Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Yakinlah semua akan baik-baik saja


__ADS_3

Jam istirahat sekolah. Semua orang telah keluar dari kelas. Farel, menyusul Raya. Ia, berdiri tepat di depannya.


"Gue, mau bicara ...?" Farel terlihat sangat serius. Raya, hanya menatapnya dengan tatapan yang marah. Tiba-tiba saja, dari belakang Farel, Sukma memegangi tangannya.


"Ke kantin yuk ...?" Sukma tersenyum kepada Raya.


"Raya, kamu kemana aja. Baru kelihatan!" Raya terlihat sangat cemburu. Melihat Sukma memegangi tangan Farel, ia menatap tajam ke arah mereka dengan sinis. Farel yang berusaha untuk melepaskan diri tidak enak. Raya menjawabnya dengan nada yang sedikit jutek.


"Alhamdulillah ... baik ...!" Raya, berjalan pergi dengan perasaan yang campur aduk. Rasanya ia sangat membenci Farel, namun ia juga belum bisa menghilangkan semua perasaannya terhadap Farel.


'Ku benci kau dengan cintaku. Terkadang aku merasa benar-benar mencintaimu tapi di lain sisi aku merasa sangat membencimu. Salahkan semua perasaan ini'. Gumamnya dalam hati. Meskipun wajah tersenyum belum tentu hati juga tersenyum. Luka tetaplah luka. Itulah pikirnya.


Farel, semakin merasa sangat bersalah.


'Pasti ... Raya semakin membenciku. Justru gue yang semakin sakit, berpura-pura tidak mengerti. Berada dalam dilema besar.' Farel mulai dilema besar ia, terlihat plimpan soal perasaannya sekarang. Dulu yang ia tahu, ia begitu menyukai Sukma setengah mati, tapi kini ia setengah mati ingin menghindarinya. Ia, sudah terjebak oleh perasaannya terhadap Raya. Saat di kantin sekolah. Semua orang sedang sibuk mengantri makanan. Farel di berdiri di bagian ketiga dibelakang Raya. Ia, terlihat seksama memperhatikan apa yang di sukai oleh Sukma, agar ia bisa memberikan untuk Raya nanti. Karena ia pintar memasak.


Farel terus menatap wajah Raya dari meja seberang. Sukma, ingin menyuapi Farel. Farel terlihat melirik ke arah Raya yang juga melihatnya.


"Ayo ... makan?"


'Gimana ini, gue harus gimana, bingung dengan keadaan ini. Diantara tidak enak dengan Sukma, atau melihat Raya semakin membenciku?' Sukma, tiba-tiba saja. Langsung menyuapinya. Farel terkejut dan menatap ke arah Raya yang terlihat semakin marah. Raya terlihat, sedang mengaduk-aduk minumannya dengan penuh emosi. Hingga tumpah. Farel yang melihatnya, ingin membantunya namun Sukma sudah menahannya.


"Mau, kemana?" Sukma, menahan tangannya. Farel terpaksa harus menghentikan niatnya untuk membantu Raya.


"Ayam eh ...!" Dika, spontan terkejut.


"Loe ... gak apa-apa kan?" Aldo yang sejak tadi bingung dengan sikapnya. Nilam membantunya untuk membersihkan dengan tisu. Rey, hanya terdiam ia mengerti apa yang terjadi.


' Ia, terlihat sangat cantik jika sedang cemburu.' Gumamnya dalam hati dengan sambil mengunyah makanannya. Raya, menjawab.


"Gak apa-apa...! Its ok ...!" Ia, melanjutkan makan. Raut wajahnya terlihat sangat tidak mood.


***


Raya telah sampai di rumah, Nilam juga terlihat sedang tiduran di atas kasur. Ucok menelpon Raya untuk datang ke cafe karena kantornya telah memesan roti, minuman dan nasi box dari cafe snow. Untuk jam makan sore.


'Bukannya itu tempat Farel bekerja!' Gumamnya dalam hati.


"Ah, males Yah ...!" Ia, menggerutu.


"Kok, males sih. Kamu, cuma ambil bon nya saja. Dan tanda bukti. Nanti mereka yang anterinya. Udah gak usah banyak alasan" Ayahnya langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


"Malesin ...!" Ia, mengacak-acak rambutnya. Nilam terbangun dari tidurnya dan bertanya apa yang terjadi. Ia, bercerita. Tapi bagaimana lagi, mereka harus segera menyelesaikan tugasnya. Mereka berdua bersiap-siap menuju cafe. Raya yang membawa motor. Raya terlihat tidak ingin masuk. Jadi hanya Nilam yang masuk. Farel yang telah mengetahui bahwa Nilam adalah perempuan.


"Loe, cantik banget ya. Kalau jadi perempuan seutuhnya." Nilam terlihat sangat malu. Nilam tidak menjawab pertanyaan tersebut.


"Eh, ngomong-ngomong si tomboi mana?" Ia begitu penasaran. Nilam hanya tersenyum. Ia, memberikan sebuah kode, dengan menunjukkan tangannya ke arah luar. Bahwa, Raya sedang di luar menunggu.


"Aku, mau ke toilet dulu ya. Nanti kertasnya, aku ambil, atau kamu anterin aja sendiri ke orangnya." Nilam pergi menuju toilet. Farel dengan senang hati, ia segera membawa bon tersebut dan keluar dari ruangan kerjanya.


Farel yang bertugas untuk mengantarkan pesenan tersebut. Dan sekalian ia akan pulang.


Raya, mendengar suara langkah kaki. Yang ia pikir itu Nilam. Tiba-tiba saja tangan menyodorkan secarik kertas bon. Tanpa ia lihat siapa yang berada di hadapannya.


"Cepetan naik!" Farel duduk di belakangnya. Namun Raya, terlihat serius melihat tulisan tersebut. Hingga ia tidak menyadari bahwa itu adalah Farel.


"Loe, gak bilang kan kalau gue ikut! Gue, males banget ketemu dia. Dia tuh cowok yang gak konsisten dengan ucapannya, iya sih gue cemburu tapi dia juga jadi cowok bener-bener gak peka. Benar-benar aneh ...! Gue males-males pokoknya ...! Dia tuh nyakitin tau gak. Tapi aneh juga kenapa gue udah terlanjur nyaman dengan semua perasaan ini." Ia, memukul motornya dengan pelan. Tanda protes terhadap perasaannya. Farel yang sejak tadi, hanya tersenyum melihat tingkah lakunya yang lucu. Ia semakin menyukai Raya. Lucunya sejak tadi, Raya benar-benar tidak menyadarinya.


"Loe, diem aja sih dari tadi gue cerita ...!" Ia, menoleh ke belakang. Dan terkejut yang ia lihat bukannya Nilam, melainkan Farel. Rasanya detak jantungnya berhenti berdetak. Ia, sangat malu. Ia membalikkan badannya dan menutup helm nya.


"Mati gue ....!" Ia, menepuk kepalanya. Nilam datang setelah dari toilet.


"Cepetan naik ...!" Ia, memberikan sebuah kode, lirikan matanya kepada Nilam agar segera naik.


Farel hanya tersenyum, ia tidak berbicara sepatah katapun. Ia, turun dari motor. Nilam naik dan Raya sangat malu dengan pengakuannya tadi, wajahnya terlihat sangat memerah. Sesampainya di kantor. Ia, terus memegangi dadanya. Ia, masih terbayang dengan tatapan mata Farel saat di motor tadi. Terlihat berbeda. Sangat tajam dan dengan senyuman yang manis. Hingga membuat jantungnya seolah-olah berhenti berdetak. Di tengah lamunannya. Ayahnya menanyakan bon tadi, ia memberikan bon tersebut. Tidak lama, Farel datang dengan membawa semua makanan tersebut. Ia, berpura-pura tidak melihatnya, karena masih malu dengan kejadian barusan.


Raya yang melihatnya, berniat untuk membantunya. Karena ayahnya telah bercerita tentang kisahnya. Hingga ia tertarik untuk lebih dekat dengannya. Raya, bertanya kenapa ia terus mogok makan.


"Aku, sudah tidak punya alasan untuk hidup..! Semua orang yang paling aku sayangi, kini mereka sudah tidak mempercaiku lagi. Itulah yang paling sakit." Ia, tertunduk, dengan kedua kakinya yang ia pegangi.


”Seburuk-buruknya hidup kita, pasti orang lain lebih buruk ...! Apapun alasannya kamu harus terus bertahan hidup.! Aku yakin mereka memiliki sebuah alasan besar!" Ia, tetap tidak menggubris perkataan saya.


"Bagaimana jika, ibumu bersedih, aku yakin semua orang tua akan selalu menyayangi anaknya. Kamu beruntung masih memiliki seorang ibu. Aku hanya ingin melihat wajah ibuku. Sejak kecil aku hanya melihatnya melalui sebuah foto.! Jujur saja aku sering menangis jika melihat orang lain bersama ibunya!" Raya, terlihat sangat sedih. Pria itu mulai terketuk hatinya. Ia, mulai bertanya kepada Raya. Ia, terlihat sangat senang.


"Kalau bukan kamu pelakunya, lalu siapa orang yang paling mungkin kamu curigai?" Ia terlihat menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Aku, memiliki musuh dari Genk motor lain, tapi aku juga tidak begitu yakin. Kenapa harus mantan pacarku yang menjadi korban, bahkan ia sedang hamil, sementara aku tidak pernah berhubungan dengan dia. Dan yang membuatku semakin bingung adalah semua bukti yang kuat untuk menjebakku. Bagaimana aku bisa mencari bukti bahwa bukan aku pelakunya. Jika aku sudah masuk sel ini." Raya terlihat sangat iba. Bahkan ia ikut memikirkan untuk membantunya.


Sementara Nilam mencari keberadaan Angga yang sejak tadi tidak terlihat. Matanya melirik kesana kemarin. Dibelakangnya ada seseorang yang bertanya kepadanya.


"Nyari siapa?"


"Angga!"

__ADS_1


"Kenapa, kangen ya ..?"


"Iya ...!" Saat ia sadar itu suara Angga, ia menoleh ke belakang. Ia, terlihat sangat malu. Ia, hanya tersenyum. Angga terlihat sangat senang dengan ucapan Nilam.


"Ini, makanan?" Angga, menyodorkan sebuah makanan. Tatapannya sangat hangat, seperti hujan deras yang mengguyur di saat panas. Senyumannya membuat siapapun akan meleleh. Bagaimana tidak, pria yang memiliki tinggi 180cm. Tubuhnya sangat bagus, memakai baju apapun akan cocok dengan wajahnya. Wajahnya sangat bersih, putih mulus, dengan badan yang ideal. Entah berapa banyak wanita yang telah ia tolak, karena hampir setiap hari, followers di Instagram nya wanita. Hari ini ia memakai kemeja batik hijau, dengan tangannya yang di gulung. Menambah ketampanannya.


Nilam hanya terpesona sampai ia tidak bisa berkata-kata lagi. Angga, mengibaskan tangannya.


"Kamu kenapa?"


"Ah ... gak apa-apa!" Angga, mengusap kepalanya. Dan berbisik.


"Aku juga kangen sama kamu!" Seketika itu, jantungnya berdegup kencang. Ia, bahkan tidak bisa menghentikan jantungnya yang tidak beraturan membuatnya sedikit sesak nafas. Raya datang dan membuyarkan keromantisan mereka berdua.


"Maaf, mengganggu sebentar ...!" Raya, menarik tangannya. Dan sedikit menjauh. Angga terlihat sedikit kesal, karena di ganggu oleh Raya.


"Ada apa?"


"Nanti aja dirumah!" Nilam hanya mengganguk tanda setuju.


Farel berdiri tepat di depannya. Raya terlihat menghindari. Farel, terus mengejarnya hingga keluar. Ia, menarik tangannya.


"Gue, mau bicara soal...?" Tiba-tiba saja ayahnya memanggil Raya. Untuk segera masuk dan makan bersama.


Farel, terlihat sangat kesal. Ia, menendang tong sampah, hingga di marahin oleh petugas kebersihan disana.


"Maaf pak ...!" Ia, berniat menunggu Raya sampai selesai. Ia, duduk di teras luar. Sementara di dalam mereka sedang makan bersama. Raya memikirkan apakah Farel sudah makan. Raya tidak jadi memakan makanan tersebut. Ia, menyimpannya untuk Farel jika Farel masih menunggunya di luar. Ia, memasukkan makanan tersebut ke dalam tasnya. Semua orang sibuk dengan makanannya. Nilam duduk di samping Angga. Angga menarik tangannya, memegangi tangannya, di kolong meja.


'Aku, merasa sangat senang jika berada di dekatnya. Tapi entah mengapa rasanya ada yang mengganjal, ada apa ini.' Gumamnya dalam hati. Angga, terlihat sangat fokus makan sambil mengobrol dengan semua rekan kerjanya.


'Tangannya begitu hangat dan lembut.' Angga, terus menggenggam tangannya. Sesekali ia melirik Nilam dan tersenyum manis.


'Rasanya, mau pingsan ...!' Ia, tertunduk malu dan seperti mimpi.


'Jika ini mimpi, aku berharap bukan, jika iya. Bahkan aku ingin selalu seperti ini.'


Raya, keluar ruangan karena hujan deras. Ia, takut jika Farel menunggunya. Saat ia keluar ternyata Farel sudah tidak ada. Ia, menghela nafas kecewa.


"Dasar ... selalu begitu ...! Bodoh banget sih gue ...!" Ia terlihat marah-marah. Saat berbalik badan, disana sudah ada Farel yang sejak tadi memperhatikan, setelah ia dari toilet. Tatapannya sangat tajam dan mendekati Raya.


"Kamu, gak perlu khawatir. Aku selalu menunggumu!" Seketika itu, perasaan bencinya mulai menghilang. Farel yang terlihat membasahi rambutnya dan terlihat sangat tampan. Raya, terkesima karena ternyata Farel menunggunya, dengan waktu yang lama. Mereka berdua masih saling bertatapan. Hingga suara petir yang membuat Raya terkejut dan dengan spontan memeluk Farel.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Ada aku ...! It's oke." Farel mengusap punggungnya. Raya terdengar menangis.


__ADS_2