
...****************...
Hari ini, hari pertama mereka untuk magang. Mereka terlihat sibuk. Dan mereka harus tepat waktu.
Semua orang sudah berdiri, untuk apel pagi. Karena ada kasus yang harus mereka selesaikan.
Nilam, terlihat kesiangan karena ia tadi ke kamar mandi dahulu. Itu membuat marah Angga. Dan menghukum Nilam untuk push up lima puluh kali. Semua orang terkejut. Termasuk Rey. Rey, takut jika terjadi sesuatu pada Nilam. Nilam, meng iyakan ucapan Angga.
Ia push up. Lalu bayangannya kembali ke masa lalu.
"Kamu itu di latih agar kuat mental...! Lagipula kenapa terlambat?"
"Mohon maaf Tuan ... saya sakit perut!"
"Tidak ada alasan putari istana sebanyak lima puluh kali!"
Dengan terpaksa ia harus melakukan itu. Rey yang melihat itu, ikut menemani Nilam.
"Ih ... nanti kamu di marahi ...?" Berbicara sambil terus berjalan.
"Tidak apa-apa. Aku kan prajurit pilihan di istana ini, tuan muda pasti akan memaafkan aku yang telah menemanimu. Tuan muda terlalu cinta hingga ia tidak tega untuk menghukummu. Ia memberikan sebuah kode agar aku menemani dirimu. Karena ada banyak pengawal putri mahkota."
'Hampir saja aku marah.' Ia berlari sambil menatap ke arah tuan muda. Tuan muda hanya terdiam. Karena ia tidak ingin nyawa Nilam terancam di istana. Ingatannya kembali ke masa depan.
Rey menemaninya untuk di hukum. Meskipun Angga sedikit cemburu, namun ada bagusnya jika Rey menemaninya agar Nilam tidak merasa keberatan. Akhirnya semua temannya ikut push up. Agar Nilam tidak sendiri.
"Kok kalian juga ikutan ...?"
"Tidak apa-apa itu namanya solidaritas" Mereka hanya tersenyum, sedangkan polisi yang lain kembali bertugas.
Setelah selesai di hukum. Nilam terduduk dan menarik nafasnya dalam-dalam. Semua terlihat ngos-ngosan, polisi yang lain hanya tersenyum.
"Semua kembali masuk! Kecuali Raffi ...!"
"Siap pak ...!" Mereka memasuki ruangan.
"Kamu, tidak apa-apa?" Sambil memegangi Nilam, untuk memastikan jika gadis yang ia cintai tidak kenapa-kenapa.
"Aku kuat ...!" Dengan senyuman yang manis. Angga terlihat sangat lega. Ia mencubit pipinya.
"Ini minuman. Mereka tahu kamu adalah pria dan aku harus profesional dalam menghukum. Apa kamu marah?"
"Tidak, bekerja itu harus profesional meskipun itu harus kepada orang yang kita sayangi". Lalu Nilam masuk sembari berjalan dan tersenyum. Angga hanya tersenyum, semua orang yang melihatnya merasa aneh. Ada orang di hukum tapi terlihat sangat bahagia.
"Oke baiklah ... karena kalian sudah tahu peraturan disiplin disini. Termasuk tugas kalian selama ini. Mohon kerjasamanya." Firman memberikan pembukaan.
__ADS_1
"Siap ..." Suara mereka terdengar lantang.
"Terimakasih banyak atas pengertiannya. Kini kalian akan di bagi dua kelompok. Termasuk leader kalian dalam pemantauan, untuk Pak Ucok di Tim satu yaitu tim penyidik. Ada Tim dua bersama Pak Firman yaitu tim forensik. Nanti hasil tim akan di umumkan oleh Pak Ucok. Selamat bekerja" Angga melanjutkan pembicaraannya. Lalu ia kembali ke ruang kerja.
Angga, terlihat melamun di meja. Sembari membayangkan wajah Nilam yang manis. Namun Angga harus ke ruang otopsi.
Setelah sampai di ruang otopsi. Belum bisa di temukan identitas korban. Di tambah jenazahnya yang sudah rusak.
"Mohon maaf. Kami kesulitan mengidentifikasi korban. Di lihat dari umurnya korban berusia tujuh tahun. Berjenis kelamin laki-laki" Maya mencoba untuk membantu.
"Sebaiknya kita membuat laporan tentang penemuan jenazah" Ucok memberikan sebuah saran.
"Baiklah, segera cetak edarannya. Agar lebih cepat. Bagaimana dengan tim baru kita."
"Ini pak. Sudah selesai di bagi menjadi dua kelompok."
Angga melihat tabel nama kelompok itu. Ternyata tidak sengaja Rey dan Nilam berada satu kelompok.
"Kenapa Nilam sekelompok dengan Rey?"
"Memangnya kenapa pak?"
"Oh ... tidak apa-apa."
'Seharusnya aku bilang dari awal. Kalau begini pasti malu. Ah ... sudahlah, lagipula Rey terlihat lebih mengalah'
...****************...
Sesampainya di kantor. Mereka terlihat sangat sibuk.
"Tolong buat edaran tentang penemuan jenazah seorang anak laki-laki, tolong nanti sebutkan ciri-ciri korban, dan baju yang di gunakan terakhir oleh korban. Di tunggu tiga puluh menit harus selesai" Firman memberikan arahan kepada Aldo dan Farel yang kebetulan satu kelompok. Mereka hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai membuat edaran mereka berangkat untuk menyebarkan kertas itu.
Selama satu hari tidak ada satupun yang datang untuk menemui jenazah itu.
Nilam, mulai membagikan di tempat lain. Akhirnya, kertas itu sampai di tangan seorang bapak-bapak separuh baya.
"Mengapa aku merasa ini adalah, Aldi anakku?" Ia berbicara kecil.
"Kenapa pak?" Tanya Dika heran.
"Dimana jenazahnya?"
"Di ruang otopsi. Memangnya kenapa pak?"
__ADS_1
"Saya ingin melihat jenazahnya, bagaimana?"
"Baiklah mari ikut dengan kami?" Farel, langsung sigap. Sesampainya di ruang otopsi. Bapak itu terlihat sangat sedih.
"Ini pasti jenazah anak saya. Karena saya kenal bajunya dan ia memang menghilang dari rumah. Aldi anakku ..." Bapak itu memeluknya sembari menangis tersedu-sedu.
"Bapak yakin bahwa ini adalah jenazah putra bapak?" Maya, mencoba untuk menyakinkan.
"Kalau begitu di tes DNA saja biar tahu hasilnya. Bagaimana apa bapak setuju?" Rey, memberikan sebuah saran.
"Saya setuju " Dengan sangat yakin.
Akhirnya bapak tersebut melakukan tes DNA. Dan ternyata benar hasilnya sama jika korban adalah anak kandungnya. Tangisnya pecah. Ia, tidak menyangka jika anaknya telah tiada.
Akhirnya di lakukan penyelidikan lebih lanjut. Dengan memeriksa para saksi. Giliran tim Rey dan Nilam, yang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mereka ke rumah warga untuk mengumpulkan informasi tentang korban.
Rey dan Nilam menuju ke rumah nenek korban karena sebelumnya korban memang tinggal bersama.
"Maaf nek apa Aldi biasa tidur bersama nenek?"
"Betul ... namun beberapa hari yang lalu ia bawa oleh ibu tirinya? Sehingga anakku pulang dan menanyakan dimana Aldi, saya pikir bersama ibu tirinya. Ternyata nyawanya telah menghilang. Tolong, siapa yang begitu tega membunuh Aldi?"
"Kami akan cari tahu. Terimakasih atas kerjasamanya."
Nenek itu masih menangis tersedu-sedu, Nilam terlihat sangat sedih.
Lalu, mereka melanjutkan pencarian pelakunya. Hingga mereka menemukan saksi jika orang terakhir yang bersama Aldi terakhir kali adalah Pungky. Anak jalanan penuh dengan tato. lalu mereka menangkap pelaku yang sedang kumpul-kumpul bersama dengan teman-temannya. Tim kepolisian sedang mengawasi gerak-gerik mereka.
"Hey bro ... gue punya uang buat mabok nih.."
"Dapet dari mana loe?" Tanya temannya heran. Karena memang ia menganggur.
"Mau tahu loe?" Dengan wajah sumringah.
"Gue habis ngebunuh dan gue dapet upah seratus ribu " Ia tertawa puas.
"Loe gila ... masa demi uang seratus ribu loe ngebunuh orang. Loe bercanda kan?" Temannya tidak percaya dengan perkataannya.
"Gue seriusan bro ...! Ini duitnya masih utuh, harum ..."
"Wah ... loe gila udah gak waras...!" Di saat mereka sedang bercakap-cakap.
Angga, memberikan sebuah kode. Untuk menciduk pelaku. Mereka membagi dua arah. Lalu mengepung pelaku.
"Jangan bergerak ..." Angga, menodongkan pistol.
__ADS_1
"Ampun pak ...!" Pungky terlihat ketakutan. Sedangkan temannya ikut terdiam.