Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Merayu Kak Angga


__ADS_3

"Tugas apa Pak?" Tanya semua anak.


"Kalian, harus LKN (Latihan kerja nyata), ini program dari sekolah kita. Agar kalian bisa mengerti apa itu bekerja secara langsung. Kalian bebas menentukan dimana kalian akan mulai bekerja ini, nanti kalian membuat surat proposal sendiri, lalu kalian akan diberikan guru pembimbing untuk membantu kalian dalam memilih tempat."


"Baik pak ...!" Jawab mereka secara bersamaan.


"Waktu kalian hanya lima menit untuk menentukan kelompok, minimal enam orang dalam setiap kelompok. Di mulai dari sekarang dalam hitungan satu sampai sepuluh, kalian harus sudah menentukan kelompok kalian masing-masing."


Semua murid terlihat panik dan saling bertatapan.


"Di mulai dari sekarang ... Satu ... dua ... Tiga ... "


Dengan spontan Rey, memegangi tangan Nilam. Dan juga menarik Farel, Farel menarik Raya, Aldo dan Dika mengikuti.


"Empat ... Lima ... Enam ... tujuh ... delapan... sembilan ... sepuluh... Waktu habis. Terimakasih atas kerjasamanya. Kalian harus menentukan dimana, laporan besok paling telat. Kalian tahu saya orangnya tidak suka berlama-lama. Oke ..."


"Siap pak ...!"


Tanpa sadar, Rey masih memegangi tangan Nilam.


Farel yang melihatnya.


"Ekhm ... ekhm ...!"


Rey, langsung melihat ke arah Nilam.


"Maaf ...!" Ia terlihat sangat malu.


Nilam, juga ikut malu.


"Oke ... kita akan punya tugas banyak, karena kita akan memilih kantor kak Angga! Kalian setuju?" Dika, memberikan masukan.


"Emang boleh ...?" Farel, terlihat ragu.


"Bolehlah ... tenang saja ...!" Dika dengan sangat percaya diri.


...****************...


Saat mereka ke kantor, Angga terlihat sangat sibuk. Ia terlihat sedang mengetik semua laporan.


"Assalamualaikum kak ...?" Mereka secara bersamaan.


"Waalaikumsalam ...!" Tanpa melihat siapa yang datang. Akhirnya mereka duduk, Angga masih sibuk bahkan tidak menyadari jika mereka telah menunggu selama tiga puluh menit.


"Alhamdulillah ... akhirnya selesai juga ...!" Sambil menguap. Saat itu ia sadar jika di depannya ada banyak orang, termasuk Nilam. Ia sedikit terkejut.


"ka ... Lian!"


Mereka hanya tersenyum.


"Sejak kapan?"


Rey, melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Sekitar tiga puluh menit yang lalu kami disini!"


"Tiga puluh menit ... lama dong ...!" Angga terlihat sangat terkejut dengan pernyataan Rey.


"Iya, lihatlah sampah sudah satu kantong. Karena kami lapar!" Aldo terlihat marah.


"Iya, maaf ... karena kalian tahu sendiri kakak kalau lagi kerja tidak bisa di ganggu."


"Iya, makanya kami tetap menunggu walaupun dengan waktu yang lama." Timpal Nilam.


"Oke ... apa mau kalian. Kalian pasti ada maunya kan!"


"Iyalah untuk apa kami rela menunggu selama itu dan menghabiskan uang saku kami!" Aldo dan Dika mulai berbicara.


"Lalu apa ...?"


"Loe aja yang bilang ...!" Dika malah melempar ke Aldo. Farel mengambil proposal tersebut.


"Maaf sekali lagi kak ... kami di berikan tugas oleh sekolah untuk magang di tempat ini. Karena ada program dari sekolah. Latihan kerja nyata. Jika berkenan, kakak tolong ijinkan kami untuk magang disini?"


"Tidak bisa, karena disini sudah penuh. Jika di isi oleh kalian, maka kami akan kekurangan oksigen!" Dengan wajahnya yang datar.


"Kakak ... dengan sangat hormat, kami tidak menerima sebuah penolakan. Terimakasih...!" Aldo dan Dika dengan wajah serius.


"Di Jakarta ini, banyak kantor lain, kenapa harus disini?"


"Memang banyak sih ... tapi semua sudah penuh dengan sekolah lain, dan di tambah kami tidak ada kepikiran untuk magang di tempat lain!" Dika, berusaha untuk menyakinkan Angga.


"Betul sekali ... di tambah kantor ini menjadi kantor favorit bagi setiap sekolah, dengan fasilitas lengkap dan seragam yang sangat rapi dan berwarna. Maka itulah percayalah bahwa kantor kakak adalah kantor polisi terbaik di dunia!" Aldo berusaha agar Angga mengerti dengan maksud dan tujuan mereka.


"Ekhm ... baiklah. Dengan sangat terpaksa kakak ijinkan kalian untuk magang disini. Tapi syarat dan ketentuan berlaku disini, karena kalian tahu sendiri jika kakak orangnya sangat disiplin waktu" Angga, berbicara sembari memeriksa file nya.


"Terimakasih banyak atas bantuannya, kami janji tidak akan merepotkan kakak, kami akan sangat berguna untuk kakak!" Serentak mereka menjawab karena sudah menghapalkannya.


"Kompak sekali kalian ...!"


Mereka hanya tersenyum.


Tidak lama Ucok membuka pintu dan memberikan tahu jika ada sekolah lain yang ingin magang.


"Siapa lagi?" Wajahnya terlihat tidak suka.


"Maaf pak tolong angkat teleponnya. Dari orang tua murid SMA negeri sembilan, beliau dari kepolisian Bekasi. Ingin berbicara kepada bapak?" Angga mengangkat telepon dan terdengar suara seorang pria dewasa.


"Assalamualaikum Pak Angga, masih ingat dengan saya Bima dari kepolisian Bekasi?"


"Waalaikumsalam, masih Pak. Bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik Pak. Pak, tolong disana anak saya meminta ijin untuk magang dari sekolah nya, tolong bantu karena saya percaya kepada Pak Angga. Mohon bantuannya?"


Meskipun sedikit keberatan, namun Angga tidak dapat menolaknya karena ia merasa tidak enak.


"Baiklah Pak. Insya Allah akan saya bantu."

__ADS_1


"Kalau begitu terimakasih banyak atas bantuannya. Insya Allah saya pasti balas kebaikan Pak Angga. Kalau begitu saya titip anak perempuan saya yang bernama Vira. Terimakasih banyak ya sekali lagi. Assalamualaikum "


"Baik Pak sama-sama. Waalaikumsalam ..."


Angga, menghela nafas panjang. Dan ia menatap ke arah Aldo dan yang lainnya.


'Apa, mereka tidak akan merepotkan diriku. Di tambah satu sekolah lagi. ' Gumamnya dalam hati.


"Itulah, mengapa kantor ini menjadi favorit. Karena terkenal dengan kecanggihan teknologi nya, serta kerapihannya. Berasa ada di drama Korea gitu kak ...!" Aldo mencoba merajuk.


Sementara, Angga hanya memikirkan bagaimana jika dengan adanya mereka mengganggu pekerjaannya.


'Apa aku harus berikan tugas. Agar mereka tidak begitu mengganggu. Sebaiknya begitu, lagipula Nilam disini, itu akan membuatku lebih nyaman' Gumamnya dalam hati.


"Kak melamun terus ...!" Dika, mengibaskan tangannya.


"Sudah berisik ...!" Dika langsung menciut.


Tidak lama kemudian, murid-murid dari SMA negeri sembilan masuk. Dan berterima kasih kepada Angga yang telah mengijinkan mereka untuk magang. Mereka sebanyak lima orang tiga laki-laki dan dua perempuan.


"Baiklah, hanya ada dua sekolah. Tolong ikuti peraturan disini, dan semuanya akan di jelaskan oleh Pak Ucok. Terimakasih banyak silahkan kalian keluar karena, Saya masih banyak pekerjaan. Terimakasih atas perhatiannya " Mereka semua satu persatu keluar. Ketika Nilam akan keluar. Angga memanggilnya.


"Kecuali Raffi ...!" Nilam, langsung berbalik. Rey pun ikut terdiam.


'Harusnya aku tidak usah cemburu. Karena, kak Angga lebih lama daripada aku' Rey, sempat menatap ke arah Nilam. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar. Nilam, kembali masuk dan duduk di kursi. Angga, menghampiri.


Ia duduk di dekat Nilam.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah...!"


Angga, terlihat sangat canggung. Ia tidak tahu harus membicarakan tentang apa. Beberapa menit Angga hanya terdiam.


"Aku ... merasa lebih nyaman melihat dirimu ada disini. Aku hanya ingin minta maaf jika terus meneruskan membiarkan dirimu dengan penampilan seperti ini. Kamu boleh memutuskan untuk kembali menjadi wanita seutuhnya. Sejujurnya aku takut jika terjadi sesuatu terjadi kepadamu. Karena kebanyakan penjahat selalu mengincar wanita."


"Aku masih nyaman dengan penampilan seperti ini. Terimakasih banyak kamu selalu melindungi ku dari berbagai masalah. Aku yang selalu dirimu, aku minta maaf " Angga, meletakkan jari telunjuknya di bibir Nilam.


"STT ... jangan pernah berbicara seperti itu. Aku hanya ingin menjadi pelindung dirimu " Nilam, terlihat sangat malu. Angga hanya tersenyum manis.


Tidak lama ada telepon masuk. Jika ada laporan seorang mayat anak kecil. Angga, memasuki ruang rapat dan membentuk tim investigasi.


"Baiklah, Pak Ucok kita menuju ke lokasi."


"Siap ... laksanakan ...!" Semua orang terlihat sibuk.


"Kami boleh ikut?" Nilam bertanya kepada Angga. Angga tidak menjawab. Tapi, ia juga masih ingin bersama Nilam.


"Baiklah ...!"


"Kak, apa kami juga boleh ikut?" Gadis itu bernama Vira, dan ke empat temannya. Mereka memiliki penampilan yang sangat mewah. Karena memang sekolahnya hanya orang-orang yang kaya. Sementara pandangan Aldo dan yang lainnya sangat biasa saja.


"Ehmm ... baiklah... Tapi tolong jangan rusuh dan merusak TKP."

__ADS_1


"Siap laksanakan ...!" Jawab mereka bersamaan.


__ADS_2