
Tangan Farel sudah melayang, ia bersiap-siap untuk melayangkan pukulannya di hadapan Nilam. Semua orang sudah berkumpul dan merasa tegang dengan apa yang akan terjadi. Aldo dan Dika, tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tahu resikonya bila menolong Nilam.
Saat, detik-detik paling menegangkan, tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang menahan pukulan Farel. Mereka semua terkejut, ternyata itu gadis cantik di sekolah itu, populer dan banyak di idamkan oleh para pria. Ia adalah, Sukma Indah.
"Berani ya loe ...!" Dengan tatapan matanya yang tajam. Farel, langsung terdiam. Farel, sangat menyukai Sukma, tapi Sukma tidak pernah membalas perasaannya. Farel, menghela nafas panjang. Ia, menunjuk ke arah Nilam.
"Inget, urusan kita belum selesai murid baru ...!" Farel pergi dengan tatapan kebencian. Sukma menghampiri Nilam.
"Kamu, tidak apa-apa?" Sukma, merasa khawatir.
"Tidak, terimakasih banyak ya!" Nilam tersenyum.
'Dia, emang sangat tampan dan manis!' Gumam Sukma dalam hati, Sukma memuja Raffi yang dia tidak tahu bahwa Raffi adalah perempuan.
"Kalau ada apa-apa bilang aja ya!" Nilam hanya tersenyum.
Aldo dan Dika segera membawa Nilam masuk ke dalam kelas.
****
Bell pulang berbunyi.
Angga, bergegas untuk menjemput anak-anak.
Ditengah perjalanan ia tidak sengaja hampir menabrak seorang pria misterius. Angga bergegas keluar untuk melihat pria itu.
"Pak, maaf! Ada yang terluka?"
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, dan pergi. Ia nampak sangat aneh. Terlihat tangganya terluka.
"Aneh sekali! Ya sudah aku harus buru-buru menjemput anak-anak dari sekolah!" Angga bergegas menuju sekolah.
Mereka sudah menunggu dan segera masuk ke dalam mobil. Dika, akan naik di bagian depan. Namun, Angga menolaknya.
"Biar, Nilam saja yang duduk di bangku depan!"
"Ya sudah!"
Nilam hanya tersenyum.
"Gimana, sekolah kamu? Apanada yang iseng?"
"Ada ... hampir aja dia di tonjok!"
Angga terkejut dengan perkataan Aldo.
'Ternyata, aku sudah membuat Nilam berada dalam masalah! Apa sebaiknya, misi ini di batalkan saja' Gumamnya dalam hati.
"Ah, enggak kok! Aku malah seneng banget bisa sekolah! Udah gak apa-apa kok! Aku bisa jaga diri!" Ucap Nilam dengan penuh optimis.
Telepon seluler berdering ....
Ucok memanggil ...
__ADS_1
Angga memberhentikan mobilnya ke pinggir dan mengangkat telepon tersebut.
"Pak, ini saya menemukan korban lagi, cuma masih dalam keadaan kritis! Baiklah saya akan kesana, share lokasi rumah sakit!"
"Baik, Pak!"
"Kalian, mau pulang apa ikut!"
"Ikut ...!" Mereka menjawab bersamaan.
Angga, bergegas menuju rumah sakit. Setelah sampai, Angga masuk ke ruang pasien. Disana sudah ada Ucok.
"Saya minta, tolong jaga pasien ini, jangan sampai kenapa-kenapa, karena ia adalah saksi kunci pembunuhan berantai!"
"Baik Pak!" Ucok hormat.
Nilam ikut masuk, ia melihat kondisi korban yang sangat parah. Dengan banyaknya luka sayatan dan pukulan. Wanita itu belum sadarkan diri.
*****
Keesokan harinya. Ada seorang perawat pria yang memasuki ruangan saksi. Nilam, sengaja tidak pulang untuk menjaga wanita itu.
"Permisi, saya mau memeriksa keadaan pasien!" Nilam hanya tersenyum.
Nilam, ingin ke kamar mandi, yang berada di dalam kamar inap. Tapi, ia memiliki firasat tidak enak akan perawat pria tersebut. Ia, memutuskan untuk segera kembali, namun yang ia lihat adalah pasien tersebut akan segera di bawa pergi dengan paksa. Nilam, segera mengejarnya, penjahat tersebut menaiki lift. Angga, yang baru saja datang melihat ke kamar tidak ada siapapun. Ia segera berlari mencari Nilam dan saksi kunci.
Kebetulan pagi itu masih sangat sepi, sehingga mudah untuk pelaku melarikan diri. Nilam, masih mengejar dan ia menggunakan teleportasi. Pelaku berada di garasi mobil. Nilam yang berada tepat didepannya membuatnya sangat terkejut. Ia mengarahkan sebuah pistol ke arah Nilam. Nilam hanya tersenyum.
"Silahkan, lakukan saja jika kau bisa!"
Pelaku, mulai panik ia hendak membunuh saksi dengan senjatanya. Namun, ia bingung siapa dulu yang akan ia bunuh. Sementara di sisi kanan ada Angga yang sedang mengawasinya dengan senjata api. Saksi yang mulai sadar, ia mulai berteriak-teriak. Nilam semakin mendekati. Angga sangat takut terjadi sesuatu dengan Nilam.
Pelaku, menembak ke arah Nilam. Sontak membuat Angga sangat terkejut. Ia segera berlari ke arah Nilam. Ucok datang dan menembak dari arah belakang. Pelaku, terjatuh dan segera di tangkap. Angga bergegas menghampiri Nilam, yang tetap berdiri. Ia, memeluk tubuh Nilam. Dan menghawatirkan keadaan Nilam.
"Kamu, tidak apa-apa?"
Ucok segera menghampiri, dan Angga memarahi.
"Aduh, gimana sih! Kalau ada apa-apa dengan Nilam bagaimana?"
"Maaf Pak, saya hanya di suruh oleh Nilam! Lagi pula, sudah memakai alat sesuai prosedur, karena kami yakin bahwa pelaku akan segera datang. Mohon maaf! Apa, kamu terluka?" Tanya Ucok cemas.
"Tidak apa-apa, nih lihat aja gak ada yang terluka kok, udah santai aja!" Nilam mencoba menyakinkan.
Angga, hanya terdiam memandangi wajah Nilam dengan penuh sinis.
"Lain kali, jika kalian memiliki ide jangan mendadak, saya tidak suka! Ayo semua, cepat selesaikan semua kekacauan ini!"
"Baik Pak!" Ucok segera membereskan pekerjaan.
Aldo dan Dika baru saja datang dan berada di kamar pasien. Mereka sedang tiduran sambil memainkan handphone.
Angga, masuk dengan mendorong pasien yang berada di kursi roda, pasien itu pingsan kembali. Aldo dan Dika tidak menyadari bahwa Angga sudah datang. Mereka bersantai dengan handphone dan cemilan.
__ADS_1
"Bagus ...!" Ucap Angga dengan nada tinggi. Sontak membuat mereka terkejut dan jatuh dari kasur. Mereka tersenyum lebar.
"Hehehe .... maaf!"
"Udah, jangan galak-galak! Kalian mau jemput aku sekolah kan!" Nilam mengalihkan pembicaraan.
"Iya dong! Ayo berangkat!"
"Tunggu ... kalian memang tidak bisa di andalkan. Bagaimana bisa kalian pulang meninggalkan Nilam sendirian!"
"Maaf, begini kami hanya pergi keluar saja! Iya gak Al ..do!" Aldo hanya terdiam kaku.
"Lain kali, jangan pernah meninggalkan Nilam sendirian!"
"Udah, lagian aku juga gak apa-apa kok! Aku kan masih punya kekuatan untuk menghadapi benda yang berbahaya!" Nilam tersenyum manis, namun wajah Angga tetap kesal.
'Kenapa, aku sangat menghawatirkan keadaan Nilam, padahal dia tidak apa-apa, entah mengapa aku, tidak ingin melihatnya terluka'
"Kak, kami pergi dulu ya. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam ..."
"Nilam, kayanya kak Angga sangat menghawatirkan keadaan kamu deh!" Aldo memulai percakapan.
"Ah masa sih!"
Angga, menyusul mereka.
"Tunggu ...! Biar, Kakak antar kalian"
"Baiklah, kalau kakak khawatir dengan kami!" Ucap Aldo.
"Besok, Kakak akan mencari supir pribadi untuk kalian! Aldo dan Dika, tolong Kakak minta pada kalian berdua untuk menjaga Nilam dengan baik, bahkan jangan biarkan bermain dengan pria lain selain kalian berdua!"
"Iya kak, siap!"
Setelah sampai, Angga tetap menunggu dari kejauhan. Farel, mendekati Nilam dan menunjuk tangannya memberi isyarat bahwa ia masih kesal terhadap Nilam tempo hari. Nilam hanya tersenyum.
Jam pelajaran di mulai. Seperti biasa Rey tidak pernah berbicara sepatah katapun.
Nilam, yang masih menyamar sebagai Raffi. Tidak pernah di gubris olehnya.
Nilam, lupa membawa pulpen nya saat jam pelajaran matematika. Nilam, mencari pulpen di dalam tasnya.
"Duh, kayanya pulpennya ketinggalan deh" Gumamnya dengan pelan.
Tiba-tiba saja, Rey menyodorkan sebuah pulpen. Tanpa sepatah katapun.
"Makasih banyak ya!"
Seperti biasa, Rey hanya terdiam membisu. tetap fokus pada papan tulis.
Jam istirahat sekolah di mulai. Nilam, Dika dan Aldo menuju kantin dan mereka memesan makanan. Rey terlihat hanya duduk sendirian. Nilam mengajak Aldo dan Dika untuk duduk di tempat Rey, namun mereka menolaknya. Nilam memaksa, akhirnya mereka pun setuju dengan berat hati.
__ADS_1
Seperti biasa, respon Rey hanya diam. Ia hanya menatap namun kembali melanjutkan makan. Mereka semua duduk.
Farel yang kebetulan duduk di sisi kanan, mengamati pergerakan mereka. Sepertinya ia memiliki rencana untuk mengerjai Nilam.