
Angga baru ingat jika ia memiliki janji dengan Nilam. Meskipun ia sempat ragu, akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Aldo.
Aldo menjelaskan jika Nilam pergi dengan terburu-buru. Angga terkejut. Ia segera bergegas menuju mobilnya dan mengebut untuk menyusul ke taman kota.
"Dingin sekali ... aku lupa tidak membawa jaket" Sambil terus mengusap tangannya agar tetap hangat. Rey, yang melihatnya dari balik semak-semak tidak tega melihat Nilam kedinginan. Ia ingin menghampiri tapi pasti akan di usir kembali.
'Kenapa, kamu harus menolak permintaanku? Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dan bahagia. Sekalipun aku harus menderita'
Tidak lama Angga datang dan segera berlari ke arah Nilam. Nilam yang terkejut dengan kedatangan Angga, ia merasa mimpi karena ia begitu kedinginan. Tangannya juga sudah begitu dingin. Angga segera memeluknya erat.
"Maaf telat membuatmu menunggu?" Angga mengusap rambutnya Nilam yang juga dingin.
Mereka duduk. Angga memegang tangan Nilam, dan mengusapnya dengan perlahan.
"Aku pikir kamu tidak akan datang.. aku hampir mati kedinginan?" Angga, menutup mulutnya.
"STT ... Aku pasti datang untukmu, hanya saja aku orang yang sibuk. Maaf jika membuatmu menunggu. Tadi aku melihat Rey yang telah menjagamu dari kejauhan. Sepertinya ia begitu mencemaskan dirimu?"
"Jadi ia masih belum pulang, padahal aku mengusirnya berkali-kali, ia datang lagi dan lagi. Aku salut dengan tekadnya sebagai teman yang begitu setia" Dengan tersenyum. Sementara Angga merasa jika yang dilakukan oleh Rey bukanlah sebagai teman tapi karena ia memang menyukai Nilam, dan Nilam tidak menyadari itu.
'Rey, begitu menjaga Nilam. Padahal ia tahu akan terluka' Angga berpikir jika Rey begitu tulus menjaga Nilam.
'Sebaiknya aku pergi. Tugasku sudah selesai ... tapi mengapa rasanya sakit. Tidak seperti biasanya, apakah perasaan ini yang terus bertambah setiap hari. Dan membuatku semakin terluka' Gumamnya dalam hati, sembari ia berjalan menuju motornya.
Rey sadar jika ia terus disana akan bertambah sakit. Ia memutuskan untuk kembali kepada temannya. Sebenarnya Rey begitu cemburu, ia tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Setiap hari ia terus merasa semakin menyukai Nilam dan perasaan itu semakin sakit.
'Ayolah ... menyerah saja Nilam itu bukan untukmu ... come on ... jangan bodoh ... semakin hari semakin bertambah dan semakin sakit' Ia terus berperang melawan perasannya.
"Rasanya aku pernah merasakan hal sesakit ini. Tapi entah dimana, karena aku rasa belum pernah merasakan jatuh cinta selain kepada Nilam"
Ia duduk di jalanan dan kebetulan dari jauh ia melihat banaspati ( bola api) yang terbang ke arah sekolah. Ia terus memperhatikan, dan tiba-tiba saja ada seseorang yang terjatuh, dengan respon Rey menangkapnya. Hingga ia melihat wajah cantik, mereka saling bertatapan. Itu adalah Inggar. Rey menurunkannya dengan perlahan.
"Kamu ngapain di atas pohon?" Tanya Rey heran.
"Tidak apa-apa!"Inggar, tidak sadar jika penutup wajahnya telah ikut terjatuh. Inggar sengaja menyembunyikan identitasnya karena ia sedang menyelidiki masalah yang ada di bumi.
"Cantik ...!" Inggar hanya terdiam dan ia baru menyadari bahwa penutup wajahnya hilang. Ia mencari-cari. Rey berkata.
"Mencari ini?" Inggar segera mendekati. Namun, Rey malah memasukkan ke dalam tasnya.
"Aku lebih suka melihat wajahmu ... dan satu lagi baju ninja itu sebaiknya di ganti, karena orang akan menganggapmu aneh, kamu ini sedang menyamar sebagai ninja yang seperti di televisi, persis sekali ... rambutmu sudah bagus, apalagi jika terurai hanya baju dan sepatu seperti di zaman kerajaan. Kamu artis apa sih, kok aku gak pernah lihat, karena setiap kali kita bertemu pasti kamu memakai baju ala kerajaan. Apa kamu Intel? Apa mau aku anterin buat beli baju?" Rey, selalu banyak bicara saat bertemu dengan Inggar. Sedangkan Inggar hanya terdiam.
__ADS_1
"Tidak usah. .. aku bisa sendiri!" Inggar pergi.
"Dasar gadis aneh ...!" Akhirnya Rey bisa sedikit tersenyum saat bertemu dengan sikap Inggar yang dingin.
"Jadi, begini rasanya bertemu dengan seseorang yang bersikap dingin. Jadi aku dulu seburuk itu!" Ia tertawa sendiri, melihat kelakuannya dulu saat ia tidak pernah berbicara. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke basemen Aldo dan Dika. Ternyata, mereka telah selesai membuat alat tersebut. Rey menceritakan jika ia melihat sesuatu di atas gedung sekolah. Karena jarak mereka dengan sekolah tidak jauh.
Rika menelpon. Dika dengan sinis menjawab.
"Kita sibuk ...!" Jawab Dika. Aldo, menatap sinis ke arahnya.
Rika mengalihkan dengan video call. Ia berada di sekolah.
"Kenapa loe di sekolah?" Tanya Farel.
"Ayang kenapa ada di sekolah?" Aldo, terlihat manis. Sedangkan Dika merasa ingin muntah mendengar keromantisan mereka.
"Sukma bilang handphonenya tertinggal di sekolah. Jadi aku menemaninya. Sebenarnya aku takut tapi bagaimana lagi" Rika melihat kesana-kemari.
"Terus Sukma kemana?" Tanya Farel penasaran yang sejak tadi tidak melihat Sukma.
"Tadi dia bilang, dia akan mengambilnya sendiri, jadi aku di suruh menunggunya disini" Tidak lama terdengar suara teriakan yang keras. Sepertinya itu suara Sukma. Dan tiba-tiba lampu padam.
"Aldo, disini gelap, aku takut ... tolong aku!" Ia, mulai tidak terlihat. Semua orang menjadi panik. Terdengar suara erangan serigala. Sementara handphone Rika tertinggal di lantai dan di hampiri oleh sesosok mahluk besar yang tidak begitu jelas karena gelap dan menghancurkan benda tersebut.
"Gue mau ke sekolah?"
"Emang loe berani?" Tanya Dika.
"Berani kan ada loe ... ayo ikut!" Aldo, menarik bajunya.
"Aku juga ikut" Timpal Raya, dan di ikuti oleh Rey dan Farel.
"Wait ... kita naik apa?" Dika mulai bertanya.
"Iya juga, motor nanggung!" tidak lama terdengar suara mobil Angga. Mereka langsung menuju ke mobil Angga dan segera menceritakan semuanya. Angga mengajak mereka semua untuk naik ke mobil. Setelah tiba di gerbang sekolah, mereka semua turun. Melihat sekolah yang nampak gelap gulita, tidak ada tanda-tanda kehidupan, membuat bulu kuduk berdiri.
"Loe, masuk buka pintu gerbang?" Aldo, mendorong Dika. Dika, yang tersungkur ke arah gerbang terpaksa harus membuka pintu gerbang sekolah dengan rasa was-was.
'Awas ya loe ...!' Dika bergumam dalam hati. Ia begitu kesal dengan tindakan Aldo. Mereka akhirnya memasuki sekolah.
"Setahuku sekolah ini di jaga oleh satpam sebelum jam dua belas malam!" Ucap Rey.
__ADS_1
Mereka saling bertatapan, dan berpikir kemana perginya satpam yang seharusnya berjaga.
"Hidupin ...!" Farel, menunjuk Aldo. Aldo nampak bingung.
"Apa sih ...!"
"Itu handphone loe ... ngapain loe pegang, gunain senternya." Aldo, langsung menghidupkan senter, dan di ikuti oleh yang lainnya.
"Apa sekolah kita belum bayar listrik? Padahal sekolah mahal " Dika berbicara kepada Aldo.
"Iya juga sih. Padahal sekolah elit, tapi mana mungkin!" Aldo, menimpali perkataan Dika. Namun Aldo baru ingat jika ia sedang mencari Rika.
"Baby Rika ...!" Aldo memanggil nama Rika.
"Lebay loe ...!" Dika terlihat emosi.
"Kenapa loe syirik ... syirik tanda tak mampu, eh iya kan emang loe jomblo. Gak mampu ..." Tertawa puas.
"Apaan sih loe ... hayu berantem ...!" Dika terlihat menarik kerah Aldo.
"Stt ... kalian berisik banget sih ...! Ini tuh lagi tegang ...!" Farel terlihat emosi mendengar ocehan mereka berdua. Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan. Dan membuat mereka semua menjadi tegang, Angga yang sejak tadi berada di depan mereka. Mulai mengeluarkan senjata api panjang dan memiliki senter di dalam kegelapan.
Dan alat yang mereka buat akhirnya bekerja, dan menunjukkan arah.
"Akhirnya alat loe berguna juga." Ucap Raya. Semua orang tersenyum. Sementara Dika terus terpesona dengan senjata api Angga.
"Wih canggih ... pasti itu shotgun C115, gue pernah lihat profil shotgun termahal itu di sebuah majalah." Dika, mendekati Angga, berharap dapat memegang shotgun itu. Mereka harus menemukan sumber suara tersebut. Sedangkan Aldo, yang panik langsung berlari mengejar arah teriakan tersebut. Ia, tidak bisa berkata-kata lagi. Karena ia tahu itu suara Rika.
Mereka melihat, sesosok mahluk besar yang tengah menarik tubuh seseorang. Dengan kuku yang panjang.. Dengan taringnya yang runcing ia melihat ke arah mereka. Sehingga, membuat Angga menembakkan peluru ke arah mahluk tersebut. Dan ia berlari dengan membawa tubuh itu. Mereka mengejarnya dan langkah Aldo terhenti saat melihat handphone Rika. Ia, menunduk dan mengambil handphone tersebut yang penuh dengan darah.
Terlihat Rika akan mengirimkan sebuah pesan, namun terhenti saat mahkluk itu datang.
{ Aldo, jika kamu menemukan handphone ini, tolong jangan cari aku. Aku tidak ingin ada yang terluka, apalagi jika itu adalah kamu. Pulang dan lupakanlah semua yang terjadi. Karena setelah ini, semua orang akan melupakan aku, sama seperti sahabatku Anita yang menghilang sejak tahun lalu. Dan aku tahu siapa sekarang pelakunya adalah ...} Pesan itu terhenti. Aldo menangis tersedu-sedu menyesali, jika ia terlambat untuk menyelamatkan Rika.
Dika, merasa iba dan mengusap pundaknya. Mereka semua tampak sedih dengan pesan terakhir dari Rika.
Sukma, menelpon ke handphone Rika, jika ia terjebak di ruang tunggu sekolah. Angga, segera mencari mading dan mengambil peta yang tertempel di dinding.
"Tolong, jangan berpencar.." Alat itu terus berbunyi dan menunjukkan arah. Sebuah ruangan yang terhubung ke dunia lain. Mereka semua masuk ke dalam, dan mereka berada di sebuah tempat yang tampak kusam. Dan itu adalah sekolah yang berada di dunia lain.
"Sekolah mode serem ...!" Dika, memegangi tangan Aldo. Sedangkan Aldo hanya melamun. Angga bergerak cepat, dengan sambil memegangi tangan Nilam. Ia cemas jika sesuatu terjadi pada Nilam.
__ADS_1
Rey, yang melihat Angga memegangi tangan Nilam. Merasa cemburu.