Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Ingatan yang mulai terlihat


__ADS_3

Angga, segera menuju kantornya untuk melihat berkas laporan, dan ia melihat mading yang sedang ia penuhi dengan coretan, foto dan benang merah yang saling berkaitan.


"Sepertinya aku harus begadang, kebetulan juga aku tidak bisa tidur! Apakah Nilam sudah makan?" Ia terlihat gelisah memikirkan Nilam, ia tertunduk di atas meja dan seperti melihat bayangan Nilam yang sedang tersenyum manis. Dengan berputar-putar.


Ia, berpikir apakah ia benar-benar jatuh cinta pada Nilam. Sementara itu Nilam tidak dapat tidur, ia hanya berguling-guling di kasur, dan kembali terduduk dengan menatap ke arah dinding, ia melihat wajah Angga yang sedang tertidur pulas di meja kerjanya. Sepertinya kekuatan Nilam mulai bereaksi sedikit demi sedikit. Itu karena ingatannya mulai sedikit demi sedikit mulai terbuka.


"Sepertinya, Angga terlalu lelah! Setelah mencariku? Ia sangat manis saat sedang tertidur!" Ia tidak sengaja mengelus pipi Angga dalam bayangannya yang terhubung dengan mimpi Angga, Angga menyentuh tangannya dengan lembut dengan mata yang terpejam.


"Tolong jangan tinggalkan aku?" Angga terkejut dan terbangun dari tidurnya.


"Ouh ... ternyata hanya mimpi! Tapi entah mengapa rasanya seperti nyata! Tanganku masih terasa hangat seperti telah memegang tangan seseorang!" Ia melanjutkan tidurnya.


Nilam terkejut, ia merasa kekuatannya hampir seratus persen mulai pulih. Bisa mendatangi mimpi orang lain. Akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak karena telah melihat wajah Angga dan tangannya terasa sangat hangat setelah disentuh oleh Angga. Nilam tertidur dengan senyuman.


****


Keesokan harinya. Farel mengajak Nilam untuk segera bergegas menuju meja makan.


"Raffi, loe sebenarnya siapanya Aldo dan Dika?" Nilam tertegun sejenak.


"Tentunya keluarga!" Ia terlihat gugup dengan menyeruput teh manis.


'Kelihatan banget, ada yang loe sembunyikan dari semua ini!' Farel hanya tersenyum.


"Kemana ibu?" Nilam, mengalihkan pembicaraan.


"Oh, ibu kalau jam segini suka ke pasar karena ibu itu punya usaha kue, jadi ia akan kembali ke rumah setelah aku berangkat sekolah!"


"Oh, begitu!"


"Cepetan, gue males kalo harus terlambat!" Mereka bergegas menuju ke sekolah. Aldo dan Dika yang sudah antusias menunggu Nilam. Sangat bahagia saat melihat wajah Nilam kembali. Disana sudah ada Raya yang sudah mulai masuk ke sekolah.


Aldo dan Dika heran, kenapa tiba-tiba saja mereka melihat Farel yang berbeda dari biasanya. Ia terlihat lebih tenang. Rey, yang baru saja datang melihat Nilam yang di bonceng oleh Farel.


'Apakah Farel juga mengetahui jika Nilam adalah seorang gadis!' Pikirnya dalam hati. Ia berjalan melewati Nilam. Ia segera pergi ke perpustakaan karena ia baru ingat bukunya tertinggal di perpustakaan kemarin.


Bell mulai berbunyi. Semuanya telah masuk ke dalam kelas. Rey, masih mencari bukunya yang lupa ia simpan. Setelah lama ia mencari akhirnya ketemu juga, ia segera masuk ke dalam kelas. Ia segera duduk di bangku. Tidak lama seorang guru IPA datang dan menanyakan tugas, Nilam baru ingat kalau bukunya kebasahan.

__ADS_1


'Aduh bagaimana ini! Gurunya galak, bisa habis di hukum!'


Aldo dan Dika khawatir takut Nilam di hukum oleh guru IPA yang super galak. Rey, yang mendengar pembicaraan mereka.


"Tolong ya, yang tidak mengerjakan tugas, tolong keluar dari kelas, sampai pelajaran saya selesai! Saya paling tidak suka dengan orang yang tidak mendengarkan apa yang saya perintahkan!"


Saat Nilam akan berdiri, karena ia tidak mengerjakan tugas, Rey dengan sigap, berdiri dengan memberikan tugas yang telah ia kerjakan kepada Nilam. Nilam hanya bingung, kenapa Rey memberikan tugasnya kepada Nilam, ia segera keluar ruangan kelas. Farel yang melihatnya merasa aneh dengan Rey.


'Kenapa, Rey bisa ngelakuin apapun demi Raffi! Apakah dia begitu istimewa, hingga rela berkorban untuk Raffi, apakah benar jika Rey tidak menyukai seorang gadis!' Farel merasa heran. Ia bertanya-tanya dalam hati.


Jam pelajaran usai. Nilam keluar dari kelas, dan melihat Rey yang terlihat pegal dia sedang menggerakkan seluruh tubuhnya, karena sudah dua jam ia berdiri. Nilam menghampiri saat Rey sedang merenggangkan tubuhnya, tangannya membentur tubuh Nilam hingga membuatnya terjatuh, Rey langsung menarik tangan Nilam, hingga membuatnya jatuh ke pelukannya.


Deg ... deg ... deg ...


Degup jantung mereka berdua berdegup kencang. Farel yang melihatnya merasa aneh.


"Wah, bener-bener udah gak normal!" Ia menggelengkan kepalanya.


Rey, mengusap kepalanya.


Nilam, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aldo dan Dika langsung menarik tangan Nilam. Mereka merenyitkan matanya memberikan kode.


"Nilam, apa kata orang lain! Aduh, ayo cepat pergi!" Rey, malah mengejar dan berbicara dengan Aldo, agar membiarkan ia membawa Nilam untuk ke belakang sekolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Aldo dan Dika bingung akhirnya mengijinkan. Tapi mereka mengikuti dari arah belakang.


"Sorry, kalau aku bawa kamu kesini!"


"Aku punya buku yang sudah pasti kamu sukai!" Nilam mengambilnya. Ia merasa melihat sesuatu yang ia ingat. Hampir saja Nilam pingsan, karena ia hampir bisa mengingat jelas semua ingatannya dengan sangat cepat. Semua bayangan masa lalunya. Rey memegangi tangan Nilam.


"Kamu tidak apa-apa?" Wajahnya terlihat cemas dengan Nilam.


Nilam hanya menggelengkan kepalanya. Nilam memegangi kepalanya.


"Aku, hanya ingin bicara sejujurnya! Kenapa,.. Aku juga tidak tahu! Aku merasa sudah menjadi gila, aku merasa diriku terhipnotis hingga saat aku tahu kamu dalam kesulitan, tiba-tiba saja aku akan melakukan apapun itu, hanya untuk membuatmu merasa aman! Aku merasa ingin selalu melindungimu, maaf jika aku berlebihan! Terserah jika kamu menganggap ku apapun, aku tidak peduli yang jelas ini semua datang begitu saja!" Nilam hanya terdiam ia justru bingung dengan perkataan Rey.


"Apa, kau sungguh tidak normal?" Nilam pergi begitu saja. Rey hanya tersenyum.


'Apakah aku telah mengatakan perasaanku yang sesungguhnya!' Oh, apakah ini memalukan!' Rey, berjalan sambil memegangi dadanya, ia merasa sangat malu terhadap Nilam.

__ADS_1


Aldo dan Dika menghampiri Nilam yang sedang duduk dengan membuka buku yang diberikan oleh Rey. Ia, melihat gambar seperti di peri awan.


"Woy ... serius banget!" Nilam yang terkejut langsung memasang wajah juteknya.


"Gak usah bad mood gitu!" Dika mencoba merayunya.


"Mau di traktir makan siang? Baso dua mangkuk?"


"Wah, seriusan! Tapi,... gak ah!" Nilam tetap terlihat sangat jutek.


Aldo, berpura-pura menelpon Angga.


"Iya, kak! Lihatlah Nilam tidak ingin makan?" Nilam, langsung menarik handphonenya.


"Ih, kok bohong sih!"


"Udahlah jangan bad mood gitu!" Aldo mulai mendekati dengan wajah yang terlihat sedih.


"Apakah kamu sudah mengingat semuanya?" Tanya Aldo yang mulai curiga.


"Bagaimana bisa tahu?"


"Kami tidak sengaja melihat diary yang kamu tulis di kamar, kebetulan saja saat itu terbuka, dan kami membacanya! Apakah jika kamu sudah mengingat semuanya, kamu akan meninggalkan kami semua?"


Nilam hanya terdiam ia tidak tahu apa yang ia jawab. Karena ia juga belum sepenuhnya bisa mengingat semuanya.


Angga, ternyata berada di balik pohon. Ia yang tadinya ingin menghampiri mereka, terhenti saat mendengarkan percakapan yang membuat hatinya menjadi sangat sedih.


Nilam meneteskan air matanya, ia takut jika semuanya sudah terjawab mengapa ia berada di bumi, dan harus meninggalkan mereka. Sungguh terlalu itu menyakitkan baginya. Aldo dan Dika juga menangis, mereka berpelukan. Aldo dan Dika adalah sahabat terbaik baginya selama tinggal di bumi.


Angga datang dengan membawa banyak makanan, namun ia tidak bisa lama karena masih banyak tugas yang harus ia selesaikan. Saat akan pamit pulang. Nilam melihat sesuatu yang berbahaya bagi keselamatan Angga.


Ia melihat hal buruk akan terjadi pada Angga. Terlihat banyak darah di bayangannya, dan Angga terlihat sangat tidak berdaya. Sayangnya Angga tetap pergi dan bilang semuanya akan baik-baik saja!


"Ada, sesuatu yang buruk? Kita harus menyelamatkan Angga!"


Mereka bergegas menyusun rencana. Angga sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan yang dibicarakan oleh wartawan, ia mengajak Ucok dan Firman. Mereka berangkat menuju lokasi tiba-tiba saja mobil mereka berhenti karena ban mereka harus di ganti dengan yang baru. Firman mengecek keluar mobil dengan hati-hati, tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul kepalanya hingga ia terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2