
"Kalian, sudah makannya! Sebaiknya, kita pulang!"
"Tapi, bagaimana dengan anak ini?"
"Ikutlah dengan kami!"
Angga, terdiam sejenak. Dan, menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah!"
"Tidak, aku tidak ingin merepotkan Kakak! Sebaiknya, aku pulang saja!
"Jangan, menolak!" Nilam, tersenyum manis.
Anak itu hanya tersenyum. Mereka bergegas menuju mobil, setelah sampai mereka di sambut oleh asisten rumah tangga. Separuh baya.
"Siapa ini kak?"
"Mbok Darmi yang akan membantu keperluan kalian!"
Mereka semua masuk, Nilam segera masuk ke dalam kamar, Angga mengetuk pintu dan berbicara.
"Bersiaplah, aku akan membawamu ke sebuah tempat!"
"Kemana?"
"Gak perlu banyak tanya!" Wajah Angga yang kaku.
Nilam, bergegas bersiap-siap untuk pergi bersama Angga. Nilam, sangat cantik. Angga, terdiam sejenak. Memikirkan betapa cantiknya gadis yang berada dihadapannya itu. Ia, segera mengajak Nilam pergi.
Setelah sampai, ternyata Angga mengajak Nilam ke sebuah toko buku. Nilam sangat menyukai buku. Angga, sangat senang membuat Nilam bahagia.
Saat ia membaca buku-buku, ia tidak sengaja bertemu dengan Rey yang memakai baju bebas, ia sangat tampan dan manis. Tidak sengaja mereka saling bertabrakan dan membuat buku yang di bawa Nilam berjatuhan. Mata mereka berdua saling bertatapan.
'Kenapa, saat memakai baju biasa ia terlihat sangat manis!' Gumamnya dalam hati, Nilam tersenyum, sedangkan Rey hanya menatap dengan diam.
Meskipun Rey, hanya diam tanpa ekspresi. Rey, tetap membereskan buku-buku yang berjatuhan. Dan ia segera pergi. Sebenarnya Rey tersenyum manis, saat pergi meninggalkan Nilam. Namun, Nilam tidak melihatnya.
Angga, mendekati Nilam.
"Gimana, udah selesai baca bukunya?"
"Sudah, ayo kita pulang!"
Angga, menghampiri Rey sebagai penjaga perpustakaan. Ia, menulis tanggal sewa untuk buku yang di sewa oleh Nilam. Mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, Nilam segera istirahat.
Angga, kembali ke kantor karena urusannya belum selesai.
"Ucok, gimana. Apa sudah mendapatkan pernyataan dari pelaku?"
"Maaf Pak, dia tidak memberikan alasan yang jelas!"
Angga, memasuki ruang interogasi. Ia, duduk di atas meja berhadapan langsung dengan pelaku.
"Tolong, jangan membuat permasalahan ini tidak kunjung selesai. Katakan, karena anakmu ada bersamaku saat ini!" Angga, menarik kerah leher pelaku. Pelaku, tersenyum sinis.
__ADS_1
"Oh, santai saja, justru saya yakin, anakku lebih aman bersamamu!"
Angga, memukul meja dengan keras.
Telepon berdering ...
Ucok, mengangkat telepon tersebut, dan ada wartawan yang mengabarkan bahwa ada mayat seorang gadis berusia lima belas tahun, di temukan di taman dekat kota. Angga, yang mendengar kabar itu, langsung meluapkan emosi kepada pelaku.
"Sudah habis kesabaranku ...! Aku, tidak ingin ada korban jiwa lagi, cukup!" Angga, melempar tubuh pelaku ke lantai.
Wartawan tiba-tiba berkerumun di depan kantor, untuk mewancarai pelaku. Angga, yang semakin tidak karuan, pikirannya tidak fokus. Wartawan masuk ke dalam kantor, membuat pikirannya menjadi sangat bersedih. Ia, merasa bersalah dengan nyawa gadis yang terus menerus hilang. Ia, tertunduk di kursi. Ia, merasa gagal. Ucok yang menghandle semuanya.
***
"Selamat pagi Pak!" Ucap mereka serentak.
Saat Pak Andi, duduk ia merasa menduduki sesuatu yang lengket, ia memeriksa celananya, ternyata terdapat permen karet.
"Siapa yang melakukan ini?"
Semua murid hanya terdiam membisu, dan saling menuding satu sama lain. Hingga membuat keributan.
"Berisik .... jika tidak ada yang mengakuinya kalian semua akan dihukum! Kalian tahu peraturan di sekolah ini, bahwa tidak ada yang boleh memakan permen karet! Kalian tahu, bekas permen karet kalian itu sudah membuat kerusuhan satu sekolah, menempel dimana-mana, dan akhirnya kena saya. Ayo, katakan siapa yang telah melakukan hal ini. Jika, dalam hitungan ketiga tidak ada yang mau mengaku juga kalian semua harus membersihkan seluruh sekolah. Hemm ... baiklah ... Saya, hitung ... satu ... dua ... ti ...!"
Tiba-tiba saja, Nilam berbicara. Saat, kebetulan Farel memasuki kelas.
"Farel Pak ...! Saya, lihat dia memakan permen karet"
Semua orang tertuju kepada Farel yang baru datang. Wajah pak Andi berubah memerah.
"Maksudnya gimana?" Farel, bingung dengan wajahnya yang polos. Ia memang tidak mengetahui apa-apa.
"Periksa saja Pak! Saya, baru datang udah maen tuduh aja, gimana caranya saya yang naruh bekas permen itu, di alam mimpi!" Semua orang mulai tertawa.
"Cek aja Pak!" Dengan sangat berani ia menantang guru tersebut. Saat guru menggeledah saku celananya, terdapat permen karet.
"Ini, apa ... Masih mau mengelak juga?" Farel, yang sejak awal sudah sangat percaya diri, mendadak menjadi ciut. Ia, bingung kenapa bisa ada permen karet di saku celananya.
"Bu ... bukan punya saya Pak! Berani sumpah?" Ia, memberikan isyarat tangan bahwa ia bersumpah.
"Terus, punya siapa, punya hantu? Ini ada di saku celana kamu, masa terbang sendiri ....!" Semua orang kembali tertawa. Farel, merasa di jebak oleh Raffi ia melihat ke arah Raffi yang sedang tertawa. Raffi terdiam saat Farel melihatnya.
"Ini, jelas-jelas ada di saku celana kamu? Emang, baju kamu dapat nyuri!"
"Ya, enggak sih! Tapi, kan saya tidak merasa!" Pak Andi langsung menjewer telinga Farel dan menyuruhnya untuk keluar dari kelasnya. Ia tidak bisa menerima alasan Farel.
Farel, memberikan sebuah kode kepada Raffi karena ia telah membuat Farel murka.
'Sialan si Raffi, lihat aja nanti ada pembalasan buat semua ini!' Ujarnya dalam hati. Sambil menatap sinis ke arah Raffi.
Bell pulang berbunyi ....
"Kayanya dari semalam juga Kak Angga gak pulang, sibuk banget kayanya!" Dika memulai percakapan.
"Iya udah kita naik angkot aja!" Timpal Aldo. Nilam hanya terdiam.
__ADS_1
"Kalian, pulang saja duluan, aku mau ke kantor Angga!" Nilam bergegas pergi ke kantor Angga. Dengan menggunakan kekuatannya, ia bisa berteleportasi, berpindah tempat. Aldo dan Dika tidak sempat menjawab, Nilam pergi begitu saja. Mereka berdua saling bertatapan, dan terlihat pasrah dengan keputusan Nilam.
Setibanya, disana sudah banyak wartawan, Nilam mencari Angga yang sedang bersedih di bangku, ia tertunduk. Dengan memegangi kepalanya.
Angga, hanya terdiam membisu. Nilam, duduk di sebelahnya. Dan mengusap pundaknya dengan perlahan.
"A ... ku, gagal ...! Aku, memang tidak berguna!" Angga, sangat terpukul dengan kejadian ini.
"Kita, pasti bisa menemukan solusi terbaik dari semua permasalahan ini! Kita, harus bersabar! Aku akan membantumu!"
Nilam, menarik tangan Angga, ia bertemu dengan pelaku, dan mulai berbicara. Ia, menggunakan kekuatannya dengan menyentuh tangannya. Agar pelaku mau mengakui kejahatannya.
Dia, tetap saja mengatakan bahwa ialah pelakunya. Nilam mendekati pelaku, ia memegang tangan pelaku dan melihat sesuatu, namun semua menjadi tidak jelas saat adegan pembunuhan itu terjadi.
'Sepertinya, ada pelaku lain, namun aku tidak mampu untuk membaca semuanya!' Nilam, berpikir dan hatinya. Tiba-tiba saja datang anak pelaku.
"Ayah ...!" Anak itu datang, sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menghampiri anaknya dari balik jendela.
"Anakku ...!" Matanya berbinar-binar.
"Ayah, tidak perlu lagi melakukan semua itu! Agus tidak ingin Ayah berkorban lebih banyak lagi, aku pasti sudah menjadi beban besar untuk Ayah!" Agus, menangis yang sesekali mengusap air matanya. Suasana berubah menjadi sangat sedih. Pria itu, menahan tangisnya dalam hati. Ia malah mengusir anak yang sangat ia cintai.
"Pergi, tidak usah menemui pembunuh seperti Ayah! Ayah bukan lagi, Ayahmu ...!" Pelaku berbalik badan, dengan mengusap air matanya. Karena takut terjadi kericuhan, ia di masukkan kembali ke dalam sel.
"Ayah ....!" Anak itu melambaikan tangan ke arah Ayahnya yang mulai masuk ke dalam sel lagi.
"Jangan, pernah datang kemari lagi!" Itulah, kata-kata yang ia ucapkan kepada anaknya, nampaknya ia menahan kesedihannya sendiri. Ia, harus mengatakan apa yang berlawanan dengan hatinya.
Anak itu menangis tersedu-sedu, Nilam meneteskan air matanya. Ia, jadi merindukan sosok Ayahnya.
Nilam, mengajak anak itu untuk membeli sebuah es krim. Ia, mencoba untuk mencairkan suasana. Saat, mereka berdua berjalan, sebuah motor melindas lubang yang terdapat air, dan tepat mengenai baju Nilam yang sedang berjalan. Sontak membuat Nilam dan Agus berhenti. Dan, motor itu ternyata motor Farel, ia mulai melangkah mundur, seperti ia akan meminta maaf. Namun, Nilam yang menyadari itu adalah Farel segera mengajak Agus berlari.
"Hey ...!" Farel, segera membalikkan motornya, dan menghampiri Nilam.
"Gue, cuma mau minta maaf, kenapa lari ...!" Ia turun dari motornya dan menghampiri Nilam. Nilam, hanya tertunduk, Farel tidak mengenalnya. Karena, ia bukan Raffi melainkan Nilam.
'Cantik juga ...!' Ujarnya dalam hati.
"U ... udah, aku maafin kok! Aku pergi dulu ...!" Nilam, berlari membawa Agus. Farel hanya terdiam. Ia heran kenapa gadis itu berlari dengan terburu-buru.
Angga, yang melihat dari kejauhan, merasa Nilam menyukai pria itu. Karena, Nilam sangat grogi saat bertemu dengan teman sekelasnya itu. Angga, menyusul mereka berdua.
"Nilam, sebaiknya kita pulang!" Wajah Angga, berubah menjadi sangat jutek. Ia, tidak berbicara sepatah katapun. Walaupun, Nilam mencoba bertanya. Sampai rumah pun Angga tidak berbicara.
Saat, makan malam, Angga hanya fokus makan. Dan, pergi menuju kamarnya.
"Kenapa sih ...?" Nilam bertanya kepada Aldo dan Dika. Mereka berdua hanya mengangkat kedua bahunya, menandakan tidak mengetahui kenapa Angga tidak mau bicara.
"Aneh, banget tapi, tumben mogok ngomong ...! Pasti ada apa-apanya?" Dika, memulai percakapan.
"Mungkin, karena kasus yang tidak kunjung selesai ...! Itu, perkara Bapaknya si Agus yang jadi pembunuh ..!" Dika dan Nilam, menyenggol lengan Aldo yang terus berbicara, dan benar saja Agus mendengar percakapan mereka. Hingga membuat hatinya sangat sedih. Agus, menangis di kamar. Nilam, yang sadar menghampiri Agus dan mengusap pundaknya.
"Maaf, kalau kami salah bicara!"
"A...aku yang salah, tidak mencegah Ayah dari awal, maaf ...!"
__ADS_1
"Tidak ... kamu tidak bersalah, sudah jangan dipikirkan, sekarang kamu fokus untuk hidup, masa depan kamu masih panjang!"
Agus, hanya memeluk tubuh Nilam, dengan berlinang air mata.