
Hari ini cuaca terlihat sangat cerah. Raya, terus memikirkan semua perasaan terhadap Farel. Ia, merasa melihat Farel dimana-mana.
"Aku, sungguh gila ...! Akhir-akhir ini, aku terus memikirkannya!" Raya, tersenyum sendiri. Di teras, rumah. Kemudian Ayahnya menyuruhnya untuk segera bergegas bersiap-siap ke sekolah.
Beberapa hari lagi, pertandingan basket akan di mulai, mereka terus berlatih. Tanpa, disadari Nilam sedang datang bulan. Ia, bahkan tidak menyadarinya, tiba-tiba saja. Rey, memakaikannya jaket untuk menutup bagian yang tembus. Raya, yang menyadarinya mulai mendekati dan mengerti. Ia, mengajak Nilam untuk ke kamar mandi Tunggu saja di toilet, sampai aku kembali. Nilam, hanya menganggukkan kepalanya. Raya, keluar dan ia, menyuruh Aldo dan Dika untuk membelikannya pembalut wanita, mereka malu, tapi Raya pasti tidak suka di tolak. Dengan terpaksa mereka harus mau.
"Ya, sudah, kalau begitu aku akan memberi tahu kepada Kak Angga!" Mereka terdiam sejenak dan mulai melangkahkan kakinya, dengan berat hati.
"Lagian, buat siapa?" Mereka mengobrol dan bertanya-tanya untuk siapa, pembalut tersebut. Saat, mereka berdiri di depan warung. Mereka, saling melempar satu sama lainnya.
"Loe, aja!" Aldo, mendorong Dika. Dika, mundur kembali, dan melakukan hal yang sama.
"Orang loe, yang disuruh juga! Kenapa, harus gue!" Mereka terus berdebat hingga tukang warung merasa sangat kesal melihat kelakuan mereka berdua.
"Jadi, loe mau beli apa ...!" Ibu, warung membentak mereka berdua hingga mereka terkejut.
"A... anu ...! Roti?" Dika, grogi.
"Anu, anu , anu ... Roti apa? Yang, bener dong, kalau mau beli!" Wajahnya terlihat sangat marah. Tiba-tiba saja, Farel datang dan menanyakan kepada mereka ingin membeli apa. Mereka, berdua hanya tersenyum.
"Loe, tuh jangan bikin ribet!" Farel, menatap mereka berdua. Akhirnya mereka bicara jika ingin membeli sebuah pembalut. Farel, tertawa puas, karena Aldo dan Dika membeli sebuah pembalut. Tukang warung langsung memberikan pembalut tersebut, dan mereka berlari. Karena, sangat malu. Farel, berpikir mungkin untuk Raya.
Mereka datang dengan ngos-ngosan. Dan, menyodorkan pembalut itu.
"Lama banget sih!"
"Buat, siapa sih emang?" Tanya mereka heran.
"Buat, Raffi lah!" Mereka berdua tersenyum, dengan menganggukkan kepalanya.
"Oh, buat Raffi! Kirain buat siapa ...! Eh, tunggu, kok buat Raffi sih!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja, mereka terdiam. Saling, bertatapan.
"Apakah dia, sudah mengetahui?" Mereka berdua sangat shock. Apakah benar jika Raya telah mengetahui jika Raffi adalah seorang perempuan. Sementara, Raya menghampiri Nilam yang telah menunggunya, dan memberikan sebuah pembalut, Nilam, malah bingung apakah itu, karena ia baru mengetahuinya. Raya, mulai menjelaskan fungsinya, dan mengajarkannya. Hingga, mereka selesai dan keluar dari kamar mandi.
Aldo dan Dika, heran dan langsung menanyakannya.
"Apakah, kamu mengetahui jika Raffi adalah seorang gadis?" Raya, tersenyum manis dan menjawab.
"Aku, sudah tahu sejak awal, karena ayahku, yang telah membicarakan tentang semuanya, hingga aku kembali kesini!" Mereka, mulai mengerti. Angga, sudah merencanakan sedemikian rupa agar semua berjalan lancar.
****
Ada, seorang pria yang tertatih-tatih menuju sekolah, pria itu berlumuran darah. Nilam, yang melihatnya langsung menghampiri, dan bertanya ada apa?
"Tuan, tolong bicaralah?" Semua orang terlihat panik, melihat pria itu terluka parah. Aldo, segera menghubungi ambulans dan menelpon Angga.
"Tolong, teman saya, masih di culik oleh mereka?" Dan, Nilam memegang tangannya. Ia, melihat reka ulang saat terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka. Terlihat, saat mereka pulang bekerja, dan Anita mengajak, Rudi untuk bareng ikut pulang dengan mobilnya. Lalu, tidak lama mereka berhenti sejenak karena, Anita sedikit mengantuk, mereka memesan sebuah kopi, saat itu pukul dua belas malam. Terlihat, empat orang pria yang berjalan melewati mereka, dan tiba-tiba salah satu dari mereka mulai merencanakan sesuatu yang buruk.
Dika, menepuk pundaknya, dan membuatnya kembali sadar. Nilam terlihat lemas, saat melihat reka ulang kejadian tersebut. Mobil ambulans segera datang, ia masih setengah sadar. Di ambulans, ia segera diberikan pertolongan, dan ia mulai sadar, dan memberikan laporan jika teman wanitanya masih berada dengan pelaku.
Angga, segera memberikan arahan agar tim nya, menuju arah barat.
(Semoga saja, korban masih bisa di selamatkan!) Angga, melaju dengan kecepatan tinggi, ia berharap masih ada keajaiban agar korban tidak kenapa-kenapa. Nilam, yang ikut, menemani perjalanan Angga.
Angga, mengejar waktu, kebetulan Nilam melihat pria yang sedang mengisi bensin. Mobilnya persis seperti yang dibicarakan oleh korban pertama, mereka segera menyusulnya. Sepertinya, pelaku menyadari jika mereka tengah diikuti oleh polisi. Mereka, segera menambah kecepatan tinggi. Hingga, terjadi aksi kejar-kejaran dengan pelaku di jalan. Hingga, mereka memasuki persawahan, yang sempit, Angga, turun dari mobilnya diikuti oleh tim nya, terjadi aksi kejar-kejaran dengan pelaku yang juga turun dari mobil. Nilam, segera berlari dengan cepat. Nilam, berhasil memukul kepala bagian belakang, dengan tangannya. Pelaku pertama, tersungkur ke tanah. Yang, lain masih berlari, menghindari kejaran polisi.
Angga, terpaksa melumpuhkan pelaku kedua dengan timah panas, tepat di kakinya, pelaku tersungkur ke tanah. Dan, membuat mereka semua juga ikut berhenti mendengar suara tembakan. Angga, memberikan sebuah instruksi.
"Jika, kalian, tetap berlari, kami tidak akan segan-segan untuk menembak kalian? Mohon, untuk segera menyerahkan diri, karena bukti sudah kami kantongi!" Langkah, mereka terhenti. Dan, mereka segera di lumpuhkan. Segera dibawa ke kantor.
"Dimana, korban yang satu lagi, dia seorang gadis?" Mereka terdiam. Angga, sangat geram, ia mengkat kerah pelaku. Dan pria itu ketakutan.
__ADS_1
"Kami, sudah membunuhnya!"
Angga, yang mendengarnya sangat kesal, hingga ia memukul meja, hingga tangannya terluka.
"Kalian, sungguh tidak punya hati!" Mereka, ketakutan dan memberikan informasi lokasi mayat tersebut. Pelaku, memberikan informasi, tentang lokasinya. Mereka bergegas pergi, Nilam ikut serta. Saat, mereka turun ke sawah, sawahnya sangat luas, sehingga sangat sulit untuk menemukannya. Nilam, melihat gadis cantik yang tengah berdiri di tengah sawah, dengan senyuman yang menyedihkan. Ia, melambaikan tangannya. Nilam, mengikuti arahannya. Angga, bertanya, Nilam hanya berjalan dengan menyusuri jalan setapak, gadis itu menunjukkan jalannya dan tiba di lokasi. Mayatnya, telah tertimbun lumpur tanah.
"Terimakasih atas bantuannya!" Gadis itu pergi dengan senyuman bahagia. Nilam, merasa sangat sedih.
"Ayo, cepat angkat tubuhnya!" Angga, memberikan sebuah instruksi.
Sangat menyedihkan, kondisinya sudah sangat parah. Dengan, berbagai luka tusukan. Firman mendekati korban dan memeriksa apakah masih ada denyut nadinya.
"Tidak ada..! Sepertinya, korban sudah meninggal sejak tadi malam! Karena, kehilangan banyak darah!" Angga, merasa tidak tega dan segera memeriksa lokasi terdapat bukti, alat-alat untuk membunuh korban. Pisau kecil, yang tajam dan benda tumpul berupa balok. Mereka mengantongi semua bukti.
Di dalam mobil, Nilam merasakan sakitnya wanita itu.
"Kenapa, kamu melamun?"
"Aku, sedih melihat banyaknya penderitaan yang dia alami! Ternyata benar, jika manusia itu lebih menakutkan dari pada hantu! Apapun, akan mereka lakukan demi uang, atau kepuasan tersendiri, meskipun harus melukai atau membunuh orang lain!" Nilam, melihat keluar jendela. Ia, menarik nafasnya dalam-dalam.
Angga, hanya terdiam ia berpikir bahwa perkataan Nilam ada benarnya. Tapi, ia juga tidak bisa mengubah sebuah takdir yang terjadi di hidup seseorang.
"Kita, tidak pernah bisa mengubah takdir seseorang, meskipun kita telah berusaha untuk membantu jika kita tidak bisa, maka semuanya tidak bisa! Karena, ada takdir yang bisa di ubah dan takdir yang tidak bisa di ubah! Begitulah kehidupan kita!"
Nilam, hanya terdiam.
"Terimakasih, sudah banyak membantu orang banyak!" Angga, terlihat sangat senang dengan perkataan Nilam yang memujinya. Mereka, sampai ke kantor. Orang tua, korban sudah datang ke kantor. Bahkan, kantor sudah penuh dengan banyaknya wartawan. Ternyata, korban adalah aktivis sosial untuk anak jalanan.
Orang tua korban, yang bernama Anita menghampiri Angga.
"Aku, sudah kehilangan semuanya, saat ia pergi dari hidupku untuk selamanya! Kini, semua yang aku miliki sudah tidak ada harganya lagi, karena yang paling berharga telah hilang! Tolong, kembalikan ia kepadaku!" Ibu, itu menangis, dengan memukul kecil ke tubuh Angga.
__ADS_1
Angga, terdiam membisu, merasakan sakitnya perasaannya. Nilam, yang mendengarnya merasa sedih.
"Tolong, kembalikan anakku...!" Ibu, itu terus menangis.