Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Masa lalu yang menyakitkan


__ADS_3

Rey, tengah duduk di luar pintu UKS, Farel mendekati dan duduk di sampingnya.


"Gue, cuma mau bilang thanks!" Rey, nampak terkejut dengan pernyataan Farel, karena ia tidak pernah mendengar Farel berbicara baik-baik dengannya.


"Oke, gue emang masih benci sama loe! Tapi, gue tetep orang yang tahu caranya berterimakasih, meskipun berat! Demi, ibu dia cerewet jika gue gak melakukan yang ia mau!" Rey, hanya tersenyum. Ia, merasa bahagia jika Farel mulai membuka pintu maafnya. Dengan sedikit berbicara.


Ia, masih terdiam, Farel pergi masuk kembali. Nilam, mendengar percakapannya dari balik pintu. Nilam, duduk menghampiri Rey yang sedang duduk, tiba-tiba saja ia memeluk Nilam.


"Aku, harus buru-buru ke sekolah, Nilam pasti sudah menungguku, dia pasti suka hadiah ini!" Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat Nilam di pelukan Rey.


'Apakah, aku tidak bersikap dewasa disaat aku sedang cemburu, hingga aku ingin marah!' Angga, menarik nafasnya, ia mencoba bersikap dewasa, karena mereka hanyalah teman dan Rey pasti tidak mengetahui jika Raffi adalah wanita. Meskipun hatinya hancur, tapi ia harus terus mencoba untuk bersikap dewasa.


Nilam, bingung. Ia, melepaskan pelukannya dan bertanya ada apa?


"Sorry.. Aku, terlalu bahagia. Farel bisa berbicara secara baik-baik! Setelah sekian lama, ia tidak pernah berbicara dengan nada bicara seperti dulu!" Nilam, tersenyum ikut bahagia jika.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Rey, terdiam sejenak dan menatap ke arah halaman.


"Begini ceritanya!"


"Bro ... gue mau keluar temenin latihan basket, loe bisa kan temenin gue?" Farel, menelpon Rey.


"Maaf, gue gak bisa kayanya, ada urusan penting!"


"Iya, udah! oke!" Mereka menutup telepon.


"Farel ... temenin ibu ke pasar? Kamu masih ingat kan hari ini, anniversary ibu dan ayah?"


"Iya, hampir lupa! Ayo, kita kasih kejutan!" Mereka pergi ke pasar, dan terakhir mereka membeli sebuah baju untuk ayahnya. Saat, mereka selesai membeli baju. Farel, melihat Rey dan memanggilnya.


Rey, membalikkan badannya. Dengan, bergetar hebat ia terlihat gugup.


"Kenapa loe ...! Kaya habis ngelihat setan aja!" Farel tertawa.


"Siapa Rey?" Tanya Mamah nya, menghampiri dengan seorang pria dewasa. Semua orang terkejut, barang-barang yang sedang di pegang pun, sampai berjatuhan ke lantai.

__ADS_1


"Lastri ...!" Pria itu menghampiri. Farel, menghalanginya.


"Jangan sentuh ... ibuku!" Farel terlihat sangat marah. Matanya memerah.


"Mas, bilang pergi ke luar kota untuk proyek baru!"


"Lastri, aku ...!"


"Udahlah, mas ...! Kini, aku tahu kenapa kamu jarang pulang ke rumah..! Hari ini, hari anniversary kita yang ke tujuh belas tahun, hancur semuanya, kamu tega ... mas ...! Apa, salahku padamu mas? Ternyata benar gosip di luar tentang kamu dan Mira, te... ga kamu Mira, aku salah apa? Kamu, sudah menghancurkan kehidupan kami! Sungguh, sakit hati ini ..! Aku, selalu mencoba memberikan apapun yang kamu butuhkan sejak suamimu meninggal, aku berusaha menjadi teman yang baik, bisa-bisanya kamu menghancurkan semuanya!"


Mereka semua terdiam, Mira tidak dapat berbicara sepatah katapun, ia hanya menangis dan menyesali perbuatannya.


"Jadi, ini yang loe sebut penting ...! Ternyata, kepentingan loe, udah ngerusak kebahagiaan keluarga gue ...! Puas ...!"


"Gue, mohon dengerin penjelasan gue dulu!"


"Sudah ... cukup, yang gue lihat adalah kenyataannya ... asal loe tahu, ada orang yang bilang bahwa ayahku selingkuh dengan wanita lain, yaitu ibu sahabatku sendiri! Dan, gue gak percaya sama sekali, sampai gue harus lihat dengan sepasang mata ini, gue gak coba cari tahu karena ... gue takut kehilangan sahabat terbaik gue! Pada akhirnya takdir memberikan jawaban atas semuanya, hancur hati ini ... gue harap ini sebuah mimpi!" Farel, memukul wajahnya sendiri dengan menangis tersedu-sedu, Rey pun ikut menangis, ibunya mencoba memeluknya erat. Rey, menghampirinya dengan bergetar. Semua orang menangis dengan tersedu-sedu. Farel mencoba berdiri. Rey, mendekati dan memegangi tangan Farel.


"Jangan, sentuh gue lagi! Cukup, persahabatan kita telah usai sampai disini, jangan pernah berbicara dengan gue ataupun ibu lagi! Dan, ayah ... Farel, tidak akan pernah membawa sepeserpun uang dari ayah! Dan, Tante jangan pernah muncul kembali di hadapan aku lagi, sungguh tidak aku sangka, di khianati oleh orang yang paling aku sayangi, paling aku percaya, rusak semuanya, terlalu sakit hati ini, sungguh sakit ..!" Farel, hingga tidak sanggup berdiri, ia tampak tertatih-tatih, bersama ibunya.


'Aku, harus kuat demi Farel ...! Ya Allah, sungguh hatiku sangat hancur di khianati oleh orang yang sangat ku percayai! Farel, pasti lebih terluka ...!' Gumamnya dalam hati, dengan menahan tubuhnya yang sebenarnya lemas. Mereka berdua, berjalan menuju pintu keluar. Rey, yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menangis, hatinya sangat hancur. Itulah terakhir kali ia bertemu dengan Farel, hingga ia tidak sengaja satu sekolah dengan Farel.


Nilam, yang mendengarnya merasa kasihan terhadap mereka.


'Mungkihkah mereka bisa berdamai lagi!' Gumamnya dalam hati. Angga, menghampirinya. Dengan, sedikit kesal, ia memberikan sebuah kotak panjang. Aldo dan Dika berlari menghampiri mereka. Dan, mereka kepo dengan apa yang diberikan oleh Angga. Nilam, mulai membukanya. Semua orang terlihat sangat penasaran dengan isinya. Ternyata sebuah handphone.


"Wah, handphone keluaran terbaru! Kak, aku mau?" Dika, merasa sangat kagum dengan handphone tersebut.


"Apa ini, benda yang sering di pakai oleh manusia?" Mereka semua melihat ke arah Rey, mereka takut jika Rey mencurigai Nilam. Dika, memberikan kode.


"Ah,. .. maksudnya adalah, dia juga manusia tapi tidak pernah memegang handphone! Iya, kan ...!" Aldo, mencoba mencari alasan. Rey, hanya terdiam.


"Ini, tolong, pergunakan baik-baik, aku sudah bilang tempo hari akan memberikan sebuah hadiah! Karena, aku akan pergi ke luar kota, ada kasus yang harus aku selesaikan" Yang tadinya Nilam, senang. Mendengarnya merasa sangat cemburu. Wajahnya, mengerut. Ia, pikir Angga akan pergi dengan Maya.


"Kenapa..? Tidak senang dengan hadiahnya?" Angga, bingung dengan wajahnya terlihat tidak senang saat diberikan hadiah.

__ADS_1


"Bukan, apa aku boleh ikut?"


"Kenapa?" Tanyanya penasaran.


"Kenapa? Aku, kan ada tugas! Bukan, liburan, jadi untuk apa kamu ikut?" Nilam, cemberut.


"Lalu, siapa saja yang ikut?"


"Banyak, ada Firmansyah, dan yang lainnya!"


"Termasuk juga Maya?" Tanyanya semakin penasaran.


'Oh, mungkin dia cemburu tapi aku harus mengujinya dulu!' Angga, hanya tersenyum manis.


"Iya, ada Maya? Apa, kamu cemburu?" Seketika wajahnya terlihat memerah.


"Enggak kok ...! Ya sudahlah ... aku juga tidak peduli kamu pergi dengan siapapun! Lagi pula bukan urusanku!" Ia, memalingkan wajahnya.


'Aduh, malu sekali banyak orang ...!' Angga, menarik tangannya dan berbicara dengan lembut.


"Tidak ada wanita dalam misi ini, kamu tenang saja ...!" Nilam, tersenyum.


"Cie ...cie ...!" Aldo dan Dika terlihat sangat senang. Rey, merasakan apakah mungkin ia bisa memiliki hati Nilam, sementara Nilam terlihat lebih menyukai Angga.


"Kamu, memberikan benda ini untuk apa?"


"Agar, jika aku merindukanmu aku bisa menghubungimu melalui benda ini!" Nilam, terlihat sangat bahagia mendengarnya. Meskipun ia, berada jauh bisa melihat wajahnya melalui benda asing tersebut.


'Apakah, harapanku telah usai, dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan!' Rey, mulai memikirkan perasaanya terhadap Nilam.


****


Keesokan harinya, Angga akan berangkat ke luar kota bersama tim nya, sedangkan Ucok tetap mengawasi kantor. Angga, menitipkan Aldo, Dika dan Nilam untuk menginap di rumah Ucok. Angga, pergi terburu-buru, karena mereka harus menciduk bandar narkoba, untuk menyusun strategi yang tepat.


"Perasaanku tidak enak?"

__ADS_1


"Nilam, kamu tahu, apakah kamu masih ingat tempo hari tentang firasatmu tempo hari salah? Aku, tidak apa-apa, sungguh ... jangan terus memikirkan hal buruk! Aku, pasti kembali untukmu!" Angga, pergi dengan mengendarai mobilnya.


"Semoga, firasatku salah lagi, ya Allah semoga kau menjaganya untukku!"


__ADS_2