
'Aku sendiri, tidak tahu hati ini untuk siapa? Terkadang aku merasa nyaman saat bersama dengan Rey dan begitupun sebaliknya saat bersama dengan Angga' Nilam, mulai berpikir untuk siapa hatinya.
****
Mereka menangkap, pelaku kedua yaitu suami korban.
"Apa salah saya pak?" Ia, terlihat sangat heran saat Ucok memborgol tangannya.
"Silahkan, nanti bisa di jelaskan di kantor polisi?" Mereka, membawa meskipun sedikit memberontak.
Ia memasuki ruangan interogasi. Angga datang.
"Kami, sudah mengantongi beberapa bukti, jika anda terlibat dalam kasus pembunuhan istri anda?"
"Apa, buktinya?"
"Bukti, chat anda dengan anak angkat anda yang juga sebagai pelaku. Bahkan ia sudah membicarakan semuanya dengan detail dan itu sangat cocok. Jika anda sudah melakukan transaksi pencairan dana asuransi jiwa atas nama istri anda yang lumayan besar. Lalu, kami memeriksa cctv di rumah anda. Jika anda terlihat sangat senang dengan kematian istri anda?"
"Tidak, itu semuanya bohong? Pasti ia sudah mengarang cerita agar saya ikut terseret dalam kasus ini. Kan saya lagi kerja di luar kota, alibi saya kuat pak?"
"Iya, benar tapi isi chat anda itu adalah bukti kuat atas rencana pembunuhan terhadap istri anda sendiri. Bahkan, anda memaksa anak angkat anda untuk melakukan itu semua, dengan dasar atas nama cinta. Padahal yang anda inginkan hanyalah soal uang dan uang, buktinya anda langsung mencairkan dana asuransi tersebut dan berfoya-foya dengan uang itu. Hubungan gelap anda dan anak angkat anda, diketahui oleh istrimu, tapi ia tetap sabar menghadapi kenyataan itu"
Ia, terdiam membisu. Dan melihat isi pesan terakhir yang ia tulis untuk merencanakan pembunuhan terhadap istrinya itu. Ia tidak bisa lagi mengelak. Lalu, ia di tahan, sebelum menghadapi sidang perdana.
Anak korban, menghampiri pelaku ke ruangan tahanan.
"Ini untukmu? Sebenarnya setiap kali aku melihatmu, maka aku akan selalu mengingat kejadian yang mengerikan itu. Namun, aku akan pindah ke luar kota agar aku bisa melupakan semua ini, berusaha untuk kuat demi adikku. Tapi, ada kotak yang ibu ingin berikan untukmu, sebelum hari ulang tahunmu. Ia sudah menyiapkan rencana lain, bahkan ia sudah menyiapkan rencana untuk merayakan ulang tahunmu. Ia, sudah memesan kue ulang tahun dan undangan kepada teman-temanmu. Aku pikir ini akan menjadi kenangan yang indah. Aku salah ... hatiku sekarang terlalu sakit, bahkan sesak, bahkan adikku yang melihatnya secara langsung di dalam lemari. Ia tidak pernah berbicara sepatah katapun sejak kejadian itu. Kamu telah menghancurkan semua kebahagiaan diriku. Orang, yang telah aku anggap sebagai kakakku sendiri, ia yang telah berkhianat dan membunuh ibu yang telah mengangkat dirimu sebagai darah dagingnya sendiri. Rasanya tidak pantas kata maaf untukmu?" Ia, pergi berlalu sembari menghapus air matanya yang terus mengalir.
__ADS_1
Sedangkan pelaku, terduduk dengan penyesalan.
"Ibu ... aku sudah mengakui semuanya. Andai saja aku bisa meminta maaf kepada dirimu, andai aku menyadari dari awal jika ibu adalah ibu terbaik di dunia ini meskipun ibu bukan ibu kandungku. Maafkanlah aku ...!" Ia, membuka kotak itu. Ia, terkejut dengan isinya.
Ia, ingat jika ia pernah meminta sebuah hadiah. Tas bermerek yang lumayan mahal. Lalu, ia menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya. Ia, menangis sembari teriak-teriak karena saking menyesalnya hingga ia tidak sanggup untuk menerima kenyataan itu. Ia berharap jika ini adalah mimpi buruk, andai saja ia tidak pernah terjebak oleh perasaan cinta yang semu. Kini waktu tidak pernah bisa di ulangi, sekuat apapun kita berusaha untuk mengembalikan waktu. Waktu tidak pernah kembali walaupun hanya sedetik.
****
Rey, mendekati Nilam yang sedang duduk bersama Raya, mereka sedang mengetik laporan kasus-kasus.
"Ini untukmu?"
"Untukku?" Nilam, membukanya dan isinya adalah jepitan rambut berwarna putih bercampur dengan hijau. Sangat indah.
"Bolehkah aku memasangkan jepit rambut itu?" Nilam, hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang memerah. Farel, hanya tersenyum. Sedangkan Raya merasa jika Farel tidak perhatian terhadap dirinya. Ia, melihat Farel dengan tatapan mata yang sedih. Angga, melihatnya merasa cemburu, namun ia sedang sibuk-sibuknya. Hingga ia kembali masuk ke ruangannya.
"Kamu salah... justru Farel yang memiliki ide ini, ia bahkan sudah menyiapkan hadiah untukmu. Aku yakin dia pasti akan sangat kecewa dengan sikap kamu tadi!" Raya, langsung terdiam dan merasa bersalah.
"Kamu, kejar dia cepat ...!" Ucap Nilam. Raya, terbangun dari duduknya dan mengejar Farel yang entah kemana.
"Farel ... Farel ... Farel ... aku minta maaf. Tolong jangan pergi!" Raya, terduduk di kursi yang berada di dekat pohon. Setelah ia berlari mengejar Farel.
"Aku, minta maaf. Andai kamu tahu ... aku tidak pernah bermaksud untuk berbicara seperti itu. Aku hanya ingin di perhatikan, karena kamu selalu cuek dan tidak pernah peka. Aku ingin kamu mengajakku jalan-jalan walaupun bukan ke tempat yang mahal. Walaupun hanya memutari taman dan makan eskrim bersama. Kenapa kamu tidak pernah mengerti?" Raya, tertunduk. Ada buah yang jatuh jambu air dari atas pohon.
"Aw ...!" Ia, melihat Farel yang sedang di atas pohon.
"Turun ... !"
__ADS_1
"Gak mau ... untuk apa? Harusnya, kamu punya pacar kaya Rey?"
"Oke, aku minta maaf? Please ... aku salah, tapi kamu juga harusnya peka. Ayo turun ...!"
"Gak ....!" Ia, tetap cemberut. Tiba-tiba saja Farel di gigit semut. Hingga membuat ia terjatuh, untungnya pohon itu sangat dangkal.
Raya, menghampiri Farel dan terlihat sangat khawatir.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak ...!"
Raya, mengusap kepala Farel yang terlihat kotor oleh daun-daunan. Farel tersenyum manis.
"Ih ... gak usah ngelihatin gitu, jadi malu?"
"Emang gak boleh, ngelihatin pacar sendiri?"
"Apaan sih?" Wajahnya memerah. Sementara, Farel hanya tersenyum manis.
"Ayo ... kita ke kantor lagi. Gak enak kan, ini masih jam kerja?" Raya, menarik tangan Farel.
Benar saja. Ada panggilan darurat dari seorang ibu. Kebetulan yang bertugas adalah Nilam.
"Tolong ibu, jelaskan pelan-pelan ada apa?"
"Anakku terjatuh ke kolam renang. Tolong cepat kemari... tolong anakku?"
__ADS_1
Lalu, ia menyebutkan alamat rumahnya. Ada beberapa tim yang di bentuk untuk menuju lokasi kejadian tersebut.