
Pagi ini. Angga, berangkat lebih awal, ia tidak berbicara sepatah katapun. Ia, hanya menitipkan pesan agar mereka ke sekolah menaiki angkot.
"Naik, angkot lagi!" Cetus Aldo yang sudah tidak bersemangat untuk berangkat ke sekolah.
"Udah, bersyukur aja ya!" Jawab Nilam, dengan tersenyum manis.
Mereka, menaiki angkot, ternyata didalam sudah terdapat Rey yang tengah fokus membaca buku, yang menghalangi, wajahnya. Tanpa, menyadari bahwa Nilam ada bersamanya. Nilam, hanya melamun, siapa wanita yang pernah ia temui di kantor forensik waktu itu, ia sangat cantik dan menarik. Ada hubungan apa antara Angga dengan wanita itu! Ia terus memikirkan kejadian kemarin. Tak lama, mobil tiba-tiba saja berhenti secara mendadak, membuat guncangan hingga, kepala Nilam berbenturan dengan Aldo.
"Aduh ...!" Nilam, dan Aldo mengusap kepala masing-masing, buku yang pegang Rey, terjatuh. Rey, mengambil bukunya.
"Nilam, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Aldo, yang cemas. Dika, mengusap kepalanya.
'Nilam, apa itu nama aslinya? Atau dia memang seorang wanita!' Gumamnya dalam hati. Ia, tetap menunduk dengan berpura-pura mengambil bukunya.
"Gak apa-apa kok!"
"Aldo, gimana sih, jangan panggil Nilam nanti ada yang denger!" Mereka memperhatikan sekitar. Tidak, melihat wajah siapapun, hanya ada ibu-ibu yang menatap mereka dengan heran. Mereka tersenyum malu dengan menundukkan kepalanya.
"Sttt ...!"
Nilam, memberikan sebuah isyarat agar mereka diam. Rey, yang berada di pojok ia terhalangi oleh ibu-ibu yang berbadan besar yang membuatnya tidak terlihat.
Tidak lama, mereka telah sampai di sekolah. Mereka turun, dan tetap tidak menyadari bahwa Rey satu angkot.
Rey, memandangnya dari balik jendela angkot, ia merasa Nilam memang nama yang pantas untuk seorang gadis yang sangat cantik. Baru kali ini, hatinya kembali bisa merasakan degupnya jantungnya berdetak kencang. Ia sengaja turun lebih belakang agar tidak di curigai.
****
Tok ...tok ..tok ...
Pintu di ketuk.
"Masuk ...!"
"Selamat pagi ...!" Angga, yang tadinya tertunduk, ia mengenali suara itu.
"Maya ...! Ada apa?" Ia kembali tertunduk, dengan berkas-berkas yang menumpuk.
"Maaf, aku pasti ganggu ya! Aku, cuma mau memberikan data tentang korban kemarin, semua data sudah ada di flashdisk itu!"
"Hmmm... iya terimakasih banyak!" Angga hanya melihat sekejap, dan melanjutkan melihat semua berkas.
'Angga, tetap seperti dulu, dingin dan tidak suka memandang! Tapi, kenapa kepada pria kecil itu dia menatapnya dengan tatapan mata yang penuh arti! Apa, sekarang ia sudah tidak menyukai seorang gadis!' Gumamnya dengan heran.
"Kalau, udah selesai, sebaiknya kamu keluar! Masih banyak berkas yang harus ku selesaikan! Kamu, tahu sendiri, aku paling tidak suka di awasi saat sedang bekerja!" Angga, berbicara dengan nada yang jutek dengan terus memandangi berkas-berkasnya.
Maya, langsung keluar ruangan. Dengan perasaan yang kecewa.
Tidak lama, Angga terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. Sejak Maya kembali ia malah merasa bingung, harus bersikap baik atau tidak.
Ucok, datang dan membawa sebuah laporan baru. Bahwa, ada beberapa selebgram yang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Angga, segera mengumpulkan informasi yang lengkap, dengan mendatangi rumah para korban, sedangkan korban pertama belum diketahui lokasi apartemen rahasianya. Siapakah pembunuh para selebgram itu?
****
Saat, dikelas.
Rey, yang terpesona dengan kecantikan Nilam. Hanya tersenyum manis. Baru, pertama kali lagi ia mulai tersenyum manis. Nilam, yang tidak menyadari bahwa dirinya telah diketahui identitas aslinya oleh Rey.
Sukma datang dengan memberikan Raffi, sebuah kotak makan siang, nasi goreng yang berbentuk hati, dengan telur mata sapi, dan terdapat ayam goreng. Saat Sukma pergi, Farel datang dengan mengambil kotak makanan tersebut.
"Thanks ya! Buat gue!" Dengan tertawa terbahak-bahak. Ia, pergi begitu saja.
"Gak ada orang yang paling menyebalkan di dunia ini selain si Farel!" Cetus Aldo.
Nilam, hanya terdiam dan tidak bisa berpikir apapun. Aldo dan Dika hanya, bergerutu. Sampai saat istirahat siang, Nilam hanya terdiam, ia membaringkan wajahnya di atas meja. Dan memandang ke arah luar. Ia, takut Angga dekat dengan wanita itu, pikiran tidak tenang. Aldo dan Dika yang menyadari bahwa Nilam sedang gelisah.
"Kamu, kenapa?" Tanya Aldo dan Dika. Aldo dan Dika, menarik tangan Nilam menuju kantin sekolah.
Nilam, duduk dengan meletakkan tangannya di atas dagunya. Aldo dan Dika, sudah membawanya banyak makanan.
"Ini, makan yang banyak!" Dika, tersenyum.
Mereka menyadarkan Nilam dari lamunannya.
"Woy ...!"
Nilam, terkejut dengan mengusap dadanya. Akhirnya mereka tertawa bersama. Nilam, mulai makan, bahkan ia sangat lahap.
"Kalian, tahu dengan Maya Permatasari?" Mereka berdua tersedak karena terkejut.
"Tolong, keselek pentol bakso!" Ucap Aldo, Dika panik dengan memukul punggung Aldo dengan keras. Hingga, bakso itu keluar.
Nilam, memberikan Aldo minuman. Dengan cemas ia memastikan bahwa Aldo baik-baik saja.
"Darimana, kamu kenal dengannya?" Tanya, Aldo yang bingung.
"Dia, bekerja di kantor forensik, sepertinya ia baru saja masuk! Ia sangat cantik, putih mulus, tinggi" Tuturnya dengan cemas.
"Hmmm, pantesan aja pagi-pagi sekali sudah melamun? Jangan-jangan, kamu cemburu?" Tanya Dika.
Nilam, hanya tersenyum malu. Tidak lama kemudian, datang seorang gadis yang menghampiri mereka.
"Hai ...!"
Mereka, langsung menatap ke arah gadis itu. Ternyata itu adalah Raya Andriana, teman mereka saat mereka kecil.
"Raya...ini bukan mimpi kan! Coba tampar aku!" Ucap Aldo, Dika mulai menamparnya.
"Aw ... sakit! Wah, gila ya loe Dik ...! Loe, dendam apa sama gue! Hah ...!" Wajahnya seketika menjadi kesal.
"Katanya, tadi bilang tampar, bukan salah gue dong!" Dika tidak terima disalahkan.
__ADS_1
"Woy, apaan sih! Gak lucu, malah berantem! Gue, emang mau sekolah disini!"
"Oh ...!" Jawab mereka berbarengan.
"Oh, iya kenalin ini! Raffi!" Aldo, memperkenalkan Raffi.
Raya, hanya tersenyum. Dan menjabat tangan.
"Mulai, besok gue udah mulai masuk! Gue, duluan ya, see you tomorrow!" Raya, pergi.
Rey, mulai mendekati Nilam, karena baginya Nilam tetaplah seorang gadis yang sangat menawan, meskipun ia belum memiliki bukti bahwa Raffi adalah Nilam.
"Apakah, kamu mau ke toko buku lagi, hari ini aku bisa menemanimu?" Rey, berbicara dengan nada yang lembut dengan senyuman yang manis.
Nilam hanya tersenyum manis, ia merasa sangat gugup. Entah apa yang harus ia katakan. Nilam, hanya mengangguk. Rey, terlihat sangat senang.
"Pulang, sekolah! Aku, tunggu di gerbang!" Rey, lalu pergi.
Setibanya pulang sekolah. Rey, sudah menunggunya. Aldo dan Dika hanya tersenyum, penuh arti.
"Cieee ...! Apakah benar jika Rey tidak menyukai seorang gadis!" Dika, merasa curiga.
"Sttt ...!" Nilam, pergi mendekati Rey yang sudah menunggunya. Ia, terlihat sangat tampan, dengan perawakan yang tinggi, putih bersih, wajah yang tampan, rambutnya terbelah dua dengan sedikit basah oleh air, karena ia selalu shalat sebelum pulang sekolah.
Wajar saja jika para gadis selalu menatap ke arahnya. Ia, adalah idaman setiap wanita. Selain pintar, ia juga sangat populer dan dingin, tapi ia ramah. Saat, ia tersenyum, ketampanannya akan bertambah banyak.
"Kalian ikut?"
"Iya, tapi nanti setelah selesai shalat, kami akan menyusul!" Dika, dan Aldo menjawab sambil berbalik arah.
"Kamu, gak apa-apa kita jalan kaki?"
"Gak apa-apa?" Seketika, keadaan menjadi canggung. Jalan terlihat sangat sepi, cuaca yang sangat cerah.
'Aduh kenapa aku merasa sangat gugup!' Nilam, mulai merasa gugup.
Seketika hujan, Rey mengambil tasnya untuk melindungi Nilam dari hujan. Ia meletakkan tasnya di atas kepala Nilam. Nilam, yang merasa jantungnya berdetak kencang. Matanya terus menerus menatap ke arah Rey. Sementara Rey fokus berlari mencari halte. Sesampainya di halte.
Nilam, malah merasa pernah melihat wajah Rey di dunianya. Apakah ada hubungannya dengan dirinya turun ke bumi. Nilam, mulai mengingat wajah seorang pria yang berdiri membelakanginya dengan menggunakan baju pendekar berwarna putih, dengan menggunakan topi bulad lebar. Ia tidak bisa mengingat jelas wajah pria itu. Dengan mengatakan.
"Aku, selalu menunggumu, dengan waktu yang lama!" Tiba-tiba saja bayangkan itu menghilang. Rey, menepuk pundaknya.
"Apakah, kamu basah?"
"Tidak!" Nilam, hanya bingung kenapa ia bisa melihat masa lalu nya tapi tidak bisa melihat jelas.
"Syukurlah kalau begitu!"
****
Angga, mulai memikirkan Nilam, ia takut Nilam cemburu dengan Maya. Tapi, pekerjaan yang menumpuk tidak bisa ia tinggalkan. Ia, merindukan Nilam sejak pagi ia tidak melihatnya, karena sangat sibuk. Penyelidikan dimulai dengan memanggil para saksi.
__ADS_1