalkan tangannya. Dika dan Raya tertawa-tawa.


"Ya, udah gue tim Rey ...!" Timpal Dika sambil tertawa lepas. Akhirnya mereka tertawa bersama.


"Aku rasa, kedua pria itu sangat cocok, yang satu datar yang satu romantis dan perhatian, iya gak sih?" Raya, menilai antara Angga dan Rey.


"Iya, juga sih!" Aldo dan Dika, serentak.


"Ayo, kita olahraga lagi." Raya, mulai berlari kecil. Memutari taman.


Nilam, terlihat lelah, ia duduk di bangku taman, sedangkan yang lainnya tengah berolahraga. Rey, menghampiri dengan memberikan minuman.


"Ini, minumlah ...!" Ia, duduk di dekat Nilam. Sambil mengibaskan rambutnya yang sudah mencuci wajahnya. Ketampanannya bertambah saat rambutnya yang lebat terlihat basah. Nilam, terpesona.


'Kenapa hatiku, menjadi berdebar-debar!' Sampai ia terdesak.

__ADS_1


"Kamu, tidak apa-apa?" Rey terlihat sangat cemas. Ia, menepuk pelan pundaknya.


"Tidak, apa-apa!" Rey hanya tersenyum. Mereka tidak berbicara, karena terlihat canggung. Akhirnya, mereka semua selesai berolahraga dan duduk bersama.


Tiba-tiba saja sebuah kaleng, melayang tepat di kepala Nilam, mereka semua terkejut dan mencari siapa yang melempar kaleng minuman tersebut.


"Woy, ... Siapa tuh?" Dika, terbangun dari duduknya dan berjalan mencari. Ternyata Farel.


"Sorry, bro...! Gue, gak sengaja...!"


"Tanggung jawab loe,..!" Dika, menarik tangannya, Farel sempat menolaknya. Setelah ia melihat Nilam, ia malah bengong.


"Kamu ... cewek cantik itu!" Ia, mendekati dan Rey menghalanginya.


"Apa, sih loe ...!" Farel terlihat sangat marah.


"Berisik... loe gak ada kerjaan banget sih jadi orang!" Aldo, kesal.


"Udah, jangan bertengkar, aku gak apa-apa kok!" Nilam, mencoba melerai mereka.


Akhirnya mereka duduk bersama.


"Gue, beli minuman dulu!" Raya, terlihat sangat kecewa. Ia, berdiri dan berjalan dengan rasa kecewa.


'Kenapa, gue harus gak suka kalau Farel ngedeketin cewek lain!' Ia, terus berjalan. Kebetulan saja hujan deras. Mereka semua berteduh di sebuah tempat yang panjang. Namun, Raya tidak kunjung kembali, Farel merasa cemas


"Kenapa Raya belum kembali?" Farel berinisiatif untuk mencarinya. Farel, menembus hujan deras. Ia, tidak peduli jika teman-teman memanggilnya untuk kembali karena hujan. Farel, tetap saja berjalan pergi.


'Kadang, gue ngerasa aneh, kenapa gue harus khawatir dengan Raya, emang dia siapa gue!' Farel, berbicara dengan dirinya sendiri. Ia, terus berjalan dengan berteriak memanggil namanya. Akhirnya ia menemukan Raya sedang duduk di depan kolam ikan. Dengan basah kuyup.


"Kenapa loe?" Farel, duduk di dekatnya, dan melihat wajahnya terlihat sedang menangis.


"Aku, kangen sama Ibu?" Ia, menangis di pelukan Farel.


Raya, akan selalu menangis jika mengingat tentang ibunya. Farel, memeluknya dan mengusap pundaknya, dengan lembut. Farel, berusaha menjadi teman yang baik.


"Gue, akan selalu menjadi teman terbaik untuk loe!"


'Entah, mengapa hatiku rasanya hancur, saat kamu bilang hanya sebatas teman saja!' Ia, terus menangis.


****

__ADS_1


"Kondisinya, mulai membaik. Bapak, pulang saja duluan, saya akan menjaga Firman, sekarang kondisinya sudah mulai membaik, kita masih harus menyusun strategi untuk selanjutnya! Besok, Firman, akan di pindahkan ke Jakarta, untuk perawatan lebih intensif, bapak tidak usah khawatir!" Salah satu tim nya, memberikan sebuah saran agar Angga segera pulang.


'Iya juga, sebaiknya aku pulang saja! Lagipula aku sudah merindukan, Nilam' Akhirnya, Angga pulang kembali ke Jakarta. Saat tiba di kantornya, ada kasus penemuan mayat mutilasi, hanya belum ditemukan kepalanya.


"Sepertinya, pelakunya sengaja mempersulit penyelidikan, karena bagian kepala adalah bagian yang paling penting, pelaku sepertinya sengaja menghilangkan jejak! Cari terus, hingga ditemukan!"


.


Ucok, menjelaskan.


"Tadi pagi, ada seorang yang sedang berlari di pagi hari, dan melihat kaki yang mengapung di dasar danau dekat taman, sepertinya karena hujan deras, hingga menyebabkan mayat tersebut timbul ke permukaan, dan kami telah menemukan beberapa bagian tubuhnya, namun hanya kepalanya saja yang hilang!"


"Akan sulit untuk menemukan siapa korban, dan siapa pelakunya! Mayatnya berjenis kelamin apa?"


"Laki-laki, Pak..!"


"Sebaiknya, temukan hingga dapat ditemukan!"


"Baiklah pak ...!" Ucok keluar dari ruangan. Meskipun, badannya lelah ia tidak bisa berhenti untuk terus, mencari informasi tentang mayat tersebut, dan ia menemui Maya sebagai ahli forensik.


"Penyebab, kematian korban adalah karena cekikan dan tusukan berkali-kali, sepertinya terdapat beberapa luka, dan alat kelaminnya telah hilang, sepertinya pelaku sangat dendam ...! Bahkan, aku tidak bisa memeriksa data korban dengan sidik jarinya, karena telah rusak, terendam air, jadi tidak dapat terdeteksi oleh komputer."


"Baiklah, terimakasih banyak atas bantuannya! Aku, segera pulang." Angga keluar ruangan dan berjalan pergi. Tiba-tiba saja Maya menyusul dari belakang.


"Apakah kamu sudah memiliki kekasih?" Angga sempat terdiam sejenak. Tapi, ia melanjutkan perjalanan dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.


Ia, pulang ke rumah dan segera masak hingga ia terlalu lelah. Dan tertidur pulas di meja makan. Ucok memberi tahu jika Angga sudah pulang ke rumah. Mereka segera pulang. Ternyata sudah tertata rapi, makanan yang enak. Sedangkan koki nya telah tertidur pulas.


Nilam, ikut membaringkan wajahnya di meja makan. Dan menatap wajah Angga yang sangat tampan. Hingga ia terbangun dari tidurnya, Angga hanya tersenyum manis.


"Kenapa, gak dibangunin?"


"Kamu, pasti lelah sekali... Sampai tertidur pulas di meja makan!" Angga hanya tersenyum. Angga, bangun dari tidurnya dan mulai duduk, Angga menyuruh mereka untuk makan bersama. Akhirnya mereka makan bersama, penuh canda tawa.


****


Angga, sudah lebih dulu ke kantor. Karena ia mendengar laporan jika pelakunya sudah mengakui perbuatannya. Dan, mereka mencari bukti kejahatan yang dilakukan oleh pelaku. Dirumahnya, ternyata benar ada beberapa alat bukti, seperti kapak, cangkul,


"Untuk apa kamu melakukan hal itu?"


"Dia, ingin melecehkan saya, Saya tidak bisa menahannya hingga melukai korban, tadinya saya tidak berniat untuk melakukan hal tersebut, karena ia pacar ibuku, dan tidak tahan melihat adikku hampir di lecehkan.

__ADS_1


"Pelaku ada dua orang! Segera tangkap adiknya secepatnya mungkin!" Angga, memerintahkan kepada para anggotanya untuk segera melacak pelaku yang lainnya.


__ADS_2