
Keesokan harinya. Angga terlihat sangat antusias untuk mengantarkan Nilam pergi ke sekolah. Ia menjemputnya di rumah Raya. Ternyata disana sudah ada Rey yang sedang menunggu Nilam.
Angga turun dari mobilnya dan mulai berbicara.
"Bisa gak, gak usah jemput! Masih ada saya disini?" Rey, menatap wajah Angga dan tersenyum tipis.
"Baiklah, mulai sekarang kita akan bersaing secara sehat? Apakah kakak setuju?" Angga merasa tertantang, dan menerima jabatan tangan tersebut.
"Baiklah saya setuju. Deal ...!"
"Deal ...!" Tidak lama Nilam dan Raya keluar dan melihat mereka berdua sedang berjabat tangan.
"Tumben sekali kalian akrab? Ada angin apa?" Raya, bertanya dengan heran. Angga langsung mengusap tangannya.
"Gak kok. Cuma ada masalah kecil saja. Bisnis ...!"
"Bisnis, sejak kapan kalian berbisnis?" Raya terlihat lebih bingung.
"Sudah ini urusan sesama pria!"
"Oh begitu ..."
Rey, memandang ke arah Nilam. Yang masih mengenakan sepatu.
'Kapan kamu bisa menggunakan seragam sekolah seperti anak perempuan lainnya, pasti kamu akan sangat cantik. Ada banyak pertanyaan dalam benakku, tapi tidak sempat aku tanyakan. Mungkin suatu saat nanti!' Rey bertanya kepada dirinya sendiri, sembari memandang wajah Nilam. Angga terlihat sangat cemburu, dan menepuk pundaknya.
Rey, terkejut. Nilam telah selesai dan menggendong tasnya, ia segera berjalan menghampiri mereka berdua. Ketika Nilam berjalan, ia seperti melihat masa lalunya kembali.
"Kalian berdua sudah menunggu lama?" Kedua pria itu hanya terkesima melihat wajah Nilam yang sangat cantik.
"Hei ... malah melamun, ayo kita berburu binatang di hutan, aku sudah membawa panah yang telah ku rancang sendiri." Mereka berdua hanya tersenyum. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju hutan, memulai perburuan.
"Ayo bersiap untuk memanah, ke arah rusa!" Damar memberikan sebuah aba-aba, sedangkan pangeran terlihat sedang mengincar sosok lain yang terlihat sedang mengawasi keberadaan mereka.
"Satu ... dua ... tiga ... panah" Nilam dan Damar berhasil menanah rusa tersebut. Sedangkan pangeran berhasil memanah seseorang hingga terdengar suara tubuh yang terjatuh. Mereka berdua terkejut karena ternyata pangeran tidak memanah ke arah rusa, namun kepada hal lain. Mereka segera bergegas melihat siapa yang di panah oleh pangeran.
Tepat di bahu kirinya terluka, ia seorang pria dengan menggunakan sebuah pedang. Meskipun ia terluka, tapi ia masih terlihat sangat kuat, itu pertanda ia sudah sangat profesional. Ia, berusaha untuk menyerang, ia sedang berperang melawan pangeran, dan terlihat ia sangat ahli meskipun ia sedang terluka. Hingga ia tersungkur ke tanah, pangeran menodongkan pedangnya tepat di lehernya.
Treng ...
"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk mengamati kami?" Ia hanya terdiam.
"Baik, ampun ... saya akan mengatakannya, tapi tolong biarkan saya bangun." Ia bangun dan berdiri, saat ia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja permaisuri datang dan membuatnya kabur.
__ADS_1
"Oh, sial. Dia berhasil melarikan diri" Pangeran terlihat sangat menyesal dengan kaburnya tawanan tersebut.
"Kenapa kamu kemari?" Pangeran menghampiri permaisuri.
"Aku hanya mencemaskan keadaan dirimu?" Permaisuri mengusap wajah pangeran. Dan itu membuat hati Nilam sedikit terluka. Tatapan mata pangeran jelas melihat ke arah Nilam. Damar, mencoba untuk mengalihkan perhatian terhadap hasil buruan mereka.
"Lihatlah, rusa tadi siap untuk masak, bukankah begitu?" Mereka saling bertatapan satu dengan yang lain.
"Baguslah jika kalian sudah berhasil menangkap rusa, tapi pangeran harus pulang karena ada urusan penting. Ayo, pangeran ..." Pangeran terpaksa harus mengikuti keinginan permaisuri agar ia tidak curiga. Nilam hanya menatap pangeran pergi.
'Maafkan aku. Pasti hubungan ini begitu menyakitkan untukmu semoga suatu saat nanti kita bisa bersama. Seperti yang kita harapkan. Untuk sementara bertahanlah demi cinta kita' Pangeran pergi dengan perasaan bersalahnya. Damar, mengajak Nilam duduk.
'Lihatlah hanya aku yang selalu ada untukmu.' Damar tersenyum manis, dan memegangi tangan Nilam.
"Jangan bersedih, masih ada aku!" Damar mengusap kepalanya dengan lembut. Nilam tersenyum.
"Kamu benar, hanya kamu yang selalu ada untukku. Apapun yang terjadi, kamu adalah sahabat terbaikku." Damar, tersenyum.
'Aku, hanya sebatas sahabat di hatimu, tapi di hatiku kamu adalah segalanya'
Raya, menepuk pundak Nilam.
"Hey, malah bengong. Ayo kita berangkat!" Mereka berdua menaiki sepeda motor. Dan membuat Angga dan Rey bingung.
"Iya, emang kenapa. Ini ayah yang membelikan untukku, katanya biar aku gampang dan tidak usah merepotkan siapapun lagi. Ayo Nilam kita berangkat ..!" Nilam, memasang helm dan berangkat ke sekolah.
Mereka berdua saling bertatapan dan akhirnya tertawa bersama. Karena merasa konyol telah menunggu yang tidak pasti.
"Ya sudah kamu segera pergi. Karena, ini sudah siang. Saya juga akan berangkat ke kantor!" Rey, tersenyum dan menaiki motornya. Angga mendapatkan telepon untuk segera ke kantor karena ada kasus yang harus ia selidiki.
****
"Maaf pak. Saya ingin memberikan laporan jika anak semata wayang saya telah hilang, sekitar seminggu ini. Ia ijin untuk bekerja tapi tidak pernah memberikan sebuah kabar, karena itu bukan kebiasaannya. Karena kebiasaannya adalah memberikan sebuah kabar. Tolong pak, saya harap tidak terjadi sesuatu yang buruk. Karena hanya saya saja yang ia miliki, ibunya telah meninggal dunia sejak ia kecil." Terlihat sesekali pria paruh baya itu mengusap air matanya. Angga, mencoba menenangkan, dengan mengusap pundaknya. Bapak itu, adalah seorang penjual bakso. Wajahnya terlihat sangat lelah, dan penuh kecemasan yang besar.
"Bapak tidak usah khawatir, kami akan segera memproses semua laporan ini, tolong bapak tunggu ya."
Bapak itu, mengangguk dan pergi. Angga segera membuat rencana bersama tim-nya agar segera mencari gadis tersebut.
"Pak, ada banyak sekali laporan gadis yang menghilang secara tiba-tiba. Apakah mereka saling berkaitan?" Ucok memulai percakapan.
Tiba-tiba saja, ada seorang pria dewasa umurnya sekitar dua puluh lima tahun. Ia, seperti tergesa-gesa dan merasa takut.
"Pak, tolong saya ingin memberikan sebuah laporan, jika ... Jika ..!"
__ADS_1
"Jika apa ...? Tolong, untuk tarik nafas panjang dan keluarkan.
"Ada apa?" Tanya Ucok penasaran.
"Bo ...s saya, telah membunuh seorang gadis yang akan bekerja di rumahnya. Saya, tidak berani melaporkan kejadian tersebut karena saya takut." Suaranya terdengar sangat cemas, ia melihat ke arah sisi kiri dan kanan.
Angga segera memberikan ia sebotol minuman. Agar ia tenang. Saat ia mulai tenang, ia mulai melanjutkan ceritanya.
Terdengar suara raungan seorang gadis yang sedang kesakitan. Satpam tersebut langsung bergegas melihatnya.
"Bos ... kenapa dengan gadis ini? Kasihan" Ia membantunya untuk bangun. Bosnya hanya tersenyum sinis. Satpam tersebut membawanya pergi menuju pintu, ketika menuju pintu selangkah lagi. Terdengar suara pistol.
Duar ....
Tubuh gadis tersebut terjatuh dari rangkulan satpam tersebut. Hingga membuat tubuhnya tersungkur ke lantai dan bersimbah darah. Matanya masih terbuka, dan melihat ke arah satpam tersebut dengan penuh harapan. Ia, melambaikan tangannya. Satpam tersebut hanya terdiam membisu, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri.
"Wanita seperti ini tidak usah hidup ... karena tidak berguna!" Kemudian ia melayangkan satu tembakan lagi tepat di kepalanya setelah tadi mengenai punggungnya. Hingga gadis itu meninggal di tempat.
"Cepat, bersihkan ...! Gue tau loe butuh uang untuk berobat ibu loe ... gue bakal bayar mahal, atau gue juga tembak kepala loe!" Ia menempelkan pistol tersebut tepat di kepala satpam tersebut. Satpam tersebut dengan terpaksa harus mengikuti keinginan bosnya yang jahat itu. Dengan menangis dan tidak tega, ia menguburkan jasad tersebut.
Satpam tersebut pulang ke rumah, dengan perasaan bersalahnya. Ia hanya menangis, karena sebenarnya ia menyukai gadis tersebut, gadis tersebut bernama. Mila, ia gadis yang ramah, ia bekerja sebagai asisten rumah tangga.
"Kenapa kamu Nak?" Ibunya memeluknya dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Dan mulai menceritakan semuanya. Ibunya nampak begitu terkejut. Dan menyakinkan dirinya untuk segera melaporkan kejadian tersebut.
"Ibu sayalah yang telah mengingatkan saya untuk berkata jujur, meskipun hati saya sakit. Sampai saat ini, saya masih trauma dengan kejadian tersebut. Saya akan mengantarkan bapak menuju rumahnya. Tolong pak percayalah kepada saya?" Angga, segera menyusun tim-nya untuk segera melakukan investigasi. Ternyata mereka sedang melakukan, pesta.
"Ada apa pak?" Dengan wajahnya yang setengah mabuk.
"Kami, dari kepolisian untuk segera melakukan investigasi di rumah bapak? Berdasarkan hasil dari bukti bahwa, ada korban terakhir yang bekerja disini dan tidak pernah terlihat, seperti yang tetangga anda bilang?"
"Ah, bapak jangan mengada-ada deh! Mau cewek, ini cewek!" Ia melempar seorang gadis ke hadapan Angga.
Angga, segera membantu gadis itu untuk bangkit. Gadis tersebut hanya tersenyum melihat wajah Angga yang sangat tampan.
Hampir saja, Angga emosi. Tapi Ucok, menenangkan dengan menepuk pundaknya sebanyak tiga kali dengan perlahan. Angga, segera memerintahkan kepada anggotanya untuk segera masuk dan melakukan investigasi.
Mereka segera melakukan investigasi di lokasi. Satpam tersebut ikut serta dalam percarian barang bukti. Mereka menggali di halaman rumah yang sangat luas. Di bantu oleh warga setempat, mereka semua segera menggali, dan menemukan tubuh jasad Mila.
"Sudah ketemu pak!"
"Disini juga ada pak!"
Setelah Angga melihat sekeliling, ternyata itu adalah kuburan massal, yang sudah lama. Hingga, tubuh korban sudah ada yang menjadi tulang. Dan mereka semua terkejut dengan hasil temuan tersebut. Ternyata ada puluhan jasad.
__ADS_1
"Astaghfirullah ..." Mereka serentak. Dengan terkejut. Mereka pikir hanya ada satu jasad, ternyata setelah di gali banyak sekali yang sudah menjadi tulang berulang.