Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Tangisan yang menyedihkan


__ADS_3

"Farel, hari ini kan hari minggu kamu libur sekolah, ibu ingin ke pasar, bisakah kamu nganterin ibu?"


"Tentunya dengan senang hati, siap mengantarkan ibu negara!" Farel begitu sangat mencintai ibunya. Mereka bergegas pergi menuju pasar.


Farel menunggu di pinggir jalan. Ibunya berbelanja, dan tidak sengaja ayahnya Farel melihat Lastri. Kemudian ia turun dari mobilnya dan menghampiri.


"Lastri ..." Dengan wajah yang terkejut. Lastri, langsung bergegas pergi. Mantannya itu mengejarnya dan menarik tangannya.


"Lastri ... tolong dengarkan aku dulu!"


"Untuk apa? Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, jadi untuk apa kamu terus mengikuti langkahku?"


"Memang ... hubungan kita telah berakhir. Tapi, aku telah menyesal karena telah melukai perasaan kamu, tolonglah maafkan aku?" Lastri hanya menangis, hatinya yang telah pulih kembali merasakan sakit hati karena bertemu dengan masa lalunya.


"Aryo ... dengarkan aku, tidak semudah itu untuk memaafkan. Meskipun, mulutku telah memaafkan semua kesalahanmu, tapi hati ini tidak akan pernah bisa lupa. Apa yang terjadi di masa lalu, hati ini sudah hancur berkeping-keping, bahkan aku sudah tidak sanggup setiap kali mengingat semuanya. Jadi tolong jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"


Farel yang melihat dari kejauhan, menghampiri dan langsung menjauhkan dari ayahnya.


"Farel, kamu sudah begitu besar dan tampan?" Ayahnya mendekati dan berlinang air mata. Ia, mendekati anaknya, namun langkahnya terhenti saat Farel mulai marah.


"Jangan mendekat ... tolong ayah segera pergi dari hadapan kami? Karena kami tidak ingin melihat wajah ayah lagi!" Farel, dengan penuh emosi. Memasang wajah yang kesal.


"Nak ... tolong dengarkan ayah, walau bagaimanapun juga ayah ini tetaplah ayahmu? Ini masalah antara ibu dan ayah, tidak ada urusan dengan dirimu?"


"Apa ayah bilang, tidak ada urusan dengan diriku! Apa tidak salah! Jika ayah menyakiti hati ibu, berati ayah menyakiti hatiku. Betapa terlukanya hati ini, orang bilang urusan orang tua adalah urusan orang tua, tapi kalian tidak pernah memikirkan bagaimana menjadi kami sebagai korban, sakitnya melihat orang-orang yang masih memiliki orang tua yang utuh dan harmonis. Ayah telah membuang semuanya begitu saja, melupakan semuanya yang telah kita lalui bersama. Di saat ayah susah kami berdua selalu setia menemani, hingga ayah sukses. Saat itu ayah melupakan kami dan memilih kesenangan sendiri. Bertahun-tahun lamanya kami mulai mengubur dalam-dalam, tapi kini ayah datang tanpa rasa bersalah, apakah ayah sudah tidak memiliki hati? Oh, iya aku lupa jika benar ayah memiliki hati, pasti ayah tidak akan setega itu terhadap kami. Jadi, tolong .... pergilah. Hubungan kita telah berakhir, tidak ada lagi hubungan darah antara aku dan dirimu ...!" Farel, berlinang air mata. Ia, memeluk ibunya. Ayahnya, memutar tubuhnya dan berlalu pergi.


Ayahnya hanya menangis karena menyesali perbuatannya itu.

__ADS_1


"Pak ... kita jadi untuk cuci darah ...?" Tanya supir pribadinya itu.


Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Ia meratapi nasibnya sendiri yang sudah kehilangan kedua orang yang amat berharga. Tapi ia sadar bahwa kehadirannya sudah tidak bisa di maafkan lagi.


'Meskipun bagaimanapun kalian tetaplah di hatiku, meskipun kalian sudah tidak bisa memaafkan aku lagi. Aku sadar kesalahan ini terlalu besar sehingga tidak pantas untuk dimaafkan. Sebelum aku pergi untuk selamanya, aku ingin kalian bisa hidup terjamin. Semua asuransi telah atas nama kalian. Aku hanya ingin bicara seperti itu. Aku harus mencari orang yang mampu aku percayai' Mobilnya melaju pergi. Dan ia masih menatap kedua orang yang paling ia cintai, meskipun pandangan mereka sudah berubah menjadi benci.


Farel, mengantarkan ibunya untuk pulang.


"Ibu, tidak apa-apa?"


"tidak nak ... kamu tenang saja ya!"


"Kenapa ayah begitu Bu? Kenapa manusia suka menyakiti hati orang lain?"


"Farel ... manusia itu, sering kali menyakiti tanpa mereka sadari. Karena kita tidak pernah bisa memaksakan orang lain untuk selalu setia, dan sayang terhadap kita. Karena perasaan mereka cepat sekali berubah" Suaranya begitu merdu dan lembut terdengar. Farel yang mendengarnya merasa ada benarnya juga ucapan ibunya.


*****


"Lanjutkan penyelidikan. .. tolong bawa ke tim forensik untuk di lakukan otopsi, jenazah yang masih baru"


"Baiklah pak ... siap laksanakan .." Firman segera melakukan tugasnya dengan mengumpulkan semua barang bukti, dan menggeledah seluruh ruangan rumah.


Mereka menemukan beberapa barang bukti, ada beberapa barang para korban. Dengan berbagai macam, dari mulai sepatu, baju, tas, makeup dan lainnya. Pelaku lalu di amankan oleh para polisi untuk segera di bawa menuju markas besar kepolisian.


Warga setempat yang ikut untuk menggali kuburan massal tersebut, menemukan banyak tengkorak manusia. Dan segera di bawa ke mobil ambulance untuk melakukan penyelidikan. Dan mulai melakukan konferensi pers secara terbuka, agar para wartawan bisa memberikan informasi tentang para korban. Angga segera memulai percakapan kepada publik.


"Assalamualaikum, terimakasih banyak atas kehadiran para awak media. Kami selaku kepolisian ingin menyampaikan sebuah informasi, menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa korban yang ada di identifikasi oleh tim forensik, namun ada sebagian juga yang tidak dapat kami pastikan siapa identitas korban. Karena kurang lebih ada sekitar lima puluh tengkorak manusia yang sudah menjadi tulang berulang, dan hanya tiga jenazah yang masih utuh dan dapat di identifikasi oleh tim forensik."

__ADS_1


Semua orang yang mendengar merasa sangat tercengang dengan informasi tersebut. Bahkan mereka menganggap jika pelaku begitu kejam. Suasana menjadi ramai dengan banyak opsi tentang pembunuhan tersebut. Mereka saling berbisik.


"Ternyata banyak juga ya ... Sepertinya sudah terlambat ya, sudah terlalu banyak korban!" Mereka saling bertanya satu sama lainnya.


"Silahkan jika ada yang ingin ditanyakan?" Ucok memberikan sebuah usulan.


"Maaf pak, apakah bapak yakin jika pelaku membunuh hanya sendirian tanpa bantuan orang lain? Mengingat banyaknya korban?" Salah satu wartawan mulai bertanya.


"Menurut interogasi yang telah kami lakukan, jika pelaku hanya sendirian, ia melakukan itu secara bertahap jadi ia melakukannya satu persatu"


"Pak, tolong jika ada informasi lebih rinci, berikan kepada kami. Pasti masyarakat sudah menanti jawaban dari tim kepolisian!"


"Baiklah, pelaku memang selalu memperkejakan seorang gadis cantik yang masih muda karena di iming-iming dengan gaji yang besar, karena ia sangat kaya, rumahnya sangat mewah sehingga tidak ada seorangpun yang menaruh curiga. Namun, yang membuat warga mulai curiga karena setiap wanita yang bekerja disana tiba-tiba saja tidak pernah terlihat lagi dan selalu berganti-ganti. Pelaku, selalu melecehkan para korban sebelum membunuhnya. Ia awalnya tidak berniat untuk membunuh para korban, karena para korban menolak untuk melayani nafsunya ia akhirnya di bunuh."


"Apakah, cara pelaku untuk membunuh para korban?"


"Ia, melakukan dengan cara yang berbeda-beda ada yang di cekik ada yang ia tusuk dan ada yang ia mutilasi, jadi hal tersebut ia lakukan secara random atau acak. Jadi memang pada dasarnya pelaku bukanlah profesional dalam membunuh, yang terakhir ia ketahuan oleh satpam rumahnya hingga melaporkan kejadian tersebut."


"Bagaimana, polisi bisa begitu terlambat dalam mengetahui hal ini? Padahal sudah banyak korban?'


"Bagi kami, tidaklah mudah karena mengingat tidak ada laporan dari masyarakat setempat. Dan tidak ada hal yang mencurigakan. Maafkan keterlambatan kami dalam kasus ini."


Tiba-tiba saja ada orang yang melempari pelaku dengan batu yang kecil.


"Dasar pembunuh, kembalikan nyawa anakku?" Ternyata itu ibu dari salah seorang korban. Semua orang menatapnya dengan perasaan sedih. Akhirnya suasana menjadi ricuh dan semua orang mulai panik. Sehingga konferensi pers di tutup. Untuk menghindari terjadinya bentrokan. Angga, memang menyuruh untuk orang tua korban agar bisa memastikan bahwa para jenazah tersebut adalah anggota keluarga mereka. Nilam, bersama Aldo Dika dan Raya kebetulan mampir.


"Kenapa, harus anak saya?" Ibu tadi menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Anakku, tolong kembalilah kepadaku, ayah sudah tidak punya siapapun lagi selain kamu, tolong kembalilah ... jika ayah tahu akan begini ayah pasti tidak akan pernah membiarkan kamu untuk pergi. Itulah senyumanmu yang terakhir untuk ayah!" Kembalilah nak. .. ayah merindukan dirimu ... kita akan makan baso yang banyak, ayah akan buatkan setiap hari." Ayah, tersebut menangis dengan duduk di pinggir tembok. Semua tangisan sedih begitu terasa. Angga yang melihatnya merasa tidak tega. Nilam, melihat beberapa arwah para korban yang melihat tangisan keluarganya, mereka nampak begitu bersedih.


"Beginilah, pekerjaanku. Harus selalu menyaksikan hal yang begitu menyedihkan, saat mereka terluka, aku pun ikut terluka dan merasakan kesedihan yang mendalam. Ini sungguh tidak mudah untuk dilakukan."


__ADS_2