
Malam hari telah tiba. Mereka semua mengatur sebuah rencana untuk mencuri soal ujian sekolah.
"Ingat ya, loe harus berhasil untuk mencuri soal ujian itu. Pokoknya apapun yang terjadi. Ngerti loe ...?"
"Biar gue aja ... Clara sudah banyak mendapatkan masalah ...!" Anita meminta dirinya sendiri.
"Eh ... loe gak usah sok jadi pahlawan ... ngerti loe, walaupun gue gak suka sama loe tapi loe masih sepupu gue ... gue gak mau kalau Bokap marah sama gue. ngerti loe ...?"
"Udah, Anita ... aku gak apa-apa kok. kamu tenang aja!" Clara mencoba untuk menenangkan hati Anita.
Mereka mulai berjalan memasuki lorong sekolah di lantai dua. Saat mereka sedang berjalan. Anita memegang tangan Clara.
"Aku minta maaf, jika waktu itu aku tidak membantumu. Kamu pasti marah ... aku ikhlas karena memang aku salah .. sahabat macam apa aku ini!" Clara menatap nya.
"Sahabat tetaplah sahabat, aku sudah melupakan kejadian itu. Aku yakin kamu pasti ingin menolong diriku. Sudah menjadi takdirku seperti ini, demi orang tua yang telah membesarkan dan mempercayai bahwa aku bisa menjadi masa depan yang cerah. Meskipun akhirnya aku membuat mereka terluka dan kecewa ...!" Clara terlihat putus asa, Anita memeluknya dan mereka menangis kecil.
"Woy ... cepat ... ngobrol terus. Clara loe masuk ...!" Clara masuk ke dalam kantor disana sangat gelap. Ia menyinari dengan senter dari handphone nya. Sementara yang lain berjaga di luar. Terdengar suara langkah kaki, sepertinya seorang satpam sedang berpatroli malam. Mereka bersembunyi, Clara bersembunyi, sembari menangis dan meratapi nasibnya sendiri. Satpam itu, menyenter sekeliling. Termasuk ke dalam ruangan kantor.
'Kenapa hidupku sangat pahit, ayah ibu. Maafkan anakmu ini!" Tidak terdengar lagi suara dari satpam. Clara melanjutkan pencariannya. Sementara temannya masih menunggu dan segera berdiri di depan pintu kantor. Tidak lama Clara keluar dari ruangan tersebut.
"Nah gitu gue demen ...! Besok ini berkas harus masuk kembali ke ruangan ini. Ngerti loe ...!" Clara hanya mengangguk. Anita sangat sedih melihat wajah sahabatnya itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Sementara Anita pulang dengan Bowo mereka makan malam terlebih dahulu sebelum pulang, di tengah jalan motor Bowo mogok. Kebetulan saat itu Tio yang melihatnya turun, dengan wajah yang seperti sedang mabok. Dengan di susul oleh temannya yang ikut turun.
Bowo, berdiri dan menyembunyikan Anita di belakang tubuhnya.
"Udahlah loe gak usah nyembunyiin cewek loe yang cantik itu ... loe tau Dewi membosankan, sedangkan cewek loe cantik dan bikin gue pengen memiliki nya!" Ia menarik tangan Anita. Anita terkejut.
"Berhenti ... gue bilang jangan ganggu gue dan Anita ...!"
"Berani ngelawan loe ... hajar dia ...!" Ada sekitar empat orang mengeroyok Bowo, sedangkan Anita di dekati oleh Tio. Tidak lama, Bowo berhasil melepaskan diri dan membawa Anita untuk naik ke motor, yang kebetulan langsung menyala. Terjadi aksi kejar-kejaran, sementara Tio yang terpalang emosi. Menyenggol motor tersebut, hingga terjatuh. Beruntung mereka tidak kenapa-kenapa, mereka berdiri dan kembali berlari. Di kejar oleh Tio, akhirnya mereka berdua tertangkap, dan Bowo habis di pukul oleh Tio dan temannya.
__ADS_1
Sementara itu, Anita mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Setelah mereka puas, mereka memiliki ide untuk membuat seolah-olah kecelakaan. Mereka merekayasa kejadian tersebut seperti seolah-olah kecelakaan.
Sungguh malang nasib mereka berdua, harus habis di tangan temannya sendiri.
Keesokan harinya.
Clara yang tidak mengetahui apa yang terjadi. Melihat Anita duduk di kelas, mereka berdua berbincang dan Anita meminta maaf tidak bisa lagi bersamanya.
"Kamu ngomong sembarangan, emang kamu udah gak mau temenan lagi sama aku ...?" Anita hanya tersenyum manis. Tidak lama ada salah satu temannya memanggilnya.
"Sebentar ya ...!" Anita hanya mengangguk. Clara keluar kelas dan temannya itu memberi tahu jika Anita telah meninggal kecelakaan tadi malam bersama Bowo. Clara tidak percaya.
"Bohong barusan gue ngobrol sama Anita loe bohong kan ...! Loe lihat kan tadi ...?" Clara melihat ke dalam ia menangis sambil memanggil Anita yang sudah menghilang entah kemana perginya.
Temannya berusaha untuk menenangkannya. Dewi yang mengetahui hal itu, malah mencurigai Tio, karena ban mobilnya terdapat bercak darah. Dan ada bentuk perlawanan, karena terdapat luka cakaran.
"Loe kan ...? Ngaku loe?"
"Sialan ya loe ...!" Dewi emosi.
Beberapa hari berlalu, meskipun Clara sudah tidak semangat untuk sekolah, demi orang tuanya dan tidak lama tersebar beberapa video Clara tempo hari. Ada seseorang yang begitu menginginkan kehancurannya. Orang tua nya sangat sedih, tapi mereka terlihat begitu tabah meskipun semua orang membicarakan keburukannya. Semua orang mulai mencacinya Karena ia sangat depresi berat dengan keadaannya, saat siang hari di sekolah ia melihat bayangan Anita yang berdiri di atas atap sekolah. Dan mengajaknya untuk pergi.
Akhirnya Clara memutuskan untuk bunuh diri, dengan cara melompat dari lantai empat. Semua orang histeris. Cerita kembali ke masa depan.
"Saat kematianku, orang tuaku membuat perjanjian dengan iblis untuk membalas dendam dan pada akhirnya aku menjadi monster yang haus akan darah gadis, dan kebetulan semua musuhku memiliki anak gadis dan bersekolah disini. Kebetulan sekali takdir mempertemukan kembali kami. Aku, gak pernah percaya dengan siapapun lagi, hingga hanya dendam dan kemarahan yang aku miliki sekarang. Aku tidak suka melihat orang lain bahagia!" Ia kemudian berteriak keras dan membuat sedikit guncangan dan muncul monster kecil yang menyeramkan. Terpaksa Nilam dan temannya harus melawan mahkluk itu. Gadis itu berubah menjadi menyeramkan. Sementara itu Angga terlihat di dimensi berbeda-beda yang tidak dapat melihat keberadaan mereka, meskipun mereka berteriak-teriak Angga berada di tempat berbeda.
Ayah Sukma mencoba melawan, namun ia terluka.
"Ayah ... tolong bangkit kita pulang, ibu pasti sudah menunggu" Sukma menangis, ayahnya mengusap air matanya. Sukma membayangkan kenangan bersama ayahnya sejak kecil hingga dewasa. Membuatnya menangis.
__ADS_1
"Putri cantik ayah sudah besar, ayah bangga kepada kamu. Maafkan ayah tolong jaga ibumu. Ayah terpaksa melakukan hal ini untuk kesembuhan ibumu. Jadi pelajaran jangan pernah meminta apapun kepada mahluk gaib, tapi mintalah kepada Tuhan!" Dengan nafas yang sudah melemah.
Sementara itu di tempat lain. Angga merasa hanya berputar-putar. Ia hanya bisa mendengar kebisingan.
"Aneh aku merasa mendengar jeritan tapi tidak ada!" Angga berputar di sekolah sama.
"Ya Allah, sebenarnya aku berada dimana, tolong permudahkan ...!" Angga kembali berpikir dimana ia harus memasuki portal lain. Angga melihat dua orang tua paruh baya. Angga mengintip apa yang sedang mereka lakukan. Di depan nya terlihat portal putih, penghubung antara dunia lain.
Disana ada orang tua dari Clara, yang menjaga sesajen. Angga, segera menghubungi tim nya agar bergegas menuju ke sekolah.
Mereka semua terus menerus melawan mahkluk itu, yang semakin banyak. Nilam, berusaha untuk melawan Clara yang sudah menjadi monster. Ia bekerja sama dengan Rey. Menyerang dari arah sisi kiri dan kanan. Meskipun sulit, namun sempat meruntuhkan tubuhnya. Walaupun ia terlihat kuat dan kembali bangkit dengan semakin marah. Hingga membuat tubuh Nilam terpental, Rey menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, ayo kita kembali bertarung ..." Nilam bangkit kembali. Rey, memegangi tangannya. Sukma masih terdiam membisu seribu bahasa, dia duduk di depan tubuh ayahnya yang terbaring lemah. Sementara di belakangnya, terdapat banyak monster kecil yang terus berdatangan. Kemudian ia bangkit dan terlihat marah.
"Kalian harus mati ... mati ...!" Ia menangis tersedu-sedu, semua temannya merasa sangat iba. Mereka mengerti perasaan Sukma yang kehilangan separuh hidupnya. Ia melawan mahkluk itu, sambil menangis. Saat, keadaan semakin genting. Angga merusak sesajen itu, dan menangkap kedua orang tua tersebut. Namun di tempat Nilam .
Terlihat ada setitik cahaya dan terlihat seorang gadis cantik menghampiri.
"Tolong jangan sakiti orang yang tidak bersalah demi menuntaskan dendammu. Kamu adalah orang baik dan selalu menjadi baik. Tolong jangan sakiti mereka lagi ...!" Ternyata itu adalah Anita. Yang membuat Clara kembali berubah, ia menangis. Ini kesempatan Rey untuk menusuk ke arah jantungnya.
Rey, menghunuskan pedangnya tepat di dada nya. Hingga ia terjatuh. Tubuhnya terjatuh dan Anita memberikan tangannya, Clara terlihat tersenyum, tempat itu terbakar secara perlahan. Semua orang panik. Mereka berlari mencari pintu ke dimensi alam dunia.
Mereka menemukan Rika yang memberi tahu jika tubuh mereka semua berada di halaman belakang sekolah. Lalu menunjukkan jalan pulang.
"Kamu tidak ikut?" Tanya Aldo. Rika menggelengkan kepalanya.
"Kamu pulanglah bersama teman-temanmu karena dunia kita sudah berbeda." Dika menarik tangannya, dan membawanya pulang ke dunia nyata.
__ADS_1
Tempat itu terbakar. dan kemudian menghilang dengan sendirinya. Sukma menangis tersedu-sedu. Disana sudah ada Angga yang sedang menunggu di depan portal sampai portal itu hilang. Mereka terlihat syok.