Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Sahabat sejati


__ADS_3

"Saya mengerti apa yang terjadi. Bagaimanapun jika kesalahan adalah bukan sesuatu yang bisa di benarkan meskipun ia adalah orang yang paling kita sayangi. Percayalah bahwa kejujuran dalam hati itu adalah sesuatu yang paling berharga. Sahabatmu sedang membutuhkan bantuanmu. Apakah kamu bersedia untuk membantunya?" Angga, menatapnya dengan penuh keyakinan. Ia, hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan, interogasi kemudian di lanjutkan. Waktu pun berlalu, Angga telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia, teringat dengan Nilam. Ia, duduk di dalam mobil dan menatap foto Nilam yang selama ini berada di dalam dompetnya, foto itu ia curi saat Nilam sedang duduk di teras rumah.


"Kenapa, perasaan ini masih begitu terasa menyakitkan. Terkadang aku merasa sangat mencintaimu, namun di lain sisi, terkadang apakah perasaan kita sama?" Ia berbicara dengan foto tersebut. Angga, menyalakan mobilnya dan segera berputar ke arah taman kota. Tidak sengaja ia melihat Nilam sedang duduk sendiri dan ia berinisiatif untuk meminta maaf. Saat ia akan menghampiri Nilam, Rey datang dengan membawa es krim. Nilam, terlihat sangat senang. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.


Langkahnya seketika itu terhenti. Nilam, yang merasakan keberadaan Angga. Ia, melihat Angga sedang berdiri mematung dengan wajah yang sedih. Nilam yang menyadarinya langsung berlari ke arah Angga. Angga, terlihat membalikkan badannya. Nilam memanggilnya.


"Angga ...?" Seketika itu ia kembali ke masa lalunya.


"Pangeran ...?"


"Untuk apa kamu memanggilku?"


"Kenapa pangeran pergi begitu saja?"


"Haruskah aku menjawabnya?" Ia, membalikkan badannya dan menatap wajah Nilam. Dan mendekatinya.


"Hati siapa yang tidak cemburu, melihat wanita yang ia cintai bersama dengan pria lain? Harusnya kamu yang lebih mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Tanpa harus bertanya. Apakah kini perasaan itu sudah hilang?" Pangeran, memegangi bahunya. Nilam, mundur perlahan.


"Kamu hanya salah paham? Aku tidak pernah bermaksud untuk melukai perasaanmu. Tapi, kamu tahu sendiri, kita ini berbeda ... aku tetaplah pelayanmu. Sedangkan kamu adalah putra mahkota. Sungguh, kita tidak bisa bersama. Sebaiknya, kita membuang semua perasaan ini. Karena jika ini terus berlanjut, bukan kita saja yang sakit hati bahkan juga banyak orang" Pengeran hanya terdiam dan terlihat emosi. Ia memukul pohon yang ada di dekatnya. Hingga tangannya terluka, Nilam yang cemas datang dan menghampirinya. Ia, melihat luka dan meniup luka tersebut.


"Kenapa kamu harus begini?" Nilam terlihat sedih.


"Ini, tidak seberapa dengan perasaan ini. Setiap kamu melukai hatiku. Kamu juga telah melukai fisikku. Jika kamu tetap membuatku bahagia maka fisikku juga bahagia!" Pangeran itu pergi meninggalkan Nilam, dengan tatapan mata yang tajam.


Nilam hanya terdiam, Damar menghampirinya.


"Cinta itu rumit, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Terkadang cinta dan terkadang benci."


"Kamu benar. Beda tipis ...!"

__ADS_1


"Kamu, benar. Semuanya beda tipis. Ayo kita lanjutkan latihan kita ...! Akan banyak musuh menantimu." Mereka melanjutkan latihan mereka. Lamunan itu terhenti dan kembali ke masa depan.


"Tolong jangan pergi lagi." Nilam terlihat sedikit menahan tangis. Ia sebenarnya merindukan Angga yang telah beberapa hari tidak peduli dengannya.


Angga, membalikkan badannya dan memeluknya.


"Maafkan aku ...?"


Rey yang melihatnya merasa cemburu.


'Harusnya aku bisa ikhlas, hingga tidak ada lagi rasa kecewa. Sungguh berat jika harus melihat orang kita cintai mencintai orang lain'


*****


"Ita, ada apa denganmu? Kenapa kamu melaporkan kakakmu sendiri ke pihak kepolisian. Jadi kamu lebih percaya dengan sahabatmu itu daripada kakakmu sendiri?" Ibunya terus menekan dirinya. Sedangkan kakaknya juga tidak ingin mengakuinya. Ita hanya menangis sendiri di dalam kamarnya.


Keesokan harinya. Ita seperti biasa berangkat ke sekolah. Dan hukum telah berlanjut, kakak Ita masih di interogasi belum di tetapkan sebagai pelaku karena kurangnya bukti.


"Aduh, disini ada yang habis di lecehkan oleh kakak temannya sendiri. Gimana gak malu. Lagian pria mana yang mau menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan lagi. Apalagi setelah di lecehkan. Pasti sih, keluarganya tidak akan pernah mau menerima. Kalau gue sih daripada hidup mendingan mati ...!" Salah satu temannya mulai memancing emosi.


"Iya, bener. Si Ita juga pasti malu hidup di manapun gak akan pernah tenang, karena perbuatan kakaknya itu udah bikin coreng. Kalau loe gimana, gak malu sih, punya kakak udah bikin aib?" Ia bertanya kepada temannya yang lain.


"Iya, bener-bener...!" Mereka serentak.


Tika yang mendengarnya merasa sangat kesal, ia ingin menghampiri mereka namun di tahan oleh Naya. Meskipun Naya menangis sakit hatinya harus mendengarkan percakapan mereka yang jelas-jelas melukai hatinya. Di saat ia membutuhkan banyak dukungan, namun yang ia harapkan adalah cemooh. Ita juga menahan tangisnya. Ia sungguh tertekan dengan semuanya. Ia malu dan juga sedih, rasanya ia tidak sanggup lagi menahan diri.


"Paling, mereka berdua menjadi perawan tua." Mereka tertawa lepas dan puas. Naya, mulai pergi dan berlari. Ita mengejarnya. Sedangkan Tika sudah habis kesabarannya.


Ia, mengambil air es sirup dan menuangkan di atas sepatu mereka.

__ADS_1


"Ish ... apaan sih? Loe, mau gue ..." Sambil membersihkan sepatunya. Semua orang tercengang dengan sikap Tika.


"Gue apa? Gue gak takut loe semua, gue gak takut... sini loe semua maju! Kalau ngomong pakai otak, pakai hati bukan cuma mulut yang bicara. Tapi hati juga harus bicara, dimana perasaan kalian sebagai sesama perempuan, kalian udah membuat orang lain semakin terpuruk dengan kondisinya. Gimana kalau itu ada di posisi kalian ... apa kalian ikhlas di cemooh di depan banyak orang. Pakai dong hatinya ...! Masih lebih berguna itu sepatu meskipun kotor, daripada mulut loe! Sekolah tapi gak punya attitude!" Tika terlihat sangat marah.


Akhirnya mereka bertengkar hebat, saling menarik rambut. Hingga berguling-guling. Ibu kantin ikut menenangkan mereka berdua.


"Astaghfirullah ... Neng udah atuh, jangan bertengkar lagi ... malu di lihatin banyak orang. Udah-udah sabar aja ya." Ibu kantin, berusaha untuk menenangkan mereka berdua.


Tidak lama terdengar dentuman benda jatuh dari ketinggian, yang sangat keras. Dan membuat semua orang berlarian ke arah luar, saat itu terdengar suara jeritan semua orang. Jeritan itu begitu histeris dan Tika segera berlari.


Tika, berusaha untuk melihat apa yang terjadi, Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hingga, membuat tubuhnya bergetar hebat. Badannya seketika lemas, air matanya mengalir deras. Dan membuatnya pingsan. Hingga ia dibawa ke ruang UKS.


****


Angga, di telepon untuk segera melakukan olah TKP di sekolah tersebut.


"Kamu mau ikut?"


"Iya, boleh kalau begitu."


"Hey, kamu disana. Ikut saja!" Karena Angga tidak tega melihat Rey yang sedang berjalan untuk pulang. Rey sempat menolaknya namun Angga sedikit memaksa. Akhirnya ia mau ikut. Mereka segera melakukan perjalanan, dan bertemu dengan Aldo, Dika, dan Raya, yang sedang berolahraga. Pada akhirnya mereka juga ikut, karena Angga akan sekalian mengantarkan mereka pulang nantinya.


Nilam duduk di kursi depan. Angga senang bisa melihat wajahnya kembali. Ia sedikit tersenyum, karena hatinya senang. Angga, terlihat haus, Nilam yang mengerti. Mengambil minuman dan memakai sedotan agar Angga bisa minum dan tetap fokus pada jalan. Angga, hanya tersenyum manis. Rey, yang melihatnya merasa tidak enak. Ia membuang perhatiannya dengan melihat kaca. Aldo, menyikut tangan Dika.


"Lihatlah kasihan banget ya. Cemburu ...!" Aldo, membisikkan kepada Dika. Dika hanya tertawa kecil.


Akhirnya mereka sampai pada tujuan. Disana sudah ramai dengan banyak orang. Angga sebenarnya menyuruh mereka untuk tetap diam di dalam mobil sebentar. Namun mereka penasaran dan turun dari mobilnya.


Angga terlihat sangat sibuk. Nilam melihat Inggar di atas loteng sekolah. Dan menghilang. Nilam, mencoba mencarinya dan bertemu saat Inggar akan pergi.

__ADS_1


"Tunggu ...Inggar, apa yang sedang terjadi? Apa semuanya ada hubungannya dirimu?" Inggar terhenti sejenak. Dengan tatapan mata yang marah.


"Kau pikir ... aku seorang pembunuh ...!" Mereka saling bertatapan. Apakah yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2