
Pertandingan berakhir dan di menangkan oleh Farel sebagai perwakilan dari sekolah. Dan ia di angkat oleh temannya. Rey, kebetulan tidak ikut mendaftar karena hanya ada satu perwakilan di campur oleh sekolah lain.
'Kok gue jadi deg-degan terus saat melihat wajah Farel'
Farel menghampiri mereka yang tengah duduk.
"Gue haus ...?" Matanya terlihat melirik ke arah Raya. Raya, hanya menunduk malu. Aldo yang memberikan air minum itu. Ia, meneguk minumannya.
Banyak gadis yang ingin berfoto bersama Farel sebagai bintang basket tahun ini. Minggu depan ia akan menjadi perwakilan sekolah untuk melawan sekolah lain di depan wali kota.
Banyak gadis yang mendekatinya, wajah Raya sedikit berubah menjadi cemburu. Farel sesekali melirik Raya, namun ia juga tidak bisa menolak para gadis itu, ia tidak boleh mengecewakan fansnya.
"Kenapa muka loe cemberut begitu?" Dika, melirik ke arah Farel.
"Gak apa-apa!" Raya terlihat menarik nafasnya dalam-dalam.
"Farel sekarang banyak fansnya ya. Ya, emang sih. Udah ganteng tinggi, memiliki potensi besar untuk menjadi bintang basket. Gue emang gak suka sama dia, tapi gue salut sama perjuangannya untuk bisa menjadi ketua tim basket perwakilan untuk kota kita, bahkan ia bekerja sambil sekolah. Gue salut buat kehidupannya" Aldo terlihat heran dengan pernyataan Dika.
"Tumben loe muji si Farel. Biasanya juga loe berantem terus!"
"Ya kalau gue orangnya apa adanya aja, kalau baik ya baik. Kalau ada yang harus di ceritain kebaikannya ya gak apa-apa, sesuai dengan kenyataan."
"Iya juga sih, tumben loe bijak"
"Basi loe ...!"
"Emang makanan basi!" Mereka tertawa bersama.
'Loe tuh emang orang yang hebat. Gue belum tentu bisa seperti loe, banyak banget hal yang telah loe lalui selama ini' Rey, menatap Farel yang sedang sibuk melayani para fansnya.
"Guys, gue ijin bawa Raya makan dulu?" Farel menarik tangannya. Semua orang hanya terkesima melihat mereka berdua.
Akhirnya mereka pulang, Farel mengantarkan Raya. Raya turun dari motor, Raya berjalan. Farel memanggilnya.
"Raya ...?" Ia membalikkan badannya.
"Apa?" Ia terlihat tersenyum manis.
"Terimakasih untuk hari ini. Gue, gak akan pernah bisa lupain. Loe udah bikin hari ini, hari yang paling spesial, jika gue bisa, setiap hari seperti ini."
__ADS_1
Raya, hanya tersenyum. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, karena ia juga sangat senang dengan hari ini.
"Masuk, gue tunggu sampai loe aman, masuk ke dalam rumah." Raya menganggukkan kepalanya.
"Jangan lupa mimpiin gue!" Farel melambaikan tangannya.
Raya, berjalan dengan perasaan yang campur aduk, rasanya ia ingin loncat-loncat saking bahagianya. Ia, masuk ke dalam rumah. Farel mulai menyalakan motornya dan melambaikan tangannya. Raya menutup pintunya, ia segera berjalan menuju kamarnya dan disana Nilam sudah tertidur pulas.
Raya senyum-senyum sendiri, mengingat kejadian hari ini. Bahkan ia masih terbayang-bayang saat Farel mencium pipinya.
****
Angga, terlihat sedang melamun sendiri. Ia, hanya berputar-putar dengan kursinya, dengan memukul pulpen di kepalanya. Ucok, masuk ke ruangannya.
"Aduh, bikin kaget saja ...!" Angga, mengelus dadanya.
"Mohon maaf pak. .. Lapor pak. Pelakunya adalah tetangga korban ia sangat dekat dengan korban. Sepertinya, sebelum ia di bunuh, ia sempat di lecehkan oleh pelaku. Sehingga, ia takut jika korban melaporkan kejadian tersebut."
Baiklah, bagaimana dengan pelakunya?"
"Sepertinya ia sempat melarikan diri dari rumahnya, dan kami berhasil menembak kaki pelaku. Dan sekarang bisa langsung di interogasi."
"Pak, apa salah saya?"
"Bukti sudah kami kantongi, saat di temukan jenazah korban, kami menemukan ini!" Angga, memberikan sebuah kalung berwarna putih rantai, yang selalu pelaku bawa, alat bukti tersebut sepertinya tidak sengaja terjatuh saat menguburkan korban. Pelaku terdiam.
"Dan juga, kami sudah mengantongi bukti bahwa di dalam ponsel anda, anda sempat mencari cara untuk melenyapkan barang bukti, bahkan selalu update dengan informasi korban. Semata-mata untuk mengetahui jika korban belum di temukan dan anda merasa aman. Anda terkejut saat korban sudah di temukan setelah bertahun-tahun lamanya, dan anda menjadi panik, hingga memilih untuk kabur? Bukankah semua pernyataan ini benar?" Pelaku hanya menunduk dan pasrah dengan semua bukti tersebut. Ia tidak dapat mengelak lagi karena semua sudah jelas.
Kemudian ia, kembali ke dalam sel. Angga, terlihat melihat wajah Nilam dari ponselnya. Ia, pernah memfoto Nilam saat tertidur pulas di dalam mobil.
'Jika, merindukan seseorang itu berat, beginilah yang aku rasakan. Saat merindukanmu dengan rasa marah yang masih menyala' Angga menarik nafasnya dalam-dalam.
****
Raya hari ke kantor ayahnya, seperti biasa ia akan bertemu dengan PR
"HAY ...?" PR terlihat sangat senang dengan kehadiran Raya.
"Apa ini?" Ia, memberikan makanan kepada PR.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, semakin loe baik maka gue semakin suka sama loe?" Ia menundukkan kepalanya. Dan mulai memakannya. Raya, mengalihkan pembicaraan tersebut.
"Gimana, hari-hari loe selama disini?" Ia, hanya tersenyum. Tidak lama ia bicara.
"Gue, punya petunjuk.. Sepertinya, jika Abang gue adalah pelakunya?"
"Apa ada buktinya? Kenapa loe bisa seyakin itu?"
"Loe inget kan, loe pernah bilang kalau badan gue mirip dengan Abang gue, dan yang memiliki akses untuk keluar masuk adalah keluarga sendiri. Kamar gue canggih, ada kode untuk masuk ke dalam kamar. Dan, gue Inget banget mantan gue pernah cerita cowoknya mirip dengan gue, dan waktu kemarin gue pinjem handphone nya gak sengaja, gue lihat foto mereka berdua, kayanya lupa belum kehapus!"
"Betul banget sih. Terus buktinya sekarang apa?"
"Loe ingat temen gue, yang pernah pergoki gue lagi mau balapan. Dia bernama Ujang sebaiknya loe, cari dia untuk saksi. Karena di jam korban terbunuh itu jam gue berada di tempat balapan? Yang lain pada gak mau bersaksi buat gue, tapi gue yakin Ujang adalah orang baik, dia pasti mau nolongin gue?"
Raya terdiam sejenak, ia berpikir apakah ia bisa melakukan itu. PR memegangi tangannya.
"Gue, pasti udah bikin loe kepikiran, bahkan menambah beban untuk loe, gue janji loe gak salah nolongin orang, gue gak bohong, loe bisa tanyakan langsung sama Ujang, cuma dia bakalan bantu gue!" Raya, terlihat gugup saat PR menggenggam tangannya.
"Iya, gue harap benar ...!"
"Thanks ... Loe bisa panggil gue Bagas, karena PR cuma nama samaran, loe harus ingat nama gue Bagas, tanpa loe gue bukan apa-apa sekarang, karena cuma loe orang yang selalu ada buat gue!" Tatapannya sangat tajam, dengan senyuman yang manis. Bagas terlihat sangat tampan dengan wajah bad boy nya.
'Ternyata loe manis juga kalau di lihat-lihat'
"Hey ... Malah melamun, pasti gue merepotkan cewek secantik loe?"
"Gak, kok ... Gue pasti bakal ikhlas bantuin, ya udah gue berangkat dulu ya?" Raya, bergegas pergi. Ia, menelpon teman-temannya untuk berkumpul di taman kota. Mereka akhirnya berkumpul, Raya menceritakan semuanya. Kebetulan Farel sedang berjalan untuk latihan basket.
"Hey, mau kemana?" Farel mendekati mereka.
"Anu ... kita mau nyari bukti!" Aldo, keceplosan. Raya, terlihat was-was.
"Bukti apa?"
"Bukan apa-apa?" Raya berjalan. Farel mengejarnya dan menarik tangannya.
"Kenapa sih loe?"
'Aduh gawat, pasti dia bakal marah jika gue ceritain sebenarnya'
__ADS_1
"Raya, jujur ada apa?" Tatapannya membuat meleleh.