
Mereka, melanjutkan perjalanan.
"Kalian, punya makanan gak? Gue, laper banget butuh banyak asupan makanan, setelah di culik berjam-jam sama kalian!" Dengan tampang nya yang menyebalkan. Semua orang menatapnya dengan tatapan mata yang kesal.
Aldo, menutup mulutnya dengan tangannya.
"Sttt ... berisik! Bisa diem gak tuh mulut! Harus di sumpel dulu!" Aldo, memberikannya beberapa makanan ringan.
"Nah, gitu dong!" Farel mengambilnya, dengan penuh semangat. Aldo, memasang wajah kesalnya dengan bergurutu kecil.
"Ngomong-ngomong, kita ini mau kemana? Kok, gue gak enak perasaan ya!" Ia, berbicara sambil mengunyah makanannya. Tidak ada yang menjawabnya. Karena ia kesal, ia memasukkan makanan ke mulutnya Aldo.
"Apaan sih! Loe tuh gak bisa diem, udah dikasih makanan juga, gak bisa diem, gak mulutnya gak tangannya! Rese ...!" Farel hanya tertawa keras. Semua orang hanya tersenyum kecil.
"Udah, kalian kaya tom and Jerry aja!" Dika, berbicara dengan tertawa. Mereka, tertawa bersama. Rey, hanya tersenyum manis sesekali melihat wajah Nilam. Yang sejak tadi sibuk membaca buku.
(Aku, seneng banget. Buku yang aku berikan ternyata bermanfaat untuk kamu!) Ia, tersenyum dengan melihat wajah Nilam yang terlihat sangat cantik di depan matanya. Hatinya berdebar-debar, sampai ia tidak bisa mengontrol perasaannya.
Tiba-tiba saja mereka hampir menabrak seseorang yang terlihat pincang, dengan menggunakan baju serba hitam, ia menggunakan Hoodie yang menutupi wajahnya dan wajahnya terlihat sangat kesakitan. Jelas Rey melihatnya dengan sangat jelas, ia terlihat tertatih-tatih dan mereka memberhentikan mobilnya. Merasa iba. Ia meminta pertolongan karena, ia di kejar-kejar seseorang hingga melukai kakinya. Rey, masih berpikir keras apakah membantu atau mengabaikan begitu saja. Farel berbisik kepada Aldo
"Apakah itu manusia? Jangan-jangan setan karena ini udah mulai melewati magrib juga, apa tidak sebaiknya kita, abaikan saja!" Farel merasa tidak enak perasaan.
"Loe, tuh gak punya hati nurani banget, jelas kakinya napak ia jalan tertatih-tatih mungkin butuh bantuan!" Sepertinya tidak ada yang percaya dengan firasat Farel. Nilam tidak bisa mendeteksi apakah ia orang baik atau jahat. Aldo pindah ke tengah, pria itu sekitar tiga puluh tahunan, terlihat masih muda, lumayan manis. Ia duduk tepat di depan di dekat Rey. Dan mereka melajukan mobilnya. Segera memutar pulang, karena sudah larut malam dan mobil polisi tidak terlihat sama sekali, Rey merasa tidak akan aman jika perjalanan terus di lanjutkan, karena situasi tidak memungkinkan.
Angga terus menelpon Aldo tapi tidak di angkat, ia menelpon Dika, karena ia sedang bermain game dan tidak sengaja memencet tombol angkat, akhirnya Angga bisa menelpon Dika.
__ADS_1
"Aduh, sial! Gawat...!" Ia mulai grogi. Nada bicara Angga terdengar marah.
"Bagus ... baru bisa angkat telepon! Handphone nya, jadi gak ada gunanya! Kemana aja, kalian tidak tahu, kakak mikirin kalian semua, dimana kalian?"
"Dirumah kak, maaf! Mungkin Aldo udah tidur, jadi gak angkat telepon, aku baru keluar dari kamar mandi"
"Banyak alasan, kaya banyak suara? Kakak hapal betul, kaya suara di mobil?"
"Itu, cuma suara TV aja kak! Kakak gak usah khawatir, pokoknya semuanya akan ...!" Angga, segera memotong pembicaraan.
"Tolong banget, jangan keluar rumah tadi pembunuh berantai sedang buron, oh iya tadi kakak menembak kakinya jadi kemungkinan dia susah berjalan dengan kondisi lukanya! Hanya saja, ia berhasil kabur, kami masih mencarinya, pokoknya kalian tetap dirumah saja!"
Dika, tercengang dengan perkataan Angga, ia melihat pria misterius itu dengan luka di kakinya. Ia menelan ludah.
"Kaki sebelah mana kak?"
"Kak ....!"
Tut ...Tut ... Tut ....
"Yah, terputus!"
'Jangan-jamgan, mereka menyusulusi ke hutan!'
Dika, terlihat tidak percaya bahwa sekarang pembunuh itu berada di mobil mereka. Angga, yang merasa curiga langsung memutar balik mobilnya, dengan sangat cepat, ia terburu-buru membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan menelpon semua Tim nya agar memutar balik menuju hutan.
__ADS_1
Terdengar begitu keras sinirine polisi dengan lampunya yang berwarna warni, menemani perjalanan Angga. Dengan perasaan yang gelisah ia terus memikirkan semuanya. Ia, takut untuk kedua kalinya terulang kembali masa lalunya.
"Ya, Allah jagalah mereka! Aku, tidak mau gagal lagi!" Angga, terlihat begitu cemas. Bahkan ia benar-benar sangat takut terjadi sesuatu terhadap orang-orang yang ia sayangi. Bahkan mobilnya terlihat seperti sedang balapan. Hingga Ucok memegang dengan sangat keras, karena mobilnya sangat cepat. Ia, takut terlambat, Ucok hanya terdiam sejenak dan berpikir apakah yang sedang terjadi.
Dika, memberikan sebuah kode kepada Raya bahwa penjahat itu berada di mobilnya. Ia mengirim pesan singkat melalui WhatsApp.
Raya, yang membacanya terkejut dengan tatapan mata yang bingung. Dan mereka pun berbisik kepada satu sama lainnya. Nilam, merasa menyesal jika ia tidak tahu dari awal. Penjahat itu mulai merasakan jika mereka curiga, ia langsung mengeluarkan sebuah pisau, ia menodongkan pisau tersebut tepat di lehernya Rey. Pria itu menyuruhnya untuk berhenti. Dan, menyuruh mereka semua untuk keluar dari mobil, sedangkan Farel tengah tidur di belakang, yang tidak terlihat, ia tidak mengetahui apapun.
"Eh, si Farel masih di mobil?" Dika berbisik kepada Raya dan Aldo.
"STT ... biarin aja dia mah gak penting, kalau perlu gak apa-apa di bawa juga!" Timpal Aldo yang tidak peduli.
Rey, dan yang lainnya turun dari mobil dengan sangat ketakutan. Rey, memegang tangan Nilam untuk menenangkannya. Kebetulan saat itu sudah gelap.
'Kenapa, hatiku jadi berdebar kencang, aku sangat malu!' Gumamnya dalam hati. Apakah salah jika aku menyukaimu?. Ia terus berpikir, apakah perasaannya adalah sebuah kesalahan atau sebuah pilihan. Tangannya, begitu erat menggenggam tangan Nilam. Nilam, yang merasa malu. Aldo, Dika dan yang melihatnya merasa aneh. Saling sikut. Tidak, lama pria itupun berbicara membuat mereka semua terkejut.
"Oke, aku tidak akan melakukan hal buruk terhadap kalian! Tapi, tentunya tidak ada seorangpun yang bisa keluar dari sini, karena handphone kalian ada padaku! Mana, kunci mobilnya?" Pria itu mendekati Nilam untuk menggeledahnya, tiba-tiba saja Rey menghalangi dan segera memberikan sebuah kunci mobilnya. Pria itu langsung tertawa.
"Bagus!" Ia, segera menuju mobil. Farel, tiba-tiba saja bangun, saat mesin hidup karena mobilnya bergetar hebat. Ia linglung dengan apa yang terjadi, teman-temannya ada di luar. Ia, berpikir kenapa cuma ia, yang masih di dalam mobil. Mobil itu tidak bisa menyala dengan benar karena Nilam telah membuatnya bermasalah.
Teman-temannya dari luar memberikan sebuah kode, bahwa mereka telah di sandera. Akhirnya, Farel yang pintar, mengerti maksud temannya itu. Ia segera mencari alat untuk memukul kepalanya. Ia, menemukan sebuah tang di bawah kursinya. Karena pelaku tidak mengetahui jika Farel berada di dalam mobil. Ia, segera memukul kepalanya. Pria itu langsung berbalik ke belakang. Farel terkejut dan segera keluar dari mobil tersebut. Ia, menghampiri teman-temannya. Pelaku akhirnya turun sambil memegangi kepalanya yang terluka.
"Kalian, pikir bisa mengalahkan aku?" Ia, mengeluarkan pisaunya. Dan mengejar mereka hingga mereka terpencar. Namun, akhirnya mereka berlari masuk ke dalam hutan, Rey tetap memegangi tangan Nilam. Rey, membuat sebuah rencana untuk menjebaknya, ia memberi tahu kepada temannya. Agar mengikuti arahannya. Ada tali panjang di dalam mobil, Aldo bertugas untuk mengambilnya. Karena Farel yang paling cepat berlari ia akan mengalihkannya. Sementara mereka akan mengatur jebakannya. Mereka semua memulai misinya. Farel mengalihkan perhatian pelaku, ia dengan cepat berlari. Ternyata, Raya mengikuti untuk membantunya. Saat, Rey memberikan sebuah isyarat suara kepada Farel dan Raya. Mereka kembali mengecoh pelaku untuk mengikuti mereka. Pelaku tersungkur ke tanah karena ia, melewati tali yang mereka pasang. Pelaku dengan cepat mencoba melukai Rey, Farel membantunya dengan menendangnya hingga terjatuh, ia bangun dan kembali menyerang Raya, ternyata Raya tidak selemah yang ia pikirkan. Ia, menangkis dengan mudahnya. Pelaku, ternyata tidak mudah dikalahkan, ia segera menyerang Nilam, saat ia menodongkan senjata tajam, Rey menangkisnya dengan tangannya hingga terluka. Kemudian, Farel memukul kepala bagian belakangnya hingga ia kembali tersungkur. Mereka segera, memutar untuk melumpuhkan pelaku, dengan mengikatnya. Aldo, dan Dika duduk di atas tubuhnya agar ia, tidak bisa bergerak lagi.
"Kamu, gak apa-apa?" Nilam terlihat sangat cemas ia segera melihat lukanya. Angga, datang bersama Tim nya. Ia, melihat Rey dan berdiri tepat di depan mobilnya, tersenter oleh mobilnya. Terlihat, Nilam sedang memegangi tangan Rey. Ia, menarik nafas panjang.
__ADS_1
(Kenapa aku merasakan sesuatu jika Nilam berada dengan pria lain, hatiku sangat sakit) Ia, yang tadinya ingin segera keluar dari mobil menjadi terdiam, sementara anak buahnya telah mengamankan pelaku. Ucok, menghampiri mereka, Raya takut jika ayahnya akan marah padanya.
"Raya, kemarilah?" Wajahnya terlihat sangat marah, melihat anak gadisnya berada dalam bahaya. Raya yakin ia akan dimarahi oleh ayahnya. Teman-temannya merasa tidak enak. Raya menghampiri ayahnya dengan cemas.